Zawaj (Pernikahan)

2146 Words
Setahun sudah berlalu dari pandangan. Penantian itu akan segera berakhir. Waktu memang mengajarkan arti setia dan rindu. Seperti pantai dan ombak atau kopi dan aromanya. Rindu adalah ujian kesabaran dalam menunggu. Sebuah jeda yang tak bertepi. Ada hasrat yang mencemari pikiran dan hati secara bersamaan. Mengungkung dalam ketidakberdayaan menggapai harap untuk bertemu. Ketika rindu menguasai palung hati, melangitkan doa mengucap pinta pada Sang Pemilik Jiwa. Berharap kekasih nun jauh di sana, selalu dalam rengkuhan kasih-Nya. Kembali pulang tanpa suatu cela. Mengikat jalinan dalam sebuah janji suci. Mengeja bahagia. Sebuah kesetiaan diuji saat rentang waktu dan jarak menjadi pemisah. Seberapa kuat cinta menjelma menjadi dinding terkokoh yang mampu meluruhkan segala dera. Banyak cerita telah tercipta, tapi cinta yang selalu bertakhta. Tak ada yang bisa menandingi jika cinta sudah bicara. Segala lara dan duka hanyalah remah yang menghadang. Tersisa penantian yang bermuara pada tempat yang sama. Masih setia menunggu kedatangan Aditya yang dijanjikan akan pulang akhir bulan ini. Namun, sudah menginjak awal bulan, ia tak kunjung datang. Sudah dua hari dihubungi lewat ponselnya, nomor yang dituju tak pernah aktif. Chat melalui akun whatsaap pun tak juga terkirim. Naya mulai resah. Ada apa dengan sang kekasih? Tak biasanya lelaki itu melalui hari tanpa memberi kabar padanya. Bertanya pada Sita dan Yanuar pun, perempuan itu tak mendapat jawaban yang memuaskan. "Mungkin terkendala sinyal di sana." Begitu jawaban Sita setiap kali ditanya. "Pekerjaannya akan berakhir, mungkin Aditya sibuk melakukan finishing." Lain lagi dengan jawaban Yanuar. Kemungkinan itu bisa saja terjadi, tetapi dua hari tak ada kabar, ponselnya pun tak bisa dihubungi, haruskah ia berdiam diri menunggu dalam kecemasan? "Kau tak perlu cemas, Sayang. Aditya pasti akan kembali untukmu." Mama Sita hanya bisa menenangkan. Naya tersenyum menanggapi. Tak ada yang mampu diucapkan dalam resah yang tengah melanda. Ia mencoba memercayai ibu dari lelaki yang telah berhasil mencipta gundah dalam hati. Meskipun pada akhirnya ia pun pasrah. Lima hari berlalu dari waktu yang dijanjikan Aditya untuk kembali pulang. Perempuan itu hanya berdoa dalam harap, semoga lelaki yang dinantikan itu dalam keadaan baik-baik saja. Pasrah dalam kegelisahan seperti menunggu hujan di tengah ladang gersang. Harapan seperti impian yang entah kapan akan terwujud menjadi kenyataan. Melangkah bersama ketidakpastian ibarat pohon yang merindukan bunga tumbuh di antara dedaunan. Menepis segala rundung dalam harap yang terselip di sudut hati. Ia masih percaya jika lelaki yang dicinta takkan berdusta. Hanya masalah waktu yang tak sejalan. Selalu ada kesempatan untuk sebuah cinta. Ia percaya, Allah akan memberi jalan terbaik untuk setiap permasalahan. Rencana-Nya lebih indah dari dugaan. Jadi untuk apa membumbung keraguan yang hanya akan menguatkan prasangka. Berserah diri selalu menjadi jalan akhir sebuah perjalanan buntu. Naya kembali belajar makna sebuah penantian dan kepercayaan. “Kanaya Zivana ...." Perempuan berkerudung biru muda itu baru saja hendak membuka pintu mobil, ketika sebuah panggilan terdengar begitu jelas. Ia mencari-cari sosok yang memanggil namanya itu, tapi tak ditemukan seseorang di sekitar. Ia sungguh terkejut saat sosok lelaki tiba-tiba muncul dari balik mobil yang berada tepat di samping mobilnya. Lelaki itu berjalan menghampiri dan berdiri tepat di hadapannya, menatap dengan tajam. Sementara perempuan itu hanya bergeming dalam diam. "Naya ...." Ia masih tak bersuara. Kedua netranya telah basah oleh genangan air yang hendak tertumpah. Setelah sekian lama, lelaki itu muncul tanpa diduga. Ingin sekali marah, tapi mulut seperti terkunci. Lelaki yang selama ini dirindukan, kini tengah tersenyum tanpa merasa bersalah. "Maafkan aku." Kata itu akhirnya mewakili suasana hening yang tercipta. Naya tak tahu harus melakukan apa. Antara marah, sedih dan bahagia bercampur menjadi satu. Bisa melihat kembali lelaki yang dinantikan selama ini adalah jawaban dari setiap doa yang ia panjatkan. Allah selalu punya cara untuk membuat sesuatu itu istimewa. Seperti kisah cinta yang kini dihadirkan untuknya dan Aditya. “Mas Adit ...." Perempuan itu tak bisa mempertahankan genangan air yang menyeruak tiba-tiba. Rasa haru yang membuncah bersama rindu dan harap selama ini, menguar bersama butiran udara yang terbang entah kemana. "Maaf untuk penantianmu, Bidadariku," bisik Aditya, tepat di dekat telinga kekasihnya. “Kemana saja kau selama ini, Mas?” tanya Naya seraya mengerucutkan bibirnya yang dipulas lipstik warna rose berry. Aditya tersenyum kala melihat pujaan hatinya itu terlihat kesal. “Kau makin cantik dengan wajah seperti itu.” “Kau keterlaluan, Mas. Lima hari tak ada kabar, kau pikir itu lucu?” “Aku ingin membuat kejutan untukmu, Nay." “Kalau begitu selamat, aku terkejut.” “Kau benar-benar marah? Tak malukah dilihat mahasiswamu?” Perempuan itu melihat ke sekeliling. Tampak mahasiswa yang masih berada di kampus memandang mereka dengan tatapan berbeda-beda. Naya langsung menguasai keadaan. Ia harus bersikap dewasa di hadapan mereka. “Aku mau pulang,” ucapnya hendak membuka mobil. “Aku yang akan membawa mobilnya,” sergah Aditya segera mendekat. Dengan cepat Naya menjauhkan diri, dan mengikuti keinginan lelaki itu. Aditya membuka mobil dan duduk di balik kemudi, sementara Naya dengan tenang berjalan ke sisi yang lain, memasuki mobil dan duduk di sebelah kekasihnya. “Aku ada sesuatu untukmu,” ucap Aditya seraya mengambil yang dimaksud di jok belakang mobil. Perempuan itu menatap heran. Sebuket bunga aster warna-warni kini berada di hadapannya. Ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang dilakukan lelaki yang selama ini telah membuatnya menunggu. “Bagaimana bisa bunga ini ada di jok belakang mobilku, Mas?” Lelaki itu terkekeh. “Tak ada yang tak bisa aku lakukan untukmu.” Naya bergeming, menatap Aditya dengan berbagai pertanyaan. “Jangan menatapku seperti itu, aku jadi salah tingkah." Perempuan itu mengalihkan pandangannya ke depan. "Sekarang kita pulang ke rumahku dulu, ya?" Tak ada tanggapan. sementara Aditya meletakkan buket bunga aster di atas pangkuan perempuan yang masih terlihat kesal itu. Ia mulai menjalankan mesin dan mengemudikan mobil ke luar dari area kampus. “Aku minta maaf,” ujar Aditya di balik kemudi, menoleh ke arah perempuan di sampingnya yang masih tertegun membisu. Tak ada jawaban. Masih tersimpan kekesalan yang selama ini bersarang, meski hati itu kembali mekar seperti bunga yang kini berada di atas pangkuannya. “Kau masih marah padaku?” tanya lelaki itu lagi. Kali ini ia benar-benar mengharap sang kekasih akan memaafkannya. “Aku sudah memaafkanmu, jauh sebelum kau memintanya,” ucapnya dingin. “Kau memang kekasih yang istimewa," bisik lelaki itu menggoda. Naya tak menanggapi, ia lebih memilih mengalihkan pandangannya keluar jendela. Selama beberapa saat, mereka diam dalam keheningan. “Aku akan mengkhitbahmu besok,” ucap Aditya tiba-tiba. Kali ini Naya menoleh. Menatap lekat wajah lelaki di sampingnya. “Apa kau serius, Mas?” tanya perempuan itu tak percaya. “Aku serius. Besok aku akan mengajak Papa dan Mama ke rumahmu.” “Apa ini tak terlalu cepat?” “Kau ingin menunggu lebih lama lagi?” “Bukan begitu. Kau, kan, baru datang dari Dubai dan aku pun belum mempersiapkan apa-apa untuk acaranya.” “Kau tenang saja, aku sudah mempersiapkan semuanya. Kau tinggal terima beres.” Aditya terlihat percaya diri saat mengatakan itu. “Kau sudah merencanakan hal ini?” selidik Naya mulai curiga. “Tentu saja. Setahun aku menunggu momen ini tiba. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini. Lagi pula, aku takut kau keburu kepincut dokter ganteng itu.” Perempuan itu sejenak terdiam. “Reza maksudmu?” tanyanya heran. “Siapa lagi?” “Dari mana kau tahu tentang Reza?” Naya makin penasaran. “Kenapa kau tak cerita?” desak lelaki itu terlihat kesal. "Aku rasa, itu tak penting untuk diceritakan, Mas." “Dia mencintaimu, apa kau pikir itu tak penting bagiku, Naya?” Ada nada cemburu dalam kata-katanya. “Kau cemburu?” “Ya, aku cemburu. Aku takut perempuan yang aku cintai berpaling saat aku tak ada di sampingnya.” “Hatiku sudah kujatuhkan padamu, Mas.” Aditya mengulum senyum bahagia. Ia yakin, jika Naya adalah perempuan yang dipilihkan untuk menjadi jodohnya. Jika Allah sudah menitipkan cinta dalam hati insan berlainan jenis, yang saling jatuh hati karena mengharap rida dari-Nya, niscaya Dia akan sempurnakan jalan menuju batera suci bernama pernikahan. Aditya dan Kanaya ingin mengukir sejarah hidup mereka dalam sebuah ikatan suci itu. Mereka berharap, perasaan yang tumbuh dalam hati akan bermuara pada satu tujuan yang sakral, dan selalu berlimpah kebahagiaan hakiki. Karena sejatinya cinta adalah saling memiliki, berpegang teguh pada rida Ilahi, mencintai karena-Nya dan berharap hanya akan ada cinta berujung Jannah. "Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, “Siapa mereka itu?", “Mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah.” (Hadis riwayat Ahmad). *** Surat Ar-Rahman yang dibacakan Aditya terdengar begitu syahdu dan menyayat hati. Tujuh puluh delapan ayat telah berhasil dilantunkan dengan tilawah yang merdu. Bahkan ada beberapa orang yang sampai menitikkan air mata. Surat Ar-Rahman merupakan salah satu mahar yang Naya minta untuk dibacakan calon suaminya. Dalam surat tersebut, mengandung gambaran tentang surga dan kenikmatannya. Ia ingin pernikahan mereka bisa termotivasi untuk senantiasa menjalankan rumah tangga yang berorientasi pada akhirat. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan. Bunyi ayat yang diulang-ulang itu membuktikan, betapa kenikmatan yang Allah berikan tiada tandingannya. Dalam setiap ayat yang dibacakan, perempuan itu berharap pernikahan mereka selalu penuh dengan kenikmatan. Kalaupun ujian Allah datangkan, semata karena kasih sayang-Nya untuk meningkatkan keimanan. Rasa haru tak kuasa menutupi riasan wajah yang begitu memesona. Kedua netra perempuan itu berkaca-kaca. Momen ini bagaikan mimpi indah baginya. Terdengar dengan jelas dari dalam kamar Naya yang disulap menjadi kamar pengantin, Ali dan Aditya yang tengah melafalkan ijab kabul. “Ananda Aditya Wibisana bin Yanuar Wibisana, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Kanaya Zivana binti Ali Hasan dengan mas kawin berupa surat Ar-Rahman, seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar Rp2.522.019,00 dibayar tunai.” Begitu lafal ijab yang diucapkan Ali. “Saya terima nikah dan kawinnya Kanaya Zivana binti Ali Hasan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Aditya terdengar lancar melafalkan kabulnya hanya dengan satu tarikan napas. “Bagaimana para saksi, sah?” Bapak penghulu bertanya pada semua saksi yang hadir. Semua yang ada di ruangan itu serentak berteriak, “SAH”. “Alhamdulillah,” ucap bapak penghulu penuh rasa syukur. Doa pun dimunajatkan untuk kebahagiaan dan keberkahan kedua mempelai. Barakallahu laka, wa baraka 'alayka wa jama'a baynakuma fi khayr. "Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu dan keberkahan atas pernikahanmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” Seluruh prosesi pernikahan berjalan dengan lancar dan khidmat. Keluarga besar kedua belah pihak serta para tamu undangan merasa lega dan turut bahagia. Di kamar pengantin, Naya hanya bisa meneteskan air mata bahagia tatkala prosesi pernikahannya telah selesai dilaksanakan. Sayup-sayup terdengar langkah kaki menuju kamar yang sudah berhiaskan dekorasi bunga-bunga. Nurul tampak berdiri di ambang pintu. Memperhatikan putri semata wayang yang kini sudah menjadi milik orang. Sang bunda menghampiri putri kesayangan yang masih berlinang air mata. Segera memeluknya dengan penuh kasih, ikut menangis haru. “Barakallah, Sayang. Kini kau telah sah menjadi istri Aditya. Jadilah istri yang salehah. Semoga pernikahan kalian sakinah, mawaddah dan warohmah hingga ke surga-Nya nanti.” Doa Nurul sembari mencium kening anak kebanggaannya itu. “Jazakillah khair, Bunda,” ucap Naya menangis terharu dalam pelukan perempuan yang telah merawatnya dengan penuh kasih sayang. “Ayo, kini saatnya menjalankan tugas pertamamu sebagai seorang istri. Mendampingi suamimu di pelaminan,” ucap Nurul tersenyum. Perempuan itu menyapu air mata di pipinya dengan tisu yang sedari tadi berada dalam genggaman. Nurul menuntun Naya menuju pelaminan. Semua mata tampak takjub melihat kecantikan bidadari sehari yang mengenakan gaun kebaya putih pengantin, dengan model hijab warna senada yang dihias indah. Aditya menyambut istrinya dengan penuh suka cita. Ia meraih tangan itu dengan lembut, lalu dipapah menuju kursi di sampingnya. Mereka menandatangani semua proses administrasi dari Kantor Urusan Agama. Sesi foto-foto pun dilakukan. Mengabadikan momen bahagia pernikahan Naya dan Aditya yang dihadiri seluruh keluarga kedua belah pihak, dan beberapa kolega yang menyaksikan prosesi akad nikah. Aditya merasa bahagia, karena kini Naya sudah sah menjadi istrinya. Ia takkan lagi takut untuk menggenggam tangan perempuan yang sangat dicintainya itu. Naya mencium tangan suaminya dengan cinta dan Aditya mengecup kening sang istri dengan penuh kasih sayang. Dalam setiap derai tawa yang tercipta, ada doa yang terlantun untuk kebahagiaan kedua mempelai. Kau adalah candu yang selalu membuatku rindu. Dalam setiap derai tawamu mengalunkan lirih panjang tak berkesudahan. Mencintaimu adalah anugerah terindah yang Allah berikan. Terima kasih telah menerimaku menjadi imam dalam hidupmu. Janjiku hanya pada Sang Pemilik Hati semata. Akan menjadikanmu bidadari surga hingga Jannah menyambut dengan sukacita. Barisan kata dalam secarik kertas putih, mampu membuat hati perempuan yang tak berhenti mengukir senyuman itu berbunga. Lelaki yang kini sudah menjadi suaminya ternyata begitu romantis. Akan ia dekap dalam doa di setiap sujud, sebuah nama yang takkan terlupa. Sebuah harap akan sehidup sesurga, hingga hanya maut yang bisa memisahkan. Pengabdiannya adalah utama, yang bisa mengantarkan menuju Jannah. Tak peduli rintangan yang akan datang. Genggaman tangan yang kini terpaut, akan saling menguatkan. Betapa cinta karena Allah telah mempersatukan jiwa hampa, siap diisi dengan siraman kasih sayang. Semoga rida Allah selalu menyertai dalam langkah menuju bahtera rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warohmah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD