Wajah tampan memikat, gaya bicara luwes, sikap berwibawa dan kharisma yang memesona dari lelaki berusia tiga puluh tahun itu, telah memukau seluruh mahasiswa yang menghadiri seminar bisnis pagi itu. Tampaknya seluruh mahasiswa perempuan begitu terpesona dengan ketampanan dan kemapanan yang dimiliki Aditya. Sungguh sosok lelaki idaman setiap makhluk hawa.
Tampan, berpendidikan, berkharisma dan pemilik perusahaan ternama, merupakan sosok nyaris sempurna yang jarang dimiliki seorang lelaki. Karena tentunya kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Bahkan, mahasiswa laki-laki pun begitu mengagumi Aditya dengan segala yang dimilikinya. Lelaki itu hanya tersenyum kecil menanggapi kekaguman para mahasiswa di sesi coffee break.
Sebagai perempuan biasa, tersimpan pula kekaguman dalam hati Naya terhadap lelaki yang ternyata pandai mengaji itu. Lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar syahdu saat Aditya membacakan surat Al-Baqarah ayat 261. Seluruh manusia di ruang seminar begitu terpukau dengan tilawah yang dibawakan lelaki itu.
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 261).
Begitu terjemahan dari ayat yang dibacakan tentang pentingnya sedekah. Tak heran jika seluruh mahasiswa berdecak kagum dengan pemahaman Aditya akan kandungan Al-Qur'an mengenai arti sedekah dan manfaatnya yang luar biasa.
Naya segera menepis perasaan yang membuat dadanya berdebar lebih hebat. Selalu saja ada hal yang berbeda tatkala dihadapkan pada situasi yang berhubungan dengan Aditya. Ia berupaya untuk menjaga martabat dan harga diri sebagai seorang perempuan. Tak mau terlihat salah tingkah meski hati bergetar hebat kala berada di dekat lelaki itu. Tak ingin terlihat gugup meski kedua kaki tiba-tiba menjadi lemas saat bersamanya.
Aditya memang seperti lelaki yang tak begitu suka dipuja. Ia lebih terlihat dingin. Mungkin itulah yang membuat para perempuan semakin penasaran dan mengaguminya. Lelaki nyaris sempurna nan bersahaja.
"Terima kasih atas waktu dan kesempatan mau berbagi dengan kami di sini, Pak Aditya," ujar Naya sesaat setelah acara seminar selesai.
"Saya juga senang bisa berbagi pengalaman dengan mahasiswa yang luar biasa antusias terhadap perkembangan ekonomi dan harapan untuk memajukan ekonomi berbasis syariah Islam. Itu patut diapresiasi."
"Tentu, Pak. Mereka harus dijejali dengan ilmu dan pengalaman dari ahlinya untuk memperkuat tatanan ekonomi saat ini," ujar Naya menambahkan.
"Mungkin kita bisa sharing lebih lanjut mengenai hal ini. Saya tertarik dengan gagasan Anda mengenai ekonomi syariah."
"Insyaallah, Pak. Semoga lain waktu dan kesempatan kita bisa melakukan itu."
"Ya, tentu. Kalau begitu, saya mohon maaf, mungkin untuk saat ini saya tidak bisa berlama-lama, karena harus menghadiri rapat selepas zuhur nanti."
"Baik, Pak. Semoga hari Bapak menyenangkan. Sekali lagi terima kasih banyak."
Perempuan itu melepas kepergian sang tamu istimewa dengan senyuman. Acara seminar telah berakhir di tengah terik mentari tepat sebelum azan berkumandang.
Dengan mobil yang dipakai menjemput Naya dua hari lalu, Aditya pamit tanpa basa-basi. Meninggalkan kesan mendalam tak hanya di hati para peserta seminar, tetapi juga menorehkan kekaguman yang mendalam di hati Naya. Ia hanya berharap dapat dipertemukan kembali dengan lelaki itu. Entah esok atau di hari yang telah Allah tentukan waktunya.
***
Jika rasa dipasung rindu, serasa dipenuhi butiran partikel yang mulai bertebaran mengisi relung jiwa. Ingin segera dilepas bebas, tetapi tak kuasa karena keadaan yang tak sejalan. Hanya bisa menunggu di sudut hati. Mengharap ada keajaiban datang bersama menguarnya keraguan.
Waktu bergulir dengan cepat. Seakan memaksa melesak melewati pertanyaan yang hilir mudik singgah dan meracuni pikiran. Meski ingin menentang, tetapi hanya bias kekecewaan yang menghadang. Lagi-lagi, harapan semu yang pada akhirnya akan datang bersama luka.
Tidak, Naya harus membuang jauh angan-angan yang selama ini mengganggu pikirannya. Dalam situasi saat ini, berserah diri merupakan jalan menyerahkan seluruh rasa pada Sang Pemilik Hidup. Hanya Allah tempat sebaik-baiknya muara segala lara.
Tepat dua minggu setelah acara seminar di kampus, Aditya datang sendiri di jam makan siang. Naya baru saja selesai melaksanakan salat zuhur di masjid kampus, ketika menyadari mobil lelaki yang selama ini menguasai hati dan pikiran, terparkir di antara mobil-mobil lainnya.
Perempuan itu hapal dengan betul plat nomor yang tertera di belakang mobil. Itu memang milik Aditya. Sempat menepis prasangka, mungkin saja lelaki itu datang tidak untuk menemuinya. Segera berlalu dari halaman masjid menuju ruang dosen untuk bersiap makan siang.
"Naya ...."
Langkah kecil Naya terhenti ketika seseorang memanggil dari belakang. Suara itu begitu dekat di telinga dan ia mengenal siapa pemiliknya. Mencoba menguasai debaran d**a yang mulai kembali datang tak menentu.
Aditya telah berdiri di sana saat perempuan itu berbalik, dengan seuntai senyum yang telah mampu meluruhkan hatinya sejak pertama kali bertemu.
"Maukah kau makan siang denganku?" tawarnya tanpa basa-basi.
Naya yang semula tegang dengan suasana hati yang tiba-tiba berubah, hanya bisa tersenyum menanggapi. Sebegitu poloskah lelaki itu datang tiba-tiba setelah berhasil mengaduk-aduk perasaannya?
Ah, mana Aditya tahu tentang isi hatinya. Ia yang terlalu banyak berharap. Begitu terpesona dengan anugerah yang Allah berikan pada sosok yang kini berdiri di hadapannya.
Astagfirullah.
Segera melafalkan kalimat itu dalam hati. Menyadari jika pikiran itu tidaklah benar. Ia tak boleh terlalu jauh terbuai dengan kenikmatan dunia. Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebihan. Hanya sekadarnya saja. Karena kecintaan kita terhadap sesuatu tidak boleh melebihi kecintaan kepada Sang Mahakuasa.
Naya mungkin manusia biasa yang dianugerahi perasaan cinta kepada lawan jenis. Namun, ia pun memiliki kaidah yang harus ditaati. Menyukai Aditya adalah wajar, tetapi berharap lebih dari itu takut hanya kecewa yang tersisa. Jadi, lebih baik menjaga hati agar tetap pada jalur yang tepat. Hanya mencintai dalam doa, karena mendoakan adalah mencintai yang paling rahasia.
Dalam suasana mentari yamg bersinar hangat, sepasang insan itu menikmati makan siang di sebuah kafe yang tak jauh dari kampus. Menyamarkan debaran yang selalu datang tak tentu dengan hanya mengulas senyum. Menimbulkan sensasi aneh meski hanya saling menatap.
"Apa kau tahu, apa yang kupikirkan selama dua minggu kita tak bertemu?" tanya Aditya membuka pembicaraan siang itu.
Perempuan itu menggeleng. Hatinya berdebar kencang dengan pertanyaan yang terlontar.
Aditya mengembuskan napas perlahan. Mengedarkan pandangan ke sekitar, lalu menatap perempuan di depannya lekat.
"Dirimu," ucapnya masih belum beranjak dari tatapan tajam yang mampu membuat Naya harus mengalihkan pandangan, tak kuasa membalas.
"Maksud Bapak?"
Aditya mendekatkan bibirnya ke dekat wajah Naya, membuat perempuan itu otomatis menarik diri sedikit menjauh. Meskipun begitu, ia bisa mencium wangi maskulin yang menguar dari tubuh lelaki itu. Begitu menenangkan sekaligus menimbulkan sensasi aneh di dadanya.
"Call me, Aditya," ucapnya lembut terdengar.
Naya hanya diam terpaku, menatap wajah yang sudah kembali ke tempat semula. Terlihat begitu tenang dan tanpa beban. Apakah lelaki itu tak merasakan degup jantungnya yang berpacu lebih cepat? Ataukah ia memang tak memiliki perasaan apa pun, sehingga tak memedulikan rasa yang kini menguasai hati perempuan itu.
"Naya, kau dengar aku, kan?"
Aditya menatap heran wajah perempuan di depannya yang terlihat tengah memikirkan sesuatu.
"Ya, Mas."
Lelaki itu tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi.
"Setidaknya, panggilan itu terdengar lebih baik," ucapnya tergelak.
Mereka saling melempar senyum. Menetralisir kecanggungan yang tiba-tiba menguasai.
"Oya, apa maksudnya tentang ucapan Mas tadi?"
"Tentang apa yang kupikirkan selama dua minggu tak bertemu denganmu?"
Perempuan itu mengangguk.
"Entah kenapa, selama dua minggu ini pikiranku selalu dirimu. Selalu ingin bertemu denganmu. Namun, pekerjaan begitu menyita waktu, sehingga aku baru memiliki kesempatan menemuimu sekarang," ujar Aditya apa adanya.
Entah seperti apa rona wajah perempuan itu saat ini, mendengar pernyataan yang di luar dugan. Mungkinkah lelaki itu memiliki perasaan yang sama dengannya?
Namun, bagaimana jika perkiraan itu salah? Bagaimana jika Aditya hanya sekadar menggoda saja? Naya tak ingin berharap lebih. Ia tak mau kecewa, jika pada akhirnya lelaki itu tidak pernah menganggapnya istimewa.
"Kenapa kau ingin selalu bertemu denganku, Mas?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Rasa penasaran membuatnya ingin mengetahui lebih dalam akan perasaan lelaki di depannya.
"Mungkin karena masih banyak hal ingin kubicarakan denganmu, yang entah kenapa bisa membuatku lebih bersemangat."
"Aku merasa tersanjung mendengarnya," ucap Naya spontan.
Aditya menatap lekat kedua netra bening perempuan yang tak melepas senyuman itu. Ia merasa ada debaran aneh di d**a saat ini. Melihat untaian lengkung tipis yang selama dua minggu ini membayangi, membuat rindu dan memaksa untuk segera bertemu.
Naya membalas tatapan itu lebih dalam, seolah ingin memastikan perasaannya. Meyakinkan hati jika ia benar-benar telah jatuh dalam pesona lelaki itu.
Pandangan mereka bertemu selama beberapa saat, mencipta gemuruh yang kian membuncah. Kehadiran waitress membuat tatapan itu terurai. Makanan yang mereka pesan telah tersaji di atas meja.
"Selamat menikmati hidangannya," ucap perempuan muda itu hendak berlalu.
"Terima kasih." Naya dan Aditya hampir bersamaan mengucapkannya, membuat sang waitress tersenyum simpul.
Mereka pun segera menikmati makanan yang dipesan setelah perempuan muda itu pergi. Alih-alih menghabiskan hidangan tanpa kata, pikiran mereka malah berkecamuk tak karuan. Degup jantung berdetak lebih cepat, memicu perasaan kikuk hingga kembali saling melempar senyum dengan tatapan penuh arti.
Melewatkan makan siang dengan pikiran masing-masing. Entah kenapa rasa canggung itu tiba-tiba menguasai keduanya. Mereka menghabiskan waktu dengan lebih banyak membahas kehidupan, sesekali diselingi bersenda gurau.
***
Kedekatan dengan Aditya semakin menambah warna baru dalam hidup Naya. Sadar akan kodratnya sebagai seorang perempuan yang harus bisa menjaga jarak dan pandangan. Ia tahu batas kewajaran seorang muslimah ketika bersama yang bukan mahram. Harus bisa menguasai perasaan dan pikiran secara bersamaan.
Sejauh ini, penilaiannya tentang Aditya adalah lelaki yang baik. Ia memahami tentang akidah. Tahu bagaimana menghormati dan menghargai seorang perempuan.
Sementara Naya justru merisaukan perasaannya. Tak bisa membohongi diri sendiri jika lelaki itu telah menguasai bukan hanya hati, tetapi juga seluruh ruang yang ada dalam jiwa. Ia coba menyimpan rasa itu. Ada doa yang diselipkan dalam setiap sujud dan tengadahnya kedua tangan, berharap Allah memberikan yang terbaik untuk mereka.
Naya belum bisa memahami perasaan yang tersimpan dalam hati lelaki, yang telah mengisi hidupnya selama empat bulan ini. Menyelami lebih dalam lagi akan kehidupan yang sedikit demi sedikit telah coba dimengerti.
Satu hal yang pasti, Aditya selalu memperlakukan ia dengan sopan dan penuh perhatian. Terkadang lelaki itu diam-diam mengirimkan buket bunga aster kesukaannya.
"Kenapa kau begitu menyukai bunga aster?" tanya Aditya suatu hari, saat lelaki itu mengajaknya menikmati senja yang temaram di langit cakrawala, di pantai Ancol.
"Bunga aster memiliki arti tersendiri. Bunga yang bisa diterima dalam berbagai situasi. Dari warna pun bunga ini bisa mengandung makna yang berbeda," ucap Naya menjelaskan.
"Lalu, apa arti bunga aster bagimu?"
Perempuan itu terdiam sejenak. Menatap hamparan laut biru yang begitu menenangkan jiwa. Deburan ombak dan semilir angin membuatnya lebih rileks. Itulah kenapa ia langsung memilih pantai sebagai tujuan mereka menikmati langit senja. Karena begitu menyukai pantai dan ombaknya. Mereka adalah dua hal yang tak terpisahkan.
Betapa setianya pantai menunggu ombak datang, begitu pun ombak begitu rindu dan selalu kembali pada pantai. Tidakkah kita belajar dari alam tentang arti setia dan rindu?
"Naya ...."
Perempuan itu menoleh ke lelaki yang duduk tak jauh di sampingnya. Hamparan pasir menjadi alas mereka duduk saat ini. Naya mengulas senyum di bibir, seakan ingin menguji rasa penasaran Aditya terhadap jawabannya.
"Kau benar-benar ingin tahu alasannya, Mas?" goda Naya tersenyum.
"Apa kau pikir aku hanya basa-basi menanyakan itu?"
Naya kembali memandang laut di kejauhan. Detik kemudian kepalanya menengadah ke langit senja yang mulai menampakkan keindahannya. Hamburan cahaya yang sempurna di cakrawala. Perpaduan warna jingga, biru dan ungu yang sempurna.
"Lihat ke atas sana!"
Lelaki itu mengikuti perintah Naya. Memandang langit senja yang kian paripurna. Sejenak mereka terpukau akan ciptaan Sang Mahakuasa. Bergeming tanpa suara.
"Sebentar lagi magrib, kita harus siap-siap melaksanakan salat."
Perempuan itu beranjak dari duduknya, kemudian bangkit berdiri. Aditya menyusul kemudian.
"Kau belum menjawab pertanyaanku."
"Akan kujawab setelah salat nanti," ucap Naya sambil berlalu.
Aditya mengikuti dari belakang. Menyejajarkan diri berjalan di samping perempuan yang belakang ini sudah mengisi hari-harinya.
Melaksanakan salat tiga rakaat secara berjamaah dengan khusyuk, menjadikan hati lebih tenang dan damai. Betapa Allah begitu mencintai hamba yang menyegerakan panggilan-Nya.
Sesama muslim yang tak saling kenal, membaur jadi satu menghadap satu tujuan, mengharap rida Allah semata. Selepas salat magrib di masjid yang letaknya tak jauh dari pantai, sepasang insan itu berjalan beriringan meninggalkan rumah Allah untuk kembali pulang.
"Sebelum pulang, kita makan dulu ya!"
Perempuan itu mengangguk. Garis tipis membentuk lengkung di kedua ujung bibirnya. Mereka menuju sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari masjid.
Menu makan olahan seafood menjadi pilihan Naya. Ia menyukai udang yang diolah dengan dibakar dan diolesi madu, sementara Aditya lebih memilih menu sup gurame.
"Kau ternyata lebih menyukai makanan berkuah, Mas?" tanya Naya sesaat setelah pelayan restoran berlalu.
Perempuan itu baru menyadari, saat makan pertama kali bersamanya, lelaki itu memesan sup ayam rempah. Tak sedikit pun mau menyentuh desert red velvet cake yang ia pesan.
Aditya mengulum tersenyum.
"Kau beri tahu dulu jawaban tentang bunga aster itu, baru nanti kuberikan alasan kenapa aku lebih menyukai makanan berkuah."
Tawa renyah Naya terlepas begitu saja, membuat Aditya lekat menatap semburat wajah yang selalu membuatnya terpesona.
"Baiklah, akan kujawab rasa penasaranmu," ujar perempuan itu sambil menghela napas.
"Bunga aster itu simbol dari kecantikan, kemurnian, kedamaian dan menggambarkan sebuah pengharapan. Ia merupakan lambang cinta dan kesabaran. Juga bisa mewakili segala suasana, baik itu sedih atau pun bahagia," terang Naya sambil menatap lelaki itu.
"Sebuah pengharapan?" Lelaki itu mengernyit heran.
"Ya, bunga aster bisa mewakili harapan seseorang. Ketika sedih, berharap bisa meredam kesedihan itu. Begitu pun saat bahagia, bisa lebih memancarkan aura kebahagiaan. Sehingga pada kedua situasi tersebut, bunga ini menjadi simbol kekuatan, bukan karena kecantikannya, tapi arti yang terkandung di dalamnya."
"Luar biasa. Penjelasan yang menarik. Aku sekarang memahami lebih spesifik, kenapa kau begitu menyukai bunga aster."
"Maksudnya?"
"Karena bunga aster adalah simbol dari dirimu. Cantik dan memancarkan aura kebahagiaan," ujar lelaki itu apa adanya.
"Kau terlalu berlebihan, Mas," guman Naya tersipu.
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Berada di dekatmu membuatku jauh lebih bahagia."
"Kenapa bisa begitu?"
"Entahlah. Ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Satu hal yang pasti, kau adalah sumber kebahagiaan itu."
"Kau sedang menggodaku?"
"Lebih tepatnya memuji."
Naya terdiam. Ia tak menyangka jika Aditya akan membuatnya tersanjung dengan kata-kata yang baru saja diucapkannya. Mencoba mencari ketulusan dari kedua netra cokelat lelaki itu. Ada keyakinan yang terpancar di sana.
"So, sekarang giliranmu. Kenapa kau lebih menyukai makanan berkuah?"
Perempuan itu segera mengalihkan pembicaraan. Ia tak ingin Aditya mengetahui keadaan hatinya saat ini yang mulai tak menentu. Berada di dekatnya saja sudah membuat debaran aneh, apalagi dengan kata-kata yang menyanjung, membuat jantung itu seperti berloncatan.
Aditya tak segera menjawab. Obrolan mereka terhenti saat pelayan yang membawa pesanan datang dengan nampan berisi hidangan yang sudah ditunggu sejak tadi.
"Aku punya pengalaman buruk soal makanan," ujar lelaki itu sambil menyajikan sup ke dalam mangkuk kecil. Sementara Naya memerhatikan seraya mengambil udang berukuran cukup besar ke atas piringnya.
"Saat umur empat tahun, aku pernah tersedak makanan, hingga hampir kehilangan nyawa. Rasa sakit yang luar biasa itu meninggalkan trauma mendalam. Dokter mendiagnosa jika aku menderita Phagophobia, yaitu ketakutan akan menelan makanan."
"Trauma menelan makanan?" tanya Elea heran.
"Ya. Sakit itu masih membekas jelas dalam ingatan, bahkan hingga saat ini. Sejak kejadian itu, aku menjalani terapi dan berangsur-angsur membaik. Namun, aku masih tak bisa mengkonsumsi makanan padat, hanya bisa menelan jenis makanan yang berkuah."
Aditya menyendok sup, menikmati makanan itu dengan hati-hati.
"Pasti sangat berat melewati trauma itu, ya, Mas?" tanya Naya sambil memotong udang dan menyuapkannya ke mulut.
"Aku pernah berusaha untuk mencoba menelan selain makanan berkuah, tapi ketika memasukkan makanan itu ke mulut, entah kenapa jantungku tiba-tiba berdebar hebat, keringat dingin keluar dan langsung sesak napas, hingga membuatku mengeluarkan kembali semua yang belum sempat dikunyah."
"Sampai separah itu?" Naya terbelalak tak percaya.
"Aku juga tak menyangka bisa sehebat itu pengaruhnya. Namun, aku masih mensyukuri nikmat yang masih Allah berikan hingga saat ini."
"Kita pasti bisa melalui setiap ujian yang Allah berikan, karena Allah selalu menghadirkan hikmah bersamaan dengan itu."
"Ya, karena itulah aku tak pernah mengeluh ataupun marah dengan takdir yang tidak sesuai dengan harapan. Aku percaya, Allah memberikan ujian sesuai kemampuan."
"Aku pun percaya, Allah mengirimkan segala yang ada di dunia ini karena suatu alasan. Bahkan, lalat yang dianggap sumber penyakit pun, ternyata memiliki manfaat tersendiri."
Naya menyesal setelah mengatakan itu. Seharusnya ia tidak membahas tentang lalat di saat mereka tengah menikmati hidangan.
"Maaf, Mas ...," bisik Naya seraya menatap lelaki di depannya.
"Tidak masalah, aku bukan termasuk orang yang cepat merasa jijik," ujar Aditya setengah berbisik.
Diam sesaat. Mereka kembali menikmati hidangan masing-masing.
"Apa yang kau ketahui tentang lalat, Nay?" tanya lelaki itu seraya mengambil sebotol air mineral, lalu menuangkannya ke dalam gelas.
Naya menatap Aditya, ia melihat keingintahuan lelaki itu akan jawabannya. Segera diambil segelas orange juice dan meminumnya perlahan.
“Jika lalat terjatuh dalam minuman salah seorang di antara kalian, maka tenggelamkan, kemudian angkatlah, karena pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap yang lainnya terdapat penawar. Begitu hadis yang diriwayatkan Al-Bukhari."
"Kau akan melakukan itu jika lalat jatuh di minumanmu?"
Perempuan itu hanya tersenyum menanggapi.
"Sepertinya aku tahu jawabanmu."
"Apa?"
"Kita akan buktikan nanti jika ada lalat jatuh di minumanmu."
Mereka tertawa bersamaan.
"Aku pernah membaca dalam sebuah jurnal, bahwa ada sekelompok peneliti dari University of Alicante, Spanyol. Mereka membuktikan bahwa larva lalat dapat mengurai t***a hewan dan manusia. Itu artinya larva lalat bermanfaat mengurangi jumlah biologis yang ada di muka bumi," ujar Aditya menambahkan.
"Ya, aku pernah membaca mengenai hal itu. Jadi, apa pun yang Allah ciptakan di dunia ini sudah pasti ada alasannya."
Lelaki itu mengangguk-angguk sambil tersenyum. Entah kenapa, hatinya selalu penuh dengan rasa bahagia setiap bersama Naya. Obrolan mereka pun selalu mengalir dan meninggalkan kesan yang mendalam.
Naya telah mengubah dunianya yang hanya hitam dan putih. Kini ada banyak warna yang menghiasi hidup Aditya. Bahkan sejak pertama kali melihat, perempuan itu sudah meninggalkan kesan mendalam yang membuat ia menyukainya.