Intidzar (Penantian)

1829 Words
Waktu bergulir dengan cepat pada porosnya. Kedua insan yang tengah dilanda cinta itu selalu rindu untuk bertemu. Tak ada ungkapan rasa yang mewakili hati, hanya senyum yang selalu mengiringi setiap kata yang terucap. Dalam debaran d**a yang berdetak lebih cepat, terkadang menimbulkan sikap yang membuat jadi salah tingkah. Akankah penyatuan hati sesuai dengan harapan ataukah sebaliknya? Cinta yang tumbuh dan menguasai, hanya menjadi saksi keraguan diri. Bagi Naya, mencintai seseorang dalam diam itu lebih baik daripada harus mengungkapkan, apalagi mendapat tanggapan yang tak sesuai harapan. Itu mungkin melegakan, tetapi tentu akan lebih menyakitkan. Sementara Aditya masih kesulitan mencari cara untuk membuat perempuan itu memahami perasaannya. Meski ia selalu punya alasan untuk bisa menemuinya, tetapi belum juga ada keberanian untuk bisa merangkai kata, bahwa apa yang terjadi selama ini, karena ia telah jatuh cinta. Sore itu seperti hari yang lalu, Aditya menjemput Naya di kampus. Ia ingin menikmati secangkir kopi dan merasakan kepulan asapnya yang menenangkan. Karena hanya dengan mencium aromanya, sudah bisa merasakan betapa campuran rasa yang tertuang dalam secangkir kopi, menjadi kalimat hati yang tertulis indah tanpa ilusi. Cinta ibarat secangkir kopi yang sudah pasti ada pahit dan manis di dalamnya. Tak bisa terpisahkan. Hanya perpaduan klasik yang menjadikan cinta itu istimewa. Aditya begitu menyukai kopi beserta filosofinya yang membumi. Dari secangkir kopi ia banyak belajar tentang arti rindu dan kesetiaan. Seperti Naya yang menyukai ombak dan pantainya. Kopi pun memiliki arti tersendiri. Tentang pahit dan manis yang saling setia mencipta rasa yang sempurna. Seperti aroma kopi yang dihasilkan, meninggalkan kerinduan bagi penikmatnya. Lelaki itu belajar dari cara Naya mengartikan rasa suka. Karena hidup itu memiliki makna yang luas. Kita terkadang harus memiliki alasan kenapa kita menyukai sesuatu, agar orang lain tahu kualitas diri kita yang sesungguhnya. "Kita berangkat?" Aditya menoleh, perempuan itu telah bersiap dengan balutan gamis motif garis warna ungu muda dengan variasi abu-abu, dipadukan dengan jilbab panjang yang tergerai warna senada. Lelaki itu selalu terpesona akan kecantikan Naya yang sempurna. Mobil yang ditumpangi dua insan itu, berbelok menuju coffee shop yang letaknya tak jauh dari kampus. Bertema homy, menjadikan setiap pengunjung serasa berada di rumah sendiri. Kopi yang disajikan pun beragam, dari mulai Italian style coffee, cold brew coffee sampai kopi dari daerah se-Indonesia, disajikan dengan racikan yang sempurna. Sehingga pengunjung pun tak pernah berhenti, silih berganti memadati tiap sudut tempat di sana. Mereka memilih tempat di ujung ruangan menghadapi jendela yang terhubung dengan halaman outdoor, menampakkan desain taman minimalis yang menarik. Aneka rupa tanaman hijau yang tumbuh dalam pot-pot kecil, tertata dengan rapi. Menjadikan suasana asri dan segar. Naya memilih cold brew coffee saat pelayan menyajikan daftar menu ke hadapan mereka. Kopi jenis ini dibuat dengan memakai metode perendaman selama minimal delapan jam. Hasil dari kopi ini cenderung lebih ringan dan istimewa. Dipadukan dengan s**u dan krimer menjadikan kopi memiliki cita rasa yang khas. Sementara Aditya lebih memilih Vietnam drip coffee. Dia percaya, racikan kopi s**u khas Vietnam ini memiliki arti tersendiri, karena disajikan dengan proses yang penuh kesabaran. Tak heran penggemar kopi ini dipercaya sebagai orang yang bisa menikmati proses, bukan sekadar tahu hasilnya. "Kau menyukai Vietnam drip coffee, Mas?" tanya Naya sambil menatap lelaki itu. "Sebenarnya aku lebih menyukai kopi lokal, terutama kopi Lombok. Cita rasanya khas dan lebih nikmat. Hanya saja, V-drip menarik karena proses pembuatannya yang unik." "Sejak kapan kau menyukai kopi?" "Sejak kuliah. Itu pun karena diajak teman menikmati kopi espresso. Rasa pahitnya unik. Sejak saat itu, aku mencoba berbagai macam kopi. Sampai akhirnya menemukan kopi favorit, yaitu kopi Lombok." Mereka terdiam saat pesanan kopi sudah tersaji di atas meja. Menikmati kopi bersama seseorang ternyata memberikan sensasi yang berbeda. Itu yang dirasakan keduanya saat ini. Entah karena filosofi kopi yang selama ini berseliweran di beberapa artikel atau karena terbawa suasana yang setiap kali bersama, selalu saja ada perasaan yang lain di hati. “Aku akan pergi ke Dubai, Nay," ucap Aditya sesaat setelah menyesap kopinya. Ia menatap lekat Naya, seakan ingin melihat dengan pasti tanggapan yang nampak dalam wajah itu. Ucapan Aditya yang tiba-tiba, mampu membuat Naya terdiam. Ia tak menyangka akan mendengar hal itu di saat suasana hatinya tengah bahagia. “Kau dengar aku, kan, Nay?” tanya lelaki itu membuyarkan keterpakuannya. Naya menatap Aditya tajam, tetapi lagi-lagi ia tak kuasa melihat lebih lama ke dalam mata lelaki yang selalu membuatnya terpesona. Diminum kembali kopi yang sudah habis separuh isinya itu. “Ya, aku dengar, Mas,” ucapnya lirih. “Sepertinya, kali ini aku akan cukup lama di Dubai, kurang lebih setahun. Karena kondisi Papa yang tak sekuat dulu lagi, jadi Papa mengalihkan tanggung jawab pembangunan apartemen kami di Dubai,” ujar lelaki itu menjelaskan. “Aku hanya bisa mendukung keputusanmu, Mas." Naya mencoba menahan perasannya agar tak terlihat resah. Menyembunyikan debar yang kini berganti dengan kekhawatiran akan kepergian lelaki itu. Akankah ia sanggup berjauhan, sementara selama ini telah banyak kenangan yang tercipta meski waktu belum begitu lama mereka nikmati. “Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu, Naya.” Aditya terdiam sesaat. Melempar pandangannya ke sekitar. Naya menanti dengan gelisah. Ditatapnya lagi lelaki itu diam-diam, berharap akan ada sesuatu yang melegakan dari pernyataannya barusan. “Maukah kau menungguku pulang?” tanya Aditya mampu membuatnya terdiam. Apa itu berarti lelaki itu juga menyimpan perasaan yang sama dengannya? “Naya ...." Perempuan itu menatap lekat wajah yang selama lima bulan menemani. Haruskah ia menjawabnya sekarang? “Untuk alasan apa aku menunggumu pulang, Mas?” tanya Naya memberanikan diri. Aditya ingin sekali menggenggam tangan perempuan yang sejak pertama kali melihat telah membuat hatinya berdesir hebat, tetapi ia tak berani. Kedua tangannya hanya saling remas di atas meja. “Aku mencintaimu, Naya,” ucap lelaki itu tegas. Bagai mimpi mendengar pengakuan yang baru saja diungkapkan dari mulut lelaki yang juga selalu disebutnya dalam setiap doa. Hanya diam terpaku menatap wajah yang juga begitu dicintai. “Apa kau juga memiliki perasaan yang sama denganku?” lanjut Aditya menatap ke dalam iris bening itu. Naya kembali terdiam. Meyakinkan hati jika saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Detik kemudian, terlukis garis tipis di kedua ujung bibir mungil itu. Aditya tak perlu bertanya lagi tentang perasaan perempuan yang sudah membuatnya jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya. Ia mengembuskan napas lega. “Jadi, maukah kau menungguku pulang?” tanya lelaki itu lagi memastikan. Kali ini, sepertinya ia membutuhkan jawaban yang pasti. “Ya, Mas, aku akan menunggumu pulang,” jawab perempuan itu mengangguk. Mereka saling melempar senyum bahagia. Naya kini tak lagi risau akan perasaan lelaki itu, karena kini ia sudah tahu pasti jika cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Meskipun jarak dan waktu terpaut jauh, jika Allah sudah berkehendak, tak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Ia percaya, Aditya akan kembali untuk cintanya. *** Suasana sore hari di terminal tiga Bandara Internasional Soekarno-Hatta terasa begitu ramai. Naya tengah menunggu Aditya yang tengah check-in di counter maskapai. Hati perempuan itu tiba-tiba berdebar tatkala lelaki itu berjalan ke arahnya. Sebentar lagi, ia harus berpisah dengan lelaki yang dua hari lalu memintanya untuk menunggu. Waktu setahun mungkin akan terasa begitu lama. Menanti Aditya kembali dan meminangnya. Naya menyambut kekasih pujaan dengan senyum khasnya. “Satu jam setengah lagi pesawatku berangkat,” ucapnya menatap wajah perempuan itu lekat. “Kau mau minum kopi dulu, Mas?” tawar Naya seraya mengambil sling bagnya. "Ayo!" Lelaki itu mengangguk, kemudian berjalan berdampingan mengikuti sang kekasih. Mereka menuju coffee shop yang ada di area terminal tiga. Jam di tangan perempuan itu menunjukkan pukul enam belas lewat tiga puluh menit. Ia masih memiliki waktu bersama Aditya. Ingin sekali kebersamaan itu tak pernah terhenti. Namun, sadar jika hidup mereka tak hanya tentang cinta. Ia harus merelakan kepergian Aditya, melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pemilik perusahaan. Perempuan itu menyadari akan cinta yang semestinya menerima segala kondisi. Saat kita sudah dihadapkan dengan cinta, saat itu berarti kita sudah siap menerima segala konsekuensinya. Cinta tidak berdasarkan pemikiran dan perasaan sematazm, karena di dalamnya mengandung arti yang mendalam. Betapa luas penjabaran tentang makna cinta tersebut. Apa pun yang terjadi di depan nanti, Naya harus sudah siap dengan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Takdir Allah itu indah. Seberat apa pun cobaan, akan memiliki hikmah yang tak pernah kita sangka akan membawa ke jalan kebahagiaan. Jadi, untuk apa ia resah akan takdir yang sudah Allah tentukan? Janji Allah itu nyata. Dia sudah menuliskan takdirnya di Lauhul Mahfuz. Tentang jodoh, kematian, kebahagiaan dan juga kesedihan. Semua sudah menjadi ketetapan-Nya dalam mencatat kejadian setiap manusia di alam semesta. Kita hanya tinggal menjalani dengan iman dan takwa, penuh kesabaran dan keikhlasan, hanya mengharap rida Allah semata. Pesawat yang membawa Aditya ke Dubai telah berangkat sepuluh menit yang lalu. Hati Naya terasa perih. Bulir-bulir dari kedua netranya telah merembes, mengalir ke pipinya yang putih. “Tunggu aku pulang, ya, Nay.” Begitu ucap lelaki itu sesaat sebelum melangkah pergi. Ia melihat genangan yang siap tertumpah dari kedua netra perempuan yang telah membuat jatuh hati. Ingin sekali menggenggam tangan itu, lalu merengkuhnya ke dalam pelukan untuk sekadar menenangkan. Namun, ia sadar jika Naya masih belum sah menjadi istrinya. Hanya bisa menatap sendu wajah sang kekasih yang sudah basah oleh tetesan bening yang mengalir perlahan. Kilauan yang membekas di kedua pipi, memancarkan siluet pada pancaran kecantikan yang dimiliki perempuan itu. Semakin membuat Aditya gemas. Ia benar-benar telah jatuh cinta. Kenapa ungkapan itu justru datang beberapa hari sebelum ia pergi? Kalau saja sejak awal menyadari dan memberanikan diri mengemukakan perasaannya, mungkin akan lebih banyak menikmati waktu sebagai sepasang kekasih bersama Naya. Astagfirullah. Seharusnya ia tak boleh berandai-andai. Allah sangat tidak menyukai perbuatan itu. Semua sudah diatur oleh-Nya. Takdir yang sudah ditentukan bagi setiap hamba adalah yang terbaik. Berkali-kali lelaki itu mengucap istighfar. Ia tak ingin Allah murka dengan prsangkanya. Bagaimanapun, kehadiran Naya adalah anugerah yang patut disyukuri. Ia bisa menikmati waktu berdua ketika sudah dihalalkan secara agama. Kalau pun kini harus pergi dalam kurun waktu yang cukup lama, itu adalah ujian yang harus dijalani. Seberapa dalam rasa cinta yang dimiliki untuk bisa mempertahankan sebuah hubungan? Seberapa besar kesetiaan yang dipercayai bisa semakin mempererat jalinan kasih? Sejauh itulah cinta yang akan memperkukuh ikatan yang diharapkan akan abadi hingga tiba waktunya nanti. “Aku mohon, jangan menangis, Bidadariku,” bujuk Aditya mencoba menenangkan kekasihnya. Perempuan itu hanya tersipu. Tersenyum getir. “Kau jangan khawatir, Mas. Aku hanya tak bisa menahan rasa sedih karena kepergianmu. Setelah ini, rasa sedihnya akan segera hilang,” ucapnya menenangkan. Lelaki itu pun mengulum senyum. Mencoba meredam debar di d**a. Mengurai kegelisahan yang tiba-tiba melanda. Berat rasanya perpisahan itu. Di saat hatinya telah tertambat pada perempuan cantik bersahaja, ia harus dihadapkan pada situasi yang tak bisa memungkinkannya untuk selalu bersama. “Aku pergi sekarang!” Aditya mulai melangkahkan kakinya. Beberapa menit lagi pesawat akan take off. “Jaga diri baik-baik selama di sana, ya, Mas." Lelaki itu menganggukkan. Lambaian tangannya mengiringi kaki yang mulai melangkah. “Assalammualaikum.” “Waalaikummussalam,” jawab Naya seraya menatap langkah Aditya yang semakin menjauh dan hilang di tikungan jalan. Perempuan itu menggenggam kedua tangannya erat. Cepatlah kembali, Mas. Aku akan menunggumu di sini, bisik Naya pilu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD