Ara yang tersadar dari lamunannya saat membayangkan awal pertemuan ia dengan Daffa hingga menjadi sahabat selama bertahun-tahun hanya mampu menghembuskan nafasnya. Teka – teki yang sampai sekarang belum Ara mengerti apa yang tengah sahabatnya ini rahasiakan membuat Ara menjadi frustasi.
Melirik jam tangan menyadarkan Ara sudah terlalu lama dirinya berada di dalam kelas, Daffa pasti sudah menunggu dirinya diparkiran pikirnya.
“Loh Ara..” Ara yang kaget dengan kehadiran Revan di depan kelas hanya mengelus dadanya.
“Hai Van. Bisa nggak jangan bikin kaget? Bikin jantung rasanya mau keluar tahu nggak sih.” Omelan Ara hanya ditanggapi oleh Revan dengan senyuman.
“Kok belum pulang Ra?.” Bukannya menjawab omelan Ara, Revan malah balik bertanya.
“Masih nunggu Daffa yang lagi Praktik susulan.”
“Mau gua temani?.” Ucap Revan
Ara menggelengkkan kepalanya “Nggak usah Van, terima kasih. Sepertinya Daffa juga sudah selesai kok.”
“Kalau gitu gua temani sampai Daffa datang yaa. Nggak baik cewek sendirian disaat sekolah sudah sepi.”
“Tapi gua biasanya nunggu Daffa di parkiran Van. Nggak apa–apa gua bisa jaga diri kok tenang aja.” Tolak Ara secara halus dengan disertai senyuman.
“It’s okey. Gua temani jalan keparkirannya sampai kita ketemu Daffa ya.” Masih tetap berusaha Revan mencoba membujuk Ara.
“Tapi…”
“Lo nggak mau jalan sama gua ya?.” Belum sempat Ara memberikan alasan Revan sudah memotong perkataan Ara dengan wajah sedih.
“Eh bukan gitu Van. Gua nggak mau ngerepotin lo doang kok.” Jelas Ara merasa bersalah dengan perkataan Revan barusan.
“Nggak ngerepotin kok. Malah gua senang kali bisa dekat sama lo.” Ara yang mendengar jawaban Revan tersipu malu dan hanya menganggukkan kepalanya.
Ara dan Revan berjalan menyusuri koridor menuju arah parkiran. Benar kata Revan sekolah sudah mulai sepi bahkan suara sepatu mereka yang bersentuhan dengan lantai dapat memantulkan suara. Sedangkan untuk siswa yang sedang menjalankan kegiatan ekstrakurikuler berada di belakang sekolah, tepatnya di lapangan indoor.
“Lo sama Daffa ada hubungan ya?.” Tanya Revan memecahkan keheningan.
Ara menganggukkan kepalanya “Iya. Kami sudah sahabatan dari SMP.”
“Yakin cuman sahabatan.” Balas Revan dengan nada mencoba menggoda Ara.
“Yakin.” Ucap Ara mantap.
Revan hanya mengangguk – anggukkan kepalanya. Mereka kini sudah sampai di parkiran dan melihat Daffa menyandarkan tubuhnya di samping motor dengan tangan melipat di d**a dan wajah datar menatap kearah mereka.
“Revan, terima kasih ya sudah mau temani gua sampai parkiran. Itu Daffa sudah ada disana. Gua duluan yaa. Sampai jumpa besok.” Sambil melambaikan tangan kearah Revan, Ara berjalan kearah Daffa.
“Sudah nunggu daritadi?.” Daffa hanya menganggukkan kepalanya dan memberikan helm kepada Ara. Daffa yang sudah menghidupkan motor, menoleh kearah Ara. Perempuan itu masih focus memakai helmya yang seperti slow motion.
“Naik.” Ucap Daffa saat melihat Ara sudah memakai helmnya. Sedangkan Ara sendiri bagai perintah yang harus dijalankan Ara langsung menaiki motor Daffa.
“Itu androk panjang banget ya.” Sindir Daffa saat melihat rok Ara yang menurutnya terlalu pendek.
“Loh ini masih kepanjangan toh. Iya sudah besok gua pendekin lagi deh.” balas Ara sambil menunjukkan barisan giginya yang rapih saat melihat mata Daffa yang menatap tajam dari kaca spion.
“Di dalam tas ada jaket. Pakai gih.” Ucap Daffa membuat Ara langsung membuka tas untuk mengambil jaket Daffa.
“Nah selesai. Yok.” Ucap Ara. Daffa yang melirik kearah kaki Ara dan tidak menemukan jaket untuk menutupi pahanya langsung menoleh kebelakang dan ia merasa gemas sendiri dengan gadis ini. Bayangkan saja Ara malah menggunakan jaket untuk badannya.
“Gua suruh lo ambil jaket itu buat menutupi paha lo yang nggak ada menarik–menariknya itu.”
Ara yang mendengar perkataan Daffa tentang pahanya hanya mampu memanyunkan bibirnya “Loh salah gua dimana?! Tadi lo suruh pakai kan? Gua sudah nurut, ini gua pakai.” Jawaban Ara membuat Daffa hanya mampu menggeleng – gelengkan kepalanya saja.
“Beda lagi kalau lo ngomong kek gini. Di dalam tas ada jaket pakai buat nutupin paha lo yang bagus itu Ra.” Lanjut Ara menirukan gaya bicara Daffa.
“Kita mau balik jam berapa Ra, kalau ha kecil kaya gini aja lo debatin.” Ara hanya tertawa mendengar nada bicara Daffa yang seperti frustasi. Sebenarnya ia mengerti apa yang di maksud Daffa, tetapi ia hanya suka saja mengerjai Daffa. Karena dengan begini ia akan melihat ekspresi Daffa yang berbeda-beda tidak hanya datar saja.
“Tarik mang…” Teriak Ara setelah selesai menutupi pahanya dengan jaket yanga Daffa berikan. Daffa hanya tersenyum geli dibalik helmnya lalu mengeleng–gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya ini.
Di perjalanan tidak ada obrolan yang mereka lakukan, hanya sekali – kali saja Daffa berbicara atau Ara yang menanyakan sesuatu, itu pun Daffa terkadang hanya menganggukan atau menggelengkan kepalanya. Terkadang Ara yang merasa bosan hanya mampu melihat ke kanan atau kiri. Atau hal yang biasanya Ara lakukan yaitu mengetuk pelan jari ke helm yang Daffa gunakan. Daffa yang sudah hafal kebiasaan Ara hanya diam tetap focus pada jalan.
“Mau makan dulu atau langsung pulang?.” Tanya Daffa.
“Mau pulang aja deh. Capek sepertinya”
“Capek tapi ada kata sepertinya. Aneh.” Ara yang mendengar sindiran Daffa hanya mengangkat bahu saja.
Di tengah perjalan Daffa berbelok ke kiri sedangkan arah ke rumah Ara masih lurus kedepan. Membuat Ara tersadar segera menepuk bahu Daffa.
“Daf lo nggak lupa jalan ke rumah gua kan?.” Tanya Ara memastikan
“Nggak”
“Terus ini kita mau kemana? Tadikan gua bilang mau balik.” Ucap Ara gemas dengan tingkah Daffa.
“Gua lapar mau makan.”
Kalau gitu tadi kenapa kasih pilihan kalau ujung-ujung menetukan sendiri. Omel Ara didalam hati sambil memutarkan bola matanya.
Mereka kini telah sampai di Café Pelangi. Café yang menjadi langgangan mereka berdua merupakan Café yang sedang naik daun dikalangan anak muda sekarang. Tempat yang nyaman dan menu makanan yang di sediakan pun sangat terjangkau untuk anak – anak seusia mereka.
“Mau pesen apa?.” Ujar Daffa kepada Ara. Yang ditanya hanya mengelengkan kepala membuat Daffa menopang dagu dan menatap Ara.
“Kenapa?.” Balas Ara dengan mengikuti Daffa menopang dagu juga.
“Yakin nggak mau makan?.” Tanya Daffa untuk memastikan sekali lagi. Dengan jawaban yang tetap sama Ara hanya menganggukkan kepalanya.
“Mbak saya pesan pizza sama steaknya dua. Minumnya jus manga, jus sirsak sama es krim coklat satu ya.” Pelayan langsung mencatat semua pesanan Daffa yang menurut Ara itu terlalu banyak untuk dirinya sendiri.
“Kok pesannya banyak banget? Emang bakalan habis?.” Tanya Ara.
“Nggak papa. Gua lagi lapar.” sambil menaikan bahunya Daffa menjawab dengan santainya.
Ara yang bosan menunggu pesanan Daffa datang, membuka ponsel yang berada di sakunya. Satu notif masuk dari akun social medianya membuat Ara terkejut saat tahu Revan baru saja memfollownya. Dengan cepat ia membuka akun social medianya dan mengklik followback. Senyum tercetak di wajah Ara membuat Daffa heran dengan perubahan wajah Ara dari bête menjadi senyum – senyum sendiri.
“Gua lagi nggak bawa orang gila kan?.” Reflek Ara mengalihkan perhatiannya dari ponsel kepada Daffa. Hari ini sudah dua kali ia di bilang seperti orang gila.
“Ada apa sih sama Prince’s sekolah ini?.” Langsung meletakkan ponselnya Ara kembali menopak dagu menatap Daffa. Yang ditatap menaikan alisnya tidak mengerti dengan ucapan Ara barusan.
Saat hendak menjawab pertanyaan Ara, pelayan datang mengantarkan makanan yang mereka pesan tidak lebih tepatnya pesanan Daffa. Bau pizza dan steak yang menggoda iman perut tidak dapat tertahankan lagi.
“Selamat menikmati.” Ucap pelayan dan diangguki oleh Daffa.
“Hem… Serius ini enak banget Ra. Masih nggak mau makan juga?.” Ara masih tetap mempertahankan harga dirinya dengan menggelengkan kepala.
Daffa terus memakan steaknya dan sengaja membuat Ara ngiler. Ia tahu Ara tidak mungkin dapat menahan kedua makanan ini karena keduanya merupakan makanan favorit Ara.
“Wah.. Es krimnya benar – benar segar banget.”
Hancur sudah harga diri yang daritadi Ara pertahankan melihat Daffa yang terus mencoba membuatnya membuang egonya. Dengan sedikit kesal Ara menarik steak yang berada tepat didepannya. Dengan cepat Ara memasukan potongan daging pertamanya.
“Kalau lapar tinggal bilang lapar, jangan gengsi.” Ucap Daffa sambil tertawa melihat Ar yang terlihat seperti orang benar – benar kelaparan.
“Ini jus sirsak kenapa sudah tinggal setengah ya?.” Ungkap Ara sambil menunjuk kearah Daffa.
“Ihh Daffaa jus sirsak gau tumpah.” Spontan Daffa tersenyum lalu menggelengkan kepala saat mendengar keluhan Ara. Ara yang memang sangat menyukai jus sirsak, jadi tidak heran memang jika sekali sedot langsung tersisa setengah.
Dan pizza adalah makan kesukaan mereka berdua. Setiap makan di café ini mereka akan selalu memesan pizza dan itupun hanya satu. Alasannya mereka ingin selalu bersama dalam keadaan apapun termasuk berbagi makanan yang menjadi kesukaan bersama.
“Ahh kenyangnya..” Ucap Ara sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Bagaimana tidak kenyang, Ara hampir menghabiskan semua pizza, lalu dua gelas jus sirsak dan steak.
Daffa menggelengkan kepala sudah biasa melihat tingkah ajaib Ara yang seperti ini. Tetapi tidak bisa dipungkiri sikap Ara yang tidak dapat di tebak seperti ini yang membuat Daffa selalu terhibur.
“Kebiasaan. Badan aja yang kecil tapi makan selalu banyak. Heran tuh makanan pada lari kemana sih?.” Ujar Daffa menatap Ara yang kini hanya tersenyum menunjukkan giginya saja.
“Daf..” Panggil Ara dengan ragu. Daffa hanya menatap Ara dalam diamnya.
“Gua boleh minta satu hal nggak sama lo?.” Ujar Ara sambil mengepalkan tangannya dibawah meja
“Apa?.”
“Ehmm.. Jangan lakuin hal yang kaya tadi ya. Elisa itu cewek Daf, dengan sikap lo yang kaya tadi dia pasti tersakiti. Cewek itu manusia paling sensitif makanya mudah banget nangis”
“Tapi..”
“Apapun alasan Lo, sama cewek nggak boleh kasar. Jika lo marah lebih baik pergi dan tinggalkan, jangan mengucapakan kata – k********r atau bahkan main tangan. Okey?.” Ungkap Ara dengan nada suara yang sengaja di lembutkan dan di balas Daffa dengan anggukkan.
“Besok minta maaf ya sama Elisa.” Mohan Ara kepada Daffa.
“Ayo balik, sudah mau malam.” Ucap Daffa yang mengalihkan pembicaraan lalu berdiri dari kursinya untuk membayar makanan membuat Ara menghela nafas.
“Dasar cowok gengsian.” Ucap Ara dengan pelan tepat dibelakang Daffa.
“Gua masih bisa dengar Ra.” Spontan saja Ara menutup mulutnya, malu telah memaki Daffa dari belakang.