Masa Lalu ( Bag. End)

1600 Words
Setelah kejadian yang terjadi satu minggu yang lalu, hubungan pertemanan Ara dan Daffa semakin menjauh. Ara yang selama ini terbiasa dengan kehadiran Daffa, merasa sedih dan kehilangan. Dirinya merutuki kobodohanannya sendiri. Sekolah yang menjadi saksi pertemanan mereka dulu, kini kembali menjadi saksi berakhirnya pertemanan mereka pula. Dengan langkah gontai Ara memasuki kelasnya. Selin dan Stella hanya menatap Ara dengan perasaan sedih. Tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk mengembalikan Ara seperti dulu lagi. Mereka tahu hanya ada satu orang yang dapat membuat Ara bersemangat kembali. Daffa. “Ra?.” Sambil memegang pundak Ara, Selin menyapanya. Ara menoleh dan bertanya dengan menaikkan alisnya. “Are you okey?.” Selin bertanya kepada Ara yang bahkan semua orang juga tahu bahwa Ara tidak baik-baik saja. Ara hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kepada Selin. Stella yang mendengar dari kursinya langsung menghampiri meja Ara dan memegang pundak sebelah kiri Ara. “Jangan bilang baik-baik aja kalau sebenarnya lo nggak baik-baik aja Ra. Mulut boleh bilang baik-baik aja tapi tubuh lo berkata sebaliknya Ra.” Ara hanya mampu terdiam dengan menatap mata Stella dengan tatapan kosong. “Ara, Ara mau nggak Selin kasih mantra biar nggak sedih lagi?.” Ucapan polos Selin yang membuat Ara dan Stella melihat kearahnya. Belum sempat Ara menjawabnya Selin sudah terlebih dahulu berbicara. “Letakkan tangan Ara di d**a lalu pejamkan mata dan ikutin kata-kata Selin yaa.” Ara menganggukkan perkataan Selin dan mulai memejamkan mata. “Ara wanita yang kuat” “Ara wanita yang kuat” “Ara wanita yang ceria” “Ara wanita yang ceria” “Dan Ara wanita yang bahagia” ”Dan Ara wanita yang Bahagia” “Segala kesedihan akan cepat berlalu dan akan tergantikan dengan kebahagiaan” “Segala kesedihan akan cepat berlalu dan akan tergantikan dengan kebahagiaan” “Nah sekarang sudah bisa buka mata. Ara sekarang sudah baca matranyakan? Jadi apa yang Ara sudah katakan tadi harus Ara lakukan. Itu adalah janji Ara lohh.” Ucapan Selin membuat Aram au tidak mau ikut tersenyum melihat bagaimana sahabatnya ini berusaha untuk membuatnya tersenyum. “Terima kasih sudah ada buat gua dan nggak ninggalin gua disaat gua sedih.” Lirih Ara kepada Selin dan Stella. Mereka berdua kompak menganggukkan kepalanya. ***** Kantin menjadi tempat satu-satunya tujuan kebanyakan siswa untuk menghabiskan waktu istirahatnya. Tetapi tidak dengan ketiga remaja ini. Ara, Stella, dan Selin lebih memilih menghabiskan waktu istirahatnya di kelas. “Selin…”Panggil Stella dengan gaya bicara yang sengaja dimanjakan. Selin hanya memandang Stella dengan dahi mengernyit bingung. “Stella tadi lupa ngerjaiin Pr Biologi. Habis ini pelajaran Biologikan? Stella boleh yaa minta ajarin Selin ngerjaiinnya?.” Dengan nada yang dbuat seimut mungkin Stella memohon kepada Selin. “Boleh kok.” Jawab Selin. “Tapi Sekarang watunya nggak banyak lagi Lin. Jadi boleh nggak Stella pinjem jawaban Selin dulu aja? Besok-besok baru minta ajarinnya. Yah..yah..yahh..” Mohon Stella dan mendapatkan gelengan kepala dari Selin. Ara yang mendengar itu seketika menjadi tertawa dengan tingkah Stella sedikit demi sedikit Ara bisa mengatasi kesedihannya walaupun tidak benar-benar hilang ”Haha…bilang aja lo mau nyontek La. Sok-sokan mau minta ajarin.” “Ihh Ara jahat kok Stella malah diketawaiin sih.” dengan nada yang masih dibuat seimut mungkin Stella menanggapi ucapan ara. Selin kemudian mengambil Pr biologinya dan melemparkan kepada Stella dan dengan sigap ditangkap olehnya. “Kali ini Selin pinjamkan. Tapi besok-besok nggak ada lagi. Stella harus rajin belajar biar bisa lulus bareng-bareng.” “Siap bu boss. Laksanakan.”Ara dan Selin hanya mengeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkah ajaib teman mereka yang satu ini. “Eh itu kenapa pada lari-lari ya?.” Ucap Selin tanpa sadar. Ara dan Stella langsung melihat kearah yang dimaksud Selin. Stella yang pada dasarnya memang kepo langsung meninggalkan Prnya. “La kerjaiin dulu Prnya.” Teriak Ara kepada Stella. Stella tidak perduli dengan teriak Ara tujuan ia saat ini ingin mengetahui apa yang sedang terjadi. “Eh ini ada apaan? Kenapa pada lari-lari?.” Tanya Stella kepada salah satu siswi yang melewati kelasnya. “Di dekat gudang belakang ada yang lagi berantem.” “Siapa?.” “Daffa.” Seketika Stella melihat kearah Ara memastikan apakah Ara mendengarkan atau tidak. Tetapi wajah Ara menunjukkan kalau ia mendengarkan apa yang siswi ini katanya. “Daffa siapa? Terlalu banyak nama Daffa di sekolah ini.” “Daffa Aldrelico.” Spontan saja Stella langsung menghampiri Ara. “Ra ayo kita lihat”Ara hanya menggelengkan kepalanya. Ia sudah memutuskan untuk tidak lagi ikut campur dalam urusan Daffa lagi. Stella menganggukkan kepalanya dan kembali mengerjakan Prnya yang ia tinggalkan tadi. ***** Bel pulang sudah berbunyi dari tadi, Ara keluar kelas paling akhir. Ara berjalan sambil melamun, ia tengah memikirkan apakah keputusan untuk menjauhi Daffa sudah benar atau malah salah. Ia menjadi bingung sendiri. Ara kini melangkah mengikuti kemana kakinya akan membawa ia. Taman?. Ara duduk menatap taman dan danau tempat biasanya ia dan Daffa akan menghabiskan waktu hanya untuk berdiam diri saja. Entah kenapa kaki Ara membawa ia kesini. Ara menatap kosong danau dihadapannya ini. Ia kini mengerti mengapa Daffa hanya akan diam lalu menatap kearah danau. Damai itu yang kini Ara rasakan. Setelah dirasa cukup Ara berdiri hendak meninggalkan danau. “Enak ya jadi danau. Bisa hidup damai dan bisa menenangkan untuk orang yang menatapnya. Tapi, kita juga harus hati–hati kadang diamnya dia bisa menghanyutkan kita.” Ara spontan langsung menoleh mendengar suara tersebut. Daffa. Sejak kapan Daffa duduk disana, Ara tidak menyadari kehadirannya atau memang Ara yang terlalu fokus ke danau. Ara yang tidak tahu apa maksud perkataan Daffa barusan kembali duduk ditempat semula. “Perempuan diibaratkan sebuah permukaan danau. Tenang dan sewaktu – waktu bisa menengelamkan orang yang menyukaiinya.” Daffa berbicara dengan menatap lurus kearah danau. Ara hanya mampu terdiam dan terus menatap Daffa. “Tapi jika si penyuka berhati–hati dalam mendekatinya mungkin ia tidak akan tenggelamkan? dan membahayakan dirinya sendiri. Tapi terkadang si penyuka rela mendekati danau walaupun ia tahu akan tenggelam dan bisa membuat orang disekitarnya menjadi sedih.” Ara tidak tahu kemana Ara tujuan omongan Daffa barusan. “Gua rasa ini sudah sore, jadi gua harus balik.” Ucap Ara kepada Daffa. “Lo benar–benar marah sama gua ya Ra?.” Lirih Daffa. Ara yang langsung diam ditempatnya, bukankah Daffa yang ingin menjauh dari dirinya?. “Gua nggak marah sama lo Daf. Bahkan gua berfikir lo yang sudah nggak mau temanan sama gua lagi.” “Gua tahu gua salah sudah ngejauhi lo Ra. Gua baru menyadari disaat lo nggak ada saat gua berantem tadi. Gua butuh sosok diri lo di hidup gua Ra.” Lirih Daffa. Ternyata Daffa mencari dirinya saat berantem tadi membuat Ara mau tidak mau tersenyum mendengarnya. Ia merasa dirinya dibutuhkan oleh Daffa. “Apakah kita akan kembali berteman seperti sebelumnya Daf?.” Daffa menganggukkan kepalanya membuat Ara kembali tersenyum lagi. Begitu besar efek Daffa dihidupnya hingga membuat ia dengan mudah tersenyum. Ia juga membutuhkan Daffa menjadi sosok kakak lelaki seperti impiannya. “Janji sama gua, apapun yang terjadi jangan tinggalin gua kaya kemarin lagi ya.” Hanya anggukan kepala yang Daffa berikan sebagai jawabannya. ***** Hari berlalu begitu cepat, tidak terasa ujian sekolah sudah berakhir, kini mereka hanya perlu memikirkan kemana selanjutnya mereka akan melanjutkan pendidikannya akan memilih SMA di dalam atau diluar negerikah?. “Gimana tadi ujiannya? bisa?.” Tanya Daffa kepada Ara yang kini tengah beristirahat di ruangan indoor sekolah. “Yah lumayanlah.” Ucap Ara dengan cuek. keduanya kini terdiam kembali. “Daf lo bakal ambil SMA mana?.” Daffa kini diam memikirkan pertanyaan Ara “Gua bakal ambil SMA di Binar Mulya atau bisa jadi gua nggak ambil SMA di Jakarta. Gua pengin SMA di luar Negeri.”Jawaban Daffa membuat Ara kini berfikir apa jadi dirinya jika Daffa harus SMA di Luar Negeri. “Kenapa nggak SMA di Jakarta aja si Daf? Kenapa harus ke Luar Negeri.” Lirih Ara menatap wajah Daffa. “Kenapa? Lo takut kehilangan gua ya?.” Ara pun menganggukkan kepalanya membuat Daffa mengusap kepala Ara dengan gemasnya. Polos banget. Ucap batin Daffa. “Akan gua fikirkan lagi kalau begitu.” Jawaban Daffa membuat Ara sedikit lega. ***** Ara, Selin dan Stella kini sedang duduk di tanam dan ingin menghabiskan waktu lebih lama di sekolah yang sebentar lagi menjadi kenangan buat mereka. Sambil menghirup udara segar ditaman mereka tertawa dengan celotehan lucu yang kadang Ara dan Stella lontarkan. “La lo bakalan ambil SMA dimana?.” Tanya Ara kepada Stella memecahkan keheningan. “Belum tahu Ra.” Jawab Stella sambil mengedikkan bahunya. “Kalau Selin, lo bakal ambil SMA mana?.” Tanya Ara. “Selin bakalan kuliah di Singapura Ra tinggal sama nenek dan kakek Selin.” Lirih Selin membuat Ara dan Stella terkejut dengan jawaban Selin “Gua pikir kita bisa satu SMA lagi bareng-bareng.” Ucap Stella dan dianggukin oleh Ara. “Maaf nggak kasih tahu lebih dulu. Tapi keputusan ini dibuat sebelum ujian kemarin” Ucap Selin dengan sedih. “Sudah nggak apa–apa, kita masih bisa komunikasi dengan cara apapun kan? Sekarang zaman sudah canggih kok. Kita bisa kirim kabar dengan email atau w******p kan?.” Ucapan Ara membuat mereka kini menjadi lebih lega sekaligus sedih harus kehilangan salah satu teman mereka. “Lo harus kejar semua impian lo disana ya. Terus jangan lupain gua ya.” Perkataan Stella membuat mereka semua perpelukkan. “Kalau kamu mau SMA dimana Ra?.” Tanya selin “Gua mau ambil SMA Binar Mulya sama kaya Daffa.” Ucap Ara dengan tersenyum. “Kalau gitu ayo kita daftar di SMA Binar Mulya Ra!.” Ucap Stella dengan semangat dan dianggukin oleh Ara dan Selin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD