Sekolah adalah waktu yang selalu Ara tunggu. Memaksa mata untuk tidur agar cepat bertemu dengan pagi agar bisa bertemu dengan sahabatnya. Dulu sebelum bertemu dengan Daffa, Ara memang selalu senang ke sekolah untuk menghilangkan kesepian dirumahnya. Tetapi sekarang semenjak bertemu dengan Daffa, Sekolah Ara lebih berwarna. Ia tidak hanya bisa bermain saat disekolah tetapi hingga hari libur pun terkadang salah satu dari mereka akan mengajaknya pergi bermain kesuatu tempat.
Tetapi hari ini berbeda, Daffa tidak datang kesekolah membuat Ara kesepian. Ara tidak mengetahui dimana rumahnya karena selama berteman dengan Daffa, Ara tidak pernah sekalipun diajak bermain kerumahnya. Daffa yang selalu mengantar ia pulang kerumah.
“Selin, lo mau nganterin gua ke kelas Daffa nggak?” Ajak Ara kepada temannya Selin, Selin hanya menggelengkan kepalanya tanda ia tidak bisa. Selin itu perempuan pemalu dan lembut, ia pun hanya mempunyai Ara sebagai teman terdekatnya.
“Sama gua aja yok Ra.”
“Ehh… hemm lo Stella kan?” Ucap Ara ragu–ragu. Karena Stella murid baru dikelasnya, membuat Ara masih canggung berbicara dengan dirinya.
“Iyaa..lo jadi nggak mau ke kelas Daffa? Gua mau ketemu sepupu gua juga nih. Jadi bareng aja yok.” Ajak Stella dan mendapat anggukan kepala dari Ara.
***
“Rizky.. Woy!” Suara Stella membuat seisi kelas menatap kearah mereka, Ara yang malu hanya menundukkan kepalanya.
“Ehh.. hai sepupu gaber.” Sapa Rizky
“Daffa kenapa nggak masuk hari ini?” Tanya Stella to the point.
“Elo.. kesini bukan mau temui gua? tapi malah nyari Daffa?” Ucap Rizky sok terluka, Stella langsung menyenggol Rizky untuk melihat kearah Ara. Rizky pun langsung memahami maksud dari Stella.
“Daffa nggak masuk, dan dia nggak ada kabar apapun.” Jelas Rizky kepada Stella dan Ara. Mendengar hal itu Ara menjadi khawatir.
“Lo tahu nggak rumah Daffa dimana?” Pertanyaan Ara hanya mendapatkan gelengan kepala dari Rizky.
“Okee, terima kasih.” Dengan wajah lesu Ara pergi meninggalkan kelas Daffa tersebut. Ara berjalan sambil melamun memikirkan Daffa yang entah kemana perginya hari ini.
Saat Ara akan menuruni tangga, Ara menyadari ada seseorang disampingnya lalu menenggok untuk melihat siapa orang tersebut “Loh Stella kok disini? Bukannya lo ada urusan sama sepupu lo ya?” Tanya Ara.
“Sebenarnya gua cuman mau nemenin lo doang kekelas Daffa, gua lihat hari ini lo terlihat cemas. Saat gua dengar lo ngobrol sama Selin tadi dan kelihatannya Selin nggak bisa nemenin lo, iya sudah gua memutuskan untuk temani lo ke kelas Daffa dengan alibi ketemu dengan sepupu gua.” Stella menjelaskan sambil tersenyum senang.
Ara hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum mendengarkan penjelasan Stella “Terima kasih Stella sudah mau nemenin gua.” Ucap Ara dengan tulus.
“Sama-sama Ra, jangan sungkan untuk minta tolong sama gua. Saat Selin nggak bisa bantuin lo, inget ada gua yang bisa bantuin lo. Ayo kita berteman.” Ajak Stella dengan riang mengulurkan tangannya. Ara menganggukkan kepalanya lalu menyambut uluran tangan Stella. Ara tersenyum kembali mengingat saat dulu Daffa mengajaknya berteman sama seperti Stella hanya bedanya Stella lebih bernyawa saat mengajaknya daripada Daffa dahulu.
***
Pagi ini Ara telihat sangat buru-buru untuk berangkat kesekolah, ia ingin melihat keadaan Daffa. Semalam ia memaksakan diri untuk tidur walaupun otaknya tidak mau berhenti beristirahat. Ara terlalu khawatir dengan keadaan Daffa, selama mengenal Daffa baru kali ini Ara lost contact dengan Daffa. Daffa tidak membalas satu pesan pun yang dikirim olehnya, membuat Ara menjadi gelisah dan mengkhawatirkan dirinya.
Sesampainnya di sekolah, tujuan Ara hanya ingin menemui Daffa dikelasnya. Tetapi hingga waktu bel masuk Daffa belum juga datang. Dengan wajah lesu Ara meninggalkan kelas Daffa. pada saat akan menuruni tangga Ara berpapasan dengan orang yang ia tunggu tunggu dari tadi, Daffa.
Dengan wajah bahagia Ara menghampiri Daffa “Daf, kemarin kemana?” Tanya Ara dengan lembut, yang membuat Daffa mendongakkan kepalanya. Membuat Ara kaget melihat wajah Daffa yang babak belur.
“Daffa!! Muka lo kenapa? Lo.. lo berantem lagi!” Ucap Ara menyadari wajah Daffa yang babak belur. Daffa hanya diam dan melewati Ara begitu saja.
Saat Ara akan mengejar Daffa, bu Ita menegurnya “Namara, kamu kenapa masih ada diluar kelas? Cepat masuk ke kelas.” Ara yang kesal karena gagal mengejar Daffa hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan melewati bu Ita. Sial timingnya nggak pas banget sih. batin Ara
***
Sejak pertemuan Ara dan Daffa pagi tadi, Daffa seolah sulit untuk ditemui. Ara yang pada saat jam istirahat langsung mencari Daffa dikelasnya tetapi cowok itu tidak ada dikelasnya, menanyai teman sekelasnya pun hanya jawaban tidak tahu yang ia dapatkan. Seharian ini mood Ara benar benar buruk berkat Daffa. Bel pulang baru saya berbunyi tetapi Ara yang sedang memikirkan luka diwajah Daffa malas untuk segera pulang, emang hanya luka kecil yang darahnya baru mengering di sudut bibir Daffa yang tadi pagi Ara lihat, tetapi dibagian pipi ada tanda kemerahan seperti bekas tamparan.
Pusing memikirkan apa yang terjadi dengan Daffa, Stella teman baru Ara dengan semangat menarik tangannya untuk keluar kelas.
Ara yang bingung ditarik oleh Stella melepaskan cekalan tangannya dari Stella ”Ada apa sih La? Kalau mau pulang, duluan aja. Gua masih belum mau pulang ini.” Ucap Ara hendak berbalik dan lagi lagi Stela menarik tangannya.
“Lo nggak lihat apa?” Sambil menunjukkan siswa siswi yang tengah berlarian di koridor membuat Ara bingung sendiri.
“Ini kenapa pada lari lari sih La? Ada artis yang lagi datang ke sekolah kita? Tapi ini sudah jam pulang sekolah. Kenapa dia nggak datang besok aja sih.” Tanya Ara dengan malasnya karena moodnya yang hari ini buruk membuat Ara tidak berniat melakukan apapun.
“Bukan Ara sayang…” Stella menjadi gemes sendiri melihat temannya yang hari ini terlihat tidak semangat sekali.
“Terus apa?” Ucap Ara gemas dengan tangan di d**a.
“Kalau lo ikut gua, lo bakalan tahu.”
“Dan gua nggak mau tahu tuh.” Stella menghela nafasnya mendengar jawaban dari temannya ini.
“Daffa.” Putus Stella memberikan satu kata yang secara otomatis akan membuat temannya ini lebih tertarik dan yah tebakan Stella benar Ara langsung meresponnya.
“Daffa? dia kenapa La.” Ucap Ara dengan memegang tangan Stella.
“Katanya nggak mau tahu?.“ Ejek Stella dengan muka dibuat buat sok gemes.
“La stop bercandanya.”
“Gua dengar dari anak grup sebelah, katanya cewek tercantik di sekolah ini bakal nembak Daffa dilapangan setelah pulang sekolah ini. Dan ini waktunya, ayo kita lihat.” Ucap Stela dengan semangatnya sambil menaik turunkan alisnya.
Ara yang belum sempat menjawab apapun hanya mampu menahan badannya untuk mengikuti tarikan Stella yang sangat cepat itu. Kenapa Ara takut jika Daffa akan menerima Ria ya. Ria adalah gadis yang dinobatkan tercantik di angkatannya ini adalah gadis yang banyak sekali di puja laki laki. Ara takut Daffa adalah salah satunya.
Ara takut Daffa akan menjadi jauh dengan dirinya setelah berpacaran dengan Ria, Ara belum rela kehilangan Daffa dengan secepat ini. Baru dicuekin Daffa tadi pagi saja Ara sudah kehilangan semangat bagaimana kalau hal itu benar benar terjadi Ara tidak bisa membayangkannya.
Lapangan sudah ramai oleh siswa siswi yang penasaran dengan bagian akhir dari drama ini. Begitu juga dengan Ara dan Stella. Tetapi sang actor utama belum juga datang.
“Ra Daffa kemana sih.” Ara hanya mengedikkan bahunya, Ara juga penasaran apakah Daffa akan datang atau tidak. Karena seharian ini ia tidak melihat Daffa dimanapun. Suara teriakan membuat Ara menatap sekelilingnya, Daffa berjalan ketengah lapangan dengan wajahnya yang dingin dengan tatapan yang seolah olah ingin memakan orang hidup hidup.
“Daffa.. kita sudah lama kenal. Aku tahu kok kamu sering perhatiin akukan.” Ucap Ria lembut sambil maju lebih mendekat kearah Daffa.
Ciye…
Ciyee…
Sorak siswa siswi yang berada ditengah lapangan, membuat Ria tersipu malu malu.
“Pede gila tuh cewek Ra.” Ucap Stella berbisik
“Sssttt.” Ucap Ara menaruh telunjuk di bibirnya ”diem La kita focus aja ke mereka”
Ria yang berdiri dihadapan Daffa langsung menggenggam tangan Daffa ”aku nggak mau basi basi terlalu lama Daf. Kamu.. kamu mau nggak jadi pacar aku.” Ucap Ria dengan menatap mata Daffa, yang ditatap tetap bertahan dengan ekspresi dinginnya.
Terima…
Terima…
Terima..
Sorak sorakkan dan tepukan bergema dilapangan, menyuruh Daffa untuk menerima Ria menjadi pacarnya. Ara sendiri hanya mampu menahan nafasnya menunggu jawaban apa yang akan di berikan oleh Daffa. Namun, yang terjadi Daffa menghempaskan tangan Ria hingga membuat Ria sedikit terdorong kebelakang, murid-murid yang bersorak sorak seketika menjadi diam.
“Daf..” Lirih Ria tidak percaya daffa akan melakukan hal itu.
“Elo, nggak ada rasa malu ya! dengan bangganya lo bilang ke satu sekolah kalau lo bakalan nembak cowok. Dimana harga diri lo hah?!” Bentak Daffa didepan muka Ria membuat perempuan itu menjadi pucat pasi.
“Daffa.. aku tahu kamu juga suka sama aku. Nggak masalah kok buat aku, kalau aku harus ungkapin duluan. Lagian aku tahu kok kamu juga ada rasa sama aku.” Dengan sisa keberanian yang ada, Ria maju untuk memegang tangan Daffa. Tetapi Daffa yang sudah menahan emosinya langsung mendorong Ria hingga gadis itu jatuh.
“Cewek murahan. Cihh.” Desis Daffa pelan tetapi menusuk “Gua nggak pernah suka sama cewek murahan kaya lo!”
Setalah berkata seperti itu, Daffa hendak pergi meninggalkan lapangan, sebelum suara Ria terdengar dan membuat langkahnya terhenti.
“Suatu saat lo bakalan dapat karmanya Daf! KARMA. Lo bakalan suka dengan cewek yang lo sebut murahan. INGET ITU BAIK BAIK!!” Teriak Ria dengan sangat emosi akibat rasa kesal sekaligus malunya, karena cintanya ditolak. Jatuh sudah harga dirinya yang selama ini ia sanjung sanjungkan dengan penobatan sebagai gadis tercantik disekolah karena seorang Daffa Aldrelico.
Dilain sisi Ara bingung antara senang atau menjadi sedih melihat Daffa yang begitu kasar untuk anak yang masih dibangku SMP dalam menolak cinta. Ara yang melihat Daffa berjalan dikoridor sendirian tidak membuang kesempatan untuk berbicara dengan dirinya. Waktu yang memang sudah Ara tunggu-tunggu daritadi.
Ara langsung menghadang jalan Daffa, membuat Daffa hanya menaikkan alisnya. Kemudian berjalan berlawanan arah dengan Ara. Ara yang bingung Daffa memutar jalannya kembali langsung berlari untuk menggapai lengan Daffa.
“Kita perlu bicara Daf. Gua nggak terima alasan apapun.” Paksa Ara langsung menarik Daffa. Tapi, yang dilakukan Daffa membuat Ara kaget. Daffa melepaskan genggaman tangan Ara dan kembali berjalan kearah yang berlawan dengan Ara.
“KALO LO NGGAK MAU BICARA SAMA GUA SEKARANG, GUA NGGAK MAU JADI TEMAN LO LAGI!” Teriak Ara sekeras mungkin untuk melampiaskan emosinya.
“GUA HITUNG SAMPAI TIGA DAN GUA SERIUS DAFFA ALDRELICO”
“SATU”
“DUA” Pada hitungan kedua tidak ada tanda tanda Daffa akan berbalik badan untuk menemui dirinya
“TI..ga” Daffa masih terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke Ara. Habis sudah keyakinan dirinya bahwa Daffa akan kembali untuk berbicara dengan dirinya. Membuat ia duduk dikursi sambil menangisi berakhirnya pertemanan mereka. Saat pundaknya disentuh Ara tersenyum bahwa Daffa nggak mungkin tega merusak pertemanan mereka. Menghapus air mata yang akan jatuh, Ara mengangkat wajahnya.
“Stella” Lirih Ara saat melihat Stella bukan Daffa, lemas itu hinggap kembali di dirinya.
“Sorry Ra, kalau gua bukan orang yang lo harapin.” Dengan lembut Stella berbicara. Karena ia tahu gadis ini hatinya sedang rapuh.
“Nggak papa La.” Sambil memaksakan Ara tersenyum.
“Gua tadi nyariin lo yang tiba tiba ngilang, dan gua nggak sengaja dengar obrolan lo dengan Daffa. Sorry ya Ra.” Ucap Stella yang tidak enak mendengar obrolan temannya ini
“Nggak papa La, lagian suara gua juga tadikan besar. Jadi, mungkin nggak cuman lo aja yang dengar yang lain juga pasti dengar.” Lagi lagi Ara memaksakan senyum kepalsuan yang ia berikan untuk Stella.
“Ra..” Ucap Stella sambil menyentuh pundak Ara. Ara lalu menatap teman disebelahnya.
“Gua tahu, Ucapan lo yang tadi bukan dari hati lo yang paling dalam.” Ara menganggukkan kepalanya bersamaan dengan air mata yang jatuh di kedua pipinya, hilang sudah senyum kepalsuan yang Ara berikan kepada Stella.
“Gua tahu lo kecewa sama sikap Daffa kan? Tapi Ra, kita nggak pernah tahu masalah apa yang sedang dihadapi Daffa sekarang. Kasih Daffa waktu untuk menenangkan pikirannya dulu. Karena setiap orang punya caranya masing masing untuk menenangkan dirinya.” Nasihat Stella sambil memeluk Ara yang saat ini masih menangis.