Waktu berlalu begitu cepat, kini Ara dan Daffa sudah berada dikelas 3 SMP. Persahabatan yang sudah terjalin hampir satu tahun itu tidak terlalu jauh berbeda. Daffa yang masih dingin dan cuek sama seperti saat pertama kali mereka bertemu. Semenjak berteman dengan Ara, Daffa sudah jarang sekali berantem. Ara yang selalu menjadi pelerai dikala Daffa hendak berantem. Begitupun dengan Daffa ia akan menghentikan perkelahinya jika Ara sudah mulai ikut campur. Ia takut Ara akan menjadi salah sasaran perkelahinya, entah itu dari dirinya atau lawannya.
Selama berteman dekat dengan Daffa, Ara akan selalu ada disamping Daffa dalam keadaan apapun. Danau buatan yang menjadi saksi awal pertemanan mereka kini menjadi tempat favorite keduanya, entah hanya untuk melepas penat seharian lalu bercerita hal apapun yang lebih didominasi oleh Ara atau hanya untuk meredamkan emosi seorang Daffa.
Seperti saat ini, Daffa yang tengah mengalami masalah yang Ara sendiri tidak tahu masalah seperti apa yang dihadapi Daffa pun hanya ikut terdiam menemani. Ara yang masih SMP tidak tahu harus bagaimana bersikap pada masalah yang dihadapi oleh Daffa. ia akan duduk diam memandang danau hanya menunggu Daffa hingga jauh lebih tenang. Selalu seperti itu.
“Ayo pulang sudah sore.” Ujar Daffa sambil berdiri dan memakai tasnya lalu berjalan hendak mengantar Ara terlebih dahulu. Jarak rumah Ara dari sekolah tidak jauh, hanya 15 menit dengan jalan kaki.
“Lo sudah tenang?” Daffa menganggukkan kepalanya.
“Masih nggak mau cerita?” Tanya Ara hati – hati.
Yah setiap ada masalah Ara tidak pernah tahu pasti apa masalah yang terjadi, Daffa akan menjadi batu yang diam dengan memejamkan matanya tetapi hembusan nafas yang terasa kasar selalu terdengar sesekali Ara melihat Daffa mengepalkan tangan.
Daffa tiba tiba berhenti berjalan dan membalikkan badan menghadap Ara “Gua benci perempuan itu Ra, gua benci! Perempuan itu menghancurkan kebahagiaan gua.” Marah Daffa sambil mengepalkan tanganya.
“Perempuan? Siapa Daf? Apa yang dilakuin ke lo sampe lo kaya gini?” Lirih Ara sambil menuntut jawaban Daffa.
Daffa hanya diam tidak membalas pertanyaan Ara dan membalikan badan untuk melanjutkan perjalanan yang tertunda tadi. Ara langsung berlari menyamakan jalannya dengan Daffa. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dengan pikiran masing–masing.
“Masuk gih.” Ujar Daffa saat sudah sampai didepan rumah Ara.
“Besok sore, gua mau ngajak lo kesuatu tempat. Mau ya?” Pinta Ara kepada Daffa. Daffa hanya menganggukkan kepalanya dan meninggalkan rumah Ara.
***
Jam sudah menunjukan hampir pukul setengah lima sore, tetapi sampai sekarang Daffa belum juga datang membuat Ara kesal dan cemas tentunya. Chat yang dari tadi Ara kirim belum juga dibalas oleh Daffa semakin membuat Ara cemas.
Lo dimana?
Daf dimana sih..
sudah jam berapa ini?
kok belum sampe?
Daff.. lo baik baik aja kan?
Read dulu chat ini kenapa sih
Sok ngartis deh mulai
Setelah chat terakhir masih belum dijuga dibalas, Ara yang benar benar sudah kesal dan cemas akhirnya memutuskan untuk menunggu didalam rumah saja. Ia berpikir kalau pun nanti Daffa datang pasti akan menelponnya.
Saat Ara hampir sampai didepan pintu suara Daffa memanggilnya “Hey” dengan wajah tanpa rasa bersalah Daffa duduk diatas sepedanya sambil melambaikan tangannya. Ara yang sudah terlanjur kesal sekaligus khawatir, ia menghampiri Daffa dengan tidak sabaran dan langsung memukul lengan Daffa.
“Lo kemana aja sih? Tahu ini sudah jam berapa? Gunanya ponsel tuh apa? Buat pamer doang? Hah. Gua ngechat lo, lo nggak balas balas, bikin bete tahu nggak sih.” Dengan sekali tarikan nafas Ara memarahi Daffa, yang dimarahin cuman diam dengan muka tersenyum geli.
“Ra, nanyanya satu satu dong. Gua bingung mau jawabnya yang mana panjang banget kaya kereta Api”
“Gua nungguin lo dari jam empat Daf, tapi lo baru datang sekarang. Dengan muka nggak ada dosa lagi.” Omel Ara
“Iya iya maaff. Untuk chat lo gua juga minta maaf, Ponsel gua ketinggalan di rumah.” Dengan masih menahan geli Daffa menjawab semua pertanyaan panjang Ara tadi. Begitulah mereka. Bila Ara bersama Daffa, ia akan menjadi sangat cerewat dan hal yang sama pun terjadi di Daffa, bila bersama Ara Daffa akan menjadi lelaki yang hangat dan banyak mengeluarkan senyuman dengan melihat tingkah aneh sahabatnya itu.
Ara yang melihat jam ditangannya langsung mengajak Daffa segera pergi.“ Ayo sudah mau jam lima nanti nggak keburu lihatnya.” Sambil duduk di kursi belakang sepeda dan memeluk pinggang Daffa sebagai pegangan.
“Kita mau kemana Ra?” Daffa yang tidak tahu kemana tujuan Ara hanya mengikuti arahan gadis itu saja.
“Nanti juga tahu.” Ucap Ara sambil tersenyum
“Cihh.. sok misterius.”
***
“Pantai?” Ucap Daffa seperti berbicara tapi entah pada siapa. Ara yang memang sudah menantikan sore ini tidak dapat menahan senangnya. Ia langsung mengajak Daffa untuk segera berjalan kebagian pasirnya.
“Ra, kenapa kepantai?” Ucap Daffa disamping Ara sambil menatap Ara yang terlihat senang.
“Gua mau lihat sunset Daf. Kemarin gua nonton film dan di salah satu adegannya mereka lagi lihat sunset Daf. Dan sunsetnya itu bagus banget gua suka. Makanya gua ngajak lo kesini buat lihat bareng bareng.” Ucap Ara dengan semangat tetapi tidak dengan Daffa.
Daffa hanya menggelengkan kepalanya melihat salah satu tingkah absurd sahabatnya. Ia tidak habis pikir Ara yang ia kenal sangat dewasa ternyata mempunyai sifat yang seperti bocah juga ternyata. Menggemaskan pikirnya.
“Lo bisa bilang sama gua kalau mau lihat sunset nggak perlu sok misterius deh.” Sambil mengacak rambut Ara yang tertiup angin itu dengan gemas.
Ara menghindari tangan Daffa yang masih mengacak rambutnya “Daffa apaan sih, ini angin pantai sudah bikin rambut gua kusut ya, jangan ditambahin dong.” Sebal Ara sambil merapikan rambutnya.
“Hahaha”
Pecah juga ketawa Daffa yang daritadi ditahannya melihat tingkah lucu Ara yang memegangi rambutnya agar tidak kusut “Kalau mau kepantai ya harus ambil resiko rambut kusut dong” Dengan tidak tahu dirinya, Daffa semakin mengacak rambut Ara.
Daffa yang tahu Ara akan mengamuk langsung berlari menjauhi Ara. Hingga terjadi kejar-kejaran diantara mereka. Ara yang tahu ia tidak mungkin mampu mengejar Daffa, memutuskan untuk bersembunyi dibalik pohon untuk membuat Daffa mencarinya. Daffa yang sebenarnya melihat Ara bersembunyi tetap mengikuti permainan gadis itu dengan berpura pura tidak tahu.
Saat Ara hendak menangkap Daffa dari belakang, tiba tiba Daffa membalikkan badannya. “DOR…” membuat Ara sangat kaget dengan gerakan tiba tiba yang dilakukan Daffa.
Daffa tertawa sambil memegang perutnya melihat ekspresi Ara yang seperti orang bloon. Ara yang lelah selalu kalah dengan Daffa akhirnya duduk diatas pasir dengan muka kesal. Daffa pun ikut duduk tetapi masih dengan sisa ketawanya. Ara yang menatap Daffa yang masih tertawa, tersenyum dibalik rambut yang menutupi setengah wajahnya.
Senang bisa buat lo ketawa Daf. Yah walaupun gua harus kaya orang gila dulu. nggak papa asal lo bisa sesenang ini dan melupakan masalah lo sejenak. Batin Ara tersenyum.
“Ra, Ara.” Daffa berbicara sambil melambaikan tangan di depan wajah Ara, tetapi Ara tidak meresponnya.
“Ra, jangan marah dong,” Melas Daffa yang mengira Ara marah kepada dirinya “Katanya mau lihat sunset tapi kok marah. Nanti sunsetnya jadi nggak bagus loh karena penggemarnya mukanya cemberut.” Bujuk Daffa. mau nggak mau Ara tersenyum mendengar usaha Daffa membujuk dirinya.
Ara akhirnya tersenyum kepada Daffa “Garing” Ucapnya
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat lima puluh sore, waktu yang dinantikan Ara hampir tiba. Tetapi tidak ada tanda sunset yang indah seperti bayangan Ara saat menonton film. Langit memang berwarna jingga tetapi tidak sepenuhnya membuat Ara sedikit kecewa karena tidak mendapatkan pemandangan sunset impiannya.
Daffa yang melihat Ara yang sudah berdiri dan akan pergi segera menahan dirinya ”Mau kemana?.” Gelengan lemah yang diberikan Ara. Daffa tahu Ara kecewa karena tidak sesuai dengan harapannya.
“Kita bisa lihat dilain waktu Ra, hari ini mungkin kita belum bisa melihat sunset yang sempurna. Tapi, nggak menutup kemungkinan di lain waktu kita bisa melihatnya kan?” Semangat Ara kembali seperti semula setelah mendengar ucapan Daffa. benar ia bisa kembali lagi melihatnya. Pikir Ara.
“Makanya jangan terlalu berharap sama sesuatu yang belum pasti. Berharap boleh tapi jangan terlalu berlebihan. Seadanya aja. Jadi kalau nggak sesuai harapan, lo nggak bakalan sekecewa ini.” Nasihat Daffa mendapatkan anggukan kepala dari Ara.
“Iya sudah ayo pulang.” Ara menggelengkan kepalanya tanda ia belum mau pulang membuat Daffa bingung.
“Kenapa?”
“Gu..Gua denger didekat sini lagi ada pasar malam. Gua mau kesana Daf, boleh ya?” Dengan sedikit memelas Ara memohon.
“Besok siang aja ya Ra, nanti kita pulang kemalaman gimana?.” Tolak Daffa
“Daffa ihh namanya pasar malam, yah pasti bukanya malam dong. Kalau siang namanya bukan pasar malam jadinya.” Ara heran dengan temannya ini. Bisa bisanya ia berfikir kesana disiang hari. Daffa menghela nafasnya sambil melihat jam ditangannya lalu menganggukkan kepalanya.
“Yeahhh, terima kasih sahabat terbaik aku!” Ucap Ara dengan kegirangan sambil bertepuk tangan dan Daffa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Ara yang tidak dapat di tebak itu.
***
Ara dan Daffa menghabiskan malam mereka dengan bermain segala wahana yang ada di pasar malam. Banyak canda dan tawa yang mereka habiskan malam ini, melupakan segala beban dan masalah yang tengah Daffa alami. Hingga waktu semakin menunjukkan pukul sembilan malam, mereka harus segera pulang sebelum Ara kena marah kedua orang tuanya, untuk Daffa sendiri dia tidak terlalu cemas karena orang tuanya yang terlalu sibuk dengan urusan masing–masing.
“Masuk gih.” Ucap Daffa dan diangguki oleh Ara yang sudah mulai lelah dan mengantuk.
“Terima kasih untuk hari ini.” Ucap Daffa tulus.
Ara yang hendak membuka pagar rumahnya langsung menoleh dan bertatapan dengan mata Daffa selama beberapa detik lalu setelahnya Ara tersenyum.
“Gua berharap masalah lo sedikit berkurang ya Daff, maaf gua cuman bisa membantu dengan cara ini.” Ucap Ara terlihat sedih.
Daffa turun dari sepedanya mendekati Ara, kemudian mengacak rambut Ara yang kini menjadi favoritenya. “Seharusnya gua yang bilang makasih sama lo dan tuhan.” Ucap Daffa sambil tersenyum.
“Terima kasih udah mau jadi sahabat gua dan selalu ada buat gua selama ini. Lo terlalu berharga buat gua Ara.” Ara terus menatap mata Daffa. Ara tahu ada ketulusan dimata Daffa untuk dirinya.
“Dan gua juga sangat berterima kasih kepada tuhan udah memberikan gua seorang sahabat yang baik dan cantik kaya lo. Mungkin ini salah satu alasan tuhan mempertemukan kita, lo dikirim tuhan sebagai obat penenang dalam hidup gua. Terima kasih Ara.” Ucap Daffa terus menatap kedua manik mata Ara, yang membuat Ara seketika salah tingkah sendiri.
“Masuk dan langsung tidur gih. Lo kelihatan lelah banget malam ini. Good night and See you tomorrow.” Ucap Daffa tersenyum sambil meninggalkan halaman rumah Ara.
Ara masih berdiri diam ditempatnya memandang pundak Daffa yang semakin lama semakin menjauh. Ara seketika tersenyum dan memegang jantungnya yang tidak biasanya berdetak lebih cepat saat bersama Daffa.
“Gua bahagia untuk malam ini Daf, lo lebih banyak tersenyum dari biasanya.” Ujar Ara sambil tersenyum