“Berhenti sebentar,” kata Diandra pelan.
Leon menoleh sekilas, lalu tanpa banyak tanya menepikan mobil dan menghentikan lajunya.
Mesin masih menyala.
Diandra segera membuka dasbor. Tangannya sedikit gemetar saat mengacak isinya, hingga akhirnya ia menemukan yang ia cari.
Kotak P3K.
Ia membukanya cepat.
Awalnya Leon bingung tapi sesaat kemudian ia seperti terkejut.
Ia meraih tangan Leon.
Baru sekarang ia benar-benar melihatnya dengan jelas. Bukan hanya telapak tangan Leon yang berdarah—setir mobil pun ikut ternodai merah karena darahnya masih mengalir perlahan dari luka di sela-sela jari.
Napas Diandra tercekat.
“Lukanya dalam sekali,” ucap Diandra pelan saat memeriksa sayatan di tangan Leon.
Leon hanya menatapnya. Wajahnya tetap keras, rahangnya tegang, tapi matanya… sedikit melunak saat melihat kesungguhan di wajah Diandra.
Diandra mengambil kasa steril dari kotak P3K, lalu dengan hati-hati membersihkan darah yang masih mengalir. Cairan merah itu membasahi jemarinya.
Setiap sentuhan membuat Leon sedikit mengernyit. Otot di wajahnya menegang, meski ia berusaha menahannya agar tak terlihat lemah.
Perban itu hampir habis tergulung.
Diandra menahannya dengan hati-hati, memastikan lilitannya pas dan tidak terlalu kencang. Jemarinya bergerak perlahan, penuh perhatian.
“Jangan digerakkan dulu,” katanya pelan saat Leon sedikit mengubah posisi tangannya.
Leon kembali diam.
Ia membiarkan Diandra memegang tangannya, membiarkan wanita itu mengatur setiap lilitan dengan teliti.
Tatapannya tak lepas dari wajah Diandra—dari alis yang sedikit berkerut, dari bibir yang terkatup serius.
Seolah dunia mereka menyempit… hanya tinggal luka itu dan sentuhan lembut Diandra.
“Perih?” tanya Diandra lirih.
Leon menggeleng tipis. “Tidak.”
Padahal jelas ia menahan nyeri.
Diandra mengambil plester kecil, menempelkan ujung perban agar tidak terlepas. Setelah itu, ia menepuk pelan balutan tersebut, memastikan semuanya rapi.
“Nah… selesai,” gumamnya.
Namun tangannya belum juga melepaskan tangan Leon.
Ia memandang perban itu beberapa detik lebih lama, seolah masih merasa bersalah melihat darah yang tadi membasahi kulit pria itu.
“Maaf,” bisiknya tiba-tiba.
Leon sedikit mengernyit. “Untuk apa?”
“Karena kamu terluka.”
Leon menatapnya lebih dalam. Ada desiran aneh di dadanya.
“Aku kira kamu takut darah,” ucap Leon setengah bingung, setelah tak percaya.
Diandra tersenyum kecil mendengarnya, karena Leon belum tahu Diandra adalah seorang dokter.
“Kenapa kamu berkeliaran sendirian?” tanya Leon tiba-tiba.
Diandra mendengus pelan. “Kan tadi kamu dan kekasihmu yang minta aku keluar. Masa aku berdiri di situ nonton kalian romantis-romantisan?”
Leon menghela napas, jelas tak ingin membahas bagian itu.
“Maksudku,” lanjutnya serius, “apa kamu tidak tahu kalau fotomu tersebar di media sosial? Kamu diumumkan sebagai orang hilang. Siapa pun yang menemukanmu akan diberi imbalan seratus juta.”
Diandra membeku.
“Apa?” suaranya melemah.
Ia benar-benar baru tahu.
“Aku kabur nggak bawa apa-apa,” katanya pelan. “HP pun nggak. Aku nggak tahu apa-apa.”
Kini semuanya masuk akal.
Tatapan aneh orang-orang tadi. Bisik-bisik yang ia dengar samar. Seorang pria yang sempat mengikutinya lebih lama dari yang seharusnya.
Mereka bukan sekadar penasaran.
Mereka sedang menilai… memastikan… apakah benar itu dirinya.
Leon menatapnya tajam. “Kau sadar betapa berbahayanya itu?”
Diandra menelan ludah.
“Jadi… orang-orang tadi—”
“Bisa saja mereka mengenalimu,” potong Leon. “Dan uang sebesar itu cukup untuk membuat siapa pun berubah jadi pemburu.”
Hening menyelimuti mereka.
Diandra memeluk dirinya sendiri tanpa sadar.
“Aku cuma ingin pergi jalan-jalan di sekitar hotel tadinya.” gumamnya pelan.
Leon menatapnya lama, lalu berkata rendah namun tegas, “Mulai sekarang, jangan pernah berkeliaran sendirian lagi.”
Diandra tak membantah kali ini.
Leon mengambil ponsel dari dasbor.
Ia menekan beberapa tombol cepat, wajahnya serius.
Beberapa detik kemudian, ia menyerahkan ponsel itu pada Diandra.
“Pakai ini agar kita lebih mudah berkomunikasi.”
Diandra menerimanya bingung. “Gratis?”
Leon mengangkat alisnya sinis, mungkin merasa aneh dengan pertanyaan tersebut.
“Aku sudah perintahkan orangku menghapus semua pengumuman itu,” ucap Leon datar. “Termasuk imbalan seratus juta yang dipasang oleh tantenya.”
Diandra tertegun. “Secepat itu?”
Leon menatapnya sekilas. “Aku tidak suka wajah istriku dijadikan buruan publik.”
Nada suaranya tenang… tapi tajam.
“Dan kalau masih ada yang berani menyebarkannya?” tanya Diandra pelan.
“Besok pagi tidak akan ada lagi,” jawab Leon singkat. “Atau mereka akan menyesal.”
Diandra terdiam.
Ia baru sadar satu hal.
Leon tidak panik.
Leon tidak bingung.
Ia langsung menghapus ancaman itu dari akarnya.
Diandra sadar Leon punya kuasa yang begitu besar, bahkan entah bagaimana caranya ia bisa mengetahui keberadaanya.
Mobil kembali melaju menyusuri jalanan Bali yang mulai lengang.
Lampu-lampu temaram dari kafe pinggir jalan memantul di kaca mobil. Di kejauhan, samar terdengar debur ombak bercampur suara musik akustik dari beach club yang masih ramai.
Diandra hanya menatap jalanan. Pohon-pohon kelapa berjajar gelap di sisi jalan, bayangannya bergerak mengikuti laju mobil.
Aroma asin laut masuk tipis lewat ventilasi.
Semua tampak indah.
Tapi dadanya tetap terasa sesak.
Leon meliriknya sekilas. “Aku akan membantumu, kita bekerja samakan.” ucap Leon seolah tahu kekhawatiran Diandra sekarang.
Diandra tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan motor-motor turis yang melintas, pasangan yang tertawa di trotoar, seolah dunia mereka normal—tanpa ancaman, tanpa buruan.
“Aneh ya,” gumamnya pelan. “Bali seramai ini… tapi rasanya aku sendirian.”
Leon tak segera menyahut.
Lampu merah membuat mobil mereka berhenti sejenak. Cahaya merah memantul di wajah Diandra yang tampak lelah.
“Kau tidak sendirian,” ucap Leon akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.
Angin malam meniup helai rambut Diandra saat jendela sedikit terbuka.
Di kejauhan, suara ombak terdengar lebih jelas.
Diandra memeluk lengannya sendiri. “Aku cuma ingin hidup biasa. Jalan-jalan ke pantai tanpa merasa diawasi. Duduk di warung tanpa takut dikenali.”
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Mobil kembali bergerak, menyusuri jalan pesisir yang mengarah ke hotel.
Leon menatap lurus ke depan.
“Kalau itu yang kau mau,” katanya pelan, “aku akan pastikan Bali jadi tempat paling aman untukmu.”
Di luar, bulan menggantung di atas laut hitam yang berkilau.
Indah.
Tenang.
Namun di antara keindahan Pulau Dewata itu, ada perang sunyi yang baru saja dimulai.
Mobil berhenti di pelataran resort yang berdiri di atas tebing Uluwatu.
Gerbang batu dengan ukiran khas Bali terbuka perlahan. Jalan setapak dari batu andesit mengarah ke deretan villa privat yang tersembunyi di balik pohon kamboja dan semak tropis yang tertata rapi.
Angin laut berembus lebih kencang di sini.
Aroma asin samudra terasa jelas.
Di kejauhan, ombak menghantam dinding tebing dengan suara dalam dan bergema, seperti napas alam yang tak pernah berhenti.
“Kalau kalian tidur di kamar tadi, aku tidur dimana?” Tanya Diandra.
“Kamar yang sebelahnya.”
Diandra pun mengangguk, tapi sebelum memasuki kamarnya Diandra sempat menoleh dan berkata, “Terimakasih sudah menolongku untuk kedua kalinya, kalau tanganmu sakit katakan padaku,” Ucap Diandra.
Leon pun mengangguk pelan, lalu Diandra menghilang dibalik pintu.