Kabur
“Diandra, keluar kamu!” Suara itu seketika membuat Diandra merasa terancam.
Jantungnya berdegup kencang, memukul dadanya tanpa ampun.
Kakinya melangkah hati-hati, nyaris tanpa suara, seolah satu kesalahan kecil saja cukup untuk menyeret nyawanya ke ujung bahaya.
“Cari di sekitar sini, jangan sampai lolos!” Perintah seorang pria paruh baya.
Gaun pengantin itu seharusnya membawanya ke meja akad, bukan ke pelarian. Namun kini Diandra berlari, napasnya tersengal, gaun putih menjuntai terseret lantai marmer hotel yang dingin. Kain berlapis-lapis itu terasa berat, seakan berusaha menahannya kembali ke tempat yang ingin ia tinggalkan.
Ballroom hotel mewah itu kosong dan bergema. Cahaya chandelier berayun pelan, memantulkan bayangan tubuhnya yang terdistorsi di dinding kaca. Suara langkah kakinya berpadu dengan desiran kain dan detak jantungnya sendiri, terlalu keras di tengah kemewahan yang sunyi.
Ia mengangkat sedikit gaunnya agar tak terinjak, cincin di jarinya berkilau ironis saat tangannya gemetar. Lorong panjang di depan tampak tak berujung, pintu-pintu tertutup berbaris seperti saksi bisu. Diandra tak menoleh ke belakang—ia takut, sekali saja ia berhenti, semuanya akan berakhir.
Bagi siapa pun yang melihatnya, ia mungkin tampak seperti pengantin yang kehilangan arah. Namun Diandra tahu, malam itu ia tidak sedang menuju pernikahan. Ia sedang berlari, mempertaruhkan segalanya, demi satu hal paling sederhana, hidupnya sendiri.
Diandra menghentikan langkahnya tepat di depan pintu lift. Tangannya gemetar saat menekan tombol berulang kali, namun pintu itu tak juga terbuka. Detik terasa melambat. Ia menoleh ke belakang, memastikan lorong masih kosong—tak ada langkah, tak ada bayangan yang mengejar.
Ding.
Pintu lift akhirnya terbuka.
Namun bukan keselamatan yang menunggunya.
Seorang wanita paruh baya berdiri tegak di dalam lift, wajahnya tenang, nyaris tersenyum. Tatapan itu membuat darah Diandra membeku.
Dialah orang di balik semua ini.
“Mau kemana kamu?” wanita itu menyeringai licik.
“Tante, jahat. Aku pikir setelah kedua orang tuaku meninggal Tante adalah orang paling melindungi aku. Tapi ternyata Tante adalah pembunuh orang tua ku!” Kata Diandra dengan suara bergetar.
Kenyataan pahit yang tidak bisa ia terima.
“Bocah ini terlalu banyak bicara, pernikahan harus segera dilakukan, tangkap dia!”
Diandra memutar tubuhnya hendak melarikan diri, namun semuanya sudah terlambat. Dua pria berjas hitam muncul dari sisi lorong dan mencengkeram tangannya dengan kuat. Genggaman itu dingin dan tak memberi celah untuk lolos.
Meski begitu, Diandra tak menyerah begitu saja. Dengan sisa tenaga dan keberanian yang tersisa, ia mengayunkan kakinya, menendang bagian vital salah satu pria, lalu beralih ke yang lain. Teriakan tertahan terdengar, genggaman itu sempat melemah—cukup untuk memberinya satu harapan kecil.
Diandra pun kembali berlari, tapi langkanya mendadak terhenti ketika ada beberapa pria berjas hitam lagi yang berdiri di hadapannya.
‘Ya Tuhan, apakah aku harus menikahi pria jahat itu, lalu aku akan mati.’ Batin Diandra.
Tidak.
Ia tak boleh menyerah. Matanya berkeliling cepat, mencari celah, lalu ia berlari ke arah lain. Dari kejauhan, suara langkah kaki kembali terdengar—teratur, berat, dan semakin mendekat, mengejarnya tanpa ampun.
Napasnya memburu ketika langkahnya mendadak terhenti di depan sebuah kamar.
“Pokoknya siapa pun yang nyelamatin aku, kalau perempuan akan ku jadikan saudara, kalau laki-laki akan kujadikan suami! Kalau anjing? Ku jadikan peliharaan…”
Pintu kamar mewah itu setengah terbuka, memperlihatkan cahaya temaram dari dalam. Karpet tebal meredam suaranya saat ia mendekat, aroma mahal dan dingin AC menyusup keluar, bertabrakan dengan ketakutan yang memenuhi dadanya.
Tanpa berpikir panjang, Diandra menatap celah pintu itu—tak tahu apakah di baliknya ada perlindungan… atau justru perangkap lain.
Tapi suara langkah kaki semakin dekat dan tidak ada pilihan lain.
Diandra pun melangkah masuk dan cepat-cepat menutup pintu.
Ia bersandar pada daun pintu, napasnya terengah-engah. Dadanya naik turun tak beraturan, sementara gaun pengantin yang dikenakannya terasa semakin berat, menempel di tubuhnya yang gemetar.
Diandra menutup mata sejenak, menarik napas panjang, lalu kembali membukanya, berharap detik singkat itu cukup untuk menenangkan perasaannya.
Namun harapan itu runtuh seketika.
Seorang pria berdiri tepat di hadapannya.
Tubuhnya tinggi dan tegap, bahu lebar terbungkus setelan gelap yang jatuh sempurna, seolah dibuat khusus untuk rangka tubuhnya. Wajahnya tegas dengan rahang kokoh, hidung lurus, dan sorot mata tajam yang membuat siapa pun sulit menghindar. Rambutnya tersisir rapi, menambah kesan dingin namun memikat.
Pria itu tampan—terlalu tampan untuk situasi seperti ini. Ada aura maskulin yang kuat, bercampur ketenangan berbahaya, seakan ia terbiasa mengendalikan keadaan tanpa perlu banyak bicara. Tatapannya terkunci pada Diandra, dengan isi pikiran yang sulit ditebak.
Entah mengapa, di balik ketakutannya, Diandra tahu satu hal pasti. pria ini bukan orang biasa.
Pria itu menatap Diandra dari ujung kepala hingga kaki, sorot matanya menyapu gaun pengantin yang kusut dan wajah pucat di hadapannya. Alisnya terangkat sedikit, bukan terkejut, melainkan seolah menilai—dingin, tenang, dan penuh perhitungan.
Tatapan itu membuat Diandra merasa dikuliti, seakan setiap ketakutannya terbaca jelas tanpa perlu satu kata pun terucap.
Saat itu, suara langkah kaki terdengar dari luar kamar. Suara itu pelan namun jelas, semakin mendekat, membuat tubuh Diandra seketika menegang. Otot-ototnya kaku, napasnya tertahan, sementara pandangannya beralih gelisah ke arah pintu, takut jika detik berikutnya semuanya akan tertangkap.
“Sedang apa kau disini? Pergi!” Ucap pria itu dingin.
Diandra meneguk saliva sekaligus menggeleng cepat.
“Tuan, tolong aku. Aku mohon. Mereka orang jahat,” Diandra menangkup kedua tangannya berharap pria asing itu mau menolongnya.