Kamar Sang Pewaris

942 Words
“Aku yakin dia masih disekitar sini, temukan dia secepatnya. Karena pernikahan akan segera dilangsungkan!” “Siap Bos.” *** “Keluar!” Perintah pria itu tak kalah dingin. “Tuan, aku yakin anda adalah orang baik. Aku tidak mau dinikahkan lalu dilenyapkan. Itu yang mereka katakan tadi, jadi tolong aku,” Mohon Diandra tidak ada hentinya. Ting! Suara bel hotel itu terdengar nyaring di tengah keheningan. Diandra refleks mendekat ke pintu, jantungnya berdetak tak beraturan. Dengan tangan gemetar, ia mengintip melalui lubang intip pintu. Tubuhnya seketika melemas. Di luar berdiri anak buah tantenya. Napas Diandra tercekat, kakinya nyaris tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Dengan suara bergetar, ia menoleh pada pria di belakangnya. “Tuan… mereka sudah membunuh kedua orang tuaku,” ucapnya lirih, air mata menggenang di pelupuk mata. “Aku mohon… selamatkan aku.” Detik berikutnya Tubuh Diandra terdorong ke belakang, sedikit kasar, hingga kini ia tepat berdiri di balik pintu. Ia mematung, tubuhnya bergetar hebat, hanya bisa berharap pria asing itu benar-benar akan menyelamatkannya. Lalu, pada detik berikutnya, pintu dibuka. Saat itu juga, Diandra merasa seolah nyawanya terlepas dari tubuhnya. Berbagai pikiran buruk berkelebat di benaknya. Bagaimana jika pria asing itu justru menyerahkannya? Bagaimana jika ia sama sekali tak memiliki rasa iba? Dan… bagaimana jika ini adalah akhir hidupnya? Diandra hanya bisa menutup mata sambil berdoa untuk keselamatannya. “Ada perlu apa?” “Boleh kami masuk memeriksa kamar anda?” Tanya pria berjas hitam itu. “Lancang sekali.” Lalu salah satu dari mereka berbisik. Hingga mereka semua pun menegang. “Kau yakin?” Tanya salah satu dari mereka. Lalu temannya pun mengangguk cepat. “Maaf, Tuan. Maaf sudah mengganggu waktu anda,” Katanya lalu mereka pun pergi. Saat itu pintu pun kembali ditutup dan Diandra merasa lega. Detik itu kakinya langsung melemah dan ia terduduk di lantai. “Pak, terimakasih,” Kata Diandra. Pria itu mengangkat alis, jelas menunjukkan ketidaksukaannya. “Maaf… maksudnya Om—Kakek—eh…” Diandra menegang, ucapannya terputus. Ia buru-buru menutup mulutnya dengan tangan ketika menyadari tatapan pria itu kian tajam mengarah padanya. “Pria itu harus tahu kau ada di sini,” katanya dingin. “Eh—jangan!” Diandra refleks meraih dan memeluk kaki pria itu. Lututnya sudah terlalu lemah untuk menopang tubuhnya sendiri, membuatnya terjatuh dan hanya bisa duduk di lantai, gemetar menahan takut. “Jangan ya, aku mohon,” Diandra pun perlahan bangkit dan matanya melihat mineral di atas meja. Dengan cepat ia meraihnya dan meneguk habis bahkan tanpa meminta izin pada sang pemilik. “Terimakasih,” Katanya setelah tenggorokannya terasa lega. “Tidak sopan.” “Hehehe…” Diandra hanya bisa terkekeh kecil dengan perasaan malu, kemudian mengulurkan tangannya, “perkenalkan aku Diandra.” Pria itu hanya menatap tangan Diandra tanpa membalasnya sama sekali. Dengan perlahan Diandra menurunkan tangannya. “Engga papa kamu ngga bales, mungkin kamu lagi malas gerak ya, ngga papa juga asalkan ngga struk,” Celotehnya. Dan kembali Diandra pun menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena suka keceplosan. Dan tatapan dingin pria ini sungguh menyeramkan. “Om, bisa bantu aku keluar dari sini ngga,” Pintanya ragu. “Tidak!” Jawab itu turun tanpa basa-basi. ‘Sebenarnya dia makhluk berasal dari planet mana sih? Gini amat,’ batin Diandra. Tapi tidak ada cara lain, hanya pria ini yang dapat menyelamatkannya sekarang. Ia pun mencoba menarik nafas agar lebih tenang sehingga bisa lebih sabar menghadapi pria ini. “Om-” “Kapan aku menikah dengan Tantemu?!” “Ya juga ya, oke…Tuan…Tolong aku ya, diluar pasti mereka masih mencariku, kalau aku keluar sendiri pasti mereka menemukanku,” mohon Diandra lebih hati-hati. Tidak ada jawaban pria tampan itu hanya diam membuat Diandra merasa cemas. Saat itu, tiba-tiba terdengar bunyi pintu kamar yang terbuka dari luar. Diandra tidak sempat melihatnya, tapi dengan cepat ia bersembunyi di balik tubuh kekar pria itu, seolah pria asing itu satu-satunya perlindungan yang ia miliki. Bayangan demi bayangan anak buah tante dan omnya kembali menghantuinya. Diandra ketakutan—sangat ketakutan—akan dibawa pergi. Tubuhnya semakin gemetar, napasnya tersengal, seolah ketakutan itu mencengkeramnya lebih kuat daripada pelukan yang tengah ia pertahankan. “Leon?” Suaranya, Diandra pun cepat-cepat membuka matanya dan mengitip sedikit. Tampak wanita tua berdiri di ambang pintu, dan dibelakang seorang pria berjas hitam, tapi sepertinya bukan bagian dari Tantenya. Detik berikutnya langkah kaki pun terdengar, seiring dengan pintu yang tertutup. Awalnya wanita itu tampak tegang, tapi setelah menyadari seorang wanita mengenakan gaun pengantin di kamar hotel bersama cucunya ia langsung bingung. “Dia siapa?” Tanya wanita itu. Diandra hanya bisa tersenyum kecut. Dan didetik berikutnya tiba-tiba saja wanita tua itu memeluknya. Diandra kebingungan, dan tak tahu berbicara apa. “Kalian sudah menikah?” Ucap wanita itu dengan tatapan mata yang berbinar. “Hah?!” Diandra sungguh syok mendengarnya. Ia pun menggeleng cepat, tapi sebelum sempat menyanggah wanita tua itu sudah kembali memeluknya dengan bahagia. “Oma senang sekali akhirnya kamu melupakan Hilda,” katanya. Diandra terdiam, kebingungan jelas tergambar di wajahnya. Ia tak sepenuhnya memahami maksud ucapan itu, sementara pikirannya masih dipenuhi ketegangan yang belum juga mereda. “Oma—” Ucapan Leon terpotong ketika sang Oma lebih dulu angkat bicara. “Jika orangnya bukan Hilda, Oma akan segera mengurus semua dokumen penyerahan warisan itu atas namamu,” ucapnya tegas. Leon seketika terdiam mendengarnya. Wanita tua yang dipanggil Oma itu kembali menatap Diandra. Tatapannya kali ini terlihat begitu tulus, bahkan hangat. “Kamu sangat cantik,” katanya lembut. “Apa kalian sudah lama menjalin hubungan?” “O-Oma, aku—” “Iya, Oma,” Leon menyela cepat. “Awalnya Leon pikir Oma tidak akan menyetujui hubungan Leon, seperti halnya dengan Hilda. Karena itu… Leon menikahinya diam-diam.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD