Pria Asing

890 Words
Mata Diandra melebar. Ia menggeleng cepat, berusaha menolak meski suaranya nyaris tak keluar. “Ibu… Nenek… Oma… s-siapa pun Anda, saya—” Belum sempat kalimat itu selesai, Leon sudah lebih dulu menutup mulutnya dengan kasar. Oma terlihat semakin bingung, matanya bergantian menatap Diandra dan Leon, tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Di saat itulah Diandra mengumpulkan sisa tenaganya. Tanpa ragu, ia menghentakkan tumitnya, menginjak kaki Leon sekuat yang ia bisa. “Sial!” Umpat Leon. Namun, Leon tak melemah sama sekali. Tubuhnya seperti besi dan terlalu kuat. “Kalian kenapa?” Tanya Oma yang menuntut penjelasan. “Oma, kita bicara nanti. Istri Leon lagi ngambek tadi kami sempat bertengkar karena salah paham,” ucap Leon. “Oh begitu? Tapi lepaskan dia ya.” “Oma keluar dulu, kami selesaikan dulu masalah kami.” Leon menatap asistennya memberikan perintah isyarat untuk segera membawa Oma pergi. “Oma, mari.” asisten membuka pintu. Namun, Oma tampak ragu. Ia masih menatap wanita yang masih ditutup Leon mulutnya. “Nanti, Leon dan Istri Leon akan datang ke rumah, Oma,” Kata Leon semakin meyakinkan. Dengan langkah ragu Oma pun keluar, pintu kembali ditutup Leon langsung menghempaskan Diantara ke atas ranjang. Bug! “Akh…” Diandra bangkit, lalu menatap pria di hadapannya dengan sorot mata tajam. “Hei, tadi itu Oma kamu, ya?” suaranya meninggi, penuh kemarahan. “Kenapa kamu bilang aku ini istrimu? Kita bahkan nggak saling kenal!” “Namamu Diandra, dan aku Leon,” jawab pria itu dingin. “Kita akan berpura-pura menjadi suami-istri di hadapan keluargaku—terutama di depan Oma.” Ucapannya tegas, tanpa memberi celah sedikit pun untuk ditolak. Namun bukan Diandra namanya jika hanya diam menerima. Ia menggeleng keras, hatinya menolak mentah-mentah rencana pria asing itu. “Hey, kamu siapa?” hardiknya. “Berani-beraninya ngatur hidupku!” Leon melangkah mendekat, tatapannya tajam dan tak bisa dibantah. “Aku orang yang barusan menyelamatkan nyawamu,” ucapnya rendah namun mengancam. Diandra refleks menegang. “Dan satu-satunya alasan kau masih berdiri di sini,” lanjut Leon, “adalah karena aku bilang pada Oma bahwa kau istriku.” Ia berhenti tepat di hadapan Diandra. Terlalu dekat. “Kalau kau keluar sekarang dan menyangkal semuanya,” katanya dingin, “mereka akan tahu kau ada di sini.” Leon menunduk sedikit, suaranya menajam. “Pilihannya sederhana, Diandra. Ikut rencanaku… atau hadapi mereka sendirian.” Ucapan Leon benar-benar tak memberi celah kompromi. Tubuh Diandra menegang. “Pergi dari sini. Sekarang,” ucap Leon dingin. Ia membuka pintu lebar-lebar, jelas mempersilakan Diandra keluar. Namun keluar dari kamar itu masih terlalu berbahaya. Diandra bisa tertangkap—dan ia tak berani membayangkan apa yang akan terjadi setelahnya. “Silakan pergi, Nona,” kata Leon lagi, nadanya tak berubah. Diandra menggeleng cepat. “Pergi!” “Om… tolong aku. Aku mohon,” lirih Diandra putus asa. Tubuhnya gemetar hebat saat menatap pintu yang masih terbuka itu. “Tidak ada yang gratis di dunia ini,” ujar Leon tajam. “Kau setuju berpura-pura menjadi istriku?” Diandra kembali menggeleng, namun pandangannya terjatuh pada pintu yang menganga. Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, ia akhirnya mengangguk. Tidak ada pilihan lain. “I-iya,” ucapnya cepat. Leon menutup pintu. Diandra mengembuskan napas lega—namun ketenangan itu hanya sesaat. Tubuhnya kembali menegang saat menatap wajah dingin pria di hadapannya. Apakah dia jahat? Apakah benar-benar akan selamat? Mata Leon kembali menatapnya dari atas sampai ke bawah. “Ngapain lihat aku begitu?!” Leon tak memberikan respons apa pun. Ia justru meraih ponselnya, lalu menghubungi seseorang. Setelah itu, ia melangkah menuju jendela kaca besar yang menampilkan gemerlap gedung-gedung tinggi di kejauhan. Cahaya kota memantul di siluet tubuhnya, membuat sosoknya tampak dingin dan sulit ditebak. Sementara itu, Diandra hanya bisa menatap punggung pria itu. Hatinya dipenuhi tanya—antara lega karena masih aman, dan takut pada pria asing yang kini menjadi satu-satunya tempat bergantung. Tak lama kemudian, Leon kembali menatapnya. Namun Diandra hanya diam, meneguk saliva berulang kali. Apakah ini pilihan tepat? Atau sebenarnya ia baru saja keluar dari lubang buaya, hanya untuk masuk ke lubang yang lebih dalam? Klik Pintu kembali terbuka. Diandra refleks berlari ke arah Leon dan bersembunyi di balik punggungnya. Leon menoleh tipis. “Bos, ini pakaiannya,” ucap seorang pria berjas hitam—orang yang sebelumnya masuk bersama wanita tua yang dipanggil Oma. Begitulah Diandra menangkapnya. Setidaknya, rasa lega kembali menyelinap ke dadanya, karena yang datang bukan anak buah Tante dan Om-nya. “Ganti pakaianmu,” perintah Leon dingin sambil melemparkan sebuah paper bag ke arah Diandra. Diandra terkejut, refleks menangkapnya tepat di depan d**a. Ia menatap kantong itu beberapa detik, lalu kembali mengangkat wajahnya ke arah Leon. Kali ini, Diandra hanya bisa mengangguk cepat—bingung, gugup, dan sama sekali tak tahu harus bersikap bagaimana dalam situasi yang terasa kian asing baginya. Langkahnya terasa berat saat memasuki toilet. Setelah mengenakan gaun sederhana, sepatu flat, lalu menambahkan kacamata, masker, dan topi, Diandra menatap bayangannya di cermin sesaat. Penampilannya kini jauh berbeda—lebih tertutup, lebih aman. Setidaknya, begitu yang ia harapkan. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya melangkah keluar, mencoba menenangkan gemetar yang belum juga sepenuhnya reda. Tapi tunggu dulu, tiba-tiba pikiran buruk menghantui. ‘Apa aku akan dijual? Jadi wanita penghibur? Atau dia agen rahasia penjual bagian tubuh? Ginjal, mata, hati, jantung? Tubuhnya bergetar dengan tangan saling meremas menatap pria dingin itu dari depan pintu toilet.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD