“Tanda tangan!”
Leon melemparkan selembar kertas ke atas meja.
Diandra mematung. Tatapannya terpaku pada lembaran putih itu, kepalanya penuh tanda tanya.
Apa lagi ini?
Tangannya bergetar, dadanya terasa sesak. Ia bahkan belum sempat membaca isinya, tapi nada suara Leon sudah cukup membuatnya paham—ini bukan permintaan.
“Ini apa?”
“Kau buta huruf?”
“Enak aja!”
“Baca!”
Diandra meraih kertas itu dengan kasar, tapi dia terkejut setelah membaca isinya.
Kontrak kerja sama?
“Hey, kapan aku bilang setuju terikat perjanjian dengan mu? Pria asing!” Protes Diandra.
Kemudian Leon menatap asistennya.
“Bawa dia pada Tantenya!”
Mata Diandra membulat mendengarnya.
“Eh, apa-apa kamu? Ngga ya!” Tolak Diandra panik.
“Tanda tangan!” Perintah Leon.
“Ih!” Diandra mengepalkan tangannya ingin meninju pria dihadapanya ini, tapi tidak punya keberanian.
“Tapi kamu ngga bakal ngapa-ngapain aku kan? Wajar dong aku takut,” Ujar Diandra.
“Aku tidak tertarik pada wanita sepertimu,” ujar Leon dingin. “Apa yang bisa dinikmati? Dadamu kecil.”
Diandra refleks memegang dadanya, seolah memastikan tubuhnya masih ada di tempatnya.
“Bokongmu juga jelek,” lanjut Leon tanpa rasa bersalah.
Kali ini tangan Diandra berpindah ke belakang, wajahnya memerah—antara malu dan marah.
“Tidak ada yang menarik darimu,” tutup Leon meremehkan.
“Hei! Kamu menghina aku!” pekik Diandra geram, suaranya bergetar menahan emosi.
“Temui mereka. Katakan wanita itu ada di sini!” perintah Leon dingin pada asistennya.
“Apasih, ngancam mulu!” protes Diandra kesal. Ia menghela napas kasar.
“Oke, aku tanda tangan. Tapi benar-benar cuma tiga bulan, ya. Dan ingat—ini cuma pura-pura!” tegasnya.
Leon mengangkat alis, menatap Diandra seolah sedang menilai keberaniannya.
Detik berikutnya, Diandra langsung membubuhkan tanda tangannya di atas kertas itu.
Entah keputusan ini benar atau tidak. Namun untuk saat ini… inilah pilihan terbaik yang ia miliki.
“Ikut!”
“Kemana?”
“Menemui Tantemu!”
“Katanya tadi kita udah kerja sama, kamu gimana sih!” Geram Diandra.
“Bagus kalau kau sadar! Ayo!”
Leon langsung meraih tangan Diandra tanpa izin dan menyeretnya keluar.
“Ih, nggak sopan banget sih?” geram Diandra, berusaha menarik tangannya.
Namun Leon sama sekali tak merespons.
Kini mereka berjalan meninggalkan kamar. Setiap langkah membuat napas Diandra terasa semakin berat. Jantungnya berdegup kencang, bayangan wajah anak buah tantenya yang masih berkeliaran di tempat itu terus menghantui pikirannya.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka.
Dengan ragu, Diandra ikut masuk ke dalamnya.
Begitu pintu lift tertutup, Diandra sempat merasa sedikit lega. Namun belum sempat ia menarik napas lebih lama, pintu lift kembali terbuka.
Dua pria berjas hitam berdiri di sana—anak buah tantenya.
Tubuh Diandra yang berdiri di samping Leon mendadak gemetaran, terlebih saat kedua pria itu ikut masuk ke dalam lift. Ruangan sempit itu terasa semakin menekan.
Tatapan mereka perlahan mengarah padanya.
Diandra refleks menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya.
Namun pada detik itu juga, Leon melangkah maju dan berdiri tepat di hadapannya. Satu lengannya terangkat, menarik Diandra ke dalam dekapannya tanpa ragu.
Tubuh Diandra pun bersandar pada d**a Leon—d**a yang bidang dan kokoh, beraroma maskulin, seolah menjadi dinding pelindung yang memisahkannya dari dunia luar. Jantung Leon berdetak tenang di bawah telinganya, kontras dengan jantung Diandra yang berpacu liar.
Ting!
Pintu lift terbuka, dan Leon langsung meraih tangan Diandra, membawanya keluar.
Mereka kini berada di lobi. Tak jauh dari sana, seorang pria paruh baya berdiri menatapnya dengan tajam.
Reflek, Diandra menggenggam tangan Leon lebih erat. Tubuhnya tegang, napasnya memburu, dan hatinya berdebar kencang—tatapan pria itu penuh curiga, seolah menimbang setiap gerakannya.
Pria itu perlahan mendekat.
Deg!
Jantung Diandra berdetak semakin cepat. Apakah ini akhirnya? Apakah Leon akan menolongnya?
“Maaf, Tuan. Saya ingin bicara sebentar,” kata pria itu, sambil sesekali menoleh dan mengamati Diandra yang berjalan di samping Leon.
Topi, kaca mata, masker. Membuat wajahnya tidak tampak jelas.
Tanpa sepatah kata pun, Leon segera melingkarkan tangannya di pinggang Diandra. Kepala Diandra otomatis menempel di bahunya, tubuhnya terasa aman di balik perlindungan kuat itu.
“Anda siapa?” Leon bertanya dingin, tatapannya tajam, penuh ancaman tersamar.
“Maaf, Tuan. Sepertinya saya salah orang.”
Leon kembali melangkah tanpa sedikit pun menghiraukan pria itu.
Otomatis, Diandra ikut melangkah di sisinya.
Kakinya terasa ringan namun juga gemetar, seolah tak sepenuhnya menapak lantai.
Karena tak fokus pada langkah kakinya, Diandra tersandung. Tubuhnya oleng, keseimbangannya hilang, dan dalam hitungan detik ia nyaris terjatuh.
Namun sebelum itu terjadi, Leon dengan sigap menahan tubuhnya.
Satu tangannya mencengkeram pinggang Diandra dengan kuat, menahannya tetap berdiri. Diandra terdiam, napasnya tercekat sesaat sebelum akhirnya menghela napas lega.
Namun ketika Diandra menatap wajah Leon, yang ia temui hanyalah ekspresi datar—dingin dan tanpa emosi. Entah kenapa, hal itu justru terasa memuakkan.
Kesadarannya kemudian tertuju pada sesuatu di lantai.
Topinya terjatuh.
“Itu dia—” Diandra hampir berjongkok untuk mengambilnya, sebelum sebuah suara tajam memanggil dari kejauhan.
“Diandra!”
Refleks, Diandra menoleh.
“Tante…” gumamnya panik. Wajahnya memucat seketika.
Ia bersiap berlari, namun langkahnya terhenti karena terjatuh. Kakinya nyeri, rasa sakit itu menjalar hingga membuatnya goyah. Namun, meskipun begitu ia masih mencoba untuk menyeret tubuhnya sekuat tenaga.
“Tangkap dia!” perintah wanita paruh baya itu lantang.
Diandra menggeleng putus asa. Ia ingin lari, tapi tubuhnya tak mau bekerja sama.
‘Tuhan, apakah ini akhirnya hidupku?’ Batinnya putus asa.