Masa, Lalu

2540 Words

(Pov Rara) Setelah hampir mengelingi sekolah, akhirnya aku menemukan keberadaan Irsyad. Aku berjalan pelan ke arah Irsyad, takut mengangguk tidurnya kali ini. Cowok bermata tajam itu, rupanya sedang tidur di kursi taman dengan posisi wajah yang langsung menantang sinar terik matahari. “Apa gak panas ya?” bingungku, yang refleks menengadah ke atas. “Ih panas.” “Kasihan Ilsyad. Pasti dia kepanasan.” Aku meraih dua lembar tisu yang sejak tadi aku bawa mengelilingi sekolah, kemudian aku membentangkan tisu itu di atas kepala Irsyad lalu memenangi dua sudut tisu agar bisa berfungsi sebagai payung dadakan. “Ngapain lo?” Aku tersentak saat tiba-tiba Irsyad membuka matanya. “Kamu gak tidur ?” tanyaku sedikit takut. “Aku pikil kamu tidul.” Irsyad tidak langsung menjawab pertanyaanku. Mata

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD