Dixie segera berdiri saat dokter yang menangani Ellyane keluar dari ruang operasi, Ken juga ikut berdiri.
"Bagaimana keadaannya dokter?" Tanya Dixie.
"Apakah anda keluarganya?" Tanya balik dokter itu.
"Saya temannya, dia hanya seorang diri di kota ini." Sahut Dixie.
"Baiklah, keadaannya sudah stabil, pendarahannya sudah berhenti, beruntung dia tepat waktu dibawa kemari. Tapi maaf, kami tak bisa menyelamatkan anak dalam kandungannya, janin berusia dua bulan itu sudah hancur karena benturan yang sangat keras dan diperkirakan terbentur lebih dari satu kali. Kalau boleh saya tahu, apakah nona Ellyane memang sengaja ingin membunuh janinnya?" Ucap dokter itu.
"Tidak mungkin dokter, dia sangat menyayangi anaknya. Ini pasti perbuatan pria yang menghamilinya dan tak ingin bertanggung jawab." Sahut Dixie.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi, kalian bisa menemuinya saat sudah dipindah ke ruang perawatan. Silahkan mengurus ke bagian administrasi, supaya lebih cepat dipindahkan. Terima kasih." Ucap dokter itu.
"Terima kasih dokter." Sahut Dixie lalu menjabat tangan dokter itu. Dokter pun melangkah pergi meninggalkan Dixie dan Ken.
"Ken, aku akan mengurus Ellyane dulu. Aku minta tolong padamu untuk ke kantor dan mengosongkan seluruh jadwalku hari ini, dan juga mengabari Xander juga Brandon tentang semua yang sudah Ben lakukan pada Maura dan Ellyane. Katakan pada mereka bahwa aku butuh rencana untuk menghadapi Ben." Perintah Dixie pada sopir pribadinya itu.
Ken segera mengangguk paham, dan segera melakukan perintah Tuannya itu, menghubungi Xander dan Brandon dan segera ke kantor.
Dixie selesai mengurus ke bagian administrasi dan Ellyane sudah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP. Dixie berharap Ellyane mendapatkan perawatan yang terbaik, merasa kasihan melihat kondisi Ellyane yang kehilangan janinnya.
Ddrrtttt...drrttt....
Ponsel Dixie berbunyi saat dia sedang duduk di sofa menunggui Ellyane yang belum tersadar. Sebuah pesan chat masuk dalam group three chipmunks.
Brandon : kita bertemu di basement , malam ini 09.00 pm.
Xander : ok
Dixie : ok
Para sahabatnya itu memang selalu bisa diandalkan.
"Eugh...dimana aku?" Suara Ellyane terdengar dan Dixie segera menghampiri brankar tempat Ellyane berbaring.
"Kau sudah sadar? Thanks God. Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau rasakan?" Tanya Dixie
"Kepalaku sakit, perutku juga nyeri. Apakah anakku masih bisa diselamatkan?" Sahut Ellyane sambil memegang perutnya.
"Maaf Ell, benturannya sangat keras, janinmu hancur di dalam akibat benturan. Apa yang sebenarnya terjadi Ell?" Tanya Dixie.
Ellyane tak mampu menjawab apapun, hanya isak tangis yang terdengar. Dixie tak memaksa Ellyane untuk bercerita, hati Ellyane pasti sangat sakit kehilangan anaknya. Ellyane akhirnya menceritakan segala kejadian pagi-pagi tadi pada Dixie.
"Ben datang saat mentari baru mulai akan muncul, awalnya dia bersikap manis, tapi setelah aku merasa nyaman justru dia melakukan hal itu, memaksaku menggugurkan anakku, aku menolak bahkan aku berjanji tak akan menuntutnya apapun dan tak akan mengungkitnya dalam perceraiannya, tapi dia justru memaksa dan mendorongku sangat keras, melihat darah mulai mengalir di pahaku, dia tak ada rasa kasihan justru seolah mendapat ide dia kembali membenturkan perutku menekannya ke meja. Lalu pergi meninggalkan aku." Cerita pedih Ellyane meluncur dalam tangisannya.
Dixie memegang tangan Ellyane untuk memberikan kekuatan pada Ellyane.
"Ell, kau wanita yang kuat, kau pasti bisa melewati masa sulit ini." Ucap Dixie menenangkan.
"Dixie...kenapa kau masih baik padaku? Maaf, aku masih tetap tidak bisa membantumu dan Maura." Ucap Ellyane.
"Tenanglah Ell, kau bisa selalu menghubungiku saat ada kesulitan, mengenai Ben dan Maura biar aku cari cara lain. Sekarang kau beristirahatlah." Sahut Dixie tersenyum.
Ellyane kembali memejamkan matanya, Dixie pun kembali duduk di sofa, memainkan smartphone nya.
Drrrttt...drrttt....
Ada sebuah telepon masuk menghubunginya. Elsa.
"Hallo"
"Dixie, bisakah kau menjemput Meggy di sekolahnya? Hari ini dia pulang terlambat karena ada pertemuan di sekolahnya, Mike dan Pete sedang ada urusan saat Meggy pulang nanti. Tolonglah kumohon."
"Baiklah, pukul berapa aku harus menjemputnya?"
"Pukul 05.00 pm dia selesai. Terima kasih Dixie, ingat! langsung antar Meggy pulang ya.
"Iya iya! jangan suka berpikir negatif padaku Elsa, aku akan menjemput Meggy dan langsung mengantarnya pulang."
Sambungan telepon pun berakhir.
Dixie menghubungi Ken untuk datang menjaga Ellyane, karena dia harus segera berangkat menjemput Meggy. Ken segera tiba di ruangan perawatan Ellyane, Dixie pun segera meminta kunci mobilnya dan pergi menjemput Meggy. Meggy keluar di pintu gerbang bersama beberapa temannya.
"Hai uncle Dixie. Kau yang datang menjemputku?" Sapa Meggy saat melihat Dixie berdiri bersandar di kap depan mobilnya menunggu Meggy di pintu gerbang.
Dixie merona merasa malu dipanggil uncle oleh Meggy, serasa sangat tua dihadapan teman-teman Meggy yang terlihat terpesona pada Dixie.
Dixie sedikit menunduk dan berbisik di telinga Meggy.
"Haruskah kau memanggilku uncle? Aku belum terlalu tua, kau tahu itu?!" Bisik Dixie dan Meggy hanya tersenyum.
"Baiklah, sebaiknya kita segera pulang, aku tak mau Elsa menuduhku macam-macam. Kau tahu kan sikap kakakmu itu padaku???" Ucap Dixie lagi.
"Tapi uncle, aku belum makan siang, dan ini sudah sore. Bagaimana jika kau mengantarku makan dulu sebelum pulang?" Tanya Meggy.
"Baiklah, ayo kita cari tempat makan yang terdekat. Apakah teman-temanmu ini juga akan ikut?" Sahut Dixie bertanya karena teman-teman Meggy masih belum beranjak dari situ.
"Eh, tidak." Sahut Meggy lalu menoleh ke arah teman-temannya yang masih tersenyum memandang pesona Dixie.
"Kalian kenapa terus berada disini? Aku pulang dulu ya. Bye..." Ucap Meggy pada teman-temannya yang masih tersenyum terpesona pada Dixie.
Meggy dan Dixie pun akhirnya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan teman-teman Meggy yang masih berdiri disana.
Mobil Dixie berhenti di tempat makan yang tak jauh dari sekolah Meggy.
"Ayo turun, kita makan disini saja." Ajak Dixie dan Meggy mengangguk setuju.
Di seberang tempat makan itu ada Maura yang sedang makan bersama Princess Anggy.
"Terima kasih Anggy, kau sudah mau mengajakku keluar. Untung saja ponselku tertinggal di rumahmu, aku tak tahu apa yang akan terjadi jika Ben yang mengambil ponselku ini." Ucap Maura.
"Kau harus lebih berhati-hati lagi Maura, jangan ceroboh karena Ben bisa menggunakan kecerobohanmu itu untuk menggagalkan gugatan ceraimu." Sahut Anggy.
"Aku tak tahu harus bagaimana cara pergi dari rumah itu lagi. Hari ini pun Ben mengijinkanku keluar karena kau yang menjemputku, tapi tetap saja aku tak diijinkan membawa Quinzy." Ucap Maura sambil menatap ke jalan.
Penglihatan Maura menangkap sosok pria yang dia kenal di seberang. Dixie, bersama seorang gadis. Bibir Maura tersenyum, namun entah mengapa hatinya begitu sesak dan menjadi agak panas melihat dua orang diseberang sana. Maura mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan chat.
Maura : pilihan yang tepat. Gadis yang cantik dan ceria, kuharap kau sudah berhenti menungguku.
Kling.
Ponselnya berbunyi dan sebuah pesan chat masuk.
Dixie : apa maksudmu? Sampai kapanpun aku tak pernah berhenti menunggumu.
Maura : gadis muda dihadapanmu saat ini, dia jauh lebih baik dariku.
Dixie : kau melihat kami? Dimana posisimu saat ini? Ijinkan aku melihatmu meski dari jauh, aku sangat merindukanmu.
Maura : di seberang tempat kalian.
Maura melihat Dixie sudah menemukan dirinya, dia tersenyum begitu juga Maura tersenyum dan menganggukkan kepala, sangat anggun.
Dixie : gadis ini adik Elsa, aku diminta menjemputnya dari sekolah. Apa kau cemburu?
Ada rasa panas di wajah Maura, pasti sudah memerah wajahnya kini. Cemburu? Benarkah?
Maura : No
Dixie : don't be jelous, my heart still yours. I Miss you so much.
Maura menatap Dixie dari kejauhan dengan geliat salah tingkah selesai membaca pesan akhir yang Dixie kirimkan, Dixie masih tersenyum melihat Maura yang mulai bergerak salah tingkah, mengelus tengkuknya, membenarkan anak rambut di samping telinganya dan tersenyum menunduk saat ketahuan menatap Dixie.
Dixie : tak sabar untuk memilikimu seutuhnya.
Maura merasakan ada rasa aneh membuncah dari dadanya panas menjalar ke seluruh tubuhnya, bahkan di bagian vital bawahnya. Maura tak pernah merasa sangat diinginkan oleh seseorang terutama pria seperti saat ini.
Princess Anggy yang sedari tadi memperhatikan geliat aneh Maura pun segera mencari tahu dengan mengikuti arah pandangan Maura, dan dia menemukan pria itu. Pria yang berani terang-terangan menantang Ben untuk merebut Maura.
"Ehem!!! Pria itu bisa membuatmu tersenyum rupanya. Aku jadi penasaran dengan dirinya." Ucap Anggy menyadarkan saudaranya itu bahwa dirinya masih ada disitu.
Maura tersadar dan menjadi malu, bagaimana bisa dia kini seperti anak muda yang jatuh cinta. Jatuh cinta??? Stop! Ini tidak boleh terjadi!
"Maafkan aku Anggy. Aku tak tahu siapa dia, hanya tahu namanya Dixie dan dia mengejarku ingin memiliki diriku. Aku takut Ben akan membunuhnya." Sahut Maura lalu kembali menatap ponselnya.
Dixie : aku harus segera pergi, Elsa bisa membunuhku jika tak segera mengantar Meggy pulang ke rumah pantai. Aku merindukanmu di rumah pantaiku.
Ada rasa aneh semakin menjalar di tubuh Maura, boleh dikatakan ada yang berdenyut saat membaca pesan terakhir Dixie itu. Maura tak tahu harus menjawab apa untuk pesan chat terakhir itu.
Maura melihat Dixie mulai berdiri dan melangkah keluar bersama gadis itu. Saat Dixie hendak masuk ke dalam mobilnya, di berdiri sejenak menatap ke arah Maura yang ada diseberang, dan mengirimkan kode sebuah ciuman dari bibirnya kepada Maura, membuat Maura tersenyum menunduk malu, Dixie pun tersenyum masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi dari sana.
"Maura, kau tak boleh ceroboh! Hapus seluruh chat mu dengan pria itu! sebelum Ben membacanya." Ucap Anggy mengingatkan Maura saat sekilas dia melihat ke layar ponsel Maura.
"Kau benar Anggy. Entahlah apa yang kurasakan padanya. Aku tahu ini salah, tapi dia sangat melindungiku. Aku merasa sangat diinginkan olehnya, dan itu tak pernah kudapatkan dari Ben. Dia bahkan berani menghadapi Ben demi mendapatkan diriku." Sahut Maura.
"Kau harus fokus dulu pada perceraianmu, jangan sampai pria itu hanya membuatmu akhirnya jauh dari Quinzy." Nasehat Anggy
"Iya kau benar Anggy,. Aku akan fokus pada Quinzy dulu. Terima kasih selalu mengingatkan aku untuk tidak ceroboh. Kumohon, jangan tinggalkan aku Anggy, dampingi aku." Sahut Maura dan Anggy mengangguk tersenyum.
"Siapa nama pria itu? Aku bisa mencari tahu tentang dirinya untukmu. Kau harus tahu betul siapa dia sebelum kau jatuh cinta lebih dalam padanya. Sementara kau fokuslah pada perceraianmu dan juga Quinzy." Ucap Anggy.
"Dixie Duarte Ramirez. Dia adalah saudara sepupu dari Mr. Xander Xavier Lambroche, pemilik XXL Corp sekaligus putra tunggal Mr. Lambroche." Sahut Maura dan Anggy mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Sepertinya dia juga bukan pria biasa, menarik untuk diselidiki." Ucap Anggy tersenyum menggoda Maura.
"kita sudah terlalu lama disini, lebih baik kita pulang sebelum Ben menyusul kemari." Ucap Anggy lagi dan Maura setuju.
Mereka lalu meninggalkan tempat itu dan Anggy langsung mengantar Maura pulang ke rumah Ben.
"Sudah kau hapus chat Dixie tadi?" Tanya Anggy mengingatkan Maura.
"Sudah bersih dari ponselku. Terima kasih Anggy, seringlah menjemputku." Sahut Maura lalu memeluk Anggy dan turun keluar dari mobil itu, lalu masuk ke dalam rumah. Anggy langsung melajukan mobilnya keluar dari halaman mansion Ben.
Saat memasuki mansion itu, Maura mendapati Ben sudah berada di ruang tengah, duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Kau sudah pulang? Bagaimana pertemuanmu dengan princess Anggy?" Tanya Ben tanpa menoleh pada Maura.
"Terima kasih sudah mengijinkan aku pergi bersama Anggy. Kami sangat menikmatinya." Sahut Maura tenang.
"Kalian hanya berdua?" Tanya Ben lagi.
"Tentu saja kami hanya berdua." Jawab Maura tenang namun tidak dengan Ben.
Ben berdiri dari sofa dan langsung berbalik menghadap Maura, tatapannya menusuk tajam dan rahangnya mengeras. Dia melemparkan sebuah foto dengan kasar ke wajah Maura.
"Apa itu?! Kau mencoba berbohong padaku?!!! Sekali aku memperbaiki diriku memberimu kebebasan, tapi kau malah mengkhianatiku?!!!" Teriak Ben membentak Maura.
Maura sangat terkejut melihat foto itu, tampak Dixie yang sedang melempar sebuah ciuman pada dirinya yang ada di seberang, dan sialnya lagi terlihat disitu wajah Maura yang tersenyum menatap Dixie.
Degh!
Seketika jantungnya berhenti berdetak.
"Ini bukan apa yang terjadi Ben. Aku hanya berdua dengan Anggy, pria ini entahlah dia bersama siapa dan darimana, aku tak tahu Ben!" Ucap maura mencoba menjelaskan.
Ben bukanlah pria yang mau menerima penjelasan, dengan segera sebuah tamparan menyerang pipi Maura dengan sangat keras.
PLAAAK!!
Wajah Maura terbuang ke samping, sudah dipastikan ada jejak jari-jari tangan berwarna merah di pipinya, terasa sangat panas dan nyeri.
"Ben, percayalah padaku, aku hanya pergi berdua dengan Anggy." Ucap Maura dengan isak tangis memohon pengertian Ben.
"Buktikan padaku!" Bentak Ben sambil menarik lengan Maura dengan kasar menariknya ke atas menuju ke kamar mereka.
Ben mengunci pintu kamar itu dari dalam, lalu melemparkan tubuh Maura ke atas tempat tidur king size. Maura menatapnya dengan ketakutan, dia tahu Ben akan menghukumnya dengan cara apa. Tak ada yang bisa Maura lakukan saat ini, dia tak bisa lari kemanapun saat ini. Ben melepaskan jas dan dasi juga kemejanya, membuangnya lepas ke sembarang arah. Ben lalu menarik ikat pinggangnya, lalu menggulung ujungnya ditangannya.
CTTAAARRR..!!
"AAARGGHH!!!!"
CTTAAARRR..!!
"AAAARRRRGHHH!!!"
suara cambuk bergantian dengan teriakan Maura kesakitan.
Ben mencambuk kaki Maura beberapa kali. Lalu merayap menaiki tubuh Maura masih dengan ikat pinggang sebagai cambuk di tangannya.
"Buktikan kau masih bisa kupercaya Maura! Mendesah lah untukku." Bisik Ben di telinga Maura lalu menggigit telinga Maura.
"Aarghh sakit Ben. Kau menyakiti aku." Sahut Maura merintih.
Ben tersenyum iblis memandang wajah Maura di bawahnya, lalu membuka paksa dress Maura dengan kasar hingga sobek. Ben lalu menggunakan dress sobek itu untuk mengikat kedua tangan Maura ke atas kepala tempat tidur. Posisi Maura saat ini setengah duduk bersender di kepala tempat tidur hanya memakai bra dan celana dalam. Ben lalu berdiri dengan lututnya di kanan kiri kaki Maura, lalu mengayunkan kembali ikat pinggangnya.
CTTAAARRR..!!
"AAAAGGGHHH!! Tolong Ben, sakit!" rintih Maura.
"Sakit?" Tanya Ben lalu membelai perut Maura dengan lembut menggunakan bibirnya, menjilat darah yang keluar dari kulit Maura yang terkelupas.
"AAAGGGHHH..." Maura tersentak kesakitan dan sedikit menggeliatkan badannya menjauh dari bibir Ben.
Tangan Ben menahan tubuh Maura.
"Buktikan kalau kau bisa dipercaya Maura, buktikan kalau kau tak ada perasaan apapun pada Dixie, mendesah lah untukku Maura, melenguh lah untuk setiap sentuhan ku Maura." Bisik Ben lagi dan mulai menggerayangi tubuh Maura dengan ujung ikat pinggangnya yang menjuntai.
Wanita mana yang bisa mendesah dan melenguh disentuh seorang biadab seperti Ben??? Dimana bisa ada desahan nikmat jika sentuhan itu berupa cambukan yang kasar dan bahkan mengoyakkan kulit hingga mengucurkan darah. Ben terus mencambuk tubuh Maura, puas dengan bagian depan, dia lalu membalik tubuh Maura dengan kasar, sedang kedua tangan maura masih diikat diatas kepala tempat tidur. Kini giliran tubuh belakang Maura yang mendapat cambukan keras. Suara teriakan maura memohon terdengar bagai desahan di telinga Ben.
Malam itu Ben sungguh-sungguh biadab, memperkosa istrinya sendiri bagai binatang. Sakit hati Maura sungguh tak terbayang lagi, melebihi sakit berdarah yang ada di sekujur tubuhnya. Maura menangis hingga semalaman, Ben? Dia tertidur pulas setelah puas meluapkan nafsu binatangnya, ingin rasanya Maura membunuh pria yang tertidur disampingnya itu. Ben sungguh tak peduli dengan kondisi Maura.
Maura sudah menebak esok pagi Ben pasti akan kembali bersikap baik dan meminta maaf padanya. Maura menatap Ben dengan penuh kebencian. Maura segera mengambil ponselnya, berlari ke kamar mandi dan menghubungi seseorang.