Ellyane menyeruput teh di tangannya sebelum menjawab pertanyaan Dixie.
"Maafkan aku, aku tak bisa membantu. Aku tak mungkin mengkhianati orang yang kucintai meski dia sudah mencampakkan aku. Bagaimanapun dia adalah ayah dari anakku, aku masih berharap dia bisa bercerai baik-baik dengan Maura, dan kembali pada kami, namun bukan dengan seperti itu." Jawab Ellyane menunduk sambil mengelus perutnya yang sudah mulai agak buncit.
"Aku mengerti posisimu, tapi Ben tak akan pernah mau menceraikan Maura. Gugatan cerai Maura bisa dikabulkan dengan cepat jika ada bukti perselingkuhan Ben atau bukti kekerasan yang Ben lakukan pada Maura." Ucap Dixie mencoba menyakinkan Ellyane.
Ellyane tetap pada keputusannya, dia menolak membantu Dixie.
"Maaf aku tak bisa menjadi saksi, Ben akan melakukan yang buruk terhadap anak ini." Sahut Ellyane sambil mengelus2 perutnya.
Dixie menghela napasnya panjang.
"Baiklah, aku bangga padamu Ell, kau wanita yang kuat dan baik, jaga baik-baik kandunganmu, hubungi aku jika Ben hendak melakukan hal yang buruk padamu." Ucap Dixie lalu berdiri dan melangkah ke pintu keluar.
Ellyane merasa bersalah pada Dixie.
"Dixie, maaf. Aku tahu aku egois tak mau membantumu, maafkan aku." Ucap Ellyane menunduk dan Dixie hanya menoleh lalu tersenyum.
"Tak apa Ell, aku paham dengan alasanmu." Sahut Dixie tersenyum lalu melangkah lagi keluar meninggalkan rumah Ellyane.
****
Malam ini Maura terpaksa harus menemani Ben menghadiri acara kerajaan yang diadakan sang Ratu. Maura tak ingin mengecewakan sang Ratu dengan ketidakhadirannya. Ben datang menjemput Maura lalu berdua berangkat menuju lokasi acara kerajaan itu diadakan. Maura dan Ben hanya terdiam selama di perjalanan. Saat tiba di lokasi, Kevin kepala pengawal Ben membukakan pintu bagi Maura, lalu Ben pun segera menghampiri dan mengulurkan tangannya, Maura menyambut tangan Ben dan keluar turun dari mobil.
Ben segera menyelipkan tangan Maura ke lengannya lalu mereka berdua berjalan di karpet merah dan langsung disambut oleh lampu Blitz kamera para paparazi yang sudah ada disana. Ben dan Maura pun harus tersenyum dihadapan paparazi. Tak jauh dari tempat Maura dan Ben berdiri, nampak juga Xander dan Elsa bersama orang tua Xander. Wajar saja jika keluarga Mr. & Mrs. Lambroche juga diundang, karena mereka adalah pengusaha no.1 terkaya di negara ini.
Saat berada di dalam sebuah ballroom besar dan mewah, acara belum dimulai, mereka semua saling menyapa para kolega dan kerabat mereka masing-masing yang juga hadir disana. Elsa melihat Maura berdiri tak jauh dari tempatnya bersama Ben yang terus memegang tangan Maura yang terselip di lengannya, seakan tak mau Maura menjauh darinya. Elsa memperhatikan bahwa Maura sangat tidak nyaman di dekat Ben dan memaksakan dirinya untuk tersenyum pada tamu yang disapa oleh Ben.
Elsa menepuk-nepuk lengan Xander disampingnya, Xanderpun sedikit menurunkan tubuhnya mengerti bahwa ada yang ingin Elsa katakan padanya.
"Maura juga hadir bersama Ben." Bisik Elsa dan Xander langsung mengikuti arah pandangan Elsa.
"Apa kau ingin menyapanya? Aku akan menemanimu." Tanya Xander.
"Apa tak akan menjadi masalah nantinya? Aku tak ingin ada keributan disini." Sahut Elsa.
"Hanya menyapa sahabat tak akan menjadi masalah. Lagipula Ben sudah tahu kalian adalah teman dekat, justru mencurigakan jika kalian tidak saling menyapa. Ayo aku temani kau kesana!" Ucap Xander dan Elsa mengangguk setuju.
Xander menggandeng Elsa dan bersama melangkah menghampiri Maura dan Ben.
"Hai Maura.." sapa Elsa dan membuat Maura juga Ben langsung menoleh.
"Hai Duke Benjamin." Sapa Xander pada Ben.
Maura terlihat tersenyum senang, berbeda dengan wajah Ben yang langsung menunjukkan tidak suka kebersamaannya dengan Maura diganggu. Tangan Maura pun lepas dari Ben, karena Maura akan memeluk Elsa.
"Hai Elsa, senang bertemu denganmu disini." Sapa Maura tersenyum.
"Maaf Ben, saya ingin duduk disana mengobrol dengan Elsa, kakiku juga sudah lelah diatas heels tinggi ini." Pamit Maura dan mendapatkan tatapan tajam dari Ben.
"Xander..." Panggil Elsa seolah memberi kode pada Xander, Xander pun langsung paham.
"Silahkan Duchess Maura, sepertinya istri saya juga merindukan anda karena lama tidak berjumpa. Duke Benjamin, mari kita juga mengobrol bersama Mr. Perdana Menteri dan ayahku di sebelah sana." Ucap Xander lalu mengajak Ben melangkah ke tempat ayahnya berdiri bersama Perdana Menteri.
Ben mengikuti langkah Xander dengan berat hati, meski dirinya berada bersama Xander namun tatapannya terus memperhatikan Maura dan Elsa. Maura dan Elsa yang sadar bahwa mereka terus diawasi oleh Ben pun tetap menjaga sikap mereka.
"Bagaimana kabarmu Maura? Aku merindukanmu begitu juga Anna." Ucap Elsa.
"Aku juga sangat merindukan kalian. Maafkan aku belum bisa menemui kalian." Sahut Maura.
"Bagaimana kau bisa datang bersama Ben?" Tanya Elsa tak percaya dengan yang dilihatnya.
"Aku hanya tak ingin mengecewakan sang Ratu. Jika aku tak datang bersama Ben, pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan wartawan dan menjadi kehebohan yang akan membuat malu keluarga kerajaan." Jawab Maura.
"Kau benar Maura, kita tetap harus bersikap dewasa demi menjaga nama baik keluarga." Ucap Elsa dan Maura tersenyum mengangguk.
"Maura, tadi sore Dixie mendatangi rumah Ellyane, Dixie meminta Ellyane supaya mau menjadi saksimu di sidang perceraianmu, tapi sayang Ellyane menolak. Padahal Ben sudah mencampakkan Ellyane bahkan menolak anak dalam kandungan Ellyane. Kau bersabar ya." Ucap Elsa lagi.
"Aku sangat kasihan kepada Ellyane juga anak dalam kandungannya. Elsa, kumohon katakan pada Dixie supaya tidak menganggu Ellyane lagi, karena Ben bisa melakukan hal yang buruk pada Ellyane dan anaknya." Sahut Maura.
"Kau benar Maura, Ellyane juga mengatakan pada Dixie alasannya tak mau membantumu adalah untuk melindungi anak dalam kandungannya." Ucap Elsa.
"Elsa, sepertinya Ben melangkah kemari, sebaiknya kita ganti topik." Ucap Maura berbisik saat melihat Ben melangkah mendekati tempat duduk mereka.
"Maura, acara sudah akan dimulai, lebih baik kita bergabung dengan keluarga yang lain. Permisi Ms.Lambroche, saya harus mengambil Maura kembali." Ucap Ben lalu Maura pun berdiri dan ternyata Xander juga sudah ada di belakang kursi Elsa.
"Elsa, mari kita bergabung juga dengan yang lain." Ajak Xander lalu Elsa berdiri dan menyelipkan tangan di lengan Xander.
"Terima kasih, kau selalu melindungiku." Bisik Elsa pada Xander lalu Xander tersenyum dan mengecup puncak kepala Elsa.
Mereka berjalan berbeda arah, Ben dan Maura ke arah kumpulan keluarga kerajaan, sedangkan Xander dan Elsa ke arah orang tua Xander berada.
Acarapun berlangsung dengan sukses dan lancar. Semua tamu berdansa di puncak acara, begitu juga dengan Ben dan Maura juga Xander dan Elsa. Semua acara akhirnya selesai sesuai dengan waktu yang sudah dijadwalkan. Para tamu undangan pun satu persatu keluar meninggalkan gedung itu.
Ben dan Maura juga segera memasuki mobil mereka.
"Maura, aku ingin kau pulang bersamaku ke rumah kita. Kau mau kan?" Tanya Ben.
"Maaf Ben, aku belum bisa kembali ke rumah itu. Lagipula Quinzy juga ada di tempat Princess Anggy. Aku tak mungkin meninggalkannya disana." Sahut maura menolak.
"Quinzy dan Lidya kini sudah berada di rumah kita Maura." Ucap Ben tersenyum namun Maura langsung kaget terkejut.
"Apa?!!! Apa maksudmu?!!! Kau berbohong!!!" Seru Maura tak percaya karena tadi saat mereka berangkat, Lidya dan Quinzy memang masih berada di rumah Princess Anggy.
"Kau bisa menghubungi Lidya sekarang." Ucap Ben masih tersenyum licik dengan menyodorkan ponselnya pada Maura.
Maura mencari ponselnya namun ternyata tak ada di dalam tasnya. Maura segera mengambil ponsel Ben itu sambil menatapnya tajam penuh curiga, lalu menghubungi Lidya.
"Lidya, kau ada dimana?" Tanya Maura langsung saat sambungan telepon terhubung.
"Maaf Nyonya, tadi saat semua sudah pergi, tiba-tiba ada yang datang dan langsung membius saya hingga tak sadarkan diri. Maaf Nyonya, saat saya terbangun ternyata saya dan Quinzy sudah kembali di rumah Duke Benjamin." Sahut Lidya sambil terisak menangis.
Maura langsung merasa lemas tak berdaya, Ben sungguh licik. Maura sungguh tak menyangka, begitu juga Kevin yang duduk di depan di bagian setir, dirinya tak mengetahui apapun tentang rencana tuannya ini. Mungkinkah Ben sudah mulai curiga pada Kevin??? Sehingga rencana menculik Quinzy dan Lidya tidak dibicarakan padanya.
"Kau sungguh licik Ben!" Ucap Maura dengan nada yang ditekan dan tatapan tajam.
"Maura, aku hanya ingin hidup bersamamu dan Quinzy. Kumohon, maafkan aku. Aku akan memperbaiki semuanya." Pinta Ben dengan memohon.
"Apa yang bisa kulakukan sekarang? Quinzy ada di rumahmu, maka aku hanya bisa pulang ke rumahmu." Sahut Maura tak mempedulikan ucapan Ben.
Ben tersenyum menang. Akhirnya Maura bisa berada dalam kendalinya lagi karena kini mereka tinggal bersama lagi. Maura tak bisa menghubungi Anggy tapi Maura merasa Anggy bisa mencari tahu sendiri alasannya melalui rekaman CCTV di rumahnya, karena Quinzy dan Lidya diculik dari rumahnya.
Sesampainya kembali di rumahnya Ben, Maura segera naik menuju ke kamar Quinzy, dirinya merasa lega bisa menemukan Quinzy dan Lidya baik-baik saja di dalam kamar. Hanya mata Lidya saja yang memerah dan bengkak karena menangis.
"Maafkan saya Nyonya. Saya tak bisa berbuat apapun. Saya sudah berusaha menghubungi Nyonya, tapi tak diangkat juga pesanpun tak dibaca." Ucap Lidya.
"Maafkan aku Lidya, aku lupa dimana meletakkan ponselku. Aku baru menyadari ponselku tak ada di dalam tasku saat akan menghubungimu tadi." Sahut Maura.
"Sekarang apa yang akan Nyonya lakukan? Kita tak mungkin bisa keluar lagi dari rumah ini Nyonya." Ucap Lidya.
"Tenanglah Lidya, kita harus tetap tenang, aku juga tak tahu harus berbuat apa. Sementara ini kita hanya bisa tetap bertahan di rumah ini." Sahut Maura lemah.
Maura putus asa, ponselnya entah berada dimana. Maura seakan kehilangan harapan, tanpa ponselnya dia tak bisa menghubungi siapapun untuk meminta bantuan. Semoga Tuhan masih berpihak pada kebahagiaannya dan Quinzy, juga keselamatan Lidya.
xxxx
Dixie tampak kesal pagi ini, karena melihat pemberitaan di media yang menampilkan Ben bersama Maura, tersenyum bergandengan tangan di acara kerajaan semalam, bahkan mereka berdansa berdua dengan sangat dekat.
"s**t!!! Kenapa Maura mau kembali pada pelukan si bastard itu lagi?!!!" Marah Dixie mengumpat sendiri.
Dixie segera mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju ke rumah princess Anggy ingin bertemu dengan Maura.
"Apa?!!! Maura dan Quinzy juga Lidya sudah kembali ke rumah Ben?!!! Apa yang sudah terjadi?!!" Tanya Dixie tak percaya dengan ucapan Anggy.
"Aku hanya melihat rekaman CCTV saja bahwa Lidya dan Quinzy diculik dari rumahku saat semua orang berada di acara kerajaan semalam, dan Maura tak kembali lagi kemari setelah dari acara tersebut. Ben adalah orang yang sanggup melakukan apapun diluar perkiraan kita." Sahut Princess Anggy.
"Sial!!! Dia benar-benar licik!!! Baiklah kalau begitu saya pamit undur diri Princess Anggy." Ucap Dixie berpamitan.
Anggy tersenyum melihat sikap dan amarah Dixie.
"Aku salut padamu, kau satu-satunya pria yang berani menantang Ben demi merebut Maura. Semoga kau dan Maura akhirnya bisa bersatu. Maura sangat membutuhkan pria yang bisa melindunginya dan juga membahagiakannya." Ucap Princess Anggy.
Dixie hanya tersenyum tanpa berkata apapun lalu pergi meninggalkan rumah Princess Anggy. Hari ini Dixie seolah kehilangan harapannya, Maura kembali masuk ke dalam rumah Ben, itu berarti akses dan gerak Maura kembali dalam pengawasan Ben.
Drrtttt... Drrrttt..
Ponsel Dixie berbunyi ada sebuah nomor asing yang menghubunginya.
"Hallo" ucap Dixie pada sambungan telepon.
"Dixie, tolonglah aku" seru seorang wanita dengan Isak tangis dan seperti kesakitan
"Ell??? Ellyane??? Ada apa? Apa yang terjadi?!" Seru Dixie bertanya saat menyadari suara di seberang line adalah Ellyane.
"Ben, datang mendorong dan perutku menabrak meja, to...long.. a..ku..."
Bruugh..
Terdengar suara tubuh jatuh bersama dengan telepon yang terjatuh juga disebrang line telepon.
"Ell.! Ellyane.!! hallo..Ellyane.!!!" Panggil Dixie namun tak ada jawaban lagi hanya hening di seberang sana.
"Ken, kita harus segera ke rumah Ellyane sekarang juga!" Perintah Dixie panik pada sopir pribadinya.
Ken segera melaju kencang ke arah rumah Ellyane.
BRAAAKKK!!!
Dixie dan Ken segera mendobrak pintu rumah Ellyane dan langsung masuk kedalam. Dixie terkejut melihat Ellyane tak sadarkan diri di lantai dengan darah mengalir banyak dibagian paha hingga kakinya.
"Astaga! Apa yang terjadi padamu?!!!" Seru Dixie dan segera mengangkat tubuh Ellyane dibantu oleh Ken. Memasukkan ke dalam mobil dan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Tolong! tolong temanku suster!!! " Seru Dixie sambil menggendong Ellyane di depan ala bridal style.
Para perawat dan dokter yang berada disitu segera menolong Ellyane membawanya ke ruang Gawat Darurat sebagai pertolongan awal. Dixie duduk menunggu dengan cemas, di depan ruangan itu. Tak lama kemudian Ken datang menghampiri Dixie lalu memberikan secangkir kopi dan ikut duduk di sampingnya.