"Kalian ini... kenapa harus bermesraan dihadapanku sih?!" Omel Dixie pada sahabatnya itu.
"Andaikan Elsa juga mengijinkan aku mendekati Meggy, pasti aku juga sudah bahagia sepertimu sekarang." Omel Dixie lagi menggerutu.
Bugh!
Sebuah bantal sofa Langsung melayang mengenai wajah Dixie dilempar oleh Brandon. Dixie langsung membuka matanya menatap tajam ke arah Brandon.
"Kau ini sudah ceroboh, bodoh, ditambah gila juga! Meggy masih tahun pertama high school, kau sudah tiga puluh tahun lebih, apa kau mau dikatakan p********a?!" Ucap Brandon kesal.
"Kau juga dulu pernah mencintai istri orang, beruntung ada Anna yang mau menerimamu." Ucap Dixie balas mengejek Brandon.
"Kalau aku langsung tahu diri dan mundur begitu Elsa sudah bahagia dengan Xander, maka dari itu kenapa kau tak mencari wanita single lain saja di luar sana sih?! Mau dikenalkan dengan teman Anna atau Elsa?" Sahut Brandon.
Anna hanya tersenyum tak menanggapi serius pembicaraan dua sahabat itu. Anna sudah mengetahui dari awal jauh sebelum dia dekat dengan Brandon, bahwa Brandon dulu memang pernah mencintai dan mengejar Elsa, namun Elsa telah mencintai Xander dan memilih Xander menjadi suaminya.
"Ach...! aku tetap ingin menunggu Maura saja! kalau Elsa memang sudah bahagia jadi kau wajib mundur, tapi Maura kan masih menderita jadi aku harus memperjuangkan Maura untuk membahagiakan orang yang aku cintai itu..???" Ucap Dixie dan Brandon hanya tersenyum menatap Anna yang hanya tersenyum tak berkomentar.
Drrttt.... Drrrttt....
Ponsel Dixie berbunyi, dan ada nomor tak dikenal mengirim sebuah pesan padanya.
Dixie,
maafkan aku sudah mengusirmu dengan kasar tadi pagi. Aku tak bermaksud seperti itu, hanya saja tadi ada Ben, aku tak mau dia berpikir aku sudah berselingkuh denganmu. Maafkan aku.
Fr: Maura.
Dixie langsung tersenyum sendiri saat membaca pesan di ponselnya itu.
"Ada apa? Tadi marah-marah, sekarang senyum-senyum. Dasar gila!" Ucap Brandon menggoda Dixie.
"Maura meminta maaf karena sudah mengusirku tadi." Sahut Dixie tersenyum, lalu mengetik sebuah pesan balasan untuk Maura.
Maura,
maafkan aku juga karena sudah membuat keributan tadi pagi. Aku akan bersabar lebih lagi menunggumu selesai dengan Ben. Aku pasti merindukanmu.
Fr: Dixie.
Dixie lalu bangkit berdiri dan berpamitan pada Brandon dan Anna untuk pergi ke kantornya, suasana hatinya sudah tenang saat ini.
"Baiklah, aku akan berangkat ke kantor. Terima kasih sudah mau menerimaku dan mendengar keluhan ku tadi. Kini hatiku sudah tenang. Aku pergi." Pamit Dixie berjalan sambil melambaikan tangan tanpa menoleh ke Brandon dan Anna.
"Berhati-hatilah Dixie, mungkin saja Ben sudah memiliki rencana jahat untukmu." Ucap Anna mengingatkan Dixie.
"Kabari aku dan Xander jika kau mendapat masalah dari Ben." Ucap Brandon juga.
Dixie hanya menoleh sebentar lalu tersenyum memberikan acungan jempol pada Anna dan Brandon tanda setuju pada ucapan sahabatnya itu.
***
Maura berjalan ke kamar tamu yang sudah disediakan oleh Princess Anggy. Sedari tadi dia menenangkan diri di taman belakang, setelah menangis karena berita kehamilan Ellyane, dan sudah berbicara kasar kepada Dixie. Maura tak lagi melihat Ben ada di dalam rumah itu, sehingga dia bernapas lega, lalu masuk ke dalam kamar tamu. Namun dia kembali terkejut karena di dalam kamar itu ternyata ada Ben juga Quinzy yang tertidur tenang di samping Ben.
"Ssstttt.... Dia baru saja terlelap, mungkin lelah setelah bermain denganku." Ucap Ben berbisik supaya tidak membangunkan Quinzy.
Maura tak pernah menyangka bahwa Ben mampu menidurkan Quinzy dengan tenang seperti itu. Maura melangkah mendekat dengan perlahan tanpa suara.
"Terima kasih sudah menemaninya dan menidurkannya." Ucap Maura berbisik juga.
"Tak perlu berterima kasih, dia juga putriku Maura, jangan lupakan itu." Sahut Ben.
Maura menghela napas mendengar ucapan Ben.
"Ben, ijinkan aku mendapat hak asuh atas Quinzy saat perceraian kita nanti. Bukankah kau akan memiliki anak dengan Ellyane?" Ucap Maura.
Ben bangkit dari tempat tidur menghampiri Maura, lalu menggenggam tangan Maura.
"Aku tak ingin bercerai denganmu Maura, kumohon beri aku kesempatan memperbaiki segala yang sudah aku rusak. Maafkan aku yang terlambat menyadari bahwa aku tak bisa hidup jauh darimu juga Quinzy. Jangan tinggalkan aku Maura." Ucap Ben mengiba.
Maura kembali menghela napas dan menatap Ben.
"Aku tak bisa menyakiti Ellyane, sekarang dia yang lebih membutuhkanmu Ben. Dia sangat mencintaimu dan selalu bisa mengerti dirimu lebih dari aku Ben." Ucap Maura.
"Tapi aku hanya mencintaimu Maura, bukan Ellyane." Sahut Ben, Maura lalu melepaskan tangannya dari genggaman Ben.
"Kau hanya belum menyadari cintamu padanya Ben, hanya Ellyane yang mampu membuatmu nyaman dan selalu mampu meredakan emosimu. Bukankah kau selalu mencarinya saat ada masalah? Hanya Ellyane yang mampu memahami dirimu Ben." Ucap Maura.
"Aku tak akan menuntut harta apapun darimu Ben, aku hanya ingin hak asuh atas Quinzy saja. Kumohon jangan mempersulitku Ben." Ucap Maura lagi sambil melangkah agak menjauh dari Ben berdiri.
"Apa kau sudah mulai mencintai Dixie?" Tanya Ben, Maura berusaha tetap tenang tak ingin terpancing dengan pertanyaan Ben.
Maura berbalik dan kembali menatap Ben.
"Aku tak ada hubungan apapun dengan Dixie. Aku juga tak menanggapi setiap apapun yang dia lakukan untukku. Aku hanya ingin hidup tenang berdua dengan Quinzy, melihatnya tumbuh setiap waktu dengan ceria, tanpa rasa takut." Sahut Maura tetap tenang.
"Maafkan aku Maura, tapi untuk saat ini aku masih tetap pada pendirianku, aku tak akan menceraikan mu. Aku akan buktikan padamu bahwa aku serius ingin memperbaiki semua dari awal." Ucap Ben dan Maura hanya menghela napas berat.
Ben berjalan mendekati Maura, menangkup wajah Maura dengan kedua tangannya dan mengecup kening Maura lembut, menatap Maura sejenak lalu melangkah pergi keluar dari kamar itu dan meninggalkan mansion itu.
Maura bimbang dengan semua ini. Maura akhirnya memilih untuk merebahkan dirinya disamping Quinzy. Dia tak tahu harus bagaimana dengan pernikahannya ini. Dia masih takut dan belum yakin bahwa Ben bisa berubah lembut dan mencintai dirinya seperti awal dulu, di sisi lain ada Dixie yang mulai selalu hadir di pikirannya, juga Ellyane yang kini hamil. Maura tak tahu mana yang harus dia jalani untuk masa depannya.
***
Di perjalanan menuju ke kantor, Ben sedang memikirkan cara untuk menjauhkan Dixie dari Maura. Ben tak terima jika Maura menceraikannya lalu memilih hidup bersama Dixie.
"Aku harus menyingkirkan Dixie. Bagaimanapun caranya Maura harus bisa kembali padaku. Aku harus bisa menyakinkan Maura untuk membatalkan gugatan cerainya terhadapku." Ucap Ben pada dirinya sendiri.
Ben akhirnya membatalkan rencananya ke kantor, dan berputar menuju ke tempat Ellyane. Ben harus mampu membujuk Ellyane supaya menggugurkan kandungannya. Ben tak mau sang Mulia Ratu mengetahui perselingkuhannya.
Ellyane menyambut kedatangan Ben dengan senyuman bahagia. Ellyane menggunakan dress pendek dengan tali kecil di bahunya, dan rambut yang digelung keatas sehingga menonjolkan leher dan pundaknya yang terbuka hingga belahan dadanya sedikit terlihat.
"Hai sayang, aku sudah merindukanmu padahal baru semalam kau menemaniku tidur." Ucap Ellyane bergelayut manja di leher Ben.
Ben melepaskan tangan Ellyane yang melingkar di lehernya. Ellyane bingung dengan sikap Ben yang tidak seperti biasanya. Padahal biasanya Ben akan langsung merasuk ke leher Ellyane dan menciuminya. Namun kali ini sepertinya mood Ben sedang tidak baik. Ellyane hanya tersenyum memahami mood Ben yang sedang jelek.
"Apa yang Maura lakukan kali ini sehingga mood mu sangat jelek Ben?" Tanya Ellyane mengikuti langkah Ben yang langsung masuk ke dalam rumahnya.
"Maura sudah mengetahui tentang kehamilanmu, dia mengajukan gugatan cerai terhadapku." Sahut Ben sambil menjatuhkan diri duduk di sofa.
"Bagus kan?! mengapa kau jadi bersusah hati seperti ini? Bukankah itu justru membebaskan kita untuk bertemu dan berhubungan? Apalagi dengan kehadiran buah cinta kita pasti kebahagiaan kita akan lebih lengkap lagi." Ucap Ellyane tersenyum bahagia.
"Aku ingin kau menggugurkan janin itu Ellyane." Ucap Ben dan langsung membuat Ellyane tersentak kaget tak percaya apa yang Ben ucapkan barusan.
"Apa?! Tidak Ben! aku akan tetap mempertahankan anak ini. Mengapa kau ingin membunuhnya Ben?! Apa salah anak ini?!" Sahut Ellyane mulai menangis.
"Jelas salah Ell! anak itu tak seharusnya ada diantara kita. Kita selalu melakukannya atas dasar kebutuhan saja, bukan cinta!" Ucap Ben dan semakin membuat Ellyane menangis.
"Seperti itu menurutmu Ben?! Kau salah! Aku melakukannya karena mencintaimu Ben, aku selalu sabar menunggumu datang dan selalu menerima kepergianmu setelah selesai melakukannya, karena aku mencintaimu Ben. Kau pikir apa alasan aku selalu menolak pria lain sejak aku mengenalmu?! Aku mencintaimu Ben! Sangat mencintaimu." Sahut Ellyane.
"Tapi aku tidak mencintaimu Ell, aku hanya mencintai Maura!" Ucap Ben dan sontak membuat Ellyane marah sangat emosi dan berdiri mengusir Ben.
"Pergi dari sini sekarang juga! PERGI BEN!!! JANGAN PERNAH KEMBALI PADAKU LAGI!!! DASAR b******n!!!" teriak Ellyane mengusir Ben.
"Kau harus menggugurkannya Ell, aku tak akan pernah bertanggung jawab atas anak itu!" Ucap Ben sebelum keluar dari pintu rumah Ellyane.
Ellyane jatuh ke lantai, meringkuk menangis meratapi hidupnya. Pengorbanannya untuk Ben hanya dianggap sampah oleh Ben. Ellyane menyadari bahwa dari awal seharusnya dia tak boleh berharap banyak pada Ben yang memang sudah memiliki istri. Kini Ben mencampakkannya, bahkan menolak anaknya yang ada dalam kandungan Ellyane. Saat Ellyane merasa yakin bahwa Ben mencintainya dan membutuhkannya, Ellyane berhenti meminum pil anti kehamilannya. Ellyane ingin semakin mengikat Ben hanya untuk dirinya sendiri dengan adanya anak yang hadir diantara mereka. Nyatanya semua itu salah besar. Ben masih tetap tidak mencintainya. Ben hanya menganggapnya bagai seorang p*****r yang selalu didatangi saat sedang butuh hiburan saja.
Ellyane terus menangis di atas karpet di ruangan tengah, sampai tertidur karena kelelahan menangis. Sore hari Ellyane terbangun dari tidurnya saat bel rumahnya berbunyi.
Teertttt..... teertttt.....
Bunyi bel rumah Ellyane.
Ellyane bangun dan melangkah ke pintu, berharap itu Ben yang kembali untuk menyesali sikapnya tadi siang. Namun Ellyane harus menelan pahitnya kenyataan, bukan Ben yang datang melainkan seorang pria yang pernah One Night Stand dengannya dulu. Pria yang bernama Dixie itu berdiri di depan pintu rumahnya.
"Hai, apa yang membawamu kemari?" Sapa Ellyane saat membuka pintu tanpa mempersilahkan Dixie masuk.
"Hai Ell, apa kau baik-baik saja?" Tanya Dixie melihat buruknya penampilan Ellyane, mata bengkak hidung memerah, rambut digelung acak-acakan.
"Cepat katakan apa maksud kedatanganmu?!" Sahut Ellyane dengan kesal.
"Boleh aku masuk dulu ke dalam? Ada hal penting yang ingin kubicarakan. " Tanya Dixie lagi, dan akhirnya Ellyane sedikit minggir dan membuka pintu lebih lebar untuk Dixie bisa masuk ke rumahnya.
"Terima kasih." Ucap Dixie melangkah masuk ke dalam rumah Ellyane.
"Duduklah, aku akan mengambilkan minuman untukmu." Ucap Ellyane lalu berjalan ke dapur.
Dixie duduk di sofa sambil mengamati sekitar, sempat terlintas kejadian malam panas dan penuh gairah antara dirinya dengan Ellyane akibat taruhan gila di sebuah club. Ellyane yang kalah taruhan harus membiarkan Dixie menidurinya semalam sesuai kesepakatan mereka.
"Teringat sesuatu kah?" Ucap Ellyane menyadarkan lamunan Dixie.
"Eh maaf. Maafkan aku Ellyane, malam itu aku pergi tanpa pamit." Sahut Dixie. Ellyane hanya tersenyum.
"Tak apa, kau pantas mendapatkan hadiahmu, kau pemenang taruhan itu, semoga kau puas dengan hadiahmu malam itu." Ucap Ellyane sambil menyuguhkan minuman di hadapan Dixie. Dixie menjadi salah tingkah mendengar ucapan Ellyane.
"Sekarang katakan padaku apa maksud kedatanganmu kemari? Kupastikan kau tidak sedang ingin melakukan taruhan gila lagi kan?" Tanya Ellyane sambil duduk di samping Dixie.
"Tidak Ell, bukan itu maksudku, maafkan aku. Saat ini Aku sedang butuh bantuanmu Ell. Aku tahu kau berhubungan dengan Duke Benjamin bahkan sedang mengandung anaknya. Kau juga tentu tahu keadaan rumah tangga Duke Benjamin. Maura, wanita itu sedang menggugat cerai Ben. Aku ingin membantunya dengan memberikan bukti perselingkuhan Ben. Maukah kau membantuku?" Ucap Dixie menjelaskan maksud kedatangannya.
"Jadi Maura ya..??? Apa kau mencintai Maura? sehingga ingin membantunya seperti ini?" Sahut Ellyane.
"Iya, aku mencintainya, namun Maura terus menolak ku. Kasihan diriku ini." Ucap Dixie menunduk.
"Ben sudah tak mau lagi berhubungan denganku, dia mencampakkan aku dan menolak anaknya ini, bahkan Ben memintaku untuk menggugurkannya. Aku tak ada hubungan lagi dengannya." Sahut Ellyane. Dixie semakin geram pada perilaku Ben.
"Dasar b******n! b*****t!!!" Umpat Dixie marah pada Ben.
"Ell, apa kau mau membantuku dan Maura? Kita bisa membuat Ben dibuang dari keluarga kerajaan dan bahkan mendapat hukuman dari sang Mulia Ratu." Pinta Dixie.