Maura menjadi salah tingkah dengan pertanyaan Dixie, tak tahu harus menjawab apa, Maura hanya menatap Dixie dan Dixie juga menatapnya tersenyum.
"Dixie... kumohon...." Sahut Maura memohon pengertian Dixie.
"Iya Maura, aku hanya menggodamu, tapi sungguh aku menyukaimu, dan berharap lebih padamu."Ucap Dixie menatap dalam ke manik mata Maura.
Maura menatap mata Dixie, ada sebuah kejujuran disana namun Maura masih tidak berpikir tentang berhubungan dengan Dixie.
"Maafkan aku Dixie, saat ini aku belum berpikir apapun tentang dirimu dan kita. Bukankah lebih baik kau mengejar wanita lain yang masih single dan bebas diluar sana?" Sahut Maura.
Dixie hanya menatap Maura tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Aku hanya ingin kau Maura, juga Quinzy tentunya." Ucap Dixie.
Maura seketika merasa pertahanannya luluh dan merasakan getaran aneh dalam d**a dan perutnya.
"Aku harus pergi sekarang, maaf kita harus keluar terpisah. Selamat tinggal Dixie." Ucap Maura berpamitan dan berjalan ke arah pintu keluar. Namun tangan Maura dicekal oleh Dixie saat Maura melewati sampingnya.
"Biarkan aku mengantarmu, kita bisa keluar lewat parkir basement, tak akan ada yang melihat kita." Ucap Dixie menahan langkah Maura.
"Maaf, aku tak berani ambil resiko, kau bisa dibunuh oleh Ben, dan aku akan kehilangan hak asuhku terhadap Quinzy." Sahut Maura lalu melepaskan tangannya dari tangan Dixie.
"Ijinkan aku mengikutimu, aku hanya ingin memastikan kau selamat sampai di tujuanmu bukannya tertangkap oleh Ben lagi." Ucap Dixie.
"Baiklah, terserah kau saja! yang jelas kita harus keluar terpisah dari tempat ini. Aku akan naik taxi dari pintu selatan." Sahut Maura lalu melanjutkan langkahnya keluar dari restaurant itu.
Dixie baru keluar setelah 10 menit Maura pergi, dan langsung mengendarai mobilnya melalui pintu selatan juga. Dixie masih bisa melihat Maura yang baru saja naik masuk ke dalam taxi. Dixie mengikuti Maura dalam jarak 5 meter. Dixie memperhatikan taxi yang Maura tumpangi dan akhirnya berhenti di sebuah mansion. Dixie melihat Maura segera disambut oleh wanita paruh baya dengan pelukan hangat. Setelah memastikan Maura sampai dengan selamat, Dixie akhirnya pergi dari situ. Maura melihat mobil Dixie yang melintas meninggalkan wilayah rumah orang tuanya. Maura tersenyum melihat mobil Dixie yang melintas di depan rumahnya. Ada rasa senang yang muncul di hatinya karena diperlakukan penuh perhatian oleh Dixie, sudah lama dia tak merasa sangat diperhatikan begitu special oleh suaminya.
"Ada apa Maura? Kenapa kau tersenyum melihat keluar?" Tanya ibu Maura.
"Tak ada mom, aku hanya merindukan lingkungan rumah ini." Sahut Maura menutupi yang terjadi sebenarnya. Ibunya Maura tersenyum.
"Ayo kita masuk, seharusnya kau juga membawa Quinzy kemari, mom sangat merindukan cucu mom." Ucap ibunya Maura menggandeng lengan Maura mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Maura lalu menceritakan segala rencananya terhadap pernikahannya dengan Ben, kedua orang tua Maura sangat terkejut, bahkan ayah Maura sangat emosi mendengar putri kesayangannya diperlakukan sekejam itu oleh suaminya. Maura menenangkan emosi ayahnya.
"Dad, sekarang Maura hanya minta bantuan supaya dad bisa bicara dengan sang mulia Ratu mengenai rumah tanggaku. Aku dan Quinzy juga sementara akan tinggal di mansion sang mulia Ratu bersama Princess Anggy." Ucap Maura.
"Maura, Daddy pasti membantumu, daddy akan segera menghadap sang Mulia Ratu semoga Beliau sedang tidak sibuk hari ini." Ucap ayah Maura.
"Thank you dad, sekarang aku harus kembali ke tempat persembunyianku, besok aku baru datang ke mansion Princess Anggy." Ucap Maura.
"Maura.." panggil seorang pria yang suaranya sangat dikenal oleh Maura, mendadak Maura berdiri kaku saat mendengar suara itu.
Ayah Maura langsung menghampiri pria itu dan langsung memukulnya tepat di wajahnya. Maura seketika langsung berbalik melihat ayahnya yang sudah memukul pria yang masih berstatus suaminya itu. Ben. Benar itu Ben yang mendadak ada di rumah itu juga.
"Apakah Ben mengikutinya daritadi? Apakah Ben melihat Dixie?" Batin Maura seketika diselimuti kekhawatiran melihat Ben yang mendadak ada di rumah orang tuanya dengan jarak waktu yang tidak begitu lama setelah dia datang.
Maura hanya terdiam sibuk dengan pikirannya, tak peduli saat ini Ben sedang dihajar oleh ayahnya. Ibunya yang berteriak memanggil Maura akhirnya menyadarkan Maura kembali.
"MAURA!! CEPAT TOLONG MOM!" teriak ibunya Maura.
Maura segera membantu ibunya menghentikan ayahnya yang memukuli Ben. Maura menghadang ayahnya yang hendak memukul lagi dengan berlutut di depan Ben.
"Maura...., minggir kau! Daddy harus membunuh pria ini yang sudah berlaku kasar pada putri kesayanganku!" Bentak ayahnya meminta Maura untuk menjauh dari tubuh Ben.
"Daddy, bukan ini yang Maura minta dari Daddy, kumohon dad lepaskan Ben." Ucap Maura memohon pada ayahnya.
"Kau ini masih juga membelanya, dia sudah memperlakukan dirimu seperti b***k!" Ucap ayahnya.
"Daddy.... kumohon..." Ucap Maura sambil menangis.
Ayahnya Maura akhirnya menghentikan memukul Ben. Maura memapah Ben berdiri dan duduk di sofa. Ibunya segera membawa ayahnya untuk ke kamar, dan memberi ruang bagi Ben dan Maura.
"Darimana kau tahu kalau aku ada disini?" Tanya Maura.
"Pengawalku ada yang mengawasi di sekitar sini, dan segera memberitahuku saat kau tiba tadi." Sahut Ben sambil meringis kesakitan.
"Maura, maafkan aku. Kumohon jangan tinggalkan aku Maura, aku sangat mencintaimu. Maafkan aku Maura, aku membutuhkanmu dan Quinzy." Ucap Ben memohon pada Maura.
Maura tak mampu menatap Ben, rasanya sangat sakit karena semua ucapan Ben berbeda dengan apa yang Ben lakukan.
"Ben, aku sudah tak sanggup lagi menghadapi amarahmu setiap hari. Kau bisa membunuhku suatu saat nanti dalam keadaan tidak sadar Ben, lebih baik kau bersama Ellyane, aku tahu dia sanggup menghadapimu dibanding aku Ben." Sahut Maura.
Ben terkejut saat mendengar ucapan Maura yang menyebut nama Ellyane.
"Dia hanya seorang jalang, tak berarti apapun bagiku Maura. Kumohon kembalilah Maura." Ucap Ben dengan mengiba.
"Pulanglah bersamaku Maura, kumohon, aku baru menyadari saat sebulan ini hidup tanpa dirimu dan Quinzy, hidupku sangat kesepian. Aku baru sadar bukan Ellyane yang aku butuhkan, tapi kau dan Quinzy. Pulanglah bersamaku Maura." Ucap Ben lagi mencoba memohon pada Maura.
"Maafkan aku Ben, aku butuh waktu untuk bisa melupakan semua yang kau lakukan padaku." Sahut Maura.
"Aku mengerti, tapi ijinkan aku tetap bisa menemuimu dan Quinzy. Kumohon jangan menghilang lagi dariku." Ucap Ben.
"Aku akan tinggal bersama Princess Anggy di mansion Sang Mulia Ratu. Kau bisa menemui Quinzy disana." Sahut Maura.
"Quinzy dan dirimu Maura, aku juga merindukanmu." Ucap Ben.
"Kalau kau sudah baikan, lebih baik kau segera pulang. Sebelum Daddy keluar kamar dan marah lagi melihatmu." Sahut Maura tak mengabaikan perkataan Ben yang terakhir.
"Dimana Quinzy? Bisakah aku menemuinya?" Tanya Ben.
"Besok, kau bisa menemui Quinzy di mansion Princess Anggy. Tidak untuk hari ini." Jawab Maura. Ben akhirnya mengalah, dan berdiri dari sofa.
"Aku akan menemui kalian besok di tempat Princess Anggy." Ucap Ben lalu pergi meninggalkan rumah orang tua Maura.
Maura segera menghubungi Lidya, mengatakan bahwa malam ini dia tak bisa kembali ke rumah pantai Dixie, karena pengawal Ben pasti akan mengikutinya dan itu bisa membahayakan nyawa Dixie. Maura meminta Lidya untuk membawa Quinzy ke mansion Princess Anggy besok pagi menggunakan taxi.
Maura lalu juga menghubungi Elsa, dan menceritakan segala yang terjadi hari ini dan keputusan yang telah Maura tetapkan. Elsa hanya bisa mendukung dan mendoakan yang terbaik untuk sahabat barunya itu. Elsa sangat mengerti bahwa Maura memang pada akhirnya harus bertemu lagi dengan Ben, Maura tak bisa terus bersembunyi.
"Apa kau benar akan memaafkan Ben?" Tanya Elsa.
"Butuh waktu yang entah sampai kapan untukku bisa memaafkan dan melupakan semua yang pernah Ben lakukan, tapi aku tetap harus memberi ruang bagi Ben untuk dekat dengan Quinzy." Sahut Maura.
"Baiklah, aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu dan Quinzy. Datanglah ke rumahku kapanpun kau membutuhkan teman atau bantuan." Ucap Elsa.
"Terima kasih Elsa, kau dan Anna sahabatku yang terbaik, selama ini aku tak pernah memiliki sahabat karena kebanyakan orang segan dan takut berurusan dengan Ben. Aku akan selalu mengabarimu." Sahut Maura dan mengakhiri sambungan telepon dengan Elsa.
Maura berbaring di tempat tidur di kamarnya yang ada di rumah orang tuanya. Maura kembali teringat pada ucapan yang Dixie katakan tadi siang.
"Lalu setelah semua itu selesai, apa yang akan terjadi pada kita?"
"Aku hanya ingin kau Maura, juga Quinzy tentunya."
Ada rasa gelenyar bergetar di tubuh Maura, mengingat sikap Dixie yang selalu mengkhawatirkannya dan tak peduli dengan keselamatannya yang bisa saja dibunuh oleh Ben. Ben adalah suami yang posesive dan egois, dia tak pernah mengijinkan miliknya dipandang apalagi disentuh oleh orang lain, tapi dirinya bebas memandang dan menyentuh wanita lain. Maura akhirnya ketiduran, karena otak dan tubuhnya sudah sangat lelah hari ini.
****
Keesokan paginya Maura segera bergegas pergi ke tempat Princess Anggy, dan saat Maura tiba ternyata Lidya dan Quinzy sudah tiba terlebih dahulu. Maura segera menggendong dan memeluk mencium Quinzy, hanya sehari tak bertemu tapi Maura sudah sangat merindukan putrinya. Tiba-tiba terdengar sebuah keributan di taman halaman depan mansion Princess Anggy. Maura, Lidya juga princess Anggy segera berlari keluar mencari tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Maura sangat terkejut saat dilihatnya Ben sedang berdebat dengan Dixie.
"Oh God, apa yang mereka lakukan disini?!" Seru Maura panik.
Maura segera memberikan Quinzy ke gendongan Lidya, lalu bergegas menghampiri kedua pria yang bersitegang itu. Maura tak ingin Sang Mulia Ratu melihat keributan mereka.
"Hentikan! Apa yang kalian ributkan disini?! Apa kalian tidak malu berbuat keributan di tempat sang Mulia Ratu?!" Seru Maura saat sudah mendekati dua pria itu.
"Maura, bagaimana mungkin kau kembali lagi pada lelaki b*****t ini?!" Protes Dixie.
"Dia istriku! Kau harus ingat itu! Bagaimanapun juga wajar jika dia ingin kembali padaku!" Ucap Ben tak mau kalah.
"Kau masih berani menyebutnya istrimu setelah perlakuan kasarmu dan perselingkuhanmu dengan Ellyane?! Kau tak berhak dan tak pantas menjadi suami Maura!" Seru Dixie semakin membuat Ben geram.
"Kau tahu Dixie?! Aku akan menjebloskanmu ke penjara dengan tuntutan mengganggu rumah tanggaku!" Ancam Ben namun tak bisa membuat Dixie takut.
"Laporkan saja! Aku tidak takut! Kau laporkan aku ke polisi, maka aku akan membawa Ellyane ke hadapan Sang Mulia Ratu, dan memberitahunya tentang anakmu yang ada dalam kandungan Ellyane!" Seru Dixie juga mengancam Ben.
Ben seketika terkejut dan langsung menatap Maura, Maura lebih terkejut lagi, dan semakin membenci Ben, sakit dihatinya semakin perih mendengar kenyataan yang Dixie ucapkan.
"Ellyane hamil?!" Ucap Maura mencoba memastikan lagi ucapan Dixie.
"Maura, jangan kau percayai ucapannya! dia hanya ingin kau semakin membenciku!" Ucap Ben mendekati Maura dan menggenggam tangannya. Maura segera melepaskan tangannya dari tangan Ben.
"Lalu siapa yang harus kupercayai Ben? Kau?! Tak mungkin Ben, cukup sudah kau memohon, gugatan ceraiku tetap akan diproses! Sekarang kau pergilah dari sini!" Sahut Maura menatap tajam pada Ben.
"Kau juga Dixie, pergilah dari sini! Jangan pernah temui aku lagi!" Ucap Maura mengusir Dixie dengan tegas.
"Aku tak akan pergi jika si b*****t ini belum pergi! Aku tak ingin kau disakiti lagi olehnya!" Sahut Dixie menolak pergi.
"Pergilah Dixie! Pergi!!! Aku tak membutuhkanmu!!!" Teriak Maura tegas mengusir Dixie.
"Tapi Maura..." Ucap Dixie kesal tak percaya dengan sikap Maura. Maura membuang muka dari Dixie.
Dixie akhirnya mengalah dan pergi dari situ dengan rasa kesal, marah dan geram. Dixie langsung menancap gas dengan kecepatan tinggi melesat meninggalkan tempat itu. Maura sempat melihat dan khawatir dengan Dixie yang membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Air mata mengalir dari matanya, dia tak bermaksud kasar pada Dixie, tapi disini masih ada Ben, Maura tak ingin kehilangan hak asuh Quinzy dengan dituduh berselingkuh dengan Dixie.
Maura langsung berjalan masuk lagi ke dalam rumah Anggy, tak peduli dengan Ben yang mengikutinya juga masuk kedalam rumah Anggy. Saat melihat Quinzy di gendongan Lidya, Ben langsung menghentikan langkahnya dan mengambil Quinzy menggendongnya, memeluk dan menciumnya.
"Princess Anggy, maafkan saya atas keributan yang terjadi barusaja. Kupastikan tak akan terulang lagi." Sapa Ben saat menyadari bahwa Princess Anggy masih ada disitu.
"Dewasalah Ben! ingat kau masih dalam pengawasan ketat Sang Mulia Ratu! Aku hanya tak ingin Maura terus tersakiti." Sahut Anggy lalu berjalan meninggalkan ruangan itu.
Ben melihat hanya tinggal ada Lidya di dekatnya dan Quinzy.
"Lidya, dimana kalian bersembunyi sebulan ini?" Tanya Ben menyelidik.
"Maaf Tuan, saya dilarang untuk mengatakan pada anda. Maafkan saya Tuan, saya tak bisa melanggar janji kesetiaan saya pada Nyonya." Sahut Lidya. Ben hanya bisa menghela napas berat, pasrah.
****
Dirumah Brandon, pagi ini sudah ada Dixie yang meluapkan emosi kekesalannya bercerita pada Brandon dan Anna tentang kejadian di mansion sang mulia Ratu barusan. Brandon hanya menggelengkan kepala.
" Aku dan Xander sudah mengingatkanmu, bersabarlah sedikit. Kau selalu saja ceroboh dan bertindak mengikuti ego tanpa berpikir dulu!" Ucap Brandon.
"Ach...! mengapa jatuh cinta rasanya begitu menyiksa seperti ini?! Ternyata benar cinta hanya membuat orang menjadi bodoh." Ucap Dixie menggerutu. Anna dan Brandon hanya tertawa mendengar ocehan Dixie.
"Salahmu sendiri kenapa jatuh cinta pada istri orang!" Sahut Brandon tertawa.
"Dixie, kau ingat kan? kalau Maura juga memintamu untuk bersabar setidaknya sampai dia bercerai dan bisa mendapatkan hak asuh Quinzy. Dia memperlakukanmu seperti tadi, itu pasti karena ada Ben disana. Maura pasti ingin Ben berpikir bahwa dirinya sungguh tak ada hubungan denganmu, bahkan tak ingin bertemu denganmu. Bersabarlah Dixie, bantulah Maura mendapatkan bukti perselingkuhan Ben, sehingga proses perceraiannya cepat selesai." Ucap Anna tersenyum.
Brandon bangga dengan pemikiran istrinya, dia langsung memeluk dan mengecup bibir Anna sambil mengelus perutnya yang semakin membesar. Dixie hanya menyenderkan kepalanya ke sofa dan memejamkan matanya, dia tak tahan melihat kemesraan sahabatnya itu. Brandon dan Anna hanya tersenyum melihat sikap Dixie.