“Mister, kami sudah menemukan informasi tentang Selene, dia ditemukan tewas di apartementnya tadi malam. Polisi baru saja menemukan jasadnya tadi pagi dan masih dalam penyelidikan. Aku sudah menyuruh orang anda untuk bergerak mencari tau. Ini informasi yang berhasil mereka dapatkan.” John datang dengan tablet yang berisi informasi tentang Selena.
Louis baru saja menyelesaikan meeting-nya dengan client di Canada, meeting untuk bisnis legalnya, sedangkan transaksi ganja itu akan diadakan nanti malam di tengah hutan. Pria itu kini tengah membaca laporan kuartal ke dua untuk beberapa perusahaannya.
Louis membacanya dengan cermat dan sesekali keningnya mengernyit juga bibirnya menyeringai. Orang-orangnya selalu berhasil mencari informasi dalam waktu singkat dan akurat. Tidak salah dia membayar mereka selangit. Namun, sekali ada yang berkhianat, maka nyawa adalah bayarannya.
“Oh … Selene, malangnya dirimu.” Ujar Louis tanpa ada empati sama sekali, hati pria itu seolah telah mati. Selene mati karena menolak untuk memenuhi panggilan Kenzo yang menginginkan tidur dengannya, Kenzo adalah pria berdarah Jepang Amerika yang juga menjadi musuh dari Louis, keduanya selalu bersaingan terutama dalam bidang bisnis-bisnis illegal. Selene berani menolak Kenzo karena wanita itu, tadi malam sudah dibeli oleh Louis sebagai teman ranjang satu malamnya. Namun, pilihannya justru mengantarkannya pada kematian.
Louis lalu mendecak membaca laporan lengkapnya lalu kembali menatap John dan menyerahkan tablet itu.
“Cari informasi selengkap-lengkapnya tentang wanita yang tidur denganku semalam!” Ucapnya dengan begitu dingin, Louis seketika teringat dengan semua kejadian semalam. Dia bukan orang yang akan lupa atas apa yang ia lakukan saat tengah mabuk. Teriakan tersiksa wanita itu yang meminta dilepaskan, tangisannya yang meraung-raung, dan juga desahan lirih yang tidak bisa ia lupakan. Erangan dan desahan yang tersiksa namun juga menikmati di waktu yang sama, itu adalah erangan paling indah dan menggairahkan yang pernah ia dengar, dan Louis tidak akan pernah melupakannya. Malam panasnya dengan wanita asing itu, yang memberikan rasa yang berbeda dan tak terlupakan.
***
Malam yang mencekam itu terasa begitu sunyi, hanya ada bunyi dari hewan-hewan malam penghuni hutan belantara itu, semua sudah berada di posisinya masing-masing. Louis dan anak buahnya bersikap waspada, takut jika transaksi ini gagal dan ada pengkhianat.
“Tunjukkan uangnya, akan kuberikan barangnya.” Louis bergerak maju tiga langkah. Melihat deretan koper yang berisikan uang membuatnya menyeringai tajam. Lalu dia menoleh pada Jacob dan menggerakkan kepalanya sebagai pertanda.
Detik berikutnya semua langsung bergerak sesuai posisinya, transaksi itu berlangsung begitu cepat, anak buah Louis dan pihak pembeli langsung mengamankan barang mereka.
“Senang bekerja sama dengan anda, Mister Canning.” Seorang pria dengan pakaian serba hitam dan wajah oriental maju tiga langkah dan mengangguk, Louis mengangguk tanpa senyum, lalu kembali menggerakkan kepalanya dan memberi tanda pada Jacob dan John untuk bersiap pergi.
“Semoga kerja sama ini tetap terjaga, Mister Lambert. Jika ada masalah di kemudian hari, tentu kau tau akibatnya. Nyawa adalah harga yang pantas.” Ucap Louis dengan aura yang menakutkan, lalu pria itu berlalu dan menuju jet-nya yang diikuti oleh anak buahnya.
“Mister, saya sudah mendapatkan informasi lengkap tentang gadis semalam.” Jacob memberikan tabletnya pada Louis, membuat Louis memfokuskan atensinya pada kata demi kata tentang wanita asing yang terus mengganggu pikirannya.
Joana Edeline, 23 tahun, tinggal seorang diri di salah satu komplek kumuh di flat yang tidak layak huni. Seorang gadis sebatang kara, yang sejak lahir tinggal di panti asuhan, memilih keluar dari panti asuhan sejak usia 18 tahun dan memulai hidupnya dengan bekerja kasar dari satu tempat ke tempat yang lain, dan pekerjaannya sebagai room attendant hotel adalah yang terakhir.
“Dia tidak masuk hari ini? Tanpa meninggalkan pesan ke bosnya?” Tanya Louis mengernyitkan keningnya membaca informasi terakhir tentang Joana.
“Ya, Mister. Secara otomatis dia sudah dipecat jika satu hari saja tidak masuk tanpa alasan. Peraturan hotelnya cukup kejam untuk karyawan rendahan.”
“Dia masih mengirim uang secara rutin setiap bulan ke panti asuhan, bahkan juga beberapa kali pulang ke panti?”
“Ya, Mister, dia terlihat sangat mencintai orang-orang di panti asuhan itu. Mungkin karena dia sudah tinggal sepanjang hidupnya di sana, dan panti asuhan itu adalah keluarganya.”
“Bawa dia padaku besok. Ke mansion utama.”
“Maaf, Mister?” Jacob mengernyit bingung dan kembali memastikan. Louis terlihat aneh, kenapa harus membawa wanita itu, terutama ke mansion utamanya.
“Aku tidak suka mengulangi perintah dua kali, Jacob. You know it.” Louis mendelik tajam, membuat Jacob langsung mengangguk khidmat dan tidak lagi bertanya apa-apa. Dia masih sayang dengan nyawanya.
***
Joana masih pada posisinya seperti kemarin, wanita itu terus menangis dan meringkuk memikirkan nasibnya. Selama dua puluh tiga tahun dia hidup, dia bahkan tidak pernah dekat dengan pria mana pun, kehidupannya begitu abu-abu, 18 tahun di panti dan membantu ibu panti juga adik-adiknya, lalu lima tahun hidup di luar dan merasakan bagaimana kerasnya dunia di mana dia harus berjuang untuk mendapatkan semuanya dengan susah payah. Lalu pria b******k itu datang dan menghancurkan hidupnya. Joana membenci takdirnya, dia berbeda dengan wanita kebanyakan yang menganggap s*x adalah hal yang biasa. Dia menjunjung tinggi s*x before marriage. Memberikan harta yang paling berharga kepada orang yang akan menjadi masa depannya adalah hadiah yang ingin ia berikan kepada suaminya kelak. Namun semua kini sudah sia-sia, dia tidak berbeda dengan gadis-gadis di luar sana. Dan fakta itu membuat dia membenci dirinya.
Perutnya yang terus terasa perih sejak kemarin terus ia abaikan, begitu pulang dari hotel pagi buta, dia langsung pulang ke flatnya yang sempit, membasahi tubuhnya dan berusaha membersihkan bekas jejak itu, dia berendam hampir tiga jam dan pada akhirnya beranjak lalu meringkuk dalam tangisan di ranjang kecilnya hingga hari berganti.
Namun, pagi ini rasanya dia tidak lagi kuat menahan lapar dan nyeri yang menyerangnya, membuatnya beranjak untuk meraih ponselnya dan membuka aplikasi food delivery. Sekilas dia melihat banyak chat dari beberapa rekan kerjanya yang menanyakan tentang keadaannya dan kenapa dia absen tanpa kabar. Joana memilih untuk mengabaikan hal tersebut, persetan dengan hotel yang mengukir malam kelam dalam hidupnya, dia sudah memutuskan berhenti sejak keluar dari kamar laknat itu kemarin malam.
Joana merasa dia baru saja memesan makannya lima menit yang lalu, namun keningnya mengernyit dalam saat mendengar seseorang sudah mengetuk pintu flatnya, dia tidak pernah menerima tamu selama tinggal dan dia juga tidak pernah memiliki teman dekat yang sampai mau main ke flatnya. Namun dengan tubuh yang lemas dan tertatih dia memilih untuk membuka pintunya, mungkin memang restoran tempat dia memesan makanan memiliki delivery express.
Dia membuka pintu dan langsung mengernyit mendapati dua orang pria dengan tuxedo hitam di depannya, belum sempat dia berbicara, salah seorang dari mereka langsung menyemprotkan spray di depan wajahnya, membuat dia pelan-pelan kehilangan kesadaran dan dengan sigap kedua pria itu menangkap dan membawanya, sesuai dengan perintah tuannya.
***
Louis terus memperhatikan wanita yang sudah sejak tiga puluh menit lalu dibawa oleh John dan Jacob, masih terlelap dengan wajah polos nan cantik itu. Louis hanya ingin memastikan sesuatu, dia tidak ingin membuat kesalahan, dan latar belakang Joana membuat semuanya menjadi lebih mudah.
Dia terbiasa tidur dengan wanita-wanita yang terpilih dan dia sendiri yang memastikan jika wanita yang tidur dengannya tidak akan hamil. Namun, kemarin malam adalah sebuah kesalahan fatal dan Louis harus memastikannya sendiri.
Dia beranjak dari kursinya untuk mendekat pada Joana, memperhatikan wanita itu lagi dari dekat. Membuatnya menggeram saat ingatan demi ingatan dan bagaimana rasa wanita itu kembali mengacaukan pikirannya.
Pelan-pelan Joana tersadar, membuat Louis menyeringai, tatapan wanita itu yang langsung waspada dan melihat sekelilingnya membuat Louis tersenyum, wanita itu memiliki pertahanan diri yang cukup baik.
Lalu saat tatapan Joana berhenti pada Louis yang persis ada di depannya, wanita itu langsung terduduk dan kini benar-benar eye to eye dengan Louis.
“Kau?!! Brengsekkk!!” Joana langsung berteriak sekuat tenaga, tangannya reflek mengayun untuk menampar Louis, namun hal tersebut adalah hal yang mudah bagi Louis, dia menangkis tangan Joana dan mencengkram rahang wanita itu.
“Siapa kau berani menyentuhku?! Aku tidak akan membiarkan tangan kotormu menyentuhku, jalang.” Louis mendesis dan melepaskan cengkraman tangannya, mendengar kata terakhir membuat Joana kembali meradang dengan gigi yang bergemelatuk. Dia lalu reflek meraih gelas di atas nakas dan menyiramnya langsung pada Louis, membuat Louis tersentak kaget dan memberikan tatapan nyalangnya pada Joana.
“Kauu!!” Louis langsung kembali mencengkram leher Joana, membuat wanita itu kesulitan mengambil napas. “Berani-beraninya kau melakukan ini?! Wanita rendahan sepertimu berani padaku?! Akan kutunjukkan padamu neraka atas apa yang telah kau lakukan, b******k!!” Louis melepaskan cengkramannya pada leher Joana, membuat wanita itu langsung terbatuk dengan keras dan Louis menyeringai dengan kekesalan yang masih menguasainya.
Tiga puluh tiga tahun dirinya hidup, sebagai orang yang ditakuti oleh semua orang, bahkan tidak ada yang berani menyentuh kulitnya barang se-inchi pun, dan kini wanita itu dengan kurang ajarnya menyiram air padanya.
“Tutup mulutmu!! Aku bukan wanita rendahan dan jalang!! Kau adalah pria b***t yang menghancurkan hidupku. Jadi jangan pernah menghinaku, b******k!!” Joana kembali berteriak nyaring, seolah tidak takut dengan Louis yang tatapannya begitu nyalang dan apa yang telah pria itu lakukan dengan mencekiknya tadi. Wanita itu tidak gentar sama sekali.
Melihat keberanian Joana yang begitu membenci dan murka padanya membuat Louis menyeringai dan merasa hal itu menarik. Selama ini tidak ada yang dengan terang-terangan menunjukkan kebenciannya padanya, jika ada maka besoknya orang itu hanya akan tinggal nama.
Louis yang tidak bereaksi apapun setelah protes Joana, membuat Joana mengernyit, namun wanita itu dengan segera beranjak berdiri dan sekali lagi mendorong Louis untuk menyingkir.
“Minggir!! Aku ingin pulang!!” Joana merasakan pening sesaat setelah bangun, dia tidak tau maksud Louis membawanya ke tempat itu, dia juga tidak tau di mana dirinya sekarang. Yang dia inginkan hanya pulang dan makan. Perutnya lapar sekali.
“Kau pikir kau bisa pergi dari sini, Joana?! Sekali kau masuk, maka kau tidak akan bisa keluar sampai mati.” Louis menarik lengannya dan mendorongnya untuk kembali duduk di sofa bed hitam itu. Pria itu menyeringai, menyentuh pipi Joana dengan gerakan penuh arti, membuat Joana langsung siaga dan berusaha kembali menampar Louis, namun Louis lebih gesit dan langsung mengunci lengan wanita itu. “Aku tidak akan membiarkanmu dua kali melakukannya, Joana!” Desis Louis dan menekan pipi Joana.
“Sekarang hidup dan matimu adalah milikku, sejak malam itu. Kau akan menjadi tawananku sampai aku yakin jika kau tidak mengandung anakku.” Bisik Louis membuat Joana menegang.
“A…apa … maksudmu?” Tanya Joana dengan nada ketakutan. Hamil? Dia bahkan tidak memikirkan hal itu? Bagaimana jika dirinya hamil? Dan Anak pria yang hingga kini bahkan dia tidak tau namanya.
“Jika aku tidak mengandung anakmu?” Tanya Joana menelan ludahnya susah payah.
“Maka aku akan membunuhmu setelahnya. Membunuh adalah pekerjaan paling menyenangkan untukku.” Desis Louis lagi tepat di telinga Joana.
“Dan bagaimana jika aku hamil?” Joana yang selalu merasa ingin tau langsung menanyakan pertanyaan berikutnya, seolah ucapan Louis tentang kematian dirinya bukanlah masalah besar, dan hal itu juga membuat Louis sekali lagi terkejut dengan respon Joana yang diluar dugaannya.
Joana berpikir, mungkin jika Joana hamil anak pria itu maka pria itu akan memaksanya menggugurkannya lalu membunuhnya.
“Kau harus melahirkannya, dan aku akan membunuhmu setelahnya.” Louis kembali menyeringai, kali ini mengucapkannya tepat di depan wajah Joana, membuat Joana terkekeh kecil.
“Ternyata dugaanku meleset, walau tidak meleset sepenuhnya, kukira kau akan memintaku menggugurkannya dan setelahnya membunuhku.” Joana mengutarakan pikirannya, membuat Louis langsung kembali menatapnya nyalang.
“Sekalipun aku bisa dengan mudah membunuh manusia. Aku tidak akan membunuh darah dagingku sendiri.” Louis terlihat tersinggung dengan jawaban Joana, membuat wanita itu tersenyum menang.
Louis pergi tanpa kata, meninggalkan Joana yang berusaha untuk menghirup napasnya dalam-dalam.
“Aku hanya mengingatkan, kau tidak akan bisa kabur dari sini. Sekalinya kau mencoba kabur, aku tidak akan memberi ampun pada orang-orang di panti asuhanmu. Aku bisa membunuh mereka dalam sekejap mata.” Ucap Louis membuat Joana kembali menahan napas dan menatap penuh emosi pada pria yang kini berdiri di ambang pintu dengan memberikan senyum mengerikannya. Lalu menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan bunyi berdebam yang cukup kuat.