Perutnya yang kembali terasa perih karena lapar membuat Joana beranjak dari sofa bed itu, meneliti kembali setiap detail ruangan yang mungkin akan menjadi tempatnya tinggal. Dia hanya bisa mengerjap dengan tatapan takjub, ternyata ruangan itu adalah sebuah kamar yang sangat mewah, lebih besar dari flatnya yang kumuh, mungkin dua kali lipatnya. Ada ranjang ukuran queen size di tengah-tengah ruangan. Lalu di sebelah kanan menghadap langsung pada balkon yang dihubungkan oleh pintu transaparan. Di sebelah kirinya adalah sofa bed tempatnya berdiri kini juga meja rias yang terlihat sangat mewah, di sudut kiri dekat pintu keluar ada sebuah ruangan, yang Joana yakin adalah walk in closet. Inikah kamar-kamar milik tuan putri yang dia lihat di televise selama ini. Joana hanya bisa menelan ludahnya melihat bagaimana megahnya ruangan itu.
Pintu yang terbuka membuat Joana sedikit terkejut, wanita paruh baya yang berwajah keibuan mengingatkannya pada Lily, kepala panti tempatnya tinggal.
“Hai, maaf jika mengagetkan anda. Saya Anna, kepala pelayan di sini.” Wanita bernama Anna itu mengenalkan. Membuat Joana mengangguk kikuk dengan senyum tipisnya.
“Aku Joana.”
“Apa ada yang tidak anda sukai dengan kamar ini? Saya akan meminta pelayan untuk mengubahnya jika ada dekorasi yang tidak anda sukai. Namun, jika anda menginginkan kamar lain yang lebih besar, saya tidak bisa mengabulkannya. Hanya Mister Louis yang berhak menentukan kamar mana untuk anda.” Anna menjelaskan panjang lebar, Joana mendengarkannya dengan seksama.
“Louis? Jadi pria itu bernama Louis?” Bisik Joana begitu lirih.
“Apa maksudmu ini akan menjadi kamarku?” Tanya Joana membuat Anna mengangguk dengan senyum manisnya. Joana sedikit terkejut dalam hati. Apakah dia akan menjadi tawanan dalam sangkar emas? Terlebih lagi jika dirinya akan mengandung anak pria itu.
“Ya. Mister Louis mengatakan pada saya untuk melayani anda selama anda di sini. Kamar ini memang yang paling kecil di antara kamar tamu yang lain. Namun ini sudah menjadi keputusan Mister. Saya hanya bisa membantu membuat anda lebih nyaman di kamar ini. Jadi katakan pada saya apa yang anda butuhkan, ya.” Anna kembali tersenyum, sepertinya Joana akan menjadi familiar dengan senyum wanita paruh baya itu.
“Ah begitu, apakah ada sesuatu yang bisa kumakan? Aku sangat lapar sekarang.” Joana memberikan senyum tidak enaknya.
Anna yang mendengar itu sedikit terkejut dan wajahnya merasa bersalah. “Ahh, Ya Tuhan. Maafkan saya, ayo, kita bisa makan, anda bisa memilih makanan apa saja yang anda inginkan.” Anna lalu memimbing jalan untuk keluar dari kamar, membuat Joana mengikutinya dan sekali lagi terkejut dengan bagaimana luasnya rumah itu. Apakah ini patut di sebut rumah? Bukankah lebih tepat castle? Atau mansion?
Ternyata dirinya ada di lantai tiga, dan begitu keluar kamar dia bisa melihat semua bagian ruangan itu dari tempatnya berdiri, balkon di lantai tiga, yang memutar mengelilingi lantai tersebut.
“Kita bisa naik lift, dapur dan ruang makan ada di lantai satu. Mari Nona.” Anna kembali membimbing jalan, membuat Joana hanya mengikutinya dari belakang.
“Kau bisa memanggilku, Joana atau Jo, saja.” Ucap Joana membuat Anna mengangguk. “Ke mana mister …” Joana tiba-tiba lupa dengan nama pria itu, padahal tadi Anna sudah menyebutkannya.
“Mister Louis, maksudmu? Dia pergi, namun tidak mungkin dia mengatakannya pada saya ke mana dia pergi hahaha.” Anna tertawa di akhir kalimatnya, membuat Joana ikut tertawa kikuk, bingung juga ingin bertanya apa.
“Kita masih di London, kan?” Tanya Joana lagi, mengingat dia tidak tau di mana dirinya kini, di antah berantah namun penuh kemewahan.
“Tentu tidak, ini bukan di London, namun saya tidak memiliki hak untuk mengatakannya pada anda. Saya hanya akan melayani kebutuhan anda.” Anna berubah tegas, membuat Joana hanya bisa mengangguk kaku.
“Ini koki pribadi di sini, anda bisa meminta menu apapun yang anda inginkan.” Anna lalu mengenalkan seorang pria yang masih terlihat muda, yang tersenyum tipis kepadanya dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda hormat. Membuat Joana ikut mengangguk dan lagi-lagi tersenyum kikuk.
“Halo, Nona. Saya Edric, ada makanan yang kau inginkan saat ini, saya akan membuatkannya untuk anda.” Edric memperkenalkan dirinya.
“Hai, Edric. Aku Joana, kau bisa memanggilku, Jo saja. Aku sangat lapar saat ini, bisakah kau membuatkan makanan yang mengenyangkan dan dalam waktu cepat.” Joana tersenyum kikuk, merasa malu, namun Edric langsung mengangguk dan memulai pekerjaannya, sedangkan Joana hanya menunggu dan melamun. Memikirkan apa yang terjadi pada dirinya dan bagaimana ke depannya.
Pria itu akan membunuhnya pada akhirnya, bagaimana dia bisa mengubah takdirnya dan lepas dari cengkraman pria itu? Joana lalu mengusap perutnya, sesuatu yang mungkin akan menjungkir balikkan hidupnya.
Edric membuktikan ucapannya, hanya dalam waktu sepuluh menit dia sudah menghidangkan sepiring pasta carbonara yang harumnya benar-benar menggoda.
“Aku harap anda menyukainya, Nona. Selagi anda memakan ini, saya akan membuatkan dish yang lain.” Edric tersenyum saat menghidangkannya, membuat Joana mengangguk dan tanpa kata langsung melahap pasta itu dengan penuh semangat.
Begitu suapan pertama, saat rasa itu menyentuh lidahnya, Joana hanya bisa memejamkan matanya dan merasakan letupan-letupan kelezatan di langit-langit mulutnya. Itu adalah pasta ternikmat dengan tekstur yang sempurna yang pernah ia makan. Pantas saja Edric menjadi koki pribadi di sini, tentu si pria b******k itu memiliki kualifikasi yang tinggi untuk mempekerjakan seseorang di wilayah pribadinya.
“Ini sangat enak, Edric. Sempurna sekali rasanya. Terima kasih.” Joana tersenyum riang, hanya butuh waktu lima menit untuk menghabiskan sepiring pasta itu, mendengar itu Edric tersenyum dan mengangguk. Melihat bagaimana polosnya Joana.
“Terima kasih atas pujiannya, Nona.”
“Kau bisa memanggilku, Jo.” Joana menekankan sekali lagi, seumur-umur tidak ada orang yang memanggilnya Nona.
“Tidak bisa. Anda adalah tamu Mister Louis, dan tamu beliau adalah tuan kami, jadi kami tidak bisa sembarangan memanggil namanya.” Edric menjawabnya dengan sopan, membuat Joana mengernyit, kenapa harus ketat sekali untuk masalah sepele seperti itu.
“Apa kau sudah lama bekerja di sini, Edric?” Joana mengalihkan pembicaraannya.
“Sekitar tiga tahun, Nona.” Joana hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Edric.
“Ini adalah pudding s**u dengan sirup brown sugar yang saya buat tadi. Semoga anda menyukainya.” Edric menyajikan makanan penutup itu, membuat Joana kembali berbinar-binar. Dan segera melahap pudding itu, sekali lagi, lidahnya yang tidak pernah merasakan betapa nikmat makanan mewah dan mahal itu hanya bisa memejamkan matanya. Itu sangat enak. Dan mungkin akan menjadi dessert favoritnya.
“Terima kasih, Edric. Apa kau tinggal di sini juga? Di mansion ini?” Tanya Joana kembali berusaha untuk mencari informasi tentang apapun itu.
“Ya, semua pelayan dan koki tidur di sini, Nona. Kami memiliki pavilion untuk tinggal, yang terletak tidak jauh dari sini.” Mendengar jawaban Edric membuat Joana mengangguk-angguk paham.
Matanya lalu kembali menjelajah setiap sudut ruangan ini, sebuah kitchen set yang mewah dan berkelas, memiliki kitchen bar layaknya di restoran mewah lalu juga ruang makan, tempatnya duduk kini. Terdiri dari dua belas kursi, dengan d******i warna black and gold yang membuatnya terkesan mewah dan klasik dalam satu waktu. Joana tidak bisa mendeskripsikan lagi bagaimana indah dan mewahnya rumah ini.
Anna kembali datang tepat setelah Joana menyelesaikan dessert-nya, seolah wanita itu memiliki perhitungan waktu yang sangat presisi.
“Jika anda sudah selesai, saya bisa mengantar anda kembali ke kamar anda, mungkin anda ingin membersihkan diri.” Ucap Anna membuat Joana langsung melihat pada penampilannya, yang memang terlihat kacau, dia menggunakan pakaian yang sama sejak kemarin. Hanya memakai setelan baju training yang terlihat kusut di mana-mana.
“Ah, ya, kau benar. Aku ingin mandi.” Joana langsung beranjak dan sekali lagi mengikuti Anna.
“Baju anda sudah saya siapkan, ini kamar mandi anda, bathrobe dan kebutuhan lainnya ada di sini.” Anna langsung menuju kamar mandi yang terletak bersebelahan dengan balkon kamar. Sekali lagi mulutnya hanya menganga lebar. Kamar mandi itu bahkan lebih luas dari flatnya. Ya Tuhan, dia tidak menyangka jika kamar yang luas ini juga masih memiliki ruangan lain yang tidak kalah luasnya. Lalu Anna beranjak menuju walk in closet yang diikuti oleh Joana.
Sekali lagi Joana hanya bisa mengedip-ngedipkan matanya tidak percaya, dengan kemewahan yang ada di depan matanya, yang bisa ia nikmati. “Ini adalah koleksi baju yang bisa anda gunakan, termasuk perhiasan dan yang lainnya. Mohon diingat ini hanyalah fasilitas, bukan berarti anda memilikinya.” Anna memperingatkan, membuat Joana mengangguk kaku.
“Anda ingin memilih pakaian anda sendiri atau mau saya bantu?” Tanya Anna lagi menawarkan diri.
“Tolong pilihkan saja, Anna. Saya ingin mandi sekarang.”
“Baik, saya akan meletakannya di ranjang anda, dan akan keluar dari kamar anda setelahnya. Silahkan menikmati waktu anda.”
Joana melangkahkan kakinya menuju bathub, yang wanginya sudah semerbak, wangi vanilla yang menjadi favoritnya, membuatnya merasa begitu tenang, dan saat kakinya melangkah masuk ke bathub, dia langsung merasa bahagia, suhu airnya begitu pas dan membuatnya akan betah berlama-lama berendam di sana.
Joana memikirkan bagaimana nasibnya ke depan, tentu dia harus bisa lepas dari pria bernama Louis itu, namun dia harus tau dulu siapa Louis dan bagaimana pengaruh pria itu. Dia terlihat bukan pria sembarangan, pria yang berbahaya dan biasa bermain dengan nyawa. Joana tidak ingin melibatkan siapapun dalam hal ini, apalagi keluarganya di panti.
“Haruskah aku menunggu keadaan dan mencari tau dahulu tentang pria itu? Sehingga aku bisa memikirkan bagaimana caranya untuk pergi dari sini?” Joana menggumam, walaupun pria itu tidak menyakitinya secara fisik, ya sejauh ini, dan justru dia mendapat berbagai fasilitas fantastis, tapi tetap saja, diakhir atas semua kemewahan yang ia rasakan, bayarannya adalah nyawanya.
“Atau haruskah aku menikmati semua ini dan berakhir dengan kematian? Aku tidak memiliki tujuan hidup apapun sejauh ini.” Joana kembali menggumam, memikirkan kehidupan yang dia jalani sejak keluar dari panti asuhan, gadis miskin yang tidak memiliki tujuan, hanya hidup untuk bisa tetap bertahan.
Sibuk bergelut dengan pikirannya membuatnya memilih menyudahi mandinya. Wanita itu lalu mengambil bathrobe-nya dan beranjak dari kamar mandi. Tepat saat membuka kamar mandi, pintu kamarnya juga terbuka, tubuhnya langsung membeku saat mendapati Louis yang berdiri di sana, lalu pria itu bergerak mendekatinya, lagi-lagi dengan tatapan nyalang dan seringainya yang menakutkan, membuat tubuhnya kaku di saat itu juga.
“Menikmati indahnya menjadi tuan putri, huh?” Louis menyeringai, menarik dagu Joana dan berbisik di telinga wanita itu. Wangi Joana benar-benar memabukkan, rambut dan lehernya yang masih basah membuat Louis menggeram tertahan.
“Tentu kau tau, bayaran atas semua kemewahan ini adalah nyawamu.” Bisik Louis lagi membuat Joana menelan ludahnya susah payah, namun detik berikutnya juga tersentak saat Louis mengecup dan menjilat cuping telinganya, lalu pria itu menjauhkan tubuhnya dan kembali memberikan seringainya, membalikkan badannya dan bergerak menjauh dari Joana yang masih mematung atas keterkejutannya dan gelenyar aneh atas apa yang telah dilakukan Louis padanya.
Tepat saat Louis mencapai pintu suara Joana membuatnya menghentikan langkah dan membalikkan badannya menatap wanita itu.
“Siapa kau sebenarnya? Dan atas hak apa kau menjadikanku tawanan di sini?!” Joana berteriak dan hampir menangis, membuat Louis kembali menunjukkan seringainya, dan berjalan cepat menghampiri wanita yang masih mengenakan bathrobe itu.
“Kau ingin tau siapa aku?” Louis langsung mengungkung wanita itu, memperhatikan air yang menetes dari rambut wanita itu yang masih basah, turun ke leher hingga belahan dadanya yang terlihat begitu seksi, dan membuat Louis kembali menggeram dengan tatapan nyalang pada Joana.
“Aku yang akan menjadi malaikat pencabut nyawamu, Joana Edeline. Jadi bersiaplah.” Bisik Louis seduktif, membuat Joana menggeram marah dan mendorong pria itu.
“Kau yang menyebabkan kekacauan ini!! Kau yang mabuk dan memperkosaku, lalu kau merampas hidupku!! Seharusnya dirimulah yang harus mati di sini!!” Teriak Joana dengan berani, membuat Louis tertawa, wanita di depannya ini memang tidak memiliki rasa takut sepertinya.
“Itulah satu-satunya kesalahanmu!! Kau bertemu denganku, semua wanita yang bertemu denganku dan memiliki sesuatu yang menghambat kehidupan dan bisnisku, aku harus menghabisinya!!” Louis mendesis, membuat Joana hanya bisa bergidig ngeri, namun wanita itu sekali lagi balas menatap Louis dengan tajam.
“b******k!! Kau satu-satunya yang memiliki kesalahan di sini!! Kau yang salah masuk kamar dan memperkosaku!!” Joana kembali berteriak, membuat Louis tidak tahan dan pria itu mendorong Joana lalu mencengkram rahangnya kuat, membuat Joana memekik dan memukul-mukul tangan Louis.
“Kau masih belum mengerti posisimu dan dengan siapa kau berhadapan?! Sekali lagi kau berteriak dan mengumpat padaku aku tidak akan segan-segan untuk mengakhiri hidupmu detik ini juga.” Louis langsung menghempaskan cengkramannya dan membuat tubuh Joana langsung terhuyung ke samping, tepat saat wanita itu berhasil mengontrol dirinya dan berdiri dengan sempurna, dia mendengar pintu yang berdebam cukup kuat, dan Joana tau sekarang, hobi pria itu adalah menutup pintu dengan keras.