Bab 4 | Berita Kehamilan

1403 Words
Joana terbangun pagi ini dengan perasaan yang hampa, kesepian dan sedikit tertekan karena terhitung sudah empat puluh dua hari dirinya tidak pernah keluar dari mansion ini. Tentang Louis juga masih terasa begitu asing untuknya, dia tidak bisa mendapatkan informasi apapun dari Anna. Wanita itu sangat dingin, mirip tuannya dan sulit didekati untuk dimintai informasi, membuat Joana benar-benar frustasi dan merasa semakin tidak memiliki teman. Lebih dari satu bulan dirinya di sini, dia semakin jarang bertemu Louis, dia perhatikan pria itu sangat jarang di rumah, atau jika dia bertanya pada Anna, pria itu pulang sangat larut dan pergi pagi buta, di saat dirinya tidur. Pria itu juga tidak pernah lagi mengunjunginya atau ke kamarnya, terakhir kali adalah saat hari pertama dia tiba di rumah itu, setelahnya pria itu bahkan tidak pernah terlihat. Kecuali dua minggu yang lalu, saat seorang dokter datang ke kamarnya untuk memeriksa apakah dirinya hamil atau tidak. Louis datang ke kamarnya bersama seorang dokter dan seorang pria yang setia berdiri di belakangnya, mungkin asistennya. Mengingat kejadian itu membuat Joana bergidig ngeri. Saat itu Joana baru saja bangun dari tidurnya, lalu tiba-tiba Louis masuk diikuti dengan dua orang di belakangnya, gerakan mereka sangat cepat dan seorang wanita berjas putih langsung duduk di sisi ranjang dan memeriksanya. “Bagaimana?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Louis saat sang dokter masih memeriksanya, membuat Joana menatapnya kesal, pria itu tidak pernah terlihat dan kini muncul dengan serangan seperti ini. “Sejauh ini belum ada tanda-tanda kehamilannya, Mister. Mungkin kita perlu menunggunya dua minggu lagi, hal itu terkadang terjadi karena beberapa factor, karena dua minggu setelah berhubungan intim masih terlalu dini untuk memeriksakan kehamilan.” “Oke. Pergi sekarang.” Balas Louis dengan tatapan dingin dan tajamnya, membuat Joana benar-benar tidak habis pikir dengan pria iblis yang sialnya semakin dilihat semakin tampan itu. Satu per satu mereka pergi dan hanya meninggalkan Louis dan Joana. Pria itu mendekat, masih dengan smirk-nya yang membuat Joana bergidig takut. Lalu Louis mencengkram rahangnya dan berbisik dengan nada yang terdengar seperti lonceng kematian untuk Joana. “Bersiaplah menghitung sisa umurmu jika kau tidak hamil dalam satu bulan ke depan, Joana.” Bisik Louis lalu menghempaskannya begitu saja, keluar dari kamar Joana dengan kebiasaan pria itu menutup pintu dengan kuat hingga menimbulkan bunyi berdebam yang menyakiti telinga. Mengingat itu membuat Joana merasa mual, dia langsung bergegas ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya, namun hanya ada cairan bening yang keluar. Joana memijit pelipisnya yang juga terasa berdenyut, sebenarnya akhir-akhir ini dia merasa mual setiap bangun tidur dan memikirkan Louis, entah mengapa setiap dia bangun, Louis yang langsung muncul di kepalanya, dan membuatnya langsung pening dan mual, dia merasa stress terkurung di mansion itu, dia baru menyadari jika kemewahan dan kekayaan benar-benar tidak bisa membeli kebahagiaan sepenuhnya. Ada satu tempat yang membuat Joana merasa lebih baik setelah memikirkan tentang hidupnya yang kini menjadi tawanan. Yaitu balkon di kamarnya, yang membuatnya setidaknya merasa damai untuk sesaat bisa menghirup udara luar. Dari balkon itu juga dia mengetahui, jika mansion itu bukanlah berada di tengah kota, karena sepanjang pengelihatannya dia hanya melihat pohon-pohon yang menjulang tinggi setelah batas pagar dari mansion tersebut, artinya hanya ada hutan yang mengelilingi rumah itu. Joana yakin jika mansion itu memang terletak di tengah hutan. Membuatnya semakin yakin jika dirinya memang tidak bisa kabur, dia hanya akan berakhir nama di sini. Mengingat balkon, membuatnya memilih memutuskan untuk pergi ke sana, dia yakin Anna akan datang lima belas menit lagi untuk mengantarkan teh dan sarapan. Joana membuka pintu balkon di kamarnya. Cahaya matahari pagi yang tidak begitu menyilaukan menyambutnya dengan hangat, membuatnya merasa lebih baik lagi. Dia menatap ke bawah, tepat di mana sebuah taman yang lumayan luas dengan air mancur dan beberapa bunga berada. Louis bahkan benar-benar melarangnya untuk keluar dari mansion, bahkan sekedar berjalan-jalan di taman pun tidak. Dia dilarang keras melewati pintu utama di mansion itu, membuatnya semakin stress. Keningnya mengernyit namun bibirnya tersenyum simpul, saat melihat Louis ada di sana, sedang berdiri dan berbicara dengan seseorang, pria itu seperti biasa, terlihat dominan dan sialan tampan, dia yang sedang berbicara serius dengan gerakan tubuhnya membuatnya berwibawa dan postur tubuhnya benar-benar sempurna. Joana menyeringai, sepertinya pria itu memiliki mata di belakang kepalanya, Louis langsung mendongak dan tatapan mereka bertemu, seolah Louis tau dia sedang diperhatikan. Hal itu membuat Joana gugup, wanita itu langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain. Namun, dia merasakan pening lagi, kali ini denyutannya lebih kuat, membuat Joana kehilangan kesadaran di detik berikutnya. Louis langsung berlari begitu melihat Joana pingsan, pria itu berteriak pada Liam, untuk memanggil Kate. Louis membuka kasar pintu kamar Joana dan menemukan wajah pucat wanita itu yang tergeletak di lantai, membuatnya langsung membopong wanita itu ala bridal style dan merebahkannya dengan hati-hati di ranjang. Dalam diam Louis mengamati wajah Joana yang terlihat damai walau sedikit pucat, wanita yang menjadi batu sandungan untuknya, namun dia tidak bisa mengabaikannya jika memang wanita itu akan mengandung darah dagingnya nantinya. Selama ini Louis selalu bermain dengan hati-hati dan memastikan dia tidak akan memiliki anak dari wanita mana pun. Hidupnya sudah cukup sempurna, dia memiliki harta dan kekuasaan, semua orang takut dan tunduk padanya. Dia tidak ingin bergantung pada siapa pun atau memiliki perasaan sialan bernama cinta itu. Dia tidak ingin memiliki kelemahan dan tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan siapapun. Namun, wanita itu mengacaukan segalanya, membuat Louis tidak bisa mengalihkan atensinya. Dia memang kejam dan hidupnya dikelilingi oleh darah dan kematian. Tapi dia bukan orang yang akan membunuh darah dagingnya sendiri. Kate datang sepuluh menit kemudian, dokter kandungan yang telah dia siapkan untuk memastikan apakah Joana hamil atau tidak, tentu harapannya adalah wanita itu tidak hamil dan Louis akan menyingkirkannya dengan mudah, sehingga hidupnya akan kembali seperti semula, namun semua itu masih abu-abu hingga detik ini. Kate tersenyum tipis dan memeriksa Joana dengan seksama. Pelan-pelan Joana juga tersadar, membuat Kate tersenyum dan melepas stetoskop dari telinganya. “Kapan terakhir kali anda haid, Nona?” Tanya Kate saat melihat Joana telah sadar sepenuhnya, Joana tampak berpikir dan membuatnya menelan ludah susah payah. Keringat dingin mulai terasa dari telapak tangannya. “14 A…april.” Bisik Joana membuat Kate mengangguk. “Dan kapan terakhir kali kau melakukan s*x?” Tanya Kate. “26 April.” Itu suara Louis yang menjawab membuat Joana langsung melotot, melihat Louis yang tetap menunjukkan ekspresi datar saat mengatakannya. Bagaimana pria itu bisa mengingat tanpa berpikir dulu, seolah tanggal itu sudah terpatri di otaknya. “Ah, anda melakukan di saat yang tepat, karena itu adalah masa subur. Selamat ya, anda hamil, usianya sekitar 6 minggu.” Ucapan Kate selanjutnya membuat Joana menganga tidak percaya, pun dengan Louis yang menarik napas panjang dan memejamkan matanya. Joana melihat ekspresi itu. Louis mendecak dalam hati dan menarik napasnya panjang, ternyata hubungannya dengan Joana benar-benar tidak bisa berakhir dalam waktu singkat. Sialnya wanita itu hamil anaknya dan dia harus memastikan anaknya lahir dengan selamat tidak peduli dia membenci wanita itu, yang menjadi hambatan untuk hidup dan karirnya. “Kau boleh keluar, Kate. Tunggu aku di ruang kerjaku.” Ucap Louis membuat Kate mengangguk dan tersenyum, lalu beranjak dari kamar itu bersama Liam, meninggalkan Joana yang tatapannya terlihat linglung dengan memegang perutnya, dia seolah begitu shock dengan berita yang dia dengar, karena dia tidak pernah siap menjadi seorang ibu di usia yang terbilang muda, bahkan dia belum pernah merasakan indahnya cinta. Louis lalu duduk di sisi ranjangnya, memperhatikan Joana dengan begitu intens, sedangkan Joana justru menatap kea rah lain dengan mata berkaca-kaca, ada ketakutan besar yang dia tidak tau itu apa. Tapi, hamil dari pria asing yang bahkan terlihat berbahaya, dia tau itu bukan hal yang bagus. Apa yang harus dia lakukan, dan rencana apa yang harus ia susun untuk bebas dari pria itu? Louis menyentuh dagu Joana agar menatap ke arahnya, sedikit terkejut saat wanita itu meneteskan air matanya dan tatapannya terlihat takut. Namun Louis berhasil mengontrol emosinya dan kembali dengan tatapan dingin dan datarnya. “Takdir masih baik padamu, kau memiliki waktu lebih lama sebelum kematian menjemputmu. Lahirkan anak itu dengan sehat dan selamat, maka panti asuhan dan adik-adikmu akan selamat. Deal?” Joana tidak menjawabnya dan justru menjatuhkan air matanya semakin banyak, membuat Louis mendecak dan melepaskan Joana. “Anna akan datang dan mengurusmu, berhenti menangis dan jangan membahayakan bayiku.” Louis lalu beranjak dari sana, kali ini pria itu menutup pintu dengan pelan, namun suasana hati Joana benar-benar berantakan, wanita itu menarik lututnya dan memeluknya, menangis semakin banyak dan meringkuk dalam tangisnya, memikirkan bagaimana hidupnya ke depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD