Louis membuka pintu ruang kerjanya dan mendapati Kate sudah duduk di sana, memberikan senyum tipis dan seadanya pada pria yang terlihat menyeramkan hanya melalui tatapannya saja.
“Jadi, Kate? Bisa kau ceritakan lebih detail tentang bagaimana wanita hamil? Hal-hal yang perlu menjadi concern untuk kesehatan bayinya.”
“Bayi dan ibunya, maksud anda, Mister?” Tanya Kate memastikan lagi, Louis tidak menjawab, hanya menatapnya lekat seolah tatapannya menuntut jawab.
Kate menelan ludahnya susah payah, sejak dua bulan yang lalu, tiba-tiba kepala rumah sakit tempatnya bekerja, memintanya untuk menjadi dokter kandungan pribadi seorang pria bernama Louis Christoper Channing. Tentu dia tau rumah sakit itu juga milik Louis, pebisnis berdarah dingin yang sangat berpengaruh di Eropa. Dia dipilih karena dia adalah dokter kandungan terbaik yang telah menerima beberapa penghargaan dan diakui di seluruh Eropa.
“Saya akan menjelaskan tentang kondisi fisik dan psikis wanita hamil yang harus menjadi perhatian orang-orang di sekitarnya, Mister. Tentu untuk menjaga fisik ibu dan janinnya tetap sehat harus makan-makanan yang bergizi dan seimbang, namun terkadang, karena morning sickness yang dialami, terkadang sulit bagi sang ibu untuk memakan makanan tersebut. Saya sudah meresepkan obat jika dia mengalami morning sickness yang berlebihan, anda juga bisa menanyakan makanan-makanan yang dia inginkan sebagai bentuk perhatian, terkadang ibu hamil memiliki mood swing yang parah, kita harus berusaha memahaminya. Memberikan perhatian yang lebih dan berusaha menuruti keinginannya, usahakan jangan membuatnya tertekan, jika dia terlalu stress bisa menyebabkan kram perut dan pendarahan, jadi ….”
“Stop! Keluar!” Louis menghentikan penjelasan Kate dan menyuruh wanita itu pergi dengan gerakan kepalanya, membuat Kate terdiam saat itu juga, dan akhirnya menganggukan kepalanya meninggalkan ruang kerja Louis. Ruang kerja umum yang biasa dia gunakan untuk menerima tamu-tamu tertentu. Tentu ruang kerja pribadinya adalah area terlarang yang siapa pun tidak boleh masuk.
Louis memijit pelipisnya yang terasa pening, dia tidak menyangka hari ini datang begitu cepat. Dia tidak pernah membayangkan akan memiliki seorang anak, tapi sekejam-kejamnya dirinya, dia tidak mungkin menyingkirkan darah dagingnya. Tentu hal ini menjadi batu sandungan untuk semua hal yang berkaitan dengannya. Musuh-musuhnya, tentu akan mengincar anaknya, dia tidak memiliki pilihan lain selain menyembunyikan Joana dan calon anaknya.
Ucapan Kate yang menurutnya terlalu bertele-tele dan berlebihan membuatnya kesal dan tidak percaya, apa susahnya dengan wanita hamil. Dia hanya cukup makan yang sehat dan melahirkan, persetan dengan psikis dan mentalnya. Seharusnya wanita itu bersyukur bisa mendapatkan kemewahan dari mengandung anaknya. Dari pada dia harus tinggal menyedihkan di flatnya yang kumuh dan kelaparan setiap hari. Memikirkan itu membuat Louis mendecih dan tersenyum sinis. Wanita itu memiliki keberuntungan yang berharga di hidupnya.
***
Joana masih meringkuk di ranjangnya, setelah mengusir Anna yang ingin melayaninya, dia berteriak pada Anna dan melotot menyuruh wanita itu keluar. Joana mengusap lembut perutnya yang masih datar, hatinya berdesir dengan perasaan yang tidak bisa ia deskripsikan, ada ketakutan namun juga kebahagiaan, mengetahui dia akan menjadi seorang ibu dan memiliki bayi. Joana tau dirinya tidak boleh bersedih dan putus asa seperti ini. Sekali lagi wanita itu mengusap lembut perutnya, dan desiran itu kembali ia rasakan, membuatnya meneteskan air mata haru. Dia tidak menyangka takdir akan membawanya pada titik ini.
Louis? Pria yang menghamilinya, yang akan menjadi ayah dari calon bayinya, pria asing yang menakutkan namun sialan tampan. Siapa dan apa yang dilakukan pria itu dalam hidupnya? Joana harus mencari tau, setidaknya jika dia memang pada akhirnya harus mati, dia tau seperti apa sosok pria yang akan menjadi ayah anaknya itu, dia harus memastikan anaknya akan hidup dan baik-baik saja.
Joana kembali mendekap perutnya, mengusapnya lembut beberapa kali dan hatinya seketika menghangat, rasanya perasaannya begitu cepat berubah, dia yang beberapa menit lalu merasa shock dan hilang arah tentang kehamilannya, kini, saat merasakan kehadiran makhluk di rahimnya membuatnya merasakan damai dan seolah menjadi penyemangat baru dalam hidupnya.
Benar, dia harus memiliki rencana untuk mengetahui lebih jauh siapa pria bernama Louis itu. Setidaknya dia harus memanfaatkan kehamilannya itu, namun bagaimana caranya? Bagaimana dia bisa memanfaatkan kehamilannya itu?
Status? Tiba-tiba Joana memikirkan itu. Benar. Bagaimana pun dia akan meminta status setelah pria itu memperkosanya, dia akan memaksa pria itu, agar Joana juga memiliki kuasa di rumah ini dan bisa meminta apa yang dia butuhkan.
Pintu yang terbuka membuat Joana sedikit tersentak, Louis kembali datang dengan tatapannya yang masih nyalang, membuat Joana entah mengapa merasakan kesedihan, mengetahui kenyataan pria yang akan menjadi calon ayahnya begitu mengerikan dan tak tersentuh sebagai manusia.
“Sudah memikirkan tawaranku tadi , Joana?” Tanya Louis dengan tatapan yang lekat, menatap Joana tanpa ekspresi. Joana terlihat berpikir, tawaran yang mana?
“Kau harus memastikan anak itu lahir dengan selamat, maka saudaramu di panti asuhan juga selamat. Deal?” Louis yang memahami kebingungan Joana kembali mengulang ucapannya.
Joana menatapnya lekat, Louis bisa tau ada ketakutan dalam diri wanita itu, namun Louis tidak peduli.
“Nikahi aku!” Dua kata dari Joana membuat Louis cukup terkejut, namun pria itu terkekeh meremehkan, memegang dagu Joana dan mengunci tatapannya.
“Jangan menguji kesabaranku, Joana! Ingat kehidupanmu sebelum ini. Kau hanyalah b***k, pelayan, yang tinggal di flat kumuh dan sering kelaparan. Dengan segala kemewahan yang kau dapatkan sekarang, kau menginginkan sesuatu yang mustahil? Berkacalah! Kau hanyalah pelayan, sampai kapan pun akan tetap menjadi b***k!” Louis menekan cengkramannya pada dagu Joana, membuat Joana meringis dan berusaha lepas dari pria itu.
Louis lalu menghempaskannya dengan kasar, dan beranjak dari sana, meninggalkan Joana yang sakit hati dengan ucapan pria itu yang sangat merendahkannya.
“Nikahi aku, b******k!! Setidaknya kau harus bertanggung jawab setelah memeprkosaku dan menghancurkan hidupku!!” Joana berteriak lantang sebelum Louis meninggalkan kamarnya, tatapan matanya memerah dan berkaca-kaca, hatinya berdenyut sakit saat Louis memandangnya begitu rendah. b***k? Dirinya bukanlah b***k, apalagi b***k s*x pria itu.
Louis menatapnya tanpa ekspresi, membuat Joana semakin emosi, wanita itu lalu melempar bantalnya dan dengan mudah Louis menangkisnya. “Aku bukan b***k, b******k!! Aku bukan b***k, apalagi budakmu!! Tutup mulut kotormu itu, b******k!!” Joana kembali berteriak, membuat Louis sedikit terkejut dengan umpatan Joana, wanita itu terlihat marah dan terluka dengan sebutan yang ia berikan barusan. Namun Louis tidak peduli. Pria itu langsung pergi dari sana dan menutup pintu dengan keras, hingga menimbulkan debuman yang cukup nyaring.