Kelas hanya tersisa dua jam lagi untuk menantikan bel pulang sekolah. Rata-rata murid yang berada di kelas IPA dua kompak menempatkan kepalanya ke atas meja, lantaran guru yang mengajar mereka hari ini ialah Pak Khasan, guru sejarah yang telah berkepala enam. Membuat mulut berkali-kali menguap, karena intonasi Pak Khanan persis sebuah TV yang kehilangan sinyal. Tidak jelas dan tidak dapat dimengerti.
"Lis," panggil Salsa seraya menempelkan sebelah pipinya ke atas meja menghadap Lisa.
Lisa yang mendengar seseorang memanggil namanya langsung menoleh ke sumber suara. Detik itu juga, Lisa mengikuti posisi Salsa yang menempelkan sebelah pipi ke atas meja.
"Apa?" jawab Lisa datar.
"Gue bosen, sumpah dah! Pak Khasan ngomong apaan, sih? Dari tadi gue gak ngeh!" keluh Salsa sedikit berbisik.
"Gue juga kagak tahu apa yang dia omongin! Dia ngomong apa kumur, sih! Tahu gini dipulangin aja kita, daripada gak dapat apa-apa ya, kan?" tutur Lisa yang juga memelankan suaranya.
Salsa menguap sejenak, diikuti Lisa yang tertular dengan uapan Salsa. "Eh, Lis!" kata Salsa dengan nada sedikit tinggi kali ini.
"Hm ...?"
"Lis, jujur ya, gue tadi kaget pas lihat lo lempar sepatu di jidat Kak Gagas!" tutur Salsa yang kembali memelankan suaranya. Salah satu alis Lisa terangkat, "Terus?"
"Gila ya, lo! Gue tadi mau ngakak takut dosa," Salsa menahan tawanya.
Lisa tersenyum picik. "Gimana, keren kan gue?" jawab Lisa dan mengangkat kepalanya yang terasa pegal. Diikuti dengan Salsa yang melakukan hal yang sama.
Beberapa menit kemudian, bel yang ditunggu-tunggu akhirnya menggelegar juga. Rasa kantuk yang menjalar seolah sirna dengan seketika. Semua murid yang berada di kelas tampak melebarkan matanya yang terlihat berseri-seri.
"Anak-anak ...," ucap Pak Khasan dengan suara sangat pelan hingga hampir tidak terdengar. "Kalian kerjakan tugas yang sudah saya share di grup kelas, terakhir besok pagi bapak tunggu di ruangan bapak," lanjut Pak Khasan yang lagi-lagi seperti TV kehilangan sinyal.
Lisa yang sama sekali tidak mendengar apa-apa dari gurunya itu langsung berucap dengan nada tinggi. Karena dia sudah tidak sabar lagi. "Apa? PAK!"
Seluruh orang yang berada di dalam kelas kontan terperanjat akibat suara lengking Lisa yang keluar dengan mendadak. Begitu juga dengan Pak Khasan yang terhentak kaget hingga hampir terjatuh dari kursinya. Salsa yang berada di sebelah Lisa langsung memukul lengan temannya itu dengan sangat keras hingga membuat Lisa mengadu kesakitan.
"Lo gila! Kalau Pak Khasan kena serangan jantung dan mendadak mati di sini, lo mau tanggung jawab!" Salsa memberikan sebuah pelototan dengan wajah paniknya.
Lisa menyadari kesalahannya. Dia langsung menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan. Wajahnya kini mendadak pucat.
"Maaf, Pak, saya tadi tidak mendengar ucapan bapak," ucap Lisa dengan lembut. Dirinya jadi merasa tak enak dengan gurunya itu. Terlebih melihat gurunya yang seperti sesak napas.
Pak Khasan mengusap dadanya yang berdetak tak keruan. Beliau mengatur napasnya sejenak lantas mengulangi ucapannya tadi dengan nada yang sedikit meninggi. Namun hal itu seolah percuma, suara beliau tetap tidak sampai di gendang telinga Lisa.
"Duh, ngomong apaan, sih!" gerutu Lisa kembali kesal.
"Ini, udah di share di grup ada tugas dari Pak Khasan, terus dikumpulkan besok pagi," jelas Salsa meredam kemarahan Lisa.
"Ish! Kebiasaan deh kasih tugas mendadak," cibir Lisa seraya mengeluarkan benda pipih yang berada di dalam sakunya untuk melihat tugas itu.
Setelah mengucapkan salam, Pak Khasan lantas meninggalkan kelas dengan langkah tertatih, persis seperti kura-kura. Dan kabarnya, ini tahun terakhir Pak Khasan menjadi guru di SMA ini.
"Eh, Lis, tugasnya berkelompok, satu kelompok isinya dua orang, nih!" ujar Salsa dengan menggulir layarnya ke bawah.
“Hmm,” gumam Lisa malas sekali. “Yasudah, kerjain di rumah gue aja. Lo tahu sendiri kan gimana nyokap gue? Gue kek anak pingitan tahu! Mana boleh gue bertamu di atas jam enam maghrib?” Salsa mengangguk mengerti akan hal itu.
"Bentar, gue kirim pesan dulu ke Monyet jelek!" kata Lisa seraya membuka aplikasi bewarna hijau yang tertera di layar ponselnya.
Monyet Jelek
Nyet, gue pulang bareng Salsa. Dia mau ke rumah buat tugas kelompok.
"Yuk, Sal!" seru Lisa dan beranjak dari duduknya sembari memasukkan kembali ponselnya pada saku rok abu-abunya.
"Lo beruntung ya, Lis." Salsa meringis sedih mengatakan itu.
"Beruntung?" tanya Lisa dengan dahi yang berkerut bingung.
"Iya, lo beruntung, Lis. Lo diberi hadiah terbesar dari Tuhan berupa kakak, cowok lagi," Salsa menjeda kata-katanya dengan menghembuskan napas berat. Sorot mata gadis itu kini berubah sendu."Gue aja pingin banget punya kakak cowok, tapi apa daya gue yang terlahir jadi anak tunggal."
Lisa yang melihat raut wajah temannya berubah sedih langsung menggigit bibir bawahnya, mencoba berpikir untuk menghibur Salsa. "Bawa pulang aja dah kakak gue, gimana? Lagian gue juga gak suka punya kakak!" tawar Lisa dengan mengerutkan bibirnya.
"Ya kalau bisa, Lis. Asal lo tahu, lo benar-benar orang yang beruntung memiliki kakak. Mungkin lo sekarang nganggep dia gak penting, Lis. Tapi lo akan merasa paling beruntung nanti," kata Salsa lembut ke arah Lisa. Sejujurnya, hatinya benar-benar iri pada temannya itu.
Lisa yang mendengar penuturan Salsa langsung terdiam beberapa saat. Ia mengambil napas panjang lalu berkata, "Lebih baik gue dilahirkan jadi anak tunggal kayak lo, Sal. Enak tahu, dapet kasih sayang penuh, punya segalanya, hidup tenang dan gak ada yang ganggu. Dan asal lo tahu, darah gue dibuat mendidih setiap harinya gegara dia! Dah, ayok, Sal, keburu malam entar!”
Lisa beranjak terlebih dahulu. Meninggalkan Salsa yang masih terdiam di tempatnya. Dia kurang suka memang jika Salsa sudah membahas hal seperti ini. Gadis itu akan selalu sedih melihat seorang perempuan yang memiliki seorang kakak laki-laki. Hal yang tidak akan mungkin dia dapatkan di kehidupannya.
"Lo gak akan pernah tahu, betapa kesepiannya gue, Lis," lirih Salsa dengan air mata yang mulai mengalir perlahan.
***
Sesampainya di halaman rumah Lisa, Salsa langsung menempatkan motornya di sebelah motor besar yang ia yakini milik kakak kelasnya itu.
"Lis, di rumah lo, ada siapa saja?" tanya Salsa dengan melepas helm bewarna cokelat dengan corak kumbang pada kepalanya.
"Ada gue, Mama, Papa, Rezha dan beberapa penunggu rumah yang jahil," kata Lisa dengan tersenyum picik. Karena Lisa tahu temanya itu sangat penakut sekali.
Salsa yang mendengar penuturan Lisa langsung menggeser tubuhnya. Dia bahkan menggenggam erat-erat lengan Lisa.
"Eh, lo jangan nakut-nakutin, dong!" sahut Salsa dengan mengerucutkan bibir bawahnya. Lisa kontan menahan tawa minat wajah Salsa yang benar-benar pucat sekarang.
"Gue bercanda, Sal."
"Bercanda lo gak lucu!" Salsa jelas mengamuk, lantas melepaskan cengkeraman tangannya dengan melotot kesal.
"Iya-iya, maaf. Dah yok masuk!" Salsa pun mengikuti langkah Lisa dengan sedikit merinding. Baru kakinya mendarat masuk, kedua mata Salsa dibuat melebar sempurna dengan jantung yang langsung berdetak kencang.
"Allahu Akbar ...!" Salsa meloncat kaget. Bagai mana tidak, dirinya langsung disuguhkan dengan sosok perempuan yang tengah duduk di kursi depan dengan rambut tergerai mengerikan. Sampai-sampai dirinya itu terjungkal ke belakang hingga menabrak pintu dengan sangat keras.
Mendengar suara seperti teriakan beserta dobrakan dari pintu, Rezha, Lisa dan Rendra langsung berlari kalang-kabut menuju asal suara. Lisa pun panik dan membantu temannya berdiri. Lisa merasakan tangan dan seluruh tubuh Salsa bergetar dengan sorot mata yang seolah menahan tangis.
"Ada, apa?" tanya Rendra dengan sangat cemas setelah melihat teman anaknya yang begitu pucat.
"Hm ..., pasti habis lihat mama," ucap Rezha dengan melirik tajam ke arah Sonya. Lisa pun ikut menatap tajam ke arah mamanya dengan geram.
"Ma, kalau mau maghrib jangan suka duduk dengan rambut yang sengaja di gerai gitu, dong! Semua orang mengira mama itu kuntilanak! Lihat, temen Lisa sampai terluka," kata Lisa kesal sekali. Dirinya jadi tidak enak hati pada Salsa yang tengah mengusap lengannya yang berdenyut akibat hantaman keras dengan pintu kayu itu.
"Suka-suka mama, dong!" jawab Sonya dengan menyilangkan tangannya di bawah dadaa. "Lagian, ngapain kamu bawa anak orang pas maghrib, gini?"
Lisa otomatis langsung melotot ke arah mamanya yang seakan tidak suka dengan keberadaan Salsa. "Ayo Sal ke kamar gue aja, gue takut lo kesambet kalau kelamaan di sini!" ujar Lisa seraya menuntun gadis itu yang masih syok menuju kamar.
"Butuh bantuan?" tawar Rezha sedikit menggoda. Memang, kakaknya itu suka sekali usil dengan para wanita di sekolahnya. Jelas saja kedua mata Salsa berbinar terang menatap laki-laki itu. Namun, tak sampai satu detik senyum di bibirnya mengembang, harapannya telah pupus begitu saja saat Lisa menolak tawaran itu dengan mentah-mentah.
"Gak usah ambil kesempatan dalam kesempitan deh!" Lisa mengibaskan sebelah tangan di udara, tanda untuk menyuruh Rezha segera pergi dari hadapannya.
Rezha mengedikkan bahu acuh. Kemudian berlari secepat kilat menaiki belasan anak tangga menuju lantai dua tanpa jeda. Membuat darah pada tubuh Salsa berdesir tak keruan. Dia merinding melihat kakak kelasnya karena takut jika sewaktu-waktu, dia tergelincir dan jatuh mengenaskan.
"Buset, kakak lo gak takut jatuh apa?" kata Salsa merasakan tubuhnya panas dingin. Kepalanya terus terangkat melihat anak tangga yang Rezhanya sendiri bahkan sudah menghilang dari sana.
"Gak bakal, dia kan jago panjat pinang! Dan jangan lupakan kalau itu orang masih termasuk dalam spesies monyet!" Lisa menertawakan itu. Sementara Salsa tidak suka mendengarnya.
"Dah, yuk buruan ke atas," kata Lisa yang sudah tak tahan untuk mandi, menghilangkan keringatnya yang mulai lengket dan bau kecut. Salsa pun membalas ajakan Lisa dengan anggukan mantap dan senyum yang mengembang di bibirnya.