BAB 1: Tanda Tangan Terakhir
Amira Serene Wijaya menatap dokumen di depannya dengan tatapan hampa. Ruangan pengacara terasa pengap meski AC menyala cukup kencang. Bau buku-buku tua dan kertas dokumen bercampur dengan aroma kopi pahit yang sudah dingin di meja. Pena di tangannya terasa seperti timah, berat dan dingin, seolah menolak untuk digerakkan.
"Ini bagian terakhir, Bu Amira," kata pengacara dengan suara profesional yang datar, tanpa emosi. "Setelah ini, tinggal menunggu proses pengadilan. Kalau tidak ada sanggahan dari pihak Pak Raka, surat cerai bisa keluar dalam dua minggu. Anda yakin tidak ingin menambahkan klausul lain mengenai harta atau tunjangan?"
Amira menggeleng pelan. "Tidak perlu, Pak. Saya hanya ingin semuanya selesai." Jari-jarinya sedikit gemetar saat pena menyentuh kertas. Dengan gerakan mantap meski hatinya berantakan, ia menuliskan namanya: Amira Serene Wijaya. Tinta hitam itu mengering dengan cepat, seolah menyegel nasibnya sendiri. Tak ada lagi jalan mundur."Selesai," gumamnya pelan, lebih kepada diri sendiri.
Ia berdiri, merapikan blazer krem yang dipakainya hari ini seragam kantor yang biasa ia kenakan sebagai Marketing Staff di PT. Graha Sejahtera. Kainnya terasa kaku di tubuhnya yang lelah. Tak ada yang istimewa dari hari ini, kecuali fakta bahwa ia baru saja mengakhiri pernikahan lima tahun nya. Lima tahun yang dimulai dengan mimpi dan berakhir dengan luka yang masih menganga.
Keluar dari gedung pengacara di kawasan Sudirman, udara Jakarta sore yang panas dan lembab langsung menyambutnya seperti tamu tak diundang. Asap knalpot, klakson mobil, dan hiruk-pikuk pejalan kaki seolah menjadi latar belakang yang ironis untuk momen ini.
Amira berjalan menuju mobil Camry putihnya yang sudah berusia empat tahun. Catnya sudah mulai kusam di beberapa bagian, mirip dengan perasaannya saat ini.
Begitu duduk di balik kemudi, barulah air matanya jatuh. Bukan isak tangis keras yang dramatis, hanya air mata diam yang mengalir pelan di pipinya, meninggalkan jejak hangat yang cepat mengering karena AC mobil.
"Lima tahun..." bisiknya sambil menatap cincin kawin yang masih melingkar di jari manisnya. Emas putih itu masih berkilau, tapi terasa berat seperti rantai. Ia belum sempat mencopotnya.
Mencopotnya terasa seperti pengkhianatan terakhir terhadap kenangan yang dulu ia anggap suci.
Dulu, ia mengira Raka Mahendra adalah jawaban doanya. Mereka bertemu di sebuah seminar bisnis tentang strategi pemasaran digital empat tahun sebelum menikah.
Saat itu Amira baru saja dipromosikan, masih penuh semangat dan ambisi. Raka, yang sudah menjadi Senior Manager Operasional di perusahaan manufaktur besar, tampak dewasa, tenang, dan bertanggung jawab. Senyumnya yang jarang tapi tulus membuat Amira merasa dilihat, dihargai.
Percakapan mereka di coffee break seminar itu mengalir begitu saja, dari bisnis ke mimpi-mimpi pribadi. Raka bercerita tentang ingin membangun keluarga yang stabil, sesuatu yang Amira rindukan setelah melihat pernikahan orang tuanya yang penuh kompromi.
Pernikahan mereka cukup meriah untuk ukuran keluarga menengah ke atas. Resepsi di ballroom hotel bintang empat di Jakarta Selatan, dengan bunga mawar putih dan musik live yang lembut.
Ayahnya, Hadiwijaya, seorang pensiunan bankir yang tegas, meski tidak terlalu menyukai Raka ia pernah bilang Raka "terlalu ambisius sampai lupa cara mencintai" tetap memberikan restu.
Ibunya, Ratna Dewi, justru bahagia melihat putrinya menikah dengan pria yang punya masa depan cerah.
Mereka tinggal di apartemen dua kamar di daerah Pondok Indah bukan mewah dengan kolam renang, tapi nyaman dengan balkon kecil yang menghadap taman. Awalnya, semuanya indah.
Malam-malam mereka penuh tawa dan rencana masa depan. Raka akan memeluknya dari belakang saat Amira memasak, mencium tengkuknya sambil bercerita tentang hariannya. Amira merasa aman.
Tapi perlahan, retak-retak kecil mulai muncul. Raka semakin sibuk dengan promosi dan proyek-proyek besar.
Pulang malam, bangun pagi, akhir pekan sering dihabiskan di depan laptop. Amira merasa sendirian di apartemen yang dulu terasa hangat.
Pertengkaran demi pertengkaran terjadi, mulai dari hal sepele seperti siapa yang membuang sampah hingga tuduhan bahwa Amira "tidak mendukung karirnya".
Puncaknya dua tahun lalu, saat Amira menemukan chat Raka dengan seorang rekan kerja wanita. Kata-kata manis, emoji hati, janji bertemu di luar kantor.
Meski Raka bersumpah itu hanya kesalahan, kelelahan kerja, dan tidak ada yang terjadi secara fisik, kepercayaan Amira sudah hancur berkeping-keping.
Setelah itu, rumah tangga mereka seperti kapal yang bocor masih mengapung, tapi perlahan tenggelam. Amira menghidupkan mesin mobil dan melaju pulang. Radio memutar lagu-lagu lama, lagu yang dulu mereka nyanyikan bersama di perjalanan liburan ke Bali. "Kau adalah segalanya..." lirik itu sekarang terasa seperti ejekan. Dadanya semakin sesak.
Begitu tiba di apartemen, ia langsung melempar tas kerjanya ke sofa abu-abu dan duduk termenung di ruang tamu yang mulai terasa asing. Foto-foto mereka masih ada di dinding, tapi sekarang terlihat seperti kenangan orang lain.
Ponselnya bergetar. Nama "Mama" muncul di layar.
"Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam. Sudah selesai, Nak?" tanya Ratna Dewi lembut, suaranya penuh kekhawatiran yang ia coba sembunyikan.
"Sudah, Ma. Sudah ditandatangani."
"Alhamdulillah. Papa kamu bilang ini yang terbaik untuk kamu. Raka itu terlalu keras kepala, terlalu fokus pada dirinya sendiri. Kamu masih muda, Sayang. Baru 32 tahun. Masih banyak kesempatan untuk bahagia. Jangan pikirkan lagi yang sudah lewat."
Amira tersenyum pahit. "Iya, Ma. Nanti Amira pulang ke rumah makan malam. Mau masak apa hari ini?"
Setelah menutup telepon, Amira berjalan ke kamar tidur. Foto pernikahan mereka masih tergantung di dinding utama. Raka tersenyum lebar, tangannya memeluk pinggang Amira dengan posesif.
Dulu Amira suka pelukan itu merasa dicintai, diinginkan. Sekarang, pelukan itu terasa seperti belenggu yang perlahan mencekik.Tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Kali ini nama yang muncul membuat jantung Amira berdegup kencang: Raka Mahendra.Ia menatap layar lama sekali, napasnya tertahan, sebelum akhirnya mengangkat."Halo," jawabnya dingin, berusaha menjaga suara tetap stabil.
"Kamu sudah menandatangani surat cerainya?"
Suara Raka terdengar tenang, tapi Amira bisa mendengar ketegangan di baliknya, seperti tali yang ditarik kencang.
"Sudah."Hening sejenak. Hanya suara napas mereka yang terdengar.
"Aku ingin bertemu malam ini," kata Raka.
"Tidak perlu. Semua sudah selesai, Raka."
"Ini bukan tentang surat cerai." Suara Raka turun satu oktaf, lebih rendah dan intim.
"Aku ingin mengajukan satu permintaan sebelum kita benar-benar berpisah."
Amira menutup mata, tubuhnya menegang.
"Permintaan apa lagi? Kita sudah bagi harta, sudah sepakat soal apartemen. Apa lagi yang kamu mau?"
"Dua malam."
Amira membeku. Kata-kata itu menggantung di udara seperti bom.
"Dua malam terakhir sebagai suami istri. Hanya itu. Setelah itu, aku janji tidak akan mengganggu kamu lagi. Kita akhiri dengan... cara yang pantas."
Tubuh Amira gemetar. Campuran amarah, terkejut, dan sesuatu yang lebih gelap sesuatu yang mirip kerinduan yang ia benci akui muncul di dadanya.
"Kamu benar-benar gila," desis Amira.
"Kamu pikir aku mau tidur denganmu setelah semua penghianatan, semua pertengkaran, semua malam aku menangis sendirian?"
"Aku tidak memaksa, Amira. Tapi aku tahu kamu juga masih merasakanya. Api itu masih ada di antara kita. Dua malam ini... biarkan kita akhiri semuanya dengan cara yang kita berdua inginkan, bukan dengan dingin dan penuh penyesalan."
Amira berdiri dan berjalan mondar-mandir di kamar. Napasnya cepat. Bayangan sentuhan Raka yang dulu selalu membuatnya lemah muncul tanpa diundang tangan besarnya di pingangnya, bisikan di telinga, cara ia menatapnya seolah Amira adalah satu-satunya wanita di dunia. Ia membenci dirinya sendiri karena masih bisa teringat itu semua dengan begitu jelas.
"Aku beri kamu waktu sampai malam ini untuk memutuskan," kata Raka sebelum menutup telepon.
"Aku tunggu balasanmu."
Amira menatap ponselnya dengan tangan gemetar. Dadanya naik turun dengan hebat. Ia berjalan ke cermin rias, menatap wajahnya sendiri. Mata yang sembab, bibir yang pucat, rambut yang sedikit berantakan. Tapi di balik itu, masih ada api. Api yang seharusnya sudah mati sejak lama.
"Dua malam..." gumamnya pelan. Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya. Kenangan banjir kembali.
Malam pertama mereka di apartemen ini, Raka menggendongnya melewati pintu sambil tertawa. Liburan ke Danau Toba di mana mereka berjanji akan selalu bersama. Tapi juga malam-malam dingin saat Raka pulang larut dan mereka tidur membelakangi satu sama lain.
Amira tidak tahu bahwa menerima tawaran gila itu akan mengubah segalanya. Bukan hanya dua malam, melainkan awal dari badai perasaan yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Amira tidur dengan gelisah.
Dalam mimpinya, ia kembali berada di pelukan Raka pelukan yang panas, posesif, dan penuh bahaya. Dan ia takut, ia menikmatinya.