Malam itu terasa panas dan tak berujung, seolah waktu berhenti hanya untuk mereka berdua. Tubuh Amira masih bergetar hebat setelah gelombang demi gelombang kenikmatan yang melanda tanpa henti. Keringat mereka bercampur, napas keduanya tersengal-sengal, saling bertautan di atas ranjang king size yang sudah kusut tak berbentuk.
Raka tidak langsung melepaskan pelukannya. Ia masih berada di atas Amira, tangannya memegang pinggul wanita itu dengan kuat seolah takut Amira akan lenyap jika dilepaskan bahkan sedetik saja.
“Jangan berhenti…” bisik Amira tanpa sadar, suaranya parau dan hampir tak dikenali. Kata-kata itu keluar begitu saja, mengkhianati segala akal sehat yang tersisa di benaknya.
Raka tersenyum tipis di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu tidur redup. Matanya gelap, penuh nafsu yang belum padam.
“Aku tidak berniat berhenti malam ini,” jawabnya dengan suara rendah yang menggetarkan. Ia mencium Amira lagi, kali ini lebih dalam, lebih penuh tuntutan, seolah ingin menyatukan jiwa mereka yang sudah lama terpisah. Tangan Raka menjelajahi setiap lekuk tubuh Amira dengan penuh kerinduan bukan sekadar hasrat fisik, tapi juga kenangan yang selama ini ia pendam. Amira mengerang pelan ketika Raka kembali membawanya ke puncak dengan gerakan yang intens dan penuh gairah.
Ranjang besar itu bergoyang mengikuti irama mereka yang semakin cepat, seolah ikut merasakan badai emosi yang melanda.
“Raka…” nama itu keluar dari bibir Amira seperti doa sekaligus kutukan. Nama yang dulu ia ucapkan dengan penuh cinta, kini terasa pahit-manis di lidahnya.
Raka membalik tubuh Amira dengan mudah, membuatnya berlutut di atas ranjang. Ia memeluk Amira dari belakang, d**a bidangnya menempel erat di punggung wanita itu.
Gerakan mereka semakin liar, penuh emosi yang terpendam. Amira mencengkeram seprai hingga buku jarinya memutih, mencoba menahan gelombang sensasi yang hampir membuatnya kehilangan kendali diri.
“Katakan kamu masih menginginkanku,” desis Raka di telinga Amira sambil terus bergerak, suaranya kasar penuh tuntutan.
Amira menggigit bibirnya kuat-kuat, menolak menjawab. Tapi tubuhnya berkhianat. Ia mendorong pinggulnya ke belakang, menyambut setiap momen kebersamaan mereka dengan hasrat yang tak bisa disembunyikan lagi.
Malam itu mereka melanjutkan di berbagai sudut apartemen di ranjang, di sofa ruang tamu saat Amira mencoba mengambil napas, bahkan sebentar di balkon dengan angin malam Jakarta yang sejuk menyapu kulit mereka yang panas.
Setiap kali Amira pikir ia sudah tak sanggup lagi, Raka selalu berhasil membangkitkan api di dalam dirinya kembali. Pria itu seolah masih mengingat semua titik lemah Amira, setiap sentuhan kecil yang membuatnya meleleh, setiap bisikan di telinga yang membuat bulu kuduknya berdiri. Bukan hanya tubuh yang bertemu, tapi juga hati yang lama terluka saling mencari penyembuhan sementara.
Pukul 03.17 dini hari, mereka akhirnya tregeletak di ranjang dengan tubuh lelah dan basah keringat. Amira berbaring menyamping, punggungnya menghadap Raka. Ia merasa hancur sekaligus hidup kembali setelah sekian lama mati rasa. Air mata diam-diam mengalir di pipinya, membasahi bantal. Campuran bahagia, penyesalan, dan kebingungan membuat dadanya sesak.
Raka mendekat dari belakang, memeluk pinggang Amira erat. Bibirnya mengecup bahu telanjang Amira dengan lembut, kontras dengan intensitas yang baru saja mereka lewati.
“Kamu menangis?” tanya Raka pelan, suaranya penuh perhatian. Amira tidak menjawab segera. Ia hanya menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi d**a.
“Kenapa kita harus seperti ini, Raka?” bisiknya akhirnya dengan suara serak.
“Kenapa kita tidak bisa berpisah dengan baik? Kenapa harus menyiksa diri dengan cara seperti ini?”
Raka diam lama, napasnya hangat di tengkuk Amira.
“Karena kita berdua terlalu bodoh untuk melepaskan satu sama lain,” jawabnya jujur.
“Aku mencoba melupakanmu, Amira. Sungguh. Tapi setiap malam aku ingat bagaimana kita dulu tertawa di apartemen ini, bagaimana kamu memelukku setelah hari yang berat, bagaimana kita saling melengkapi. Aku banyak salah terlalu sibuk kerja, terlalu egois, tak mendengarkan keluh kesahmu. Tapi kamu… kamu juga menutup diri. Kita sama-sama membiarkan retak ini semakin lebar.”
Amira memejamkan mata. Kata-kata Raka menyentuh luka lama yang belum sembuh.
“Kamu selalu pandai mencari alasan. Dulu kamu bilang pekerjaan lebih penting. Sekarang kamu ingin dua malam ini seolah itu bisa memperbaiki segalanya.”
“Bukan memperbaiki,” sahut Raka lembut. “Hanya mengucapkan selamat tinggal dengan cara yang paling jujur. Aku ingin kamu ingat bahwa dulu kita pernah sangat bahagia. Sebelum semuanya rusak.”
Mereka terdiam lama, hanya suara AC dan detak jantung yang terdengar. Amira membenci diri sendiri karena merasa nyaman di pelukan Raka. Padahal besok pagi ia harus kembali menjadi Amira yang dingin, kuat, dan siap memulai hidup baru tanpa pria ini.
Pagi harinya, Amira terbangun karena aroma kopi yang harum. Ia membuka mata perlahan dan mendapati Raka sudah rapi dengan kemeja putih dan celana bahan gelap. Pria itu meletakan secangkir kopi latte di meja samping ranjang, persis seperti yang Amira sukai.
“Minum dulu. Aku antar kamu ke kantor nanti,” kata Raka dengan suara tenang, seolah malam tadi hanyalah mimpi.
Amira duduk, menarik selimut menutupi d**a telanjangnya. Tubuhnya terasa pegal di mana-mana. Bekas sentuhan Raka masih terasa di leher, bahu, dan pinggulnya bukan luka, tapi pengingat yang membuat wajahnya panas.
“Aku bisa pulang sendiri,” jawab Amira dingin, mencoba memasang tembok kembali. Raka menatapnya lama, matanya penuh pertanyaan.
“Kamu menyesal?” Amira tidak langsung menjawab. Ia mengambil kopi dan menyesapnya pelan. Rasa pahit kopi itu entah kenapa terasa manis pagi ini, seolah malam tadi meninggalkan jejak di setiap indranya.
“Aku tidak tahu,” jawabnya jujur.
“Semalam… aku merasa seperti orang lain. Seperti Amira yang dulu, yang masih percaya pada kita.”
Raka duduk di tepi ranjang. Tangan nya terulur menyentuh pipi Amira dengan lembut, ibu jarinya mengusap sisa air mata kering.
“Itu bukan orang lain. Itu kamu yang sebenarnya. Kamu yang selama ini kutahan karena takut terluka lagi.”Amira menepis tangan Raka pelan tapi tegas.
“Jangan mulai romantis, Raka. Ini hanya dua malam. Ingat kesepakatan kita. Setelah ini, kita asing.”
Raka tersenyum sinis, tapi ada kesedihan di matanya.
“Kamu bisa bohong ke diri sendiri, tapi tubuhmu tidak bisa berbohong semalam. Kamu memanggil namaku, Amira. Kamu memelukku seolah tak ingin melepaskan.”
Amira merasa wajahnya semakin panas. Ia ingat betapa rapuhnya ia semalam—mengerang nama Raka, memohon lebih, bahkan menangis di tengah kehangatan pelukan pria itu. Semua itu membuatnya malu sekarang, tapi juga membuat hatinya berdenyut aneh.
Setelah mandi dan berganti pakaian kerja yang dibawanya, Raka mengantar Amira ke kantor.
Sepanjang perjalanan mereka diam, tapi suasana di dalam mobil penuh ketegangan yang belum hilang. Tangan Raka sesekali menyentuh paha Amira sekilas saat berganti gigi, seolah tak sanggup melepaskan kontak sama sekali. Amira menatap keluar jendela, berusaha mengendalikan pikirannya yang berantakan.
Saat tiba di depan gedung kantor PT. Graha Sejahtera, Raka memegang tangan Amira sebelum ia turun. Genggamannya hangat dan kuat.
“Malam ini aku jemput lagi,” kata Raka tegas, tak memberi ruang penolakan.Amira menarik tangannya.
“Kamu terlalu yakin.”
“Aku tahu kamu akan datang,” balas Raka dengan senyum tipis yang penuh keyakinan.
“Karena api ini belum padam, Amira. Untuk kita berdua.”
Amira keluar dari mobil tanpa menjawab. Tapi saat ia berjalan menuju lobi kantor, kakinya terasa lemas. Tubuhnya masih mengingat setiap sentuhan, setiap bisikan, setiap momen keintiman semalam. Ia merasa seperti pengkhianat terhadap dirinya sendiri.
Di dalam kantor, Revan sudah menyambutnya dengan senyuman cerah seperti biasa, membawa kopi latte hangat.
“Pagi, Amira. Kamu… baik-baik saja?” tanya Revan sambil memperhatikan wajah Amira yang sedikit pucat dan kantung mata yang tersamarkan makeup.Amira memaksakan senyum.
“Baik. Kenapa memangnya?”
“Kamu kelihatan… berbeda hari ini. Ada sesuatu yang menganggu? Kalau butuh teman curhat, aku selalu ada,” kata Revan lembut, matanya penuh perhatian tulus. Amira hanya mengangguk dan langsung menuju meja kerjanya. Ia duduk dan menatap layar komputer yang masih kosong. Tubuhnya masih terasa panas setiap kali kilasan malam tadi muncul di benaknya. Revan adalah pria baik, stabil, dan jelas menyukainya. Tapi mengapa hatinya justru kembali ke Raka yang penuh badai ini?
Sepanjang hari, Amira berusaha fokus pada presentasi dan meeting. Tapi pikirannya selalu melayang. Ia membayangkan malam kedua yang akan datang. Takut, tapi juga gelisah menantikan.
Api yang tak terpadamkan ini sudah mulai membakar segala akal sehatnya.
Malam ini masih ada satu malam lagi. Dan Amira takut sangat takut ia sudah tidak sanggup menolak. Atau bahkan, ia tak lagi ingin menolak.