Amira menatap layar ponselnya dengan tangan yang gemetar hebat. Pesan dari Raka sudah masuk sejak dua jam yang lalu, tapi ia masih belum membalas. Jari-jarinya berkali-kali mengetuk layar, mengetik balasan, lalu menghapusnya lagi. Raka: Turun sekarang. Aku di bawah. Kalau kamu tidak keluar dalam sepuluh menit, aku naik. Jantung Amira berdegup kencang, seolah ingin keluar dari dadanya. Ia baru saja pulang dari kantor. Jaket kerja masih tersampir di bahu, sepatu hak masih di kaki, dan rambutnya sedikit berantakan karena angin di jalan. Tubuhnya lelah, tapi yang lebih menguras tenaga adalah kekacauan di dalam hatinya. Semenjak dua malam yang mereka sepakati, setiap pertemuan dengan Raka selalu berakhir sama: tubuhnya menyerah lebih dulu, lalu hatinya semakin retak. Ia mencoba menjauh, me

