Daripada ‘tergores’, apa yang terjadi sebenarnya adalah ‘menggoreskan diri’. Julian dengan sengaja mundur agar terkena salah satu ranting tanaman yang cukup tajam. Walau sayangnya goresan yang dihasilkan hanya sepanjang 5 senti.
“Paling nggak keluar darahnya,” batin Julian.
Itulah tujuan Julian yang sebenarnya. Dia pikir bahwa dengan melukai dirinya akan dapat mendapatkan perhatian Darsih. Seperti halnya vampir yang ada di dalam cerita fiksi, Julian begitu yakin bahwa Darsih juga tertarik dengan darah.
Harapannya meninggi saat kemudian Darsih datang mendekatinya. Dan sekarang, jarak mereka tidak lebih dari setengah meter.
Sudah terbayangkan di kepalanya apa yang akan terjadi setelah ini. Jantungnya terpacu begitu cepat memikirkan hal tersebut.
“ADAW!!”
Teriakan Julian terdengar lebih keras dari sebelumnya. Desisan dia keluarkan untuk menahan rasa sakit yang disebabkan oleh tendangan maut Darsih yang berhasil memperparah luka di kakinya.
“Mau lagi?” tanya Darsih dengan tatapannya yang begitu datar.
Bulu kuduk Julian seketika merinding dibuatnya. Segera dia menggelengkan kepalanya berkali-kali, mengisyaratkan bahwa dia tidak mau lagi ditendang.
“Oh, OK. Bilang-bilang ya, kalau mau ditendang lagi.” kata Darsih yang kemudian berbalik meninggalkan Julian yang masih memegangi kakinya yang terasa perih.
“Gila! Sampe merah gini.” gumamnya lirih.
Salah sendiri dia menantang vampir veteran.
...
Kejadian pagi itu tidak juga membuat Julian kapok. Dia masih menunggui Darsih untuk keluar dari rumahnya. Tapi, bukannya tepat di depan gerbang, melainkan hanya di dudukan terasnya saja.
Dia sudah belajar dari pengalaman. Lebih baik dia pelan-pelan saja mendekatinya, daripada harus mengorbankan kakinya.
Pagi itu, Julian tidak tahu kalau dia masih beruntung, karena Darsih tidak menggunakan penuh tenaganya. Jika Darsih menendang Julian sekuat tenaga, mungkin sekarang kakinya sudah tidak lagi berbentuk.
‘Cklek!’
Gerbang rumah Darsih tiba-tiba terbuka dan sebuah mobil keluar dari sana. Kemudian, di belakang mobil tersebut seorang gadis berlari dengan tergesa-gesa. Dari jarak pandang Julian pun bisa terlihat betapa seriusnya wajah Darsih.
“Vampir liar sialan! Padahal lagi enak-enak nonton drama korea!” protesnya keras.
Perempuan berambut putih itu bahkan sampai menggebrak pintu mobilnya dengan kasar saking kesalnya.
Julian yang memperhatikan adegan itu pun terlojak. Istilah ‘vampir liar’ begitu menarik perhatian Julian. Dengan sigap dia masuk ke dalam rumah dan mengambil jaket dan kunci motornya. Kemudian, dia ikut menyusul mobil Darsih yang sudah lebih dulu berangkat.
Mobil itu menyusuri jalanan perumahan, kemudian melewati jalan besar yang tidak terlalu ramai. Sekitar satu jam kemudian, mobil itu pun berhenti di depan sebuah rumah susun yang bangunannya cukup tua.
“Di Ibu Kota ada juga yang kayak gini toh. Serem amat.” gumam Julian saat melihat betapa suramnya bangunan tersebut dan daerah sekelilingnya.
Bisa dibilang, daerah tersebut cukup kumuh. Banyak sekali sampah di mana-mana. Bangunannya juga banyak yang reyot dan tidak layak huni. Padahal, seperti yang tadi Julian katakan, daerah itu masih berada di wilayah Ibu Kota. Selain itu, melihat banyaknya rokok dan botol miras yang bertebaran, bisa diduga bahwa daerah ini juga tidak aman.
Seutas kenangan pun terlintas di kepala Julian. Bukan kenangan baik, bukan juga kenangan buruk. Di sana dia kehilangan dua orang yang seharusnya menjadi penopang hidupnya. Namun, di sana jugalah dia bertemu dengan Darsih untuk pertama kali.
Ya. Orientasi mahasiswa hari itu bukanlah kali pertama Julian bertemu dengan Darsih, melainkan jauh sebelum itu.
Entah Darsih masih mengingatnya atau tidak, namun hari itu, Julian yang masih berusia 7 tahun tidak pernah melupakan sosok Darsih yang menolongnya dari kematian.
“Untuk apa mereka masuk ke dalam rusun itu?” pikir Julian saat melihat dua wanita beda generasi itu masuk ke dalam gedung lima tingkat yang ada di hadapannya.
Setelah memastikan keamanan motornya di depan sebuah ruko, Julian lalu mengikuti Darsih dan Maya. Dengan langkah mengendap-endap, dia terus memperhatikan dua orang itu agar tidak kehilangan jejak.
“Untuk apa dia ke sini... Ck!” gerutu Darsih yang merasakan keberadaan Julian di belakangnya.
“Apa sasaran kita ada di sekitar sini?” tanya Maya.
“Bukan. Cuekkan saja!” kata Darsih.
Darsih memutuskan untuk tidak mempedulikan Julian. Dia berpikir, mungkin dengan ini Julian akan menyerah dan tidak lagi mau mendekatinya. Darsih yakin bahwa apa yang akan dia perlihatkan hari ini, pasti akan membuat Julian mundur.
“Semua penghuni lain sudah dievakuasi kan?” tanya Darsih yang diberi anggukan oleh Maya.
Menurut prediksinya, misi mereka kali ini akan cukup brutal. Darsih tidak ingin ada orang lain yang terlibat dan menjadi korban nantinya. Karena itu, dengan bantuan Maya dan tim-nya rusun ini pun dikosongkan.
Sementara itu, Julian juga mulai melirik ke kanan dan kirinya yang begitu sepi. Dia begitu heran dengan keadaan rusun yang serba gelap. Padahal jelas sekali bahwa rusun ini berpenghuni. Dia memastikannya dari banyaknya rak sepatu di luar masing-masing unit dan sepeda yang terparkir. Lampu tiap unitnya juga menyala, membuat bagian dalam unit lebih terlihat dari luar jendela.
“AAARRGGH!!!”
Suara erangan seorang pria mengagetkan mereka bertiga. Erangan itu begitu keras, sampai-sampai Julian berpikir bahwa sumber suara ada di atas kepalanya.
“Sudah kumat ternyata. Berikan kerisku!” perintah Darsih pada Maya.
Kemudian, dari dalam tas yang dia bawa Maya mengeluarkan dua bilah keris dan menyerahkannya pada Darsih. Setelah itu, Darsih mempercepat langkahnya menuju ke sumber suara.
Melihat dua bilah keris di tangan Darsih, mata Julian pun semakin berbinar-binar. Dia begitu tidak sabar untuk melihat aksi Darsih yang sudah lama tidak dia lihat. Pemuda itupun ikut memacu langkahnya.
“Cepat sekali. Apa ini kekuatan vampir?” batin Julian.
Dia mulai terengah-engah mengejar Darsih. Padahal dia sudah mengeluarkan kemampuan parkour yang dia pelajari sejak SMA hanya untuk kesempatan ini. Maya saja sampai kaget melihat Julian yang dengan cepat menaiki tangga-tangga gedung seperti yang tadi Darsih lakukan.
Selang beberapa menit kemudian, Darsih berhenti di satu-satunya unit rusun yang lampunya mati. Tak jauh dari sana, Julian juga menghentikan langkahnya.
Darsih lalu mencoba membuka pintu unit itu, namun tidak bisa. Pintu itu dikunci rapat dari dalam.
“Mau gimana lagi.”
‘BRAKK!’
Darsih menghancurkan pintu di hadapannya dengan sekali tendang. Pintu itupun sudah tidak berbentuk.
Melihat itu, seketika Julian bergidig. Benar ternyata, tendangan Darsih tadi pagi tidaklah seberapa. Kalau dia lebih macam-macam lagi waktu itu, nasib kakinya pasti akan sama dengan pintu tadi.
“AAARRRGGGHHH!!!”
Erangan itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas.
“Ya, Tuhan. Sial sekali nasib orang ini.” ujar Darsih saat dia menemukan targetnya.
Julian yang melihatnya dari luar rumah pun sampai menutup mulut dan hidungnya saking terkejutnya. Dia benar-benar tidak menyangka akan menemukan situasi yang begitu mirip dengan yang dulu pernah dia alami.
Tadinya, Darsih kira vampir liar yang akan dihadapinya masih berbentuk normal. Tetapi, yang dia dapati adalah seorang pria kurus dengan kerusakan parah di sebagian tubuhnya. Bau busuk juga sudah merebak ke mana-mana. Artinya, pria ini baru terpapar virus setelah mendapatkan luka-luka itu.
Virus vampir atau VVP-00, seperti halnya virus-virus lain, menyerang sistem imun tubuh. Semakin lemah imun seseorang, maka virus pun semakin sulit terkendali.
Pria itu memiliki luka yang cukup parah di sekujur tubuhnya. Darsih yakin bahwa sebelum ini dia sudah sakit cukup parah. Mungkin tetanus atau bisa juga karena penyakit gula. Itu membuat Darsih bertanya-tanya, dari mana pria ini terpapar virus paling gila di dunia itu.
Setelah lama memperhatikan, akhirnya pria itu menyadari keberadaan Darsih. Mata kemerahannya melotot memperhatikan Darsih, namun bibirnya melengkung secara berlebihan, memunculkan ekspresi yang begitu sulit ditebak.
“Aku datang buat ilangin rasa sakitmu. Kalau kamu gak pengin lebih sakit lagi, mendingan nurut. Biarin aku cepet-cepet selesain tugas.”
Nampaknya pria itu tidak mempedulikan gertakan Darsih. Tidak hanya itu, dia sudah tidak mengerti ucapan apapun yang Darsih katakan. Pria itu hanya terus memperhatikan Darsih dengan tatapan memburu, seakan mencari kesempatan untuk menerkamnya.
Lalu, merasa Darsih tak kunjung maju, pria itu meraih sebuah botol kaca dan melompat pada Darsih.
Dengan sigap Darsih menghindari terkaman pria itu. Kini pria itu tersungkur dengan botol yang akhirnya pecah di tangannya.
Merasa ini adalah kesempatan, Darsih pun mendekat sambil mengacungkan dua keris di kedua tangannya untuk menikam. Sayangnya, pria itu sudah lebih dulu terbangun. Dia menendang Darsih hingga perempuan itu terbanting ke ujung tembok.
‘JDUAGH!’
Julian segera masuk ke dalam unit rusun untuk membantu Darsih. Tapi, itu hanya membuatnya menjadi sasaran baru si vampir liar.
Pria itu beralih menyerang Julian dan memberikannya pukulan di perut. Untungnya, Julian berhasil menahan pukulan tersebut dengan telapak tangannya.
“Akhirnya dateng juga kesempatan buat nunjukin keahlian bela diri gue. Hyaaatt!” seru Julian.
‘KREK!’
Seketika lengan si vampir liar mengalami dislokasi berkat pelintiran Julian. Darsih yang berusaha berdiri pun sampai terkejut dengan kemampuan Julian yang tidak dia kira.
“GRAAAHH!!” erang si vampir liar lagi sambil memegangi lengannya.
‘Krack!’
Lagi-lagi terdengar bunyi tulang yang saling bergesekan. Namun, kali ini si vampir sendirilah yang membunyikan lengannya itu untuk memperbaikinya ke lokasi semula.
“Wah! Lo kayaknya lebih jago dari tukang urut dekat rumah kakek gue.”
Darsih mengeplak dahinya. Dia tak habis pikir, bisa-bisanya Julian masih bercanda dalam situasi seperti ini.