Kesialan Darsih

1325 Words
Sewajarnya pria yang sedang jatuh cinta, selama dua hari ini Julian terus mencari informasi tentang Darsih. Bahkan dia sampai mencoba menyuap dosen dan pegawai bagian administrasi fakultas. Walau sayangnya, dia gagal. Di saat seperti ini, Julian begitu merutuki keputusannya untuk masuk di kampus yang seketat ini. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk pulang ke rumah lamanya di daerah Blok X yang sudah sebulan ini dia tinggal karena bosan. Begitulah, pindah-pindah rumah adalah hal yang sangat biasa bagi Julian. Namanya juga orang berduit. Meskipun dia seorang yatim piatu, bukan berarti Julian terlantar. Semenjak orangtuanya meninggal dunia saat masih berusia 9 tahun, dia diasuh oleh paman dan bibinya yang tidak memiliki keturunan. Kemudian, karena hal yang misterius 5 tahun yang lalu, paman dan bibinya juga meninggal dunia. Setelah itu dia ikut dengan kakek yang ternyata adalah seorang pengusaha multinasional pemilik AD Group. Begitu ikut dengan kakeknya, sambil mengenyam bangku SMA, Julian menerima pendidikan untuk dijadikan penerusnya. Dia masih ke kelas akselerasi, sehingga bisa lebih cepat mengenyam bangku universitas. Julian pun masuk ke universitas jurusan bisnis dan manajemen dan selesai dalam waktu kurang dari 4 tahun. Tetapi kemudian, kakeknya itu meminta agar Julian lebih sering bersosialisasi. Karena, selama ikut dengan sang kakek, Julian sama sekali tidak pernah terlihat memiliki sahabat atau sekedar teman akrab. Jadilah sekarang Julian kembali kuliah di jurusan yang lumayan melenceng, yaitu PGSD. Selama kuliah di universitas yang baru ini, sang kakek memberi misi. Jika dalam kurun waktu 3 tahun dia tidak memiliki pacar, sang kakek tidak akan memberikan warisan apapun. Tidak terlalu masalah sebetulnya untuk Julian. Tapi, berhubung dia tidak memiliki cita-cita atau tujuan hidup yang jelas, Julian merasa tidak ada salahnya untuk menerima tantangan itu. Dan ternyata pilihannya tepat. Berkat kesediaannya itu, sekarang dia bisa bertemu dengan Darsih. Kini dia justru sangat berterima kasih pada kakeknya. Lalu, keberuntungan seakan datang bertubi-tubi padanya. Begitu pulang ke rumah yang ada di Blok X, tanpa sengaja dia malah bertemu dengan Darsih yang mau pergi ke suatu tempat. “Kamu tetangga baruku, toh. Semoga betah, ya.” ujar Julian sore itu. Disapa begitu oleh orang yang tidak diinginkan, mata Darsih pun seketika membola. Tatapan penuh curiga dia lemparkan pada Julian. “Jangan-jangan, dia menguntitku sampai sini?” pikirnya. Tapi kemudian, seorang tetangga lain berjalan dan berhenti di dekat mereka berdua dan menyapa Julian. “Loh, Mas Jul udah balik ke sini ternyata. Apa kabar, Mas?” Kepada anak laki-laki berseragam putih abu-abu itu Julian menjawab, “Baik, Sam. Kamu gak mampir? Ada game PS5 baru, loh. Pasti kamu suka.” “Spider-man yang baru keluar itu bukan?” tebak anak bernama Sam itu. “Bingo! Bener banget.” sahut Julian sambil menjetikkan jarinya. “Wah, asyik! Ntar malem aku mampir, Mas!” Sam bersemangat. “Sip, Mas tunggu.” Setelah itu, Sam bergegas ke rumahnya. Dengan ini, kecurigaan Darsih pun lenyap. Dia benar-benar tanpa sengaja telah pindah ke rumah yang tidak seharusnya. Sialnya lagi, rumah mereka berdua saling berhadapan dan hanya dibatasi oleh jalan selebar 4 meter. “Sih, kok kamu belum masuk mobil? Kita sudah ditunggu, loh.” ujar Maya mengingatkan. Julian pun memberikan senyum terbaiknya pada Darsih. Namun, gadis itu merasa bahwa itu adalah senyum meledek. Dengan melihatnya saja sudah membuat emosi naik ke ubun-ubun. “Ya, Ma! Bentar!” seru Darsih yang kemudian masuk ke dalam mobil menyusul Maya. Meskipun mobil yang Darsih tumpangi telah melaju, senyum Julian belum juga luntur. Di benaknya, dia membayangkan hari-harinya yang akan menyenangkan nanti. Dia juga begitu optimis akan dapat menyelesaikan tantangan dari kakeknya. “May, aku mau pindah dari perumahan itu. Segera.” tegas Darsih. “Sebetulnya agak sulit. Saya akan usahakan, tapi tolong beri saya waktu.” jawabnya. Dalam hati Maya penasaran dengan keputusan Darsih yang begitu tiba-tiba. Namun, berdasarkan SOP-nya, Maya dilarang menanyakan keputusan Darsih. Dia hanya boleh menjawab ‘bisa’ atau ‘saya usahakan’. Karena itu, meskipun enggan Maya tetap melaksanakan perintah Darsih, entah sampai kapan. “Oh, iya. Tentang vampir liar itu, sepertinya Agus sudah mulai menemukan titik terang tentang keberadaannya.” lapor Maya. “Baguslah. Kalau begitu, aku bisa segera menyelesaikan tugas ini.” tanggap Darsih sambil memperhatikan pemandangan di luar mobil. Vampir liar yang Maya maksud adalah orang-orang yang terpapar virus vampir atau VVP-00 seperti Darsih. Namun, karena sistem kekebalan tiap manusia berbeda-beda, ada beberapa orang yang terpaksa menderita karena virus tersebut. Gejala paling mengerikan dari penderita virus adalah gangguan jiwa saking sakit yang badan mereka terima. Mereka akan mengamuk dan menyerang siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Dan lagi, mereka juga haus akan darah, karena semenjak virus itu masuk ke dalam tubuh mereka, hanya darahlah yang bisa menenangkannya. Kebanyakan dari para vampir liar tersebut tidak dapat mempertahankan kesadaran mereka. Jika terus dibiarkan, bisa-bisa mereka akan mengganggu dan melakukan hal-hal buruk yang tidak diinginkan, misalnya pengeksekusian orang yang tidak bersalah. Apabila sudah terlanjur, satu-satunya jalan yang bisa ditempuh hanya satu, yaitu dengan melenyapkan vampir liar tersebut untuk selama-lamanya. “Lalu...” Dahi Darsih mengerut. “Kenapa?” tanyanya. “Pusat sepertinya akan mengurangi pasokan darah gajah mulai minggu depan.” Seakan tersambar geledek, tubuh Darsih bergetar. Matanya yang bulat itu bahkan sampai mengeluarkan air mata. “Kenawhy...?” Sebagai asisten yang sudah bertahun-tahun hidup bersama Darsih, dia tahu betul betapa sukanya... bukan, tapi betapa cintanya Darsih dengan darah gajah. Tidak bisa makan makanan yang disukai tentu akan sangat menyedihkan. Dengan berat hati, Maya menjawab, “Kemarin mereka ketahuan aktivis penyayang binatang, jadi sekarang mereka sangat hati-hati. Anda pasti paham, bagaimana kalau kegiatan kita diunggah ke medsos. Bisa kalah kita kalau lawan netizen. Bukannya minum darah gajah, yang ada Anda tidak bisa minum darah apa-apa lagi.” “Perasaan aku cuma minta darahnya deh, bukan nyawa gajah. Masa tidak boleh... hiks... sial banget aku hari ini. Mana jadi tetanggaan sama anaknya Adrian pula.” Darsih sudah menceritakan tentang Adrian pada Maya. Jadi, Maya tahu sebenci apa Darsih pada pria yang pernah merebut hatinya itu. Dia juga diberitahu soal Julian beberapa saat lalu. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Darsih yang campur aduk saat ini. Maya mendengus kasar. Dia merasa harus melakukan sesuatu sebelum terjadi hal mengerikan yang Darsih lakukan. Lalu, diapun teringat sesuatu. “Tapi, kalau Anda mau, saya bisa minta pusat untuk menambah pasokan darah rubah. Lalu, hari ini juga kan kita dikasih darah dugong.” katanya. Seketika mata Darsih menjadi lebih berbinar-binar. Makanan lain yang dia sukai, mana mungkin dia lewatkan. “Sip! Kalau gitu, aku minta juga darah orca dibanyakin, ya!” request Darsih ngelunjak. Biarlah. Memangnya apa yang bisa Maya lakukan selain menjawab, “Akan saya usahakan.” Hari ini adalah jadwal pengambilan makanan Darsih. Setelah ini dia juga harus pergi ke lab untuk pengecekan kesehatan. Tidak terlalu penting sebetulnya, tapi pengecekan ini memang rutin dilaksanakan untuk penelitian VVP-00 yang sampai saat ini masih dilakukan. ... Hari-hari berikutnya, Darsih masih harus bersabar. Maya belum juga mendapatkan rumah baru yang cocok untuknya. Selain itu, Maya juga berkata bahwa pemerintah kota terlanjur mengontrak rumah yang saat ini mereka tinggali selama 6 bulan. Jadi, uang pun sulit keluar dari sana jika tidak ada alasan yang benar-benar penting. Kemudian, satu hal lagi yang menguji kesabaran Darsih. Siapa lagi kalau bukan Julian. Pemuda itu nampaknya benar-benar berniat untuk membuat Darsih kesal. Pasalnya, setiap pagi dia selalu berdiri di depan gerbang rumahnya sambil menatap Darsih yang tengah membersihkan halaman rumahnya. Ya, Darsih membersihkan rumahnya sendiri. Ini juga merupakan hal yang dia sesali. Seharusnya dulu dia minta diberikan ART dan tukang kebun juga, tidak hanya satu asisten saja untuk membantu keperluan sehari-hari dan menyempurnakan penyamarannya. “Aku udah selesai nih nyapunya. Kamu mau kubantu nyapu gak?” tawar Julian tulus. Darsih hanya meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada kegiatannya. Dia tidak ingin terdistraksi oleh Julian yang sedari tadi terus memperhatikannya. “Kok diem aja? Mau gak?” Darsih masih cuek. Tetapi, Julian juga belum menyerah. “Adaw!” pekik Julian sambil memegangi kakinya yang tergores ranting tanaman hias di dekatnya. Mencium aroma yang familiar di hidungnya, Darsih sekali lagi melirik Julian. Melihat itu, Julian pun memiringkan bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD