Minta NomorHP

1278 Words
Saat Julian membuka matanya, pemandangan pertama yang dia lihat adalah langit-langit berwarna putih dan cahaya lampu yang begitu terang. Dia perhatikan baik-baik sekelilingnya, untuk memastikan di mana dia berada saat ini. “Hotel? Atau… rumah sakit?” batinnya saat melihat ke sekelilingnya. Ruangan tempatnya berada saat ini cukup mewah. Kasurnya terbuat dari busa premium berukuran queen size, tidak seperti rumah sakit pada umumnya. Tapi, jelas sekali bahwa dia sedang berada di rumah sakit, setelah melihat pintu dan tulisan nama rumah sakit itu di sana. Dugaan itu diperkuat dengan tertancapnya selang infus di lengan kanannya. “Hape mana, ya?” gumamnya seraya mencari benda paling crucial bagi manusia modern itu. “Oh, di sini.” Dia ambil ponsel miliknya di atas nakas di sebelah tempat tidur. Kemudian, dia periksa widget jam dan kalendernya. Tertulis di sana tanggal 25 Juli 20xx pukul 16.00, artinya sudah lebih dari sehari dia terbaring di rumah sakit. Julian termenung sejenak. Dengan kepala yang masih cukup pening, dia paksakan otaknya untuk mengingat-ingat kejadian yang terakhir kali dia alami sebelum pingsan. “Syukurlah udah bangun.” Seorang perempuan muda muncul dari balik pintu. Di tangannya terdapat sebuah keresek berisi dua kotak sususapi berukuran 250ml dan roti manis dari merk bakery yang cukup terkenal. Melihat kedatangannya, Julian terpaku tanpa tahu harus berkata maupun melakukan apa. Perlahan ingatan Julian tentang kejadian yang melibatkan gadis itu sebelumnya pun kembali. Rasanya sungguh tidak ingin dia percaya, namun itulah yang terjadi. Darsih, si gadis berambut putih ini telah melakukan hal di luar nalar. “Aku gak akan ngelakuin itu lagi. Tenang aja.” ujar Darsih berusaha menenangkan. Dibandingkan kemarin, Darsih memang nampak lebih normal. Wajahnya juga tidak sepucat kemarin. “Terus, soal kemarin… aku… saya benar-benar minta maaf. Mungkin sulit, tapi saya harap Kak Julian bisa melupakan kejadian kemarin.” Suara Darsih terdengar gugup. “Kamu kenal saya?” tanya Julian yang sudah sadar lamunannya. Darsih menganggukkan kepalanya. “Kakak pasti takut sama saya kan? Sebagai tanda maaf, saya sudah membayarkan seluruh administrasi Kak Julian di sini. Setelah ini, saya berjanji tidak akan mendekati Kak Julian lagi.” Ruangan semewah ini sudah pasti mahal. Darsih yang jarang mengeluarkan uang saja merasa berat merelakan uangnya. Tapi, semua demi keamanannya. Darsih sendiri sangat menyesal telah menggigit manusia yang tidak bersalah walaupun saat itu dia tidak terlalu sadar dengan perbuatannya. Padahal dia sudah berprinsip untuk tidak mengambil darah manusia secara langsung. Berdasarkan pengalaman hidupnya selama ratusan tahun, menghisap darah manusia secara langsung akan berakibat sangat fatal. Yang paling dia ingat adalah saat dia dikucilkan oleh warga dan dianggap monster. Saat itu, mau makan secara normal saja membuatnya kesulitan. Darsih juga jadi tidak bisa punya uang, karena tidak ada yang mau berbisnis dengannya. Akhirnya, dia harus pindah tempat tinggal. Sekarang hidup Darsih sudah jauh lebih nyaman dibandingkan waktu itu. Tetapi, zaman telah berubah. Karena hal seperti ini, jika Darsih kurang beruntung, akan ada orang lewat yang akan merekamnya. Jika rekaman itu diunggah di internet dan menjadi viral, maka ke manapun Darsih pergi akan ada orang yang akan membicarakannya. Kalau hal itu terjadi, mau di mana lagi Darsih harus tinggal? Darsih sangat berharap dengan kompensasinya ini Julian akan tutup mulut dan menjauh darinya. Biarlah satu orang membencinya, asalkan cerita tentang ke-abnormal-annya bisa tenggelam. Selain itu, masih ada satu hal lagi yang membuat Darsih harus terpisah dari Julian. “Kamu kayaknya punya alasan kenapa melakukan hal itu.” Darsih terdiam. Dia berpikir bahwa semua ini sudah terlanjur. Identitasnya sebagai penghisap darah sudah terlanjur ketahuan. “Makhluk seperti kami biasanya disebut sebagai vampir. Walau sebetulnya bukan, karena kami tidak bisa menggunakan sihir. Bangsa vampir seperti saya diciptakan dari virus yang sampai sekarang belum ada vaksinnya.” Darsih menjelaskan. Bukti nyata atas ucapan Darsih sudah Julian rasakan sendiri. Perasaan aneh waktu itu tidak lain adalah karena darahnya yang tersedot keluar dari tubuhnya. Tempat dan keadaannya sekarang pun sudah cukup untuk menegaskan ucapan Darsih itu. “Setelah ini, apa aku akan menjadi vampir sepertimu?” Darsih lama terdiam, karena dia tidak tahu jawaban pastinya. Umunya, vampir memang dapat tercipta dengan gigitan seperti di film-film. Penyebab utamanya adalah karena terjadinya kontak dengan cairan tubuh manusia yang telah menjadi vampir. Jadi, tidak hanya dengan gigitan, bahkan bersin dan hubungan intim juga dapat menyebarkan virus ini. Tetapi, anehnya tidak ada reaksi apapun pada Julian. Pria itu seolah kebal dengan salah satu virus paling berbahaya di bumi itu. Dokter juga menyarankan untuk melakukan karantina sementara agar lebih jelas. Permintaan dokter itu tadi Darsih tolak. Alasannya, karena dia tidak mau berurusan lebih panjang dengan Julian. Dia tidak mau terlalu lama dekat dengan seseorang yang mirip dengan ‘pria itu’. “Dokter sudah memeriksa kakak dan hasilnya negatif. Jadi, sepertinya kakak tidak akan terkena virus ini.” Mata Darsih terus bergetar, membuat Julian tidak bisa langsung percaya pada perkataan Darsih. Dia yakin ada hal yang Darsih sembunyikan. Meski begitu, bukan berarti Julian marah pada Darsih. Dia malah menganggap ini sebagai kesempatan yang tidak dapat dilewatkan begitu saja. Dengan ini, Julian ingin menjadi lebih dekat dengan Darsih, walaupun bisa dikatakan bahwa rencananya ini cukup curang. “Apa kamu yakin?” tanya Julian. “Ya, tentu saja.” Darsih menjawab mantap. “Bagaimana kalau ternyata reaksinya ternyata terlambat? Apa kamu bisa bertanggung jawab?” Julian mendesak. “Tidak pernah ada kasus seperti itu, Kakak tenang saja.” sangkal Darsih. “Ckckck. Kakekku bilang, jangan pernah menyepelekan hal sekecil apapun. Apalagi yang besar seperti virus menular.” Darsih mendengus. “Dengerin ya, Kak. Dokter sudah bilang bahwa Kakak baik-baik saja. Kalau mau lebih percaya, saya bisa kasih hasil laboratoriumnya. Tidak ada secuilpun bekas virus ini di tubuh Kakak.” Darsih meninggikan nada bicaranya. “Bagaimana kalau tidak terdeteksi saja? Bukannya banyak juga kasus seperti kangker yang baru bisa dideteksi setelah parah? Apa kamu siap bertanggung jawab? Ini kan berhubungan dengan kelangsungan hidup manusia.” Perkataan Julian cukup masuk akal, meskipun Darsih tidak mau mengakuinya. Dia begitu bingung. Dia tidak tahu caranya menjelaskan bahwa Julian baik-baik saja. “Ya sudah. Jadi, apa mau Kakak?” Merasa pancingannya berhasil, Julian sedikit mengulum senyumnya. Rencananya ternyata berjalan dengan cukup mulus. Namun, dia tidak mau terburu-buru dan gegabah. Prinsipnya adalah pelan asal terlaksana. “Minta kontak pribadi kamu aja, deh. Biar kalau terjadi apa-apa bisa langsung kontak kamu.” ‘Kupikir mau apa. Gampang, lah. Kasih aja kontaknya Maya.’ pikir Darsih. “Ok. Catat, ya. 08...” “Hah?” potong Julian. Darsih juga menghentikan perkataannya. “Kenapa?” Darsih bertanya. “Buka HP kamu!” perintah Julian. Dengan wajah cengo, Darsih kembali bertanya, “Kan bisa kusebutin aja.” “Terus, pas aku nelpon atau kirim pesan yang angkat orang lain gitu?” tebak Julian tepat sasaran. “Nggak, lah! O... orang tadi saya mau kasih nomor saya!” Julian tersenyum miring. “Biar tambah yakin aja, saya catat sendiri saja nomor saya di HP kamu.” “Lah! Kakak mau mengusik privasi saya itu.” Julian memutar bola matanya. “Kalau begitu, sekarang kamu catat nomor saya, lalu langsung misscall!” Darsih mendecakkan lidah. Agaknya dia tidak punya pilihan lain. “Ok. Saya catat, nih.” Setelah itu, Julian memberikan nomor ponselnya dan Darsih langsung mengirimkan miss call ke nomor tersebut. Karena benar-benar tersambung, Julian akhirnya percaya bahwa nomor yang Darsih berikan memang milik gadis itu. Keesokan harinya, Darsih kira pemuda itu akan langsung menghubunginya. Dia yakin bahwa Julian memiliki niat tersembunyi. Tetapi, rupanya dia terlalu percaya diri. Julian sama sekali tidak menelpon maupun memberikan pesan apapun padanya. Karena itu, Darsih pikir sekarang dia bisa tenang. Hingga kemudian, sebuah hal yang tidak dia sangka terjadi padanya. “Kamu tetangga baruku, toh. Semoga betah, ya.” ujar Julian sore itu. Pemuda itu ternyata tinggal di kompleks perumahan yang sama dengan Darsih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD