“Lagi pula, Smith,” suara Vincent memecah keheningan, nadanya datar tapi penuh penekanan yang tak bisa diabaikan. “Apa yang membuatmu selalu menolak Laura, padahal kau belum tahu kinerjanya seperti apa?”
Smith berpaling dengan gerakan kecil, mencoba menyembunyikan rasa gelisah yang mulai merayap di balik wajah angkuhnya. Namun, Vincent, seperti biasa, tak memberi ruang bagi putranya untuk berlindung.
“Memangnya kau sudah menemukan orang yang lebih cocok menggantikan Laura?” tanyanya lagi, matanya menatap tajam seperti elang yang mengawasi gerakan mangsanya.
Smith menghela napas kasar, suara desahannya bergema dalam ruangan seperti angin yang menabrak kaca.
Namun, jauh di dalam dirinya, pikirannya berputar lebih cepat daripada roda gila mesin. ‘Daddy akan marah besar padaku jika Laura mengadukan semuanya,’ pikirnya, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya meski wajahnya tetap tampak tenang.
Ia memalingkan pandangan, matanya terpaku pada kota yang terbentang di balik jendela besar. Tapi pikiran itu terus menghantamnya, satu demi satu, seperti gelombang yang tak henti menerjang pantai.
‘Jabatanku akan menjadi taruhannya jika Daddy tahu yang sebenarnya. Tidak, tidak. Aku harus membuatnya tutup mulut selamanya, sampai aku menemukan pengganti yang lebih baik dari wanita itu.’
Smith merasakan detak jantungnya semakin cepat, seperti genderang perang yang dipukul keras. Perasaan terpojok itu semakin mencengkramnya, menciptakan kekhawatiran yang tak ia sangka akan ia alami.
Bayangan malam sebelumnya—bayangan dosa yang ia lakukan terhadap Laura—muncul di pikirannya seperti hantu yang enggan pergi.
Vincent, dengan caranya yang tenang tapi penuh makna, malah menyatukan dirinya dengan Laura, memaksa mereka berbagi ruang kerja, tanggung jawab, dan situasi yang tak nyaman. Dan itu, bagi Smith, seperti perangkap yang perlahan menutup di sekelilingnya.
“Kenapa tidak menjawab pertanyaanku, Smith? Kau menyembunyikan sesuatu dariku, huh?” Suara Vincent memecah lamunan Smith, nadanya tenang tapi tajam, seperti pisau yang mencoba mengupas lapisan kebohongan.
Smith mengerjapkan matanya, seolah baru tersadar dari pikirannya yang berputar. Ia menoleh perlahan, menatap ayahnya dengan ekspresi yang sulit diterka.
“Aku hanya ragu dengan kemampuannya,” jawabnya akhirnya, suaranya terdengar datar, tapi di balik itu ada nada defensif yang samar.
Vincent menyunggingkan senyum kecil, senyum yang lebih mirip pengamat yang sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang diajukannya.
“Tapi aku tahu kinerjanya, Smith,” balasnya dengan nada penuh percaya diri, matanya menatap putranya dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. “Jika aku sudah menilai, berarti dia sangat baik.”
Smith hanya bisa menatap ayahnya, rahangnya mengeras. Di dalam dirinya, ada perang kecil yang terjadi—antara keinginan untuk berterus terang dan ketakutan yang membelenggu.
‘Jika begini caranya, akan sulit mencari alasan lain untuk membuat Laura pergi,’ pikirnya, geram.
“Baiklah,” katanya akhirnya, menyerah untuk sementara. Namun, matanya bersinar dengan tekad yang dingin. “Tapi, jika ternyata kinerjanya buruk, jangan halangi aku untuk memecatnya!”
Vincent menaikkan alisnya, ekspresinya seperti seorang pemain catur yang baru saja mendengar lawannya membuat langkah putus asa. “Terserah kau saja, Smith,” jawabnya santai, lalu beranjak dari tempat duduknya dengan gerakan yang anggun.
“Louis akan tiba lusa,” katanya kemudian, nadanya berubah serius. “Dia akan menjadi General Manager menggantikan Tuan Tommy yang sudah pensiun.”
Smith menoleh, ekspresinya berubah tipis, campuran antara penasaran dan enggan. “Apa dia tidak berniat untuk melanjutkan pendidikannya lagi? Dia kan, hobi belajar,” tanyanya, nadanya terdengar agak sinis, meski ia mencoba menyembunyikannya.
Vincent tersenyum kecil lagi, tapi kali ini senyumnya lebih seperti seorang ayah yang mencoba memahami kedua putranya.
“Sudah selesai masa belajarnya, Smith. Louis sudah mempersiapkan dirinya untuk tanggung jawab yang lebih besar. Meskipun hubunganmu dengannya masih belum membaik, kalian harus ingat, kalian adalah kakak beradik.”
Smith mendengarkan kata-kata itu dengan rahang yang semakin mengeras. Udara di antara mereka seolah dipenuhi dengan beban tak terlihat, seperti lembaran sejarah lama yang belum selesai ditulis.
‘Louis,’ pikir Smith dengan rasa pahit yang merayap di dadanya. Hubungannya dengan adiknya itu adalah luka lama yang belum sembuh, sebuah bekas yang mengingatkannya pada kegagalan dan rasa bersaing yang tak kunjung reda.
Vincent melangkah ke arah pintu, tapi sebelum keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh. “Smith,” katanya dengan suara rendah tapi penuh makna.
“Tidak ada gunanya hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Louis adalah bagian dari keluarga kita. Jangan biarkan kebencian menghalangimu melihat apa yang sebenarnya penting.”
Smith hanya terdiam, matanya menatap ayahnya dengan campuran emosi yang sulit diterjemahkan. Setelah Vincent pergi, ia mengembuskan napas panjang, perasaan campur aduk melilitnya seperti tali yang semakin kencang.
“Aku hanya memiliki dua putra. Dan aku menyayangi kalian berdua,” ucap Vincent dengan nada yang berat namun penuh kasih.
Matanya menatap Smith dengan kehangatan seorang ayah yang menginginkan perdamaian di antara anak-anaknya. Setelah itu, ia melangkah keluar dari ruang kerja Smith, meninggalkan keheningan yang terasa lebih seperti beban daripada ketenangan.
Smith menghela napas panjang, tangan kekarnya terangkat untuk mengusap wajahnya yang kini tampak letih.
Ia bersandar di kursinya, matanya menatap langit-langit seolah mencari jawaban di antara ornamen elegan yang terpahat di sana.
Urusannya dengan Laura yang penuh intrik dan rasa bersalah belum selesai, dan kini, adiknya—Louis—akan datang untuk mengambil peran besar di perusahaan ini.
“Laura?”
Suara hangat Vincent terdengar dari kejauhan, menyapa sosok perempuan yang sedang berdiri di meja kerjanya. Laura menoleh, senyum profesional langsung menghiasi wajahnya.
“Tuan Vincent,” sapanya ramah, dengan nada yang menunjukkan hormat. “Ada yang bisa saya bantu?”
Vincent menggeleng pelan, bibirnya melengkungkan senyum ramah yang tampak begitu tulus. “Bagaimana hari pertamamu?” tanyanya, matanya menatap Laura dengan penuh perhatian, seperti seorang ayah yang berbicara kepada putrinya.
Laura membalas senyumnya dengan kehangatan yang sama. “Saya masih terus belajar dan terus berusaha, Tuan,” jawabnya jujur, nada suaranya penuh tekad meskipun hari itu ia sudah melalui banyak hal yang melelahkan.
“Good!” Vincent berkata dengan nada yang penuh semangat, anggukan kecil menyertai kata-katanya. “Kau harus membuktikan pada Smith bahwa kau yang terbaik. Jika dia menyulitkanmu dalam bekerja, biarkan saja. Atau hubungi aku.”
Mendengar itu, Laura tersenyum lebih lebar. Ada rasa lega yang mengalir di dadanya, seperti embusan angin sejuk setelah berjalan di tengah panasnya gurun.
Inilah mengapa ia tak bisa menolak perintah Vincent untuk menjadi sekretaris pribadi Smith, meskipun pria itu adalah sosok yang paling ia hindari. Vincent selalu memperlakukannya dengan adil dan penuh penghargaan, sesuatu yang sangat jarang ia dapatkan.
“Baik, Tuan. Saya akan berusaha semampu saya,” jawab Laura sambil mengangguk mantap.
Vincent balas mengangguk dengan tatapan bangga sebelum melangkah pergi. Ia memiliki janji dengan seseorang, seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya.
Masa pensiun yang telah tiba memberinya kesempatan untuk menyerahkan kerajaan bisnis yang ia bangun kepada kedua putranya.
Lorenza Hotel’s.
Nama itu terpahat megah di atas gedung tertinggi di kota, bersinar keemasan saat malam menjelang.
Hotel yang telah berdiri dengan kokoh selama lima belas tahun terakhir itu adalah mahakarya Vincent, buah dari keringat, kerja keras, dan visi yang ia tanamkan sejak awal.
Kini, hotel itu menjadi warisan bagi Smith dan Louis, dua putra yang ia percayai untuk meneruskan jejaknya.
Meskipun hati Vincent penuh dengan harapan, ada rasa was-was yang tak bisa ia abaikan. Hubungan antara Smith dan Louis yang penuh keretakan seperti kaca yang belum sepenuhnya direkatkan.
Namun, ia yakin, waktu dan tanggung jawab yang mereka emban bersama akan menjadi perekat terbaik.
Dengan langkah tenang, Vincent keluar dari gedung, membiarkan bayangan senja menemani perjalanannya, sementara di dalam sana, drama baru mulai terbentuk di bawah naungan Lorenza Hotel’s.
*
Waktu sudah menunjukkan angka lima sore, dan Laura berdiri di depan lift, matanya tertuju pada layar jam di dinding yang semakin mendekati waktu yang telah ditentukan.
Beberapa detik lagi, dia akan berada di dalam ruang yang sempit bersama Smith.
Hatinya berdegup kencang, dan meskipun ia sudah berusaha untuk tetap tenang, kekhawatiran itu menggelayuti setiap sudut pikirannya. Hari ini, tidak ada lagi ruang untuk keraguan—Smith harus diahadapi.
Tak lama, pintu lift terbuka dengan suara berderit halus. Smith keluar dari ruang kerjanya, mengenakan jas rapi yang membalut tubuhnya dengan sempurna, namun langkahnya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menghalangi setiap geraknya.
Ketika ia menatap Laura yang sudah menunggunya, matanya menunjukkan ketidakpedulian yang hanya bisa disamarkan dengan angkuh.
"Selamat sore," sapa Laura, suara lembutnya hampir tenggelam dalam kehampaan ruang yang semakin sempit di antara mereka.
Smith hanya mengangguk, tidak memberi sepatah kata lebih. Tanpa basa-basi, ia melangkah masuk ke dalam lift.
Laura mengikutinya, berdiri tepat di belakangnya. Udara di dalam lift terasa tegang, meskipun kedua orang itu hanya berdiri dalam diam. Seolah jarak fisik yang dekat belum cukup untuk mengungkapkan apa yang tersembunyi di balik keduanya.
Tiba-tiba, Smith membuka suara, suaranya datar namun penuh tekanan. “Kau masih ingin melaporkan kejadian kemarin malam pada ayahku?”
Laura melirik ke arahnya, matanya sempat beradu tatap dengan tatapan dingin Smith sebelum ia menghela napas panjang, suara napasnya terasa dalam dan penuh beban. "Untuk apa? Hanya akan memperumit masalah,” jawabnya dengan datar, mencoba menyembunyikan perasaan yang mulai merasuki dirinya.
Smith menaikkan alisnya, ekspresinya tetap tak tergoyahkan. Ia berbalik sedikit, menatap Laura dengan tatapan lekat yang seakan bisa menembus kedalaman jiwanya.
“Kau takut aku memutar balikan fakta, hm?” bisiknya, suaranya berat, menggelar ancaman tanpa harus bersuara keras.
Laura menatapnya tajam, hanya beberapa inci yang memisahkan wajah mereka. Hatinya berdebar hebat, namun ia tetap teguh berdiri di sana, menahan semua kegelisahan yang menghimpit.
"Kau pikir aku takut, huh?" ucapnya tegas, bibirnya bergetar, namun matanya tetap fokus. “Kau juga yang akan terkena masalah jika aku melaporkan semuanya. Aku tahu, jabatanmu akan menjadi taruhannya. Meskipun kau enggan mengatakan yang sebenarnya.”
Smith terdiam, namun tatapannya semakin tajam, seperti seekor predator yang baru saja menemukan mangsanya.
Tanpa peringatan, ia melangkah lebih dekat, tangannya meremas bahu Laura dengan keras, membuat tubuh Laura terkejut, meringis perlahan merasakan tekanan yang menyakitkan.
Laura merasakan rasa sakit itu merambat, dan matanya tertuju pada tanda merah di bibirnya, yang masih tersisa dari malam itu—malam yang penuh dengan perasaan campur aduk dan pergulatan yang tak bisa dilupakan.
Smith menatapnya, alisnya terangkat. Apakah pergulatan kemarin malam benar-benar di luar kendalinya? Pertanyaan itu menggantung di benaknya, namun ia tak ingin mengakuinya.
“Lepaskan tanganmu, sialan!” pekik Laura dengan suara yang hampir pecah, emosi membakar tubuhnya.