Nasib Malang Laura
Bab 1:
“Tolong hentikan! Aku bukan wanita panggilan!” teriak Laura, suaranya pecah di antara ketakutan dan ketegasan yang tak mungkin ia sembunyikan.
Mata cokelatnya penuh kesedihan, memandang pria yang sudah kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Dengan ketenangan yang sudah retak, Laura Angelina mengeratkan jemari kecilnya di ujung lengan bajunya, tubuhnya gemetar di bawah pandangan dingin dan liar Smith Leonardo.
Ruangan kamar itu seakan menyesakkan, dengan aroma alkohol yang begitu tebal hingga membekap udara, membuat Laura ingin melarikan diri sejauh mungkin dari sosok yang berdiri di depannya.
Cahaya kamar yang remang-remang seolah mengaburkan moralitas, meninggalkan sepotong kegelapan yang menyesakkan.
Smith hanya tertawa pendek, dingin, penuh kepuasan yang tak bisa ditawar. “Berhenti bertingkah layaknya wanita suci! Aku sudah membayarmu, maka kau harus melayaniku malam ini,” geramnya, nadanya penuh amarah bercampur mabuk.
Ia meraih Laura dengan tangan kasar, seakan menganggapnya tak lebih dari benda yang bisa ia miliki.
Dengan sekuat tenaga, Laura meronta, mendorong bahu Smith seolah nyawanya tergantung pada kekuatannya sendiri.
“Aku mohon, jangan lakukan ini. Sudah kukatakan berulang kali padamu. Kau sedang mabuk, Tuan!” pekiknya. Tangannya yang mungil memukul-mukul d**a Smith, namun itu tak lebih dari gigitan nyamuk baginya.
“Aku tidak peduli!” jawab Smith, suaranya berubah menjadi gemuruh, penuh nafsu tak terkendali.
Ia meraih wajah Laura, menyatukan bibirnya dengan bibir gadis itu dalam ciuman paksa yang membara, menghancurkan segala pertahanan Laura dalam sekejap.
Air mata Laura meleleh di pipinya, membentuk aliran luka yang begitu dalam, setiap tetesnya seolah mengoyak rasa aman yang selalu ia banggakan.
“Lepaskan aku… kumohon…” bisiknya lemah, suaranya semakin teredam oleh rasa putus asa. Tapi Smith tak memberinya ruang, tak memberinya napas untuk mempertahankan dirinya.
Saat tubuh Laura sudah tak lagi dilapisi sehelai kain pun, Smith mundur sejenak, menatapnya dengan tatapan penuh kegilaan dan kepuasan.
“Ah! Kenapa sempit sekali,” gumamnya dengan nada mengejek yang begitu menusuk. “Aku tidak memesan seorang perawan sepertimu, bodoh!” lanjutnya.
Laura menahan napas, air mata semakin deras mengalir di pipinya, wajahnya pias. Rasa malu, hina, dan takut bercampur menjadi satu.
“Aku sudah bilang padamu, kau salah orang. Sekarang lepaskan aku!” suaranya pecah, tersendat oleh kesedihan yang menusuk hati.
Namun, Smith hanya tersenyum keji, merendahkan sorot matanya padanya. “Tidak semudah itu,” ucapnya, suaranya seperti belati dingin yang menancap di d**a Laura.
“Aku akan tetap menikmatimu, masa bodoh meskipun kau masih perawan.” Ia meraih bibir Laura kembali, menciuminya dengan gairah yang tak bisa dihalau.
“Kau akan kubayar sebanyak apa pun yang kau inginkan, dan kau akan menerimanya. Bukankah kau sendiri yang datang ke kamarku?” bisiknya di telinga Laura, nadanya menusuk dalam, begitu menghina. “Jangan berpura-pura suci di depanku.”
“Aku tidak membutuhkan uangmu! Aku tidak menjual tubuhku. Bahkan aku tidak tahu siapa dirimu,” lirih Laura, suaranya mulai hilang di antara kegamangan dan ketakutan yang memuncak.
Namun, kata-katanya hanya melewati telinga Smith tanpa makna. Baginya, Laura hanyalah alat pemuas nafsu di malam itu, sebuah permainan yang harus ia nikmati hingga puas.
Jeritan Laura yang tercekik di dalam pelukannya membuat matanya semakin liar, mabuk akan kekuasaannya di atas gadis itu.
“Aku mohon…,” suara Laura kembali memohon, kali ini lebih lirih, seakan ia menyadari betapa tipisnya harapan untuk lepas dari belenggu malam yang mengerikan itu.
Detak jantungnya beradu kencang, menjerit dalam kesunyian yang memekakkan telinga.
Dalam benaknya, Laura berdoa, berharap ada tangan lain yang kuat dan penuh belas kasih yang akan menolongnya, mengangkatnya keluar dari cengkeraman Smith yang semakin mengoyak harga dirinya.
Tapi yang ia temukan hanyalah kegelapan, dinding dingin kamar itu yang menjadi saksi bisu atas ketidakberdayaannya.
Smith semakin jauh tenggelam dalam kegilaan, tak memperdulikan jeritan Laura atau air mata yang mengalir deras di wajahnya.
Setiap sentuhannya adalah duri tajam yang menghancurkan kepolosan Laura, merampas keperawanannya tanpa belas kasih.
Ketika akhirnya Smith menarik dirinya, ia menatap Laura dengan senyum yang mencerminkan kesenangan yang menyakitkan hati.
Ia mendekatkan wajahnya, berbisik tepat di telinga Laura dengan suara serak yang penuh kemenangan, “Mulai malam ini, kau akan menjadi milikku, Nona manis.”