Tanggungjawab!

590 Words
Bab 2: Pagi itu menyelimuti Laura dengan rasa dingin yang menusuk, bukan hanya karena udara kamar yang beku, tetapi juga akibat luka tak kasatmata yang menghantam hatinya. Perlahan ia membuka matanya, pandangannya kabur dan tubuhnya terasa remuk redam, seolah menyatu dengan kasur yang terasa menjadi tempat pengkhianatan. Ia menggigit bibirnya, menahan isak yang terus mendesak keluar. Malam itu, bayangan semalam, mencabik-cabik setiap ingatan yang ingin ia buang. “Sudah bangun, rupanya.” Suara itu terdengar dengan nada ringan yang menusuk jantungnya lebih dalam daripada belati paling tajam. Laura mengangkat wajahnya dan mendapati Smith Leonardo berdiri di depan cermin besar, mengancingkan kemeja putihnya dengan santai. Pria itu tampak tanpa beban, seolah tak terjadi apa-apa. Laura mendesah, pandangan matanya menyala penuh kebencian yang tak bisa ia bendung. “Kau! Pria tidak punya hati,” ucapnya dengan suara serak yang dipenuhi getir. “Kau sudah merenggut kesucianku!” Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya luruh di pipinya, menandakan luka batin yang belum bisa ia tutup. Smith menoleh ke arahnya, alisnya terangkat seakan Laura baru saja menuduhnya sesuatu yang konyol. “Ya. Aku memang sudah merenggut kesucianmu,” katanya tanpa penyesalan sedikit pun. “Tapi, kau juga menikmati sentuhanku semalam. Perlu aku ingatkan kembali, hum?” Nada suaranya ringan, penuh sindiran tajam yang membuat d**a Laura semakin sesak. Pernyataan itu membakar hati Laura. Tangannya mengepal, dan kemarahannya membuncah meski tubuhnya masih sakit dan terasa lemah. Ia mencoba duduk, menggertakkan giginya menahan sakit yang merayap dari pangkal pahanya, lalu menatap Smith dengan tatapan penuh amarah. “Jangan berhalusinasi, Tuan. Aku sama sekali tidak menikmatinya,” balasnya dengan nada dingin, meskipun napasnya tersendat. “Pergi dari kamar ini! Aku tidak ingin melihatmu lagi!” Laura berusaha bangkit dari tempat tidur, tubuhnya tertatih mencari pakaiannya yang tergeletak di lantai. Pandangan matanya beralih ke Smith yang tampak mengulurkan pakaiannya dengan tenang, ekspresi wajahnya tak berubah. Pria itu mengerutkan keningnya, memperhatikan seragam Laura yang tak lain adalah pakaian pegawai hotel. ‘Bukankah ini pakaian pegawai di sini?’ pikir Smith dalam hati, meskipun ia tak menyuarakan pikirannya itu. Baginya, status wanita di depannya ini tak lebih dari penghias semalam. “Berapa banyak uang yang kau inginkan dariku?” tanyanya, nadanya datar, seolah menawarkan sepotong roti pada pengemis di jalan. Laura hanya mendecih, menyeka air matanya, lalu mendekatkan wajahnya hingga mereka berhadapan, meski tubuhnya terasa lemah. “Aku tidak membutuhkan uangmu,” jawabnya dengan suara penuh kebencian, kata-katanya bagai tamparan keras yang menusuk kesombongan Smith. Smith tertawa pendek, bibirnya melengkung dengan nada sinis. “Oh, ya? Baiklah, kau memberikan tubuhmu dengan percuma.” Nadanya terkesan santai, seolah tak merasa bersalah sedikit pun atas apa yang ia lakukan. "Jaga bicaramu, Tuan!" Laura mendesis tajam, matanya yang berkaca-kaca menantang pria itu. “Aku bukan wanita seperti itu. Aku menolak uang darimu karena aku tidak menjual tubuhku padamu. Dan asal kau tahu,” katanya, dengan suara penuh tekad meski tubuhnya gemetar, “aku akan melaporkanmu pada atasanku karena kau telah menodai pegawai di hotel ini!” Smith hanya terkekeh, tatapan matanya menunjukkan ketidakpedulian yang menambah luka di hati Laura. “Silakan laporkan, gadis manis. Aku tidak takut sama sekali,” ucapnya, suaranya sarat akan tantangan dan penghinaan yang membakar telinga Laura. Laura menggertakkan giginya, tak ingin lagi melihat wajah pria itu. Setelah mengenakan pakaiannya, meskipun harus menahan sakit yang menyayat tubuhnya, ia berjalan keluar dari kamar itu dengan langkah tertatih. Pintu kamar itu ia tutup dengan keras, seolah itu adalah caranya mengekspresikan kemarahan yang bergemuruh dalam dadanya. “Kenapa pria itu sangat santai menanggapi ancamanku?” gumam Laura begitu keluar dari kamar itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD