Melaporkan Tindakan Jahat Smith

814 Words
Bab 3: Sisa-sisa kelelahan masih terasa di tubuh Laura ketika shift malamnya berakhir. Sepasang matanya yang sembap memandang cermin di toilet pegawai, bibirnya terkatup rapat seakan menahan isak yang tak berani keluar. Ia membasuh wajahnya, menyeka basah yang bercampur dengan air mata yang tak kunjung habis. “Aku harus tetap melaporkan kejadian ini pada Tuan Vincent,” gumamnya, suaranya bergetar saat ia menatap wajahnya di cermin, seolah berusaha mencari kekuatan dalam pantulan bayangannya sendiri. “Tuan Vincent pasti akan membelaku. Aku ingin pria itu dipenjara karena sudah menodai martabatku,” bisiknya lirih, kedua tangannya mengusap wajahnya dengan pelan, mencoba mengumpulkan keberanian untuk langkah selanjutnya. Ia keluar dari toilet, mengenakan sling bag yang ia genggam erat, seakan itu adalah satu-satunya pegangan yang tersisa di tengah ketakutan dan kesedihan yang menghantuinya. Dengan langkah pasti, ia melangkah menuju ruang staf, matanya mencari sosok sahabatnya yang mungkin bisa membantunya menghadapi Vincent, pemilik Allera Hotel’s yang akan menjadi kunci bagi keadilan yang ia cari. “Diana. Aku butuh bantuanmu,” kata Laura saat menemukan sahabatnya di ruang staf, duduk dengan secangkir kopi yang sudah hampir habis. Laura duduk berhadapan dengannya, memandang Diana dengan tatapan penuh arti yang tak biasa. “Ada apa, Laura?” tanya Diana, ekspresi wajahnya berubah menjadi serius. “Ah, ya, ngomong-ngomong Tuan Vincent mencarimu semalam. Tapi, aku nggak berhasil menemukanmu. Bahkan nomormu tidak bisa dihubungi. Kau ke mana, hum?” Nada suara Diana terdengar cemas, alisnya mengernyit saat matanya mencari jawaban di wajah Laura. “Maafkan aku, Diana,” balas Laura dengan suara lembut. “Tuan Vincent ingin bertemu denganku? Kebetulan sekali, ada yang ingin aku sampaikan juga padanya.” Diana menatap Laura sejenak, lalu mengangguk. “Kalau begitu langsung masuk saja, Laura. Sepertinya Tuan Vincent sudah tiba. Aku melihat mobilnya di basement tadi.” Laura mengangguk. Ia tahu ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya, dan ia bertekad untuk tidak lagi terjebak dalam kenangan buruk malam sebelumnya. Dengan napas dalam, ia melangkah ke arah ruangan Tuan Vincent, langkahnya semakin mantap meski hatinya terus berdegup keras. Di depan pintu, ia mengetuk pelan, berharap ada jawaban cepat dari dalam. “Masuk!” Suara berat namun ramah Vincent terdengar dari balik pintu. Laura menelan ludah, melangkah masuk dengan kepala sedikit tertunduk. “Permisi, Tuan. Saya Laura,” ujarnya dengan sopan, suaranya terdengar sedikit gemetar. “Ah, ya, Laura. Silakan duduk,” ucap Vincent, tersenyum tipis pada pegawainya itu. Laura menatap pria itu dengan penuh rasa hormat, mengambil tempat di kursi di depannya. “Terima kasih, Tuan. Apakah benar, Tuan mencari saya semalam? Maafkan saya, Tuan, karena tidak bisa hadir saat itu. Semalam saya mengalami kejadian yang sama sekali tidak saya inginkan, dan saya ingin melaporkannya pada Tuan,” jelasnya dengan nada suara yang berusaha tetap tenang. Vincent mengerutkan kening, tampak tertarik sekaligus prihatin mendengar nada serius Laura. “Ada apa, Laura?” tanyanya lembut. Namun, Laura ragu sejenak, merasa bahwa mungkin Vincent memiliki sesuatu yang lebih mendesak untuk disampaikan. “Tuan saja dulu yang berbicara,” katanya, mencoba menunda cerita beratnya sejenak. “Sepertinya ada hal penting yang ingin Tuan sampaikan kepada saya.” Vincent tersenyum, wajahnya menampakkan kehangatan yang menenangkan Laura sejenak. “Ah, ya. Begini, Laura. Aku telah memperhatikan kinerjamu sebagai resepsionis di hotel ini. Dan karena kerja kerasmu, aku ingin menawari posisi baru untukmu,” kata Vincent, matanya berbinar. Laura mengerjap-ngerjapkan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “A—apa maksud Tuan?” tanyanya, hampir tak berani berharap. Tawaran itu terasa seperti oase di tengah gurun tandus penderitaan yang baru saja ia lalui. Vincent tertawa kecil, tampak menikmati keterkejutan Laura. “Aku ingin menjadikanmu sekretaris pribadi anakku. Dia baru saja menyelesaikan pendidikannya di luar negeri dan kembali kemarin malam. Aku merasa kau adalah kandidat yang cocok untuk mendampingi anakku,” jelasnya dengan penuh keyakinan. Laura tercengang, tawaran itu melampaui dugaannya. “A—apakah Tuan tidak bercanda?” tanyanya dengan suara terbata-bata, matanya melebar karena keinginan yang bercampur takjub. “Saya benar-benar tidak menyangka, Tuan.” Vincent tersenyum semakin lebar, menatap Laura dengan tatapan penuh kepercayaan. “Tidak, Laura, ini bukan candaan. Aku percaya pada kemampuanmu. Jadi, kau bersedia?” Laura hampir tanpa sadar menganggukkan kepalanya dengan cepat, senyum haru mengembang di bibirnya. “Bersedia, Tuan! Saya sangat bersedia!” ucapnya penuh antusias, suaranya menggema dengan kebahagiaan yang nyaris melupakan rasa sakit yang ia rasakan semalam. “Syukurlah kalau begitu,” Vincent menepuk meja kecil di depannya, tampak lega mendengar jawaban Laura. “Aku sangat lega karena kau bersedia menjadi sekretaris anakku. Aku yakin dia akan senang bekerja sama denganmu, dan aku tak perlu pusing mencari kandidat lain yang cocok.” Laura mengulas senyumnya yang penuh rasa syukur, hatinya terasa lapang dan lebih ringan. Di sela-sela kebahagiaan yang perlahan memenuhi dirinya, ia merasakan semangat yang seolah baru untuk melanjutkan hari-harinya. “Kalau begitu,” ujar Vincent, tersenyum lembut, “ceritakan apa yang ingin kau bagi denganku, Laura.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD