LW - 22

1024 Words

Senyum Adonia melebar dingin. Adora menggertakkan giginya marah saat menatap saudara kembarnya. Rintik-rintik hujan mulai turun. Pandangan Jenderal semakin tajam pada keduanya. "Kau mau tahu sesuatu, Adonia?" Adonia hanya diam. "Aku hamil." Kedua mata Adonia melebar perlahan-lahan. Lalu, hujan turun dengan deras. Membasahi keduanya saat Adonia dan Adora tertimpa air hujan hingga basah kuyup. Dan semua senjata dari anggota militer terarah pada Adora. Warna merah muda pada rambutnya tidak lagi ada. Menyisakan warna rambut cokelat pekat yang basah dan kekehan dingin dari Adora karena penyamarannya sekarang terbongkar. Adonia menatap pemandangan itu dengan datar. Dia menemukan kedua tangan Adora terkepal erat. "Aku hamil, Adonia! Aku hamil anaknya!" Adonia mengangkat matanya untuk me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD