i

1073 Words
Komandan Rei memasang ekspresi masam. Dia menatap Adonia dengan sedikit mencela. "Aku ada di sana bersama Panglima Sai. Apa kau marah karena kami tidak menolongmu? Kau sekarat." Mata tajam Komandan Rei menatap telapak tangan Adonia yang diperban erat karena peluru sempat bersarang di sana. "Ini sudah lebih baik. Dokter Mei dokter yang hebat." Adonia tersenyum lebar. Membuat Komandan Rei tertegun sejenak dan dia berdeham. "Tidak sakit lagi?" Kepala Adonia menggeleng. "Tidak." "Aku mengerti karena kalian sebagai militer harus menilai situasi sebelum bertindak. Kalian hanya berdua, dan Alterio Edzard bersama anak buahnya. Kalian tidak mungkin gegabah mengambil tindakan." Adonia kembali berbicara. Matanya yang teduh menatap Komandan Rei dengan senyum tipis. "Tapi, apa pun itu terima kasih karena membawaku ke sini. Dokter Mei menceritakan segalanya." Adonia berbisik dengan jenaka dan Komandan Rei berdeham, hanya mengangguk menahan senyum. "Aku pikir aku bisa melakukannya. Nyatanya, Alterio Edzard terlalu sulit kugapai. Bahkan, kutumbangkan. Itu hanya ada dalam mimpiku aku bisa mengalahkannya." Komandan Rei menatap Adonia dengan kening berkerut. "Dia lawan dari Jenderal. Kau tidak mungkin bisa mengalahkannya." Adonia tersenyum kecut menanggapinya. Dia menunduk, menatap telapak tangannya yang begitu kontras. "Kupikir, kemampuanku sudah cukup baik. Aku akan berusaha lebih keras lagi." Komandan Rei hanya diam. Dia berdeham, menatap Adonia yang penuh semangat meskipun kondisinya belum ada enam puluh persen pulih. Adonia mendongak, menatap mata Komandan Rei yang tajam, tetapi dia tidak gentar. Baginya, semua tatapan dingin itu tidak berarti apa-apa dibanding tatapan Jenderal yang menusuk dan begitu merendahkan dirinya. "Kau dan Kapten Davira, kalian bersaudara kandung?" Komandan Rei terdiam sebentar. "Ya. Dia kakakku." "Kepribadian kalian hampir mirip. Tetapi, Kapten Davira orang yang sangat baik. Aku salah menilai kepribadiannya." Adonia tersenyum masam. "Kupikir, kau juga sama." "Aku tidak sebaik dia." Komandan Rei menahan senyum pedih. "Militer begitu keras terhadap kaum laki-laki dulu. Aku tidak sehangat Kapten Davira." "Dia juga sangat dingin. Tetapi, Kapten Davira masih mengerti batas-batas yang harus dia hindari dan dia patuhi." Adonia berkata dengan nada santai. Seolah dia dan Kapten Davira cukup akrab. Adonia larut dalam obrolannya sendiri sampai pintu kamarnya terbuka, menampilkan Jenderal dalam balutan seragam militer hitamnya memicing tajam pada sosok Komandan Rei yang berdiri menjaga jarak dari ranjang istrinya dan tengah berbincang hangat. Adonia berdeham. Menatap Komandan Rei dengan perasaan bersalah. "Aku minta maaf karena membuatmu mendengar omongan tidak jelasku." Komandan Rei meliriknya. Kemudian, mengangguk pelan. Jenderal mendekat. Komandan Rei melemparkan sapaan formal dan bergegas pergi saat Sang Jenderal tidak mengatakan apa-apa sebagai bentuk balasan. Adonia menatap kepergian Sang Komandan dalam diam. Dia menghela napas. Merasakan ada tatapan tajam nan menusuk mengarah padanya membuat kepalanya tertoleh dingin. "Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?" Sang Jenderal mengetatkan geraham. "Kau berlagak mengikuti Dokter Julian masuk ke persembunyiannya hanya bermodalkan busur dan anak panah?" Jenderal mencemooh padanya. "Kau lihat bagaimana akhirnya?" "Setidaknya aku mencoba." Adonia berujar sengit dengan ekspresi tajam. "Apa kau tahu kalau Dokter Julian dan Alterio Edzard bekerjasama?" Kepala Sang Jenderal terangguk pelan. "Dan kau membiarkannya? Dasar gila." "Kau bilang apa?" Jenderal mendesis tak percaya. Dia menahan napas, menarik napas kemudian membuangnya kasar. Mengingat luka-luka di tubuh istrinya membuat dia harus menggelar batas. "Aku punya rencana. Dan itu harus mengorbankan diri Addi Julian berkeliling di dalam Benteng Ankara." "Dan membuat kekacauan. Kau benar-benar Jenderal bijak? Kau tidak seharusnya menyimpan seorang pengkhianat." "Bagaimana denganmu?" Jenderal melempar pertanyaan sinis padanya. "Kau juga bagian dari Alterio Edzard dan Bendera Hitam. Kau menyebut saudaramu sendiri sebagai pengkhianat?" Kedua mata Adonia mengerjap marah mendengar celaan dari Sang Jenderal. "Setelah sejauh ini, kau masih menganggap bahwa aku seorang pemberontak berkepala panas untuk membuatmu luluh lantak?" Sang Jenderal hanya terpaku diam. Menatap kedua mata yang senada dengan hutan pinus di musim panas dengan ekspresi tajam. "Aku tidak peduli sekarang!" Adonia meremas selimutnya sendiri. Tatapan matanya nyalang menatap Jenderal tak bersahabat. "Setidaknya, dua tangan kananmu menganggapku sebagai orang biasa yang memiliki tekad untuk menjadi kuat di dalam militer hitam. Aku tidak peduli dengan pendapatmu sama sekali." Sang Jenderal terperangah mendengar jawaban tajam itu. Malam itu, di saat percintaan mereka. Adonia begitu lembut dan menerimanya dengan sukarela. Mereka menyatu dalam suasana yang menyenangkan. Dan sekarang? Secepat itukah suasana hati seorang wanita berubah? Sang Jenderal menyeringai pahit saat jemarinya terulur mengusap permukaan wajah Adonia yang tergores tanah dengan keras. Meninggalkan goresan yang hampir pudar menyaru dengan warna kulit putihnya. "Malam itu, kau begitu lembut dan membuatku lupa diri. Kenapa sore ini kau begitu meledak? Aku bertanya-tanya apa yang membuatmu begitu marah?" Adonia menepis jemari itu dengan napas berat. Dia berbaring. Memunggungi Sang Jenderal tanpa kata dan menarik selimutnya tinggi. Membuatnya merintih karena tanpa sengaja menyenggol selang infusnya dan menggores lukanya. "Nohara Rin masih hidup." Pancingan Jenderal ternyata tepat mengenai sasaran saat tubuh Adonia menegang sempurna. Senyum dingin terbit di wajahnya yang kaku saat Adonia menoleh, menatapnya dengan alis terangkat. "Kakak Rin masih hidup?" Suaranya bergetar. Adonia teringat saat-saat terakhir sebelum dia kehilangan kesadaran ada seseorang yang memanggil namanya. Berteriak pilu memerintah Alterio Edzard untuk berhenti. Dan seketika, semuanya menjadi jelas. Benang yang sempat kusut itu menyatu kembali menjadi lurus. Sang Jenderal memiringkan kepala. Menikmati ekspresi sang istri yang berubah pias saat orang terdekatnya disebut. Adonia memang tampak kacau saat ini. Dia memakai pakaian rumah sakit yang menyatakan bahwa dia seorang pasien. Rambut panjangnya yang biasa tergelung, menyebar indah di atas permukaan bantal. Wajahnya yang biasa hangat karena tertimpa sinar mentari, benar-benar terlihat berbeda walau dia tidak memakai riasan apa pun dan tampil apa adanya. "Kau terkejut? Reaksimu sama seperti Panglima Sai karena dia sangat yakin bahwa Nohara Rin sudah mati di tangannya." Mata Adonia begitu polos menatap Sang Jenderal sekarang. Membuat Jenderal menggeram. "Bagaimana bisa? Kakak Rin, maksudku dia hanya memiliki satu kaki. Dan dia harus berjalan menggunakan kruk." Sang Jenderal menghela napas tajam. "Letnan Aristide turun untuk mengecek kembali." Kedua mata Adonia terpejam. Dia menarik napas guna mengusir rasa sakit sekaligus senang karena mendapati bahwa Rin masih hidup. "Kau tidak bertanya mengapa dia ada di bunker persembunyian Alterio Edzard?" Mata itu kembali membuka. Sorotnya melemah dan Adonia menggeleng pasrah. "Mungkin, Alterio Edzard menawarkan kehidupan yang layak pada dirinya dibanding dia harus diburu Jenderal bertangan dingin sepertimu? Kakak Rin tidak punya pilihan selain dia harus bertahan hidup." Sang Jenderal menipiskan bibir dengan kedua alis menekuk tajam. Dia mengarahkan tatapan matanya untuk menusuk ke dalam mata Adonia yang mencoba bertahan, kemudian melarikan diri karena tak bisa menahannya lebih lama. "Apa kau tidak curiga kalau Nohara Rin menyembunyikan sesuatu darimu. Sesuatu yang mungkin membawamu kemari, dan kau ... hanya selalu berpikir positif tentangnya." "Dia tidak sejahat itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD