f

1012 Words
Sang Jenderal menghela napas. Dia menatap tajam tubuh Adonia yang lemah di atas ranjang rumah sakit. Pihak dokter sudah menanganinya dan Adonia akan sadar keesokan pagi jika semua obatnya sudah terserap dengan baik. Mata biru Letnan Aristide yang awas menangkap gerakan tangan Jenderal yang menarik selimut tebal agar membungkus tubuh sang istri hingga sebatas d**a sampai akhirnya Jenderal berjalan menuju pintu kamar dan menjauh. Panglima Sai menghela napas panjang. Dia melirik Komandan Rei yang mengangkat bahu acuh. "Dia sedang bernostalgia. Memikirkan kemiripan istrinya dengan sosok yang menjadi teman tidurnya di masa lalu." Letnan Aristide melemparkan tatapan memperingati pada Komandan Rei sebelum dia ikut beranjak dan meninggalkan tempat. Tanpa melirik Kapten Madava yang melemparkan sorot tak terbaca padanya. Panglima Sai hanya terkekeh ringan. Dia ikut berjalan, kemudian disusul Komandan Rei yang menolehkan kepala pada Adonia, dan beralih pada sang kakak. "Jaga dia. Aku akan kembali." "Kenapa harus kau yang kembali?" Kapten Davira mengejek sang adik dengan tatapan mencemooh yang dibalas raut datar dari Komandan Rei. "Kenapa memangnya? Kau punya masalah?" Kapten Davira mendesis mendapat nada menyebalkan dari balasan Komandan Rei. Saat dia berbicara, Komandan Rei mencegahnya dalam kalimat yang cepat. "Siapa pun yang kau duga di dalam kepalamu, ya, itu dia. Jangan pernah katakan itu pada siapa pun karena keberadaan gadis pembawa bencana itu adalah aib di Andara." Kapten Davira mengembuskan napas panjang saat dia mendengar suara sepatu boot Kapten Madava mendekat ke tepi ranjang. Menyusuri lengan kurus Adonia dengan gerakan lembut. "Dia sudah banyak berlatih. Tetapi, Alterio Edzard bukan lawan yang sepadan untuknya." "Dia tidak seharusnya membuat Adonia hingga babak belur sejauh ini. Gadis ini tidak melakukan apa-apa." Kapten Davira mengerjap menatap tubuh Adonia yang lemah. Kedua bahu Kapten Madava hanya terangkat. "Dia juga bukan lawanku. Bukan lawanmu. Alterio Edzard hanya sanggup ditahan oleh Jenderal yang membawa gen sama dari klan keluarganya." Kapten Davira mendesah. Dia mengulurkan tangannya, memegang dahi Adonia dengan telapak tangan saat suhu tubuhnya terasa panas. Adonia demam. "Dia demam." Kapten Madava menekan alat di sisi ranjang Adonia agar dokter yang menanganinya segera datang. Tidak perlu menunggu lama, Dokter Mei masuk ke ruangan dengan wajah cemas. Memeriksa kondisi Adonia yang ternyata mengalami demam tinggi. "Ini pasti karena efek luka-luka di tubuhnya." Dokter Mei menyuntikkan sesuatu dan dia memberikan satu botol cairan infus lain untuk Adonia agar demamnya turun. "Sebaiknya, pasien istirahat lebih dulu. Apa kalian berdua mau meninggalkannya sendiri?" Kapten Davira menghela napas pendek dan Kapten Madava mengangguk pelan tanpa membantah. "Kami akan pergi." *** "Nohara Rin masih hidup." Letnan Aristide mengangkat alis. Begitu juga dengan Jenderal yang langsung memutar badan menatap Panglima Sai. Mata pekat Jenderal yang dingin mengarah pada Komandan Rei, yang mendapat reaksi sama. "Nohara Rin masih hidup?" Letnan Aristide mendesis tak percaya. Mereka belum ada dua puluh empat jam mengintai markas Alterio Edzard yang berperan sebagai ketua Organisasi Bendera Hitam, sudah mendapatkan informasi yang mengejutkan ini. "Tapi, kenapa bisa?" Letnan Aristide masih terperangah bingung. "Ledakan itu. Dia seharusnya juga tidak bisa berlari karena kondisi kakinya yang cacat. Kenapa bisa?" "Darius. Aku menduganya." Sang Jenderal mendesis dingin. Dia mengusap topi militer yang terpasang dengan tatapan datar. "Darius salah satu anak buah Edzard yang paham tentang keadaan militer kita karena dia pernah ada di sini. Aku harus merombak formasi dan beberapa hal lain di dalam militer demi mereka dan melambatkan gerak musuh." Panglima Sai menipiskan bibir. Dia melirik Komandan Rei saat Letnan Aristide berdiri, menghadap Jenderal dengan tatapan berapi-api. "Aku akan pergi untuk menyisiri persembunyian Alterio Edzard." Alis Sang Jenderal terangkat. "Kau yakin?" Letnan Aristide tampak yakin. Dia menatap Komandan Rei sekaligus Panglima Sai dalam satu waktu. "Aku menduga, dia punya persenjataan dan pasukan yang kuat dibawah kepemimpinan Alterio Edzard untuk menyerang Andara suatu saat nanti." "Mana tahu dia punya pesawat tempur yang membawa misil berkekuatan ledak tinggi, kan?" Panglima Sai menyeringai ngeri dan Letnan Aristide menatapnya datar. Sang Jenderal melirik peta dan beberapa alat digital yang menggambarkan kondisi persembunyian Alterio Edzard dari segala sisi. "Aku rasa tidak ada. Organisasi Bendera Hitam hanya mengandalkan penelitian dan Alterio Edzard sebagai ketua mereka yang membawa gen unggul di dalam kelompok. Selebihnya, mereka akan menggunakan peledak atau senjata yang mampu menahan senjata kita di dalam militer." "Kalau begitu, Angkatan Udara dan Angkatan Darat harus berlatih keras untuk meminimalisir kekalahan." Komandan Rei mendesis dan Jenderal mengangguk pelan. "Aku akan bicara pada Kapten Davira." "Aku sudah memerintahkan mereka untuk memimpin pasukan. Khususnya wanita yang bisa menyelinap dan berkamuflase dengan mudah. Karena pada dasarnya, semua wanita memiliki kemampuan itu. Berpura-pura manis, kemudian berubah menjadi iblis setelah topengnya terbuka." Jenderal berkata dingin dan ekspresi Panglima Sai mengernyit menatap pekat yang begitu gelap di diri Jenderal. Sang Jenderal mengangguk tajam. "Aku akan terus menekan Departemen Kesehatan melakukan penelitian demi penyembuh massal bagi militer dan senjata yang bisa melumpuhkan mereka dalam sekali waktu. Kita harus punya persiapan sebelum pemberontak itu menyerang." Letnan Aristide yang sejak tadi memalingkan muka ikut berbicara. "Panglima Sai, kau ikut denganku." "Kenapa harus?" Letnan Aristide menoleh dengan ekspresi ketat saat Panglima Sai hanya mengangkat bahu dengan senyum dingin tertahan. "Baik, Letnan. Aku ikut." "Aku akan pergi ke Distrik Aster bersama Panglima Sai." "Distrik Aster?" Komandan Rei membeo bingung. "Kenapa kau mencari sesuatu pada distrik yang gemar membuat seni perhiasan?" "Addi Julian kemarin membicarakan distrik ini menggebu-gebu. Aku curiga kalau Alterio Edzard menaruh sesuatu yang berlebih dalam distrik ini. Mungkin, gudang persenjataan yang bisa melumpuhkan kita?" "Pergilah. Sisir semua tempat. Kalau sesuatu mencurigakan, kau bisa membunuhnya langsung di lokasi tanpa komando dariku." Letnan Aristide mengangguk dan Panglima Sai terdiam, dia ikut mengangguk saat mengikuti langkah Letnan Aristide. Menatap Komandan Rei dengan pandangan mencibir sebelum kepalan tangannya mendarat pada bahu lebar Sang Komandan. "Aku akan pergi untuk melihat situasi." Komandan Rei bergerak mundur setelah membungkuk sopan dan menutup pintu. Meninggalkan Jenderal seorang diri di dalam ruangan. Mengernyit dengan pandangan gelap yang menakutkan. *** "Kau sudah lebih baik?" Adonia—yang tanpa mereka duga sadar lebih cepat membuat Komandan Rei takjub sekaligus kagum karena kemampuan imun gadis ini sangat baik. Demamnya tidak lagi tinggi, hanya meninggalkan suhu hangat yang membanjiri seluruh tubuhnya. "Sudah. Terima kasih." Adonia menaikkan selimutnya yang merosot. "Kau ada di sana, kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD