"Kenapa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Alterio Edzard mencengkram dagunya. Dia mengangkat Adonia ke udara dan membantingnya dengan mudah ke atas tanah. Membuat Adonia terbatuk keras saat Alterio Edzard menginjak kakinya, ingin meremukkannya.
Adonia mendesis tertahan. Dia menggunakan kaki yang bebas untuk berputar, menendang lutut Edzard cukup keras hingga injakan itu terlepas. Adonia kembali bangun, hanya untuk mendapatkan sinar laser merah terarah ke pelipisnya dari Dokter Julian.
"Apa yang kau inginkan?"
Alterio Edzard tertawa keras. Begitu keras hingga Adonia merasa kulitnya meremang. Dia mendapati Adonia tidak akan kalah begitu saja di bawah kakinya. Gadis ini tidak akan mudah ditaklukkan.
"Mati. Kematianmu."
Kedua mata Adonia melebar saat Alterio Edzard melayangkan satu pukulan ke wajahnya hingga Adonia terbatuk darah. Gadis itu limbung di atas tanah. Membuat Komandan Rei dan Panglima Sai menyiapkan senjata untuk melakukan serangan yang tepat.
Sebelum Adonia kehilangan kesadaran karena hantaman sekali lagi dari Edzard, samar-samar dia mendengar suara tangisan tertahan dari seseorang yang dia kenal. Seseorang yang begitu dekat dengannya. Seseorang yang memiliki ikatan batin dengannya.
"Aku ..."
Dan pukulan sekali lagi berhasil membuat Adonia kehilangan kesadaran dengan darah mengalir dari dua lubang hidungnya.
Kedua mata pekat Panglima Sai menggelap sempurna. Dia mendesis dingin, terlebih saat tubuh Komandan Rei membeku dan Panglima Sai menolehkan kepala guna mencari tahu mengapa Komandan Rei begitu kaku.
"Bukankah, dia ... kenapa dia masih hidup?"
Panglima Sai memicingkan mata dingin saat dia tahu, sesuatu di balik bunker itu begitu menyeramkan dan misterius.
Dan sosok itu adalah buktinya. Sosok yang berdiri di ambang pintu yang rusak itu dengan isakan tertahan menatap tubuh lemah Adonia yang tergolek tak berdaya.
***
"Sudah hentikan!"
Nohara Rin berteriak marah. Terutama pada Alterio Edzard yang membabi-buta menyerang Adonia tanpa ampun. Seakan dia memang ingin membuktikan bahwa keinginan kuatnya membunuh Adonia benar-benar harus terwujud.
Teriakan Rin yang menggema di sepanjang lapangan yang sepi membuat semua atensi menoleh. Terutama Addi Julian yang menyeringai pahit karena adegan seru di depannya harus terhenti berkat wanita menjengkelkan ini.
"Masuk saja kau di dalam!" Addi Julian membentak dan Alterio Edzard sekali lagi menggeram karena keterlibatan Rin dalam kegiatan menghabisi lawannya.
Panglima Sai menggeram dalam suaranya. Dia mengepalkan tangan hendak membunuh Nohara Rin kembali saat Komandan Rei menggeleng penuh peringatan padanya. "Kita di sini untuk memantau. Ingat? Jangan gegabah."
"Dia masih hidup!" Sang Panglima berbisik dengan ekspresi dingin luar biasa. Di antara dia siap meledak atau sedang berusaha sekuat tenaga menahan diri.
Komandan Rei hanya mengangguk pasrah. Tahu akan kemarahan Sang Panglima bisa membuat penyamaran mereka terpojok. Alterio Edzard menatap jijik pada diri Adonia yang sekarat saat Addi Julian hendak memindahkannya, Rin sekali lagi berteriak dengan nada mengancam.
"Sentuh dia, kubuat kau menderita."
Alterio Edzard menoleh. Menatap geram pada dokter yang pernah berjaya di era Jenderal Saveri. "Kau mengancam?"
"Aku bisa membuat siapa pun menderita. Kau hanya tidak tahu," Rin menggeleng dengan ekspresi kaku. "Bahkan, sosok yang masih di antara hidup dan mati itu, aku bisa membunuhnya. Kau mau aku melakukannya?"
"Kurang ajar!"
"Bos, sudah." Addi Julian menahan pundak kokoh Edzard yang hendak merangsek untuk menghajar Rin sama kuatnya dengan Adonia yang terkapar. Mereka benar-benar bermulut besar yang membuat Alterio Edzard muak dan ingin segera menghabisinya jika saja Nohara Rin tidak berguna untuk kelompoknya.
Percakapan mereka didengar oleh Sang Panglima dan Komandan Rei yang mengernyit. Mereka hanya terdiam. Mencerna semua ucapan Rin dalam keheningan yang menyakitkan sampai Panglima Sai berekspresi muram menyatakan pendapatnya.
"Sosok yang masih di antara hidup dan mati?" Panglima Sai berbisik tajam dan Komandan Rei mengernyitkan kening sebagai balasan. "Menurutmu, siapa?"
"Jenderal Saveri?"
Komandan Rei mendesis menatap Panglima Sai. "Kita tidak ada di dalam kelompok diskusi untuk menebak-nebak sesuatu. Kau harus fokus pada lawan di depanmu."
Panglima Sai menyeringai pahit saat dia mendesis sebagai reaksi dan menatap tubuh Adonia yang terbujur kaku. Seolah darah disedot habis dari dirinya dan Alterio Edzard meninggalkannya begitu saja ketika anak buahnya membuang Adonia ke perbatasan hutan agar siapa pun tidak masuk ke area mereka.
"Cepat, tolong dia."
Komandan Rei berlari saat dia melepas senjatanya ke dalam seragam militernya untuk menahan diri agar dia tidak meninggalkan jejak membunuh anggota Bendera Hitam seperti tadi.
"Bawa mobilmu. Kita harus kembali ke Benteng Ankara secepatnya."
Panglima Sai mendesis dingin menatap luka-luka yang diderita Adonia hingga dia berlari mengambil mobil militer miliknya dan Komandan Rei yang menggendong Adonia hati-hati segera masuk ke dalam untuk membawanya ke rumah sakit.
***
Kapten Davira berlari bersama Kapten Madava saat mendengar bahwa istri Jenderal kembali dalam keadaan sekarat dan luka yang benar-benar parah karena pukulan dari seseorang. Sebelum Kapten Davira ingin bertanya, tangan Kapten Madava mendarat di pundaknya. "Alterio Edzard. Sudah jelas, kan?"
Kapten Davira meringis pelan dan dia masuk ke dalam ruangan isolasi khusus di dalam rumah sakit yang hanya diperuntukkan bagi Jenderal mau pun keluarganya jika mereka sakit atau terluka. Membuat Kapten Davira mendesis pelan saat dia pertama kalinya masuk ke dalam kamar yang tiga kali lipat lebih besar dari kamar pada umumnya dan menatap kejauhan bagaimana Adonia yang terbaring dengan luka dan botol infus yang sedang diganti.
"Dia juga dehidrasi."
Ada Sang Jenderal di dalam kamar. Bersama Letnan Aristide dan Panglima Sai. Komandan Rei memilih tempat agak jauh saat kepala Kapten Madava menoleh ke arahnya dan Komandan Rei tampak termenung diam.
Sang Jenderal menatap Dokter Mei dengan tatapan dingin sebelum akhirnya sang dokter memilih untuk pergi karena tatapan Jenderal cukup membuatnya mengkeret ketakutan.
"Dia mengikuti Addi Julian karena insting biasa atau ada hal lain? Bagaimana bisa istrimu begitu bodoh menantang maut?"
Letnan Aristide berkata dengan nada tajam dan Jenderal hanya menekuk kedua alisnya. Menatap Letnan Aristide dengan sorot dingin yang menilai. "Dia ingin membuktikan sesuatu."
"Dia bukan seorang pengkhianat." Komandan Rei menyela di belakang mereka. Dia sejak tadi diam. Sejak dia membawa Adonia ke rumah sakit. Sejak dia menunggunya untuk mendapatkan pertolongan medis atas luka-lukanya. "Dia ingin membuktikan sesuatu bahwa dia bukan seorang pengkhianat seperti yang kau tuduhkan, Letnan."
"Aku?" Letnan Aristide mendengus tajam. "Kau pikir apa yang bisa kukatakan kalau dia memang seperti pengkhianat yang tiba-tiba menghilang sepuluh tahun yang lalu?"
Panglima Sai menatap Letnan Aristide dengan alis terangkat. "Ah, gadis itu?" Mata pekatnya yang senada dengan warna sepatu boot melirik ke arah Jenderal. "Dia tewas dalam ledakan yang Jenderal kirimkan, bukan?"
Letnan Aristide melirik Sang Jenderal dengan pandangan menilai. Sebelum akhirnya, dia menyerah. "Aku tidak ingat."
"Menurutku, dia sudah mati. Ledakan itu sangat mematikan. Hampir memusnahkan seluruh pemberontak dalam sekejap. Dan saat kau menemukan Adonia masih hidup, kau mengira dia juga hidup?" Komandan Rei berekspresi bosan saat dia menatap Jenderal yang terpekur diam.
Kapten Davira dan Kapten Madava hanya terdiam. Mereka saling berpandangan dan menduga-duga, tetapi keduanya hanya diam.