"Bagaimana?"
Komandan Rei melompat turun saat alat di telinganya bergetar pelan.
"Tidak, Letnan. Kau tetap di sana. Awasi pergerakan Addi Julian."
Panglima Sai mengangkat alis saat Komandan Rei memberikannya teropong pengamat itu dengan tatapan dingin.
Setelah itu, Komandan Rei menoleh menatap Panglima Sai yang masih mengunyah permen rasa hambar di dalam mulutnya dengan sorot datar.
"Kau menemukan sesuatu?"
Kepala Komandan Rei menggeleng singkat. "Tidak ada yang mencurigakan. Semua tampak tenang. Alterio Edzard belum menunjukkan tanda-tanda dia akan menyerang benteng lagi setelah insiden waktu lalu."
Panglima Sai mendesah panjang. Dia meludah permen di atas tumpukan tanah kering dan mendesis. "Tidak menyerang bukan berarti mereka tidur, kan?"
Komandan Rei mengangguk pelan. Dia menatap Panglima Sai kemudian masuk ke dalam tenda darurat milik militer hitam Andara yang dia bawa.
Panglima Sai menurunkan teropongnya. Dia membuka topi militernya dan mengusap rambut legamnya dengan kasar.
"Aku akan mencari sesuatu di sekitar sini. Kau membawa bahan makanan cukup, kan?"
Komandan Rei mengangguk saat dia keluar dan bersiap untuk mengumpulkan kayu bakar. Sebelum langkah Panglima Sai menjauh, dia mendengar langkah kaki menginjak dedaunan pinus yang kering di atas tanah.
Panglima Sai melirik awas sekitarnya. Dia berjalan mundur tanpa membuat suara sepatunya bergema. Dan melirik tajam pada Komandan Rei yang menunduk, menyiapkan senjata di balik seragam militernya.
"Arah selatan."
Panglima Sai menunduk saat Komandan Rei mendesis tajam dan melemparkan satu peluru pada salah satu anak buah Alterio Edzard yang mengekori mereka dan memberanikan diri memyerang dua petinggi Andara yang sedang waspada.
Panglima Sai mengernyit jijik. Saat letusan peluru itu membuat dahi lawannya berlubang lebar. Dia mendesis, tersenyum lebar menemukan kedua mata cokelat itu membelalak kaget karena peluru itu terbang cepat menembus tengkorak kepalanya.
Adonia menelan bubur kerangnya dengan kasar. Saat dia menatap Dokter Julian mengendap-endap keluar dari dalam Benteng Andara masuk ke dalam hutan.
Kapten Davira menatapnya dalam diam. Dia hendak memanggil Adonia, tetapi tertahan oleh Kapten Madava yang menghampirinya dengan raut serius. "Letnan Aristide meminta kita bertemu."
"Kita berdua?"
Kepala Kapten Madava mengangguk. Ekspresinya tampak murung. "Suasana hatinya memburuk. Kurasa, sesuatu terjadi."
Kapten Davira memasang ekspresi cemas. Dia mengangguk. Kemudian, membiarkan Adonia pergi membawa anak panah dan busurnya berjalan masuk ke dalam hutan, tanpa dipedulikan militer yang memandangnya datar sekaligus mencemooh.
Adonia tidak peduli. Dia melangkahkan kaki semakin jauh saat Dokter Julian begitu mencurigakan. Membuatnya ingin tahu apa yang akan dokter muda itu lakukan di belakang Andara.
Saat dia masuk ke dalam hutan dan mulai menjauh dari benteng. Adonia menengadah menatap langit yang tampak sejuk. Gumpalan awan pekat berjalan menutupi matahari dalam gerakan pelan. Adonia mendesah, mengusap pelipisnya dengan senyum menyemangati dirinya sendiri.
Dia semakin waspada saat dia hampir kehilangan sosok Dokter Julian dari pandangannya. Adonia mengendap-endap, bersembunyi di semak-semak karena dia bisa mengendap-endap untuk menangkap pencuri atau berburu hewan. Instingnya sedikit terlatih untuk hal ini.
Dokter Julian semakin dalam melangkah ke hutan pohon pinus. Adonia mengerjap, dia menatap jalanan ini adalah jalanan alternatif lain menuju Distrik Lily, distrik yang membesarkannya. Saat Adonia menghentikan langkah, hantaman rasa rindu sekaligus menyakitkan itu hampir membuatnya terhuyung.
Dia kembali menggeleng. Berjalan menembus lebatnya semak-semak karena jalan ini jarang dilalui warga menuju benteng terkecuali para militer hitam yang terbiasa menerjang jalan bebatuan yang terjal.
Panglima Sai berdiri waspada saat mendengar sesuatu mendekat. Komandan Rei yang sejak tadi duduk, ikut waspada. Pendengaran mereka semakin peka saat di militer.
"Siapa?"
"Kurasa, ada yang mendekat ke arah persembunyian." Panglima Sai mendekat. Dia meminta Komandan Rei untuk memanjat pohon pinus di saat dirinya ikut memakai teropong jarak jauh untuk melihat siapa yang datang.
"Addi Julian."
Alat di telinga keduanya bergetar pelan. Panglima Sai menekannya dan Komandan Rei segera turun untuk mendekat.
"Addi Julian melarikan diri dari pengawasan Letnan Aristide."
Itu suara Sang Jenderal.
"Kami mendapatkannya, Jenderal. Jangan khawatir."
Panglima Sai melebarkan seringainya saat dia mengedip pada Komandan Rei yang jengah. Kemudian, sambungan mereka terputus begitu saja.
Komandan Rei memicingkan mata saat dia merebut teropong itu dan Panglima Sai mengarahkan alat pemotong semak-semak di depannya dengan kasar. Membuat semak-semak itu terpangkas hingga sebatas lutut mereka.
"Bukankah itu ... istri Jenderal?"
"Kau bercanda?" Panglima Sai berlari dan dia dengan sengaja menginjak salah satu mayat anggota Bendera Hitam dan mengintip dari batang pohon pinus. Kedua mata pekatnya menangkap sosok Adonia dalam pakaian militer hitam sebagai anggota muda tengah mengikuti langkah Addi Julian diam-diam.
"Mau apa dia?"
Komandan Rei mengangkat bahu. Dia melempar teropongnya dan mendekat dengan senjata lengkap di dalam seragamnya saat Sang Panglima mengangguk guna mengikuti langkah Adonia di belakangnya.
Adonia terdiam. Saat Dokter Julian membawa dirinya ke suatu bunker usang yang tampak kotor dan pengap. Kedua mata Adonia menyipit. Terlebih saat Dokter Julian merangsek masuk dan meloncat ke dalam.
Adonia terdiam sebentar. Dia menatap bunker itu dengan pandangan lain saat tiba-tiba Darius melompat dari atas pohon pinus, menerjang Adonia tanpa ampun dan membuat tubuhnya yang belum siap terhempas jauh ke atas tanah.
Panglima Sai hendak mendekat. Tetapi, Komandan Rei menahan tangannya, hampir membanting Sang Panglima yang tanpa perhitungan. "Salah melangkah, kita kehilangan segalanya."
Panglima Sai mendesis dingin. Dia menepis tangan itu dan menatap nyalang ke arah Adonia yang mencoba bangun. Saat Darius menyerangnya dengan membabi-buta, Adonia mengeluarkan pisau lipatnya, menggores lutut Darius dengan ujung pisau yang runcing. Membuat Darius memekik tertahan.
Adonia kembali ditendang hingga wajahnya membentur tanah. Dia kembali bangun, saat Darius hendak melarikan diri, Adonia membawa busur dan anak panahnya menargetkan punggung Darius, melemparkan salah satu anak panah tepat ke punggung pria itu dan menancap dalam di sana. Membuat Darius seketika ambruk.
Tumbangnya Darius rupanya memancing anggota Bendera Hitam naik ke permukaan. Adonia menatap semuanya dengan pandangan melebar. Tahu bahwa Dokter Julian adalah seorang pengkhianat di bawah Organisasi Bendera Hitam membuat Adonia terkejut.
Karena Andara menyimpan duri yang begitu berbahaya.
Adonia menyimpan busurnya saat dia mengeluarkan pedang berukuran pendek yang Kapten Davira selipkan di seragamnya sebelum dia kembali berlatih. Adonia memasang sikap bertahan dan akan menyerang jika musuh sudah sangat dekat dengannya. Disaksikan Komandan Rei dan Panglima Sai yang tidak pernah melepaskan mata mereka dari istri Sang Jenderal.
Saat satu tembakan berhasil membuat semuanya berhamburan. Saat satu peluru berhasil membuat pedang Adonia terjatuh. Dan saat Adonia ingin kembali memegangnya, satu peluru mengarah ke telapak tangannya dan Adonia memekik tertahan. Merasakan peluru itu tertancap di telapak tangan kanannya dengan menyakitkan.
Rintihan itu terdengar. Begitu pula dengan darah yang terus mengalir. Adonia menunduk, menatap telapak tangannya dengan kedua mata nanar bercampur marah saat dia menoleh, menemukan Alterio Edzard memandangnya mencela sekaligus merendahkan.
"Wah, Caris Adonia." Sapanya dingin. Adonia mencoba bangun, walaupun tangan kanannya mulai mati rasa. "Kau bahkan tidak pantas menyandang nama Alterio walau Zedyn menikahimu."
Penghinaan Alterio Edzard membuat Adonia bungkam. Dia merintih, merasakan sakit yang amat sangat tetapi dia sebisa mungkin menahannya.
Alterio Edzard mendekat. Dengan moncong pistol dari anggotanya terarah pada Adonia dan siap memberondongnya dengan tembakan ketika Adonia melakukan perlawanan. Mata Adonia mengerjap, memandang Edzard dengan sorot datar.