(a)

1024 Words
Kapten Davira menatapnya dengan alis terangkat. Kemudian, kepalanya terangguk pelan. "Aku mengerti. Aku pernah ada di posisimu. Didikan ayah kami sangat kuat. Itu yang membuatku dan Komandan Rei menjadi seperti ini sekarang." "Apa kau menyesalinya?" Adonia berbisik pelan. Kapten Davira menatapnya dengan gelengan kepala tegas. "Sama sekali tidak. Aku benar-benar bangga atas pencapaian diriku yang sekarang. Aku menjadi kuat. Tidak menjadi lemah dengan berlindung di balik ketiak laki-laki. Apa kau ingin seperti itu? Padahal, Jenderal bisa melindungimu. Dengan seluruh kekuatan di Andara, mereka akan merelakan nyawa mereka demi Jenderal dan keluarganya." Adonia memandang hamparan lapangan yang sepi dengan senyum kecut. Dia menggeleng tipis, mencari botol minum lain di keranjang. Ekspresinya berubah pias. "Sejak aku kecil, aku selalu berlindung di balik orang-orang di sekitarku. Mereka tidak pernah keberatan melindungiku yang lemah. Hanya saja ... kau tahu, terkadang semua sulit." Adonia melirik Kapten Davira dengan senyum sendu. Dia mengerjap, memandang langit yang tampak biru. "Aku terkadang berpikir untuk membalas mereka dengan caraku sendiri." "Apakah ... kau dan Jenderal baik-baik saja?" Kapten Davira terdiam. Tidak seharusnya dia mencampuri urusan rumah tangga orang lain. Terlebih dia Adonia, anak didiknya sendiri. Mereka dekat hanya karena Kapten Davira bertindak sebagai pelatihnya. "Kami baik." Adonia tersenyum samar. Memandang jauh ke luar lapangan. Kapten Davira memandangnya sejenak. Kemudian, terdiam. Dia menatap pintu masuk lapangan Angkatan Darat dan menemukan Kapten Madava melepas topinya, memandang ke arahnya dengan tangan terangkat. "Kapten Madava mengajak kita makan bersama di camp militer. Kau mau bergabung?" Adonia tersentak. Dia menoleh dan menemukan Kapten Madava hanya menunduk sedikit padanya dan berlalu pergi. "Tidak apa? Aku takut jika mereka bilang aku diperlakukan istimewa hanya karena aku istri Jenderal." Kapten Davira turun dari kursi. Membawa topi militernya untuk dia genggam dan menggeleng samar. "Jangan pedulikan. Mereka tidak keberatan kalau kau makan dimana saja." Kapten Davira berjalan santai meninggalkan Adonia yang termenung, kemudian gadis itu melompat turun dan mengejar langkah Kapten Davira dengan senyum tertahan. *** Nohara Rin menoleh saat Darius, tangan kanan Alterio Edzard melangkah santai memasuki ruang penelitian yang tersembunyi di bawah tanah bunker persembunyian mereka. Wajah Darius tampak serius. Beberapa guratan akibat pertempuran jarak dekat membuat sisi wajahnya membekas luka yang cukup dalam. Terutama di sekitar pelipis dan bawah mata. "Aku melihat Komandan Rei berkeliling area Distrik Lily kemarin siang. Aku bersembunyi." Ekspresi Darius tampak jengkel. Dia mengusap bekas luka akibat benda tajam dengan kasar. "Ini semua karena militer hitam Ankara itu. Mereka benar-benar bajingan." "Apa maksudnya?" Rin bertanya dan Darius memandangnya dingin. "Kau bertanya?" Dia terkekeh pahit. "Mereka hampir membunuhku. Kau tahu, Letnan biadab itu bahkan meninggalkan bekas ini di wajahku!" Nohara Rin menatapnya jijik. Dia mengambil kruk yang tersampir di depan meja dan berjalan untuk melihat tabung besar di tengah ruangan sembari tertatih-tatih. "Kau bisa berjalan dengan kakimu yang cacat itu?" Darius mendengus tajam. "Kurasa, sebaiknya Andara membuang orang cacat sepertimu karena menyusahkan." Rin menoleh tajam. Dia menatap Darius dengan sorot marah. "Aku masih berguna. Dan kau sebaiknya tutup mulutmu." Darius hendak membalas perkataan Rin atas penghinaannya saat Alterio Edzard masuk, menengahi mereka berdua dan melemparkan tatapan dinginnya pada Darius yang membeku. "Mau apa kau di sini?" "Melihat percobaanmu." Balas Darius tenang. Menatap Alterio Edzard dengan pandangan mengejek. "Keluar sebelum aku menghajarmu. Kau dilarang datang kemari jika aku tidak memanggilmu, Darius." Darius berdecak marah. Dia beranjak keluar ruangan dengan napas berat. Dia berjalan pergi, meninggalkan ruangan dan menutup pintunya dengan kasar. Nohara Rin menghela napas. Dia menatap sosok menyedihkan itu dengan tatapan datar. Samar-samar dia mendengar Alterio Edzard mendekat. "Dia sangat cantik, kan?" Rin membuang muka. Memandang alat-alat yang memonitori detak jantung sosok di dalam tabung. "Kau bertanya? Bagiku tidak." Alterio Edzard terkekeh pahit. Dia mengusap kedua matanya dengan sorot dingin. "Aku tidak butuh pendapatmu. Semua orang yang melihatnya, mengatakan hal yang sama." Rin berpaling. Memandang sosok itu lekat-lekat dan dia menghela napas. "Di saat orang lain berharap akan kehidupannya. Aku malah berharap dia mati." Jelas saja Alterio Edzard tersinggung mendengar kalimatnya. Rin belum sempat pergi, dia merasakan tangannya terhempas. Membuat kruk yang bekerja sebagai penopang tubuhnya terjatuh dan dia ikut limbung hingga membentur meja di belakangnya. Rin mendesis marah. Dia menatap Edzard yang balas memandangnya sengit. "Katakan, sekali lagi. Aku benar-benar akan membunuh Adonia di depan matamu." Rin mengerjap. Dia melihat Alterio Edzard melemparkan tatapan mengintimidasi padany sebelum pria itu berbalik pergi dan Rin berteriak marah padanya. "Aku lakukan ini bukan tanpa alasan." Rin mendongak, menatap punggung Alterio Edzard dengan tatapan basah bercampur benci. "Selama ini, kau, keluargamu, membuat Adonia tertekan dan dia membenci dirinya sendiri. Dia lemah, dia menderita karena kalian!" Alterio Edzard menoleh. Menatap Rin dengan pandangan menilai. "Kau tahu apa?" "Dia saudaraku! Aku mengerti penderitaannya!" "Dia bukan apa-apa jika tidak membawa lambang kupu-kupu di bahunya!" Alterio Edzard balas membentak. Membuat kedua mata Rin melebar sempurna. "Apa maksudmu?" Edzard memutar badan. Menatap Rin dengan sorot dingin. "Kau tidak tahu arti lambang kupu-kupu itu di klan kami?" Dia tertawa pahit. "Adonia tidak akan mati semudah itu. Dia ... kuat. Jauh dari apa yang kau bayangkan." Rin terperangah tak percaya. "Aku harus membunuhnya sebelum dia jauh lebih dari ini. Dan membiarkan semua rencanaku kacau!" Setelah mengucapkannya, Edzard merangsek pergi dan meninggalkan Rin seorang diri. Dia menatap punggung pria itu yang mulai menjauh dan mengepalkan tangan ketika kepalanya menoleh. Memandang sosok dalam tabung yang tertidur damai. "Aku akan menjadikanmu lemah. Aku akan membuatmu tak berdaya. Kau ... kau tidak akan bisa membuat Adonia kembali menderita. Tidak lagi." Rin bergerak ke mejanya. Dia menggigit salah satu kabel yang menancap pada selang dan mencoba memasukkan cairan lain ke dalam selang itu dengan hati-hati. Sampai dia menatap kembali ke dalam tabung, menemukan tubuh yang kaku bagai mayat itu bergerak gelisah seolah meronta kesakitan. Rin tersenyum puas. Dia menatap nyalang ke arah sosok itu. Gerakan tangannya semakin lincah ketika dia mencampurkan bahan demi bahan untuk membuat sosok di dalam tabung itu semakin meronta karena tubuhnya berusaha menolak cairan yang dipaksakan ke aliran darahnya yang membeku. *** Panglima Sai menatap Komandan Rei yang duduk di atas pohon pinus dengan teropong jarak jauhnya. Teropong itu sangat canggih. Dilengkapi alat pengukur yang tepat dan musuh yang membawa senjata mampu terdeteksi dengan baik agar militer yang melihatnya mampu menyerangnya sebelum senjata yang disembunyikan lawan keluar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD