Selepas kepergian Jenderal di pagi hari, Adonia melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Menatap pantulan dirinya dari cermin yang menampilkan dirinya dalam pose tanpa busana yang menonjol.
Bekas kemerahan itu masih ada. Membekas di pundak, atas dadanya dan bahkan lehernya. Adonia mendesis. Mengusap kedua matanya yang tampak bengkak, kemudian mengusapnya dengan seringan bulu. Senyum dingin terbit di wajahnya yang pucat.
"Kau harus ingat ini. Jika kau tidak bisa membuat Jenderal luluh dengan kekerasan, buatlah dirimu menjadi lemah di matanya."
Air mata palsu yang dia keluarkan untuk membawa hati Jenderal yang keras, sedikit berhasil. Adonia mendesis, mengusap permukaan kulitnya dengan ekspresi ketat menahan sesuatu di dalam diri. Dia terlalu lama tertekan, dan dia ingin menunjukkan bahwa dia tidak lemah.
Semalam, Jenderal tampak merenung terlalu lama. Seolah diri Adonia yang ketat dan masih suci, menjadi sesuatu yang mengejutkan untuknya. Adonia menunduk, mengepalkan kedua tangannya di atas permukaan wastafel dengan pandangan kosong.
Ingatan Sang Jenderal tentang sosok itu kembali. Dan Adonia merasakan dunianya akan runtuh sebentar lagi.
Dan Adonia tidak lagi menjadi gadis yang hanya menurut apa kata suaminya. Dia dibenci. Dirinya yang terkenal sebagai seorang pengkhianat membuatnya harus menerima penghinaan itu bahkan dari tubuh militer sendiri.
Adonia menunduk, mengerjap dengan kedua mata yang kosong. Dia menarik napas. Adonia tidak punya siapa-siapa lagi selain dirinya dan Abria Valerie. Karena Nohara Rin sudah meninggalkannya lebih dulu dan Adonia bahkan tidak bisa melihat sosoknya untuk yang terakhir kali.
***
Jenderal mendesah, mengusap pelipisnya saat dia membaca laporan dari Distrik Lily dari Komandan Rei.
"Saat aku berpatroli, Darius sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya."
Komandan Rei mendesah. Dia menoleh guna menatap siapa yang masuk ke ruangan Sang Jenderal saat ini.
Panglima Sai masuk. Tanpa menggunakan topi militernya saat dia melangkah santai, menatap Komandan Rei dengan pandangan sinis. "Kau di sini?"
"Seharusnya, aku yang bertanya." Komandan Rei membalas tak kalah dinginnya. Membuat Panglima Sai mengetatkan rahang tak terima.
Sang Jenderal menghela napas. Sejak mereka di militer, hubungan Komandan dan Panglima memang lebih rumit dibanding lainnya. Dan sekarang, antara Komandan dengan Letnan pun sama.
Dan ini semua karena wanita.
"Aku punya tugas untuk kalian berdua. Kalian harus berkemas secepatnya."
Kedua kening mereka mengernyit sempurna.
"Awasi persembunyian Alterio Edzard. Aku rasa, ada yang mereka sembunyikan dariku selama ini."
Alis Panglima Sai menekuk tajam. "Sudah jelas. Dia menyimpan sesuatu sebenarnya tidak membuatku terkejut. Tapi, apa?"
"Kemana Letnan Jaasir dan Panglima Reiki?"
Komandan Rei menyela dengan pertanyaan singkat. Membuat alis Sang Jenderal terangkat salah satunya tajam. "Mereka bilang, ingin beristirahat. Mereka tidak akan mencampuri urusanku. Jangan temui mereka. Aku menyuruh beberapa tim untuk menjaga kediaman pensiun mereka."
Komandan Rei mengangguk. Membuat seringai Sang Panglima melebar. "Kenapa? Kau punya urusan?"
"Sama sekali bukan urusanmu."
Panglima Sai mendesis dengan wajah muram. Sang Jenderal menatap keduanya tajam. Bercampur bibir yang mengetat dingin. "Kalian sebagai anggota militer, tentu tahu apa yang harus kalian lakukan. Jika sesuatu membuat kalian terdesak, aku memberikan izin kalian untuk menembak mati mereka."
Komandan Rei mengernyitkan kening dan Panglima Sai berbanding terbalik. Dia tampak puas dengan ekspresi lebar. "Aku menunggu ini, Jenderal. Aku akan segera berkemas."
Komandan Rei melirik kepergian Sang Panglima dalam diam. Dia tampak termenung, kemudian menghela napas panjang. Semua yang dia lakukan tertangkap mata elang Sang Jenderal yang termenung diam.
"Ada yang mengganggumu?"
Komandan Rei menggeleng samar. Dia menunduk, mengangguk di bawah topi militernya saat Jenderal membuatnya berhenti sebelum menyentuh gagang pintu.
"Apa hubunganmu dengan Madava Fredella berjalan baik?"
Komandan Rei menipiskan bibir. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Karena hubungan mereka tetap tertinggal di belakang. Tanpa ada kemajuan dan selalu memukul mundur.
"Kami baik-baik saja. Tidak ada masalah." Komandan Rei berharap Jenderal tidak tahu apa-apa tentang hubungannya.
"Kau yakin? Karena sepenglihatanku, kau sedang mendekati gadis berambut pirang yang baru masuk di Departemen Kesehatan. Dia sahabat istriku, yang dia sebut saudara perempuannya. Katakan, Komandan. Kau tertarik?"
Komandan Rei lantas menoleh. Menatap Jenderal dengan tatapan menilai datar. "Apa Panglima Sai bicara tentang ini?"
"Dia tidak katakan apa pun. Bukankah, kau yang paling mengerti tentangnya yang tidak peduli pada apa pun kecuali dirinya sendiri? Panglima Sai tidak akan mencampuri urusanmu."
"Aku sedikit tidak setuju, Jenderal. Karena, Panglima Sai juga mengincar gadis ini untuk dia bunuh."
Sebelum Jenderal membalas, Komandan Rei pergi ke luar ruangan tanpa kata. Meninggalkan Jenderal yang terdiam kaku di belakangnya, bertopang dagu dan memilih sibuk pada hal lain.
***
"Ayo, Adonia."
Adonia menatap Kapten Davira yang menyeringai padanya. Dengan pedang di tangan kanannya, Adonia mundur untuk menghindari serangan Kapten Davira yang bermaksud membuatnya mundur.
Adonia melayangkan pedang itu untuk menahan pedang milik Kapten Davira saat semua orang yang lolos untuk tahap selanjutny sebagai militer hitam Ankara bersorak menatap mereka penuh kagum. Biasanya, tidak ada yang mampu bertahan lebih dari dua menit menghadapi kemampuan pedang Kapten Davira yang luar biasa. Dan kali ini, Adonia mampu menahannya hampir tujuh menit.
Kemajuan yang membuat Kapten Davira terus menyeringai puas karena tekad kuat Adonia sungguh di luar dugaannya.
"Menyerah?"
Adonia menggeleng dengan senyum lebar saat keringat berbanding terbalik dengan semangatnya. Matahari bersinar terik siang ini, dan Adonia merasakan tubuhnya terbakar. Hanya saja, dia harus bertahan demi menjadi lebih kuat. Tidak peduli beberapa kali dia harus menanggung perasaan tak nyaman karena percintaannya semalam dengan Sang Jenderal.
Kapten Davira memberikan satu dorongan terakhir dan Adonia terhuyung mundur hingga dia terbaring. Terengah-engah. Kapten Davira tersenyum miring, menancapkan ujung pedangnya di samping wajah Adonia yang memerah dan berkeringat.
"Kau luar biasa."
Kapten Davira mengulurkan tangan saat dia membantu Adonia untuk bangun. Adonia meraihnya, tersenyum lebar saat dia membersihkan keringatnya sendiri. "Terima kasih, Kapten."
"Davira saja."
"Aku tidak akan mengatakannya hanya karena aku sekarang menjadi istri dari Jenderal kalian." Adonia tersenyum saat Kapten Davira membubarkan anak didiknya dan memberikan Adonia botol air minum dari dalam keranjang.
Kapten Davira tersenyum sinis. "Aku benar mengatakannya bukan karena aku memandangmu seperti istri Jenderal Andara. Kau pengecualian karena kemajuanmu membuatku takjub. Kapten Madava juga katakan ini padaku."
Adonia mengangguk. Menghabiskan satu botol air mineral dengan senyum tipis. Kedua matanya yang berwarna hijau tampak terpantul indah karena tertimpa sinar mentari. "Aku punya harapan untuk menjadi kuat. Seperti, aku tidak lagi lemah dan hanya bisa berlindung di balik punggung orang lain. Jika bisa, aku yang melindungi mereka."