Adonia memilih untuk tidak menjawab. Jenderal memberikan usapan lembut pada lambang kupu-kupu itu. Yang membuat dirinya dan Adonia harus terikat atas nama pernikahan yang sakral.
Di tengah lampu kamar yang temaram. Jenderal bisa memandang tanda kupu-kupu yang tergambar indah dari dekat. Tanda itu bukan tanda sembarangan. Ini adalah anugerah yang dipercaya klannya sejak dahulu kala. Dan Jenderal harus terikat dengan gadis yang memiliki lambang ini sebagai bentuk ikatan suci.
Bibir dingin Jenderal mengecupi kasar sepanjang bahu dan perpotongan lehernya. Aroma Adonia yang benar-benar membuatnya candu dan hampir kehilangan akal, membuat Jenderal harus menahan diri untuk tidak menenggelamkan diri ke dalam kehangatan tubuh istrinya sendiri.
Adonia menatap sepasang mata pekat di depannya dengan pandangan sayu yang mengundang. Membuat Jenderal menggeram tak kuasa lagi, dan menyentuh bibir panas itu dengan bibirnya sendiri. Seluruh permukaan kulit Adonia terasa dingin, tetapi bibirnya hangat. Kedalaman mulutnya membuat Jenderal lupa diri.
Adonia mengerang parau di dalam ciuman mereka. Dia meremas lengan kokoh Jenderal sebagai penopang karena ciuman dan lumatan dari sang suami benar-benar seperti menyedot habis dirinya.
"Aromamu ..." Sang Jenderal berbisik parau. "Mengapa aku tidak pernah mencium aroma selembut ini sebelumnya?"
Adonia mengerutkan kening tidak mengerti. Karena sepanjang hidupnya, dia bahkan tidak pernah tidur dengan laki-laki mana pun yang ada di dalam Andara. Dia masih suci. Mahkota kebanggaannya hanya untuk pria yang dia cintai.
Jenderal tidak menahan diri lagi saat dia kembali mencium bibirnya. Melumatnya tanpa ampun dan membiarkan Adonia tahu bahwa dia b*******h terhadap dirinya. Hingga Adonia bisa membuka diri untuknya dan menikmati malam yang panas ini bersamanya.
***
Matahari belum tampak. Tetapi, siluet oranye itu sudah sedikit tampak di ujung langit. Jenderal bersandar pada bantalnya. Berbaring terlentang dengan tubuh telanjang yang tertutupi selimut hingga sebatas pinggul. Matanya nyalang terbuka sejak semalam percintaan hebatnya dengan sang istri sekaligus mengesahkan pernikahan mereka.
Dia melewatkan malam pertama dan menggantinya di hari lain. Jenderal tidak menyesali bahwa dia sudah melaksanakan ritual suami istri pada istrinya sendiri.
Kernyitan di dahinya semakin jelas seiring tatapan matanya yang mulai mendingin. Hangatnya kamar rupanya membuat Adonia bergelung semakin dalam mencari pelukan yang nyaman. Tanpa memedulikan bagaimana dinginnya ekspresi Sang Jenderal saat ini.
Kepala Jenderal menunduk sedikit. Menemukan helaian rambut merah muda yang panjang menyebar ke d**a dan seprainya. Jenderal mendesah panjang, dia meledak-ledak semalam. Tubuh Adonia menerimanya dengan sangat baik, membuat Jenderal kehilangan kewarasannya di percintaan pertama mereka.
"Dia berdarah. Ini adalah yang pertama kali untuknya."
Jenderal berucap parau. Menggeram dalam nada serak saat gambaran tentang Adonia yang menahan sakit semalam membuat bayangannya akan dia yang pernah meniduri gadis ini sebelumnya adalah kesalahan. Adonia kesakitan, dan semalam butuh waktu untuk membuatnya ikut menikmati.
Lalu, siapa gadis yang pernah menghabiskan waktu bersama Jenderal di masa lampau? Yang pernah membuat dunianya runtuh di bawah kakinya?
Jenderal mendesis dingin dalam hati. Dia tidak menemukan jawaban yang pasti. Dan semua pertanyaan di dalam kepalanya luruh sudah karena kedua mata hijau senada hutan pinus itu membuka sayu, menatapnya bersalah sekaligus bingung.
Jenderal menariknya untuk lebih dekat. Adonia memekik pelan saat tangan kokoh itu melingkari pinggangnya dengan posesif dan kembali menyentuh di titik-titik yang dia sukai.
"Apa kau sebelumnya tidak pernah tidur dengan laki-laki?"
Adonia mengernyit mendengar pertanyaan itu. Dia mendongak, menatap Jenderal dengan sorot dingin. "Tidak. Ini pertama kalinya untukku."
Sang Jenderal mengetatkan rahangnya. Mengetahui bahwa dia yang pertama untuk Adonia membuatnya tahu kalau Adonia tidak berbohong padanya.
Adonia hendak meninggalkan tempat tidur saat Jenderal meraih tangannya untuk kembali berbaring, meringkuk bersamanya di atas ranjang yang berantakan.
"Di dalam kamarmu, tidak ada pemanas." Jenderal berbisik, menenggelamkan hidungnya pada kehangatan rambut lembut Adonia. "Hanya di dalam kamarku."
Adonia menekuk alisnya tajam tidak mengerti.
"Mulai detik ini, kau akan tidur di sini. Karena aku membutuhkanmu untuk membuatku lebih hangat. Kau harus tahu tugas istri adalah melayani suaminya, bukan?"
Adonia terdiam sesaat. Dia menyadari bahwa dia tidak bisa lakukan apa pun selain terdiam cukup lama hingga Jenderal mengangkat kepala dengan ekspresi dingin karena tak lekas mendapat jawaban.
"Adonia?"
"Ya, Jenderal." Adonia menghela napas lelah. Dia membuang mukanya menahan rasa panas di dalam d**a dan matanya.
Jenderal tidak perlu repot-repot menutupi seringai lebarnya karena Adonia tidak melihatnya. Dia melirik jam di atas dinding, dan masih memiliki waktu satu jam sebelum dia bergegas pergi ke dalam benteng untuk melaksanakan tugasnya.
Adonia merasakan tubuhnya tertarik kembali ke atas ranjang dengan Jenderal yang merangkak di atasnya. Bersiap menindihnya saat tangan kokoh itu membuang selimutnya dengan kasar.
"Jika kau bukan seorang pengkhianat, aku mungkin—"
"Aku bukan seorang pengkhianat. Aku bukan pemberontak." Adonia berbisik dingin di dalam suaranya. Membuat kedua bola mata pekat yang sejak tadi memandang bibirnya harus naik ke atas matanya. "Aku hanya rakyat biasa di dalam Andara. Aku tinggal di Distrik Lily bersama dua saudara perempuanku. Aku bukan pemberontak."
Jenderal menipiskan bibirnya mendengar suara lemah itu bercampur ekspresi dingin Adonia. Apakah istrinya marah karena dia dituduh sebagai seorang pengkhianat?
"Apa kau bisa membuktikannya?"
Adonia terdiam. Matanya mengerjap dengan napas tertahan. "Apa yang harus aku buktikan jika aku tidak bersalah? Jika memakai cara kekerasan, kau akan semakin menekanku, Jenderal. Dan ini waktu terbaik dimana aku bisa memberitahumu bahwa aku bukan pengkhianat."
"Dan hampir melenyapkan gairahku padamu?" Jenderal berbisik dingin. Adonia menggelengkan kepala dengan ekspresi luruh karena kesedihan hatinya.
Jenderal menggeram dalam suaranya. Bingung akan ucapan Adonia dan kekerasan hatinya yang terus berteriak bahwa gadis di dalam pelukannya ini bukanlah sosok jahat yang akan mengancamnya. Dia hanya gadis biasa. Hanya gadis biasa.
Adonia memejamkan mata saat bibir dingin Sang Jenderal melumat bibirnya dengan kasar. Seolah melampiaskan apa yang ada di dalam benaknya pada dirinya. Adonia merintih pelan, merasakan ciuman Sang Jenderal begitu berbeda dari sebelumnya. Seakan ada yang meledak di dalam dirinya.
Jenderal menarik wajahnya menjauh. Membiarkan keduanya tersengal-sengal karena ciuman. Hanya ciuman, dan Jenderal merasa napasnya tersedot habis.
Adonia memerah di bawah kurungannya. Gadis itu membuka mata, menatapnya dengan pandangan berkabut. Antara marah, sedih, kecewa dan bingung.
"Aku bersumpah. Kau akan membayar penghinaan atas diriku dengan tuduhan tak berdasarmu padaku sebagai seorang pemberontak. Dan membayar kematian Kakak Rin."
Sang Jenderal memicingkan mata tajam. Menilai keberanian gadis ini di saat-saat hal terintim mereka, dia masih bisa berpikir dengan akal sehat. Saat Jenderal akhirnya mendesak maju dan sang istri sudah menerimanya dengan siap, Jenderal hanya berbisik di telinganya dengan desisan tertahan.
"Aku akan menunggunya. Menunggumu melakukan perlawanan yang manis."