Kedua kepala itu mendongak, menemukan Addi Julian menginterupsi pembicaraan mereka dengan senyum ramah. "Aku Dokter Julian, aku sudah berkenalan dengan sahabatmu. Dan aku belum mengenalkan diriku secara formal pada istri Jenderal kami yang terhormat."
Adonia mengabaikan uluran tangan itu dan memalingkan muka ke arah Valerie. "Bagaimana kabarmu? Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik." Valerie mengulurkan tangan, mengusap goresan yang ditimbulkan akibat pertarungan Adonia dengan lawannya di lapangan. "Bagaimana dengan dirimu? Kau sama sekali menjadi Adonia yang berbeda."
Adonia terkekeh ringan. Dia meringkuk semakin dalam ke selimutnya. "Aku ingin menjadi kuat. Aku akan berusaha. Bukankah, ini yang menjadi alasanku untuk pergi ke militer hitam Ankara?"
"Kau benar."
Dan mereka larut dalam obrolan hingga mengabaikan Addi Julian yang mendesis menatap keduanya. Saat kedua sahabat dekat itu saling tertawa, saling melempar canda satu sama lain. Dan seolah dunia hanya milik mereka berdua. Addi Julian tidak tahu, hanya karena obrolan dan terkadang ucapan konyol bisa membuat tawa itu menular.
"Kau diperlakukan istimewa di dalam militer?"
Adonia menoleh. Dia sampai melupakan bahwa dokter yang pernah dia temui sebelumnya bersama Kapten Davira masih ada di sana, di hadapannya. "Tidak. Aku dipaksa untuk menjadi kuat dengan kedua tanganku sendiri."
"Militer hitam sekejam itu memang." Addi Julian menyahut dan Adonia kembali berlalu tidak peduli.
"Adonia, ini jam makan siang. Sebelum kau kembali, ada baiknya kau makan siang dulu untuk mengisi tenagamu. Bagaimana?"
"Apa aku boleh ... makan siang di sini?"
"Ah, istri Jenderal tentu saja bisa melakukannya." Abria Valerie tertawa pahit menyadari raut muka Adonia yang berubah pedih. Tetapi, gadis itu mencoba tegar dengan menganggukkan kepala. "Oke."
***
"Dia ingin menjadi kuat karena dia tahu dia lemah."
Letnan Aristide menoleh tajam pada Panglima Sai yang berbicara spontan pada Jenderal di hadapannya. Jenderal hanya melirik sekilas, kemudian menghela napas dingin. "Selamanya dia akan lemah."
"Jika dia lemah, dia akan dibuang dalam kelompok pemberontak. Berarti, ada di dalam diri gadis itu yang membakar dan membuat dia bertahan di dalam kelompoknya."
Komandan Rei menyela dan semua kepala tampak setuju. Tidak terkecuali Jenderal. Yang menatap bosan pada hologram menampilkan seluruh distrik di Andara. "Ada sesuatu yang aneh. Dan aku belum menemukannya." Jenderal berucap dingin. Tatapan matanya begitu tajam dan sinis. Membuat Panglima Sai mendesis karena seperti salah sasaran mendapati tatapan mata mengerikan itu.
"Apa maksudnya?"
Jenderal melarikan matanya menatap pemandangan hutan pinus dengan sorot menilai dingin. Dia terdiam, menarik napas guna menetralkan pikiran di dalam kepalanya yang berkecamuk kasar. "Dia seperti sosok lain. Bukan sosok yang kukenal dulu."
"Aku tidak mengerti." Panglima Sai menyerah mendengar suara Jenderal. Dia berdiri, mengangkat tangan sebagai arti bahwa dia menyerah dan lekas berbalik. "Aku akan pergi."
Komandan Rei mengawasinya dengan tajam. Membuat Panglima Sai melemparkan seringai mengejek padanya yang kental, dan Letnan Aristide hanya mendesah panjang sebagai bentuk ketidaksukaan atas tingkah mereka berdua yang selalu bertolak-belakang.
Jenderal masih termenung. Menatap pemandangan hutan pohon pinus yang senada dengan warna mata istrinya.
Dia harus membuktikan sesuatu setelah dia kembali pulang.
Jenderal terdiam. Melirik dingin pada Letnan Aristide dan Komandan Rei yang masih setia berada di ruangannya. "Pergi ke Distrik Lily. Periksa semua yang tersisa. Panglima Sai bilang, dia melihat Darius sering ada di sana."
"Darius?" Letnan Aristide mengernyitkan alis. "Dia anak buah Alterio Edzard, kan? Yang sempat masuk militer hitam, kemudian dikeluarkan karena mencuri persenjataan kita?"
Komandan Rei mengangguk tajam pada Letnan Aristide. Dia mengusap dagunya dan menghela napas. "Aku akan turun tangan memeriksanya langsung."
"Aku akan menyisir beberapa distrik di dekatnya. Seperti Distrik White dan Distrik Aster." Letnan Aristide berdiri. Dia saling berpandangan dengan Komandan Rei, kemudian mengangguk.
Jenderal melepas kepergian mereka dalam diam. Dia mendesis dingin, mengepalkan tangan dengan ekspresi datar yang mengerikan saat tatapan matanya menggelap mendengar nama Alterio Edzard kembali naik ke permukaan.
Dia benar-benar akan menjalankan sumpahnya membunuh dirinya.
***
Sang Jenderal menaruh mantelnya di atas tiang khusus untuk menaruh mantel yang tergantung. Dia menatap sang istri yang sibuk menyalakan pemanas karena pihak militer di dalam rumah tidak mau membantunya menyalakan pemanas itu secara sukarela. Jadi, Adonia melakukannya sendiri untuk menghangatkan ruangan yang dingin.
Jenderal melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Membiarkan Adonia menatapnya dalam diam, kemudian melanjutkan menyalakan pembakaran hingga dia berhasil, dan mengulurkan kedua tangannya di depan perapian yang menyala.
Jenderal lantas membuang wajahnya. Masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri saat dia merasakan seluruh bagian dalam kamarnya sangat hangat dan menyenangkan tubuh. Begitu kontras dengan udara di luar kamar yang begitu menusuk.
Langkah kaki Jenderal melebar masuk ke kamar mandi saat dia berdiam diri di bawah pancuran air yang hangat, merasakan seluruh kelelahannya memudar sempurna tergantikan kesegaran tiada tara selepas mandi.
Sekitar tiga puluh menit Jenderal menghabiskan waktu untuk mandi, dia memakai pakaian hangatnya yang hanya memiliki satu warna. Hitam pekat. Mengambilnya di dalam lemari besar, dan memakainya dalam gerakan cepat.
Jenderal berjalan keluar kamar. Menemukan sosok yang meringkuk di depan perapian dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Dia berjalan turun, menemukan tatapan militer ke arahnya dengan datar. "Dia memindahkan bantal dan selimut di depan perapian."
Sang Jenderal hanya mengangguk samar. Dia berdiri di belakang sang istri yang memunggunginya sembari memeluk dirinya sendiri.
Jenderal membungkuk, mengulurkan kedua tangannya untuk melepas selimut itu dari tubuhnya dan Adonia menggeliat tidak nyaman di tidurnya.
Kedua tangan kokoh Jenderal membawa sang istri ke dalam gendongan kuatnya. Dia menahan diri untuk tidak menghirup aroma yang tiba-tiba menusuk hidungnya tanpa ampun. Aroma dari Adonia. Karena jarak mereka terlalu dekat, bahkan tubuh kecil itu merapat ke tubuhnya. Seolah mencari kehangatan lain.
Jenderal mendorong pintu kamarnya lebih terbuka. Membaringkan Adonia di tengah ranjang besarnya dan dia bergerak untuk menutup pintu, menguncinya dari dalam. Jenderal kembali menatapnya dalam diam, mengernyit bagaimana damainya saat sang istri sedang tertidur.
Jenderal mendesis dingin. Dia berpaling dan berbaring di sisi ranjang yang kosong. Dia menatap Adonia yang berbaring terlentang. Malam ini, dia akan membuktikan sesuatu atas rasa janggal yang menggayuti benaknya.
Pakaian hangat yang Adonia kenakan masih terlihat rapi dan bersih. Jenderal bernapas kasar, dia menyentuhkan jemarinya tanpa permisi untuk menepuk pipi pucat itu.
"Bangun."
Adonia belum membuka mata.
"Bangun, Adonia."
Dan kedua kalinya. Membuat Jenderal berdecak tidak suka. Dia memberikan penekanan saat membangunkan gadis itu dengan cara kasar. "Bangun."
Adonia mendesis pelan dalam tidurnya. Seakan mimpi indahnya ditarik pergi dan dia membuka mata. Mengerjap berulang kali untuk menetralkan kepalanya yang berdenyut. Juga beradaptasi dengan suasana kamar yang tampak temaram dan hanya menyisakan lampu di atas nakas yang menyala.
"Aku di mana?"
"Di kamarku."
Adonia menoleh waspada pada suara berat yang mencekam itu. Dia secara refleks melindungi dirinya dengan kernyitan di dahi saat Sang Jenderal mendengus dan tanpa permisi, bergerak ke atas tubuhnya. Menindihnya.
"Jenderal?" Adonia berucap bingung bercampur serak sehabis bangun. "Kenapa aku di sini? Ini bukan kamarku."
"Ini kamarku." Jenderal menunduk, mencium aroma yang merasuk kasar ke dalam hidungnya dengan kasar. Sang Jenderal menggeram, menghela semakin dalam hidungnya untuk mencium aroma yang menenangkan ini banyak-banyak.
Adonia merintih pelan. Dia mencengkram selimut bersatin hitam di bawahnya dengan tangan gemetar. Dia adalah seorang istri. Dan dia tahu apa tugas istri di dalam rumah.
Ciuman Jenderal jatuh pada bahunya yang polos. Karena pakaian hangat Adonia sudah merosot sampai ke pertengahan lengan. Jenderal memberikan kecupan panas di atas tanda kupu-kupu itu. Membuat Adonia mendesis pelan dan seringai lebar Jenderal tergambar.
"Kau menyukainya?"