Nohara Rin mengerjap. Memandang sosok rapuh yang begitu dingin, pucat dan kurus di depannya. Tenggelam dalam tabung yang berisikan air hingga sebatas penutup tabung yang rapat. Tidak lupa, selang-selang kecil itu menancap di titik-titik pada bagian tubuhnya yang berlubang. Untuk membawanya tetap ada. Meskipun, tidak ada satu gerakan sedikit pun dan kedua mata itu terpejam erat.
"Bagaimana? Masih belum ada hasil?"
Rin menoleh dengan alis berkerut. Memandang Addi Julian yang tersenyum kecut menatap sosok yang begitu lemah, tetapi kecantikannya masih terpancar. "Bos kita, Alterio Edzard sudah lama menunggu ini. Bertahun-tahun dia bertahan, dan masih belum ada hasil?"
Nohara Rin menggeleng lemah. Walaupun alat-alat di dalam ruang laboratorium bawah tanah ini sangat canggih, kemungkinan besar membawa sosok ini kembali hidup dan berpijak di atas tanah cukup sulit. Kemungkinan itu ada, tetapi entah kapan.
"Jika kau menghidupkannya hanya untuk membuat senjata hidup bagi Jenderal Andara, sebaiknya—"
"Hentikan. Kau tidak seharusnya ikut campur urusan kami." Addi Julian mendesis dingin. Kedua tangannya bersedekap bosan ke arah tabung. "Apakah ini alasan Adonia dan Abria Valerie masuk ke dalam Benteng Ankara. Mencari dia?"
Nohara Rin memalingkan muka. Dia memilih untuk fokus pada pekerjaannya dan mengabaikan pertanyaan menjebak Addi Julian.
"Biar kuberitahu satu hal padamu, Adonia, saudaramu. Dia tidak diterima di Benteng Ankara. Jenderal, bahkan tangan kanan terbaiknya tidak menerimanya. Saudara perempuanmu tersiksa di sana."
Nohara Rin menunduk dalam. Meremas pakaian hangatnya yang lusuh dengan kedua mata berkaca-kaca. Dia mengerjap, menatap Addi Julian dalam pandangan siap pecah.
"Adonia tidak salah apa pun. Dia berjuang atas nama dirinya sendiri. Dia—gadis baik. Kenapa semua orang membencinya?"
Addi Julian menatap penuh cela pada Nohara Rin yang berubah lemah dan sentimental. "Kau pikir aku peduli?"
Addi Julian tersenyum mengejek pada Rin yang membuang muka. "Bagaimana denganmu? Kau berperan penting dalam membawa sosok ini kembali dan kau merahasiakan ini dari Adonia bertahun-tahun lamanya. Kau menyedihkan. Dan kau adalah saudara perempuan paling jahat yang aku tahu."
Nohara Rin ingin membentak. Meneriakkan bahwa semua yang Addi Julian katakan adalah kesalahan. Dia menggeleng pelan, mengepalkan tangan di atas meja penelitiannya sendiri saat Addi Julian malah memberikan seringai mencemooh sebagai bentuk balasan. "Apa? Kau tersinggung karena aku benar?" Julian tertawa ringan. "Kalau begitu, sampai nanti. Aku akan datang lagi setelah urusanku selesai."
"Jangan sentuh Valerie."
Addi Julian bergeming. Dia melirik dari sudut mata dan mendesah pendek.
"Jangan sentuh Valerie."
"Dia—"
"Jika kau menyentuhnya, aku akan membuat gadis ini hidup dengan menanggung cacat selama hidup sementaranya."
Addi Julian membalikkan tubuh. Menyeringai pahit bahwa kelinci kecil yang dibawa Alterio Edzard atas nama aksi bodohnya membuat Julian mendengus tajam. "Kau mengancamku?"
"Aku memperingatimu."
"Ah, lihat nanti." Balasnya sinis. Addi Julian membalikkan badan dan berjalan pergi menjauhi Nohara Rin yang mendesis tajam ke arahnya dan berpaling. Menatap sosok itu dengan sorot benci.
***
"Menyerah atau mati?"
Semua mata menatap cemas pada lawan yang berhasil Adonia tumbangkan atas aksi gilanya mengecoh perhatian sang lawan dengan mengarahkan moncong pistol itu ke arah Jenderal, suaminya sendiri. Dan membuat lawannya lengah karena terperangah bingung.
Anak panah itu menancap di dahinya. Membuat napas gadis itu megap-megap dan Adonia tidak menunggu sampai dia hampir gelap mata dan gadis itu berteriak nyaring.
"Aku menyerah!"
Memekik hingga Adonia menjauhkan dirinya dan menjatuhkan tubuhnya ke atas permukaan tanah yang keras. Bernapas keras-keras di sana.
Kapten Davira dan Kapten Madava menatapnya datar. Tidak pada yang lain, menatap Adonia sedikit berbinar kagum saat gadis itu meraih busur dan anak panah kesayangannya, mencengkram erat.
Satu ejekan yang berasal dari kelompok lawan terarah pada Adonia. "Kemampuanmu payah sekali. Tanpa anak panah dan busur itu, kau tidak ada apa-apanya. Dan kau mengancam Jenderal dengan pistol? Kau bisa apa memangnya?"
Semua orang tertawa. Terkecuali Jenderal yang mendengar ejekan itu. Membuat Panglima Sai mendengus. "Wanita dan mulutnya. Keduanya tidak bisa dipisahkan sampai kematian."
Letnan Aristide hanya memandang sinis.
Dan Komandan Rei mengernyit sebagai bentuk reaksi. "Terkadang, beberapa orang bersikap ular hanya untuk memandang rendah orang lain."
"Dia pantas mendapatkannya. Dia seorang pengkhianat. Dalam darahnya mengalir tekad pemberontak untuk membuat Andara hancur. Kau tidak seharusnya—"
"Letnan, kau tidak biasanya berpikir panas seperti ini. Kenapa? Apa ada di diri istri Jenderal yang mengusik kewarasanmu?" Sang Komandan mencerca Letnan Aristide dengan mode santai, tetapi mengancam.
Sang Jenderal mendesah pendek. Dia memperbaiki topi militernya dan bernapas berat. "Tidak seharusnya dia menjadi pusat obrolan. Aku menampungnya seperti aku menampung dosaku sendiri di rumah. Dia adalah pengkhianat, dan aku merasa jijik dengan pengkhianat." Jenderal lekas memutar badan, berpergian jauh meninggalkan ketiganya dalam kebisuan.
Ketiga tangan kanan terbaik itu masih berdiam di tempatnya. Memandang lurus ke arah lapangan sampai mereka menemukan Adonia yang mengalami goresan di lengan dan wajahnya menatap nanar pada punggung Jenderal yang menjauh.
***
"Hei."
Abria Valerie menolehkan kepala menatap Addi Julian yang mendekat dengan senyum manis ke arahnya. Dia mengerjap, kemudian balas mengangguk kaku. "Hai."
"Kau sedang sibuk? Kau tidak makan siang? Kenapa di saat yang lain sibuk mengantri makanan, kau masih tinggal di sini?"
Abria Valerie menghela napas mendapat pertanyaan bertubi-tubi itu hingga Addi Julian terkekeh pelan. Menyadari ekspresi bosan gadis itu. "Maaf, maaf. Aku hanya bingung."
"Aku akan menyusul nanti." Valerie menjawab sekenanya dan Dokter Julian mengangkat alis. "Kalau begitu, aku akan menunggumu."
Abria Valerie terperangah tak percaya. Dia menghentikan tulisan tangannya pada laporan di atas meja, menatap Julian seolah dia adalah wabah mengerikan dan menggelengkan kepala. "Terserah," ujarnya cuek.
"Valerie, ada yang mencarimu."
Salah satu dari mereka mengintip ke dalam pintu ruangan Valerie. Kepala pirang itu menoleh, dan dia mengangguk singkat. Mengabaikan Addi Julian yang tengah tersenyum kecut. "Sialan, dia mengabaikanku."
Valerie menolehkan kepala. Menemukan Adonia duduk di kursi lain, memeluk dirinya sendiri yang sedikit menggigil saat Valerie kembali masuk, mencari selimut di dalam loker dan memberikannya pada Adonia saat dia menghampirinya.
"Pakai ini," Valerie memberikannya dengan lembut. "Kau tampak kacau. Dan juga ... kedinginan." Valerie berujar pedih, duduk di samping Adonia ketika gadis itu hanya diam kaku dengan mencoba menyelimuti dirinya sendiri.
"Kau tidak apa menemuiku? Jenderal ... dia tidak akan marah, kan?"
Adonia hanya diam. Mengembuskan napas panjang dengan perasaan lelah yang amat sangat. "Dia tidak akan peduli."
"Tentu, dia akan peduli. Mengingat reputasimu sebagai seorang pengkhianat Andara. Dia mungkin sedang mematai-mataimu sekarang."