Jenderal memburunya untuk dibunuh. Dan Nohara Rin tidak punya pilihan lain selain pergi ke tempat mengerikan ini.
Addi Julian menipiskan bibir. Menatap pantulan sosok yang tenggelam dalam tabung dengan sorot tajam. "Ini yang kau bilang senjata hidup Jenderal Andara?"
Alterio Edzard menyeringai keji. Dia bersedekap sembari mendekatkan diri pada tabung berisikan air kimia itu. "Ya. Aku yakin, aku bisa menduduki tahta bersamanya suatu saat nanti setelah era Alterio Zedyn runtuh."
"Terlalu berambisi." Addi Julian menggelengkan kepala miris. Dia menatap Nohara Rin yang mencoba bangun dengan kruk miliknya.
"Ah, aku ingin tanya ini padamu."
Addi Julian melemparkan tatapan sinisnya pada Nohara Rin yang berdiri bergetar di hadapan mereka. "Kenapa Abria Valerie masuk ke dalam Departemen Kesehatan? Apa yang dia cari di dalam sana?"
Alterio Edzard mengernyit dalam. Dia menoleh pada Nohara Rin yang menelan ludah gugup. "Tidak ada. Valerie memang memiliki cita-cita dapat bekerja di Departemen Kesehatan."
"Kau yakin? Sesederhana itu?" Addi Julian mendengus tak percaya. "Kenapa kebohonganmu klasik sekali?"
Alterio Edzard menggeram. Dia menatap Nohara Rin dengan tatapan membunuh keji. "Sialan, sekarang kau berani mengeluarkan anak yang kau asuh untuk masuk ke dalam tubuh departemen di dalam Andara. Kau benar-benar ingin membunuhku?"
"Aku tidak sama sekali berniat melakukan apa-apa. Mereka sudah dewasa dan mereka tahu mana yang terbaik!"
Nohara Rin membentak dengan nada marah saat Alterio Edzard menggeram jengkel. Dia hanpir melemparkan botol kimia itu untuk melepuhkan separuh wajah Nohara Rin saat Addi Julian menahan tangannya.
Edzard terdiam. Napasnya menjadi berat ketika dia berbisik pada Addi Julian di sampingnya.
"Tugasmu bertambah, Julian."
Nohara Rin menggeleng dengan ekspresi menahan tangis.
"Jangan sakiti saudara perempuanku."
Maafkan kakak, Adonia.
Alterio Edzard mengabaikan lirihan Rin di sisinya. Dia mendesis saat mata pekatnya menusuk ke dalam mata teduh milik Julian.
"Bunuh Abria Valerie juga. Pastikan, kau membuang atau membakar mayatnya dengan baik. Kau bisa melakukannya, kan? Jangan sampai orang lain tahu hal ini."
Addi Julian terdiam. Dia melirik Rin yang menggeleng putus asa padanya.
***
Madava Fredella berjalan santai saat dia kembali untuk menemui Jenderal perihal ide yang dia sarankan demi militer hitam mereka di masa depan. Kapten Davira sudah menyetujuinya, dan dia hanya perlu menghadap Jenderal untuk memberitahu segalanya.
Letnan Aristide berjalan bersama Panglima Sai yang memasang topi militernya. Ketika Panglima Sai mengangkat alis bertemu dengan Kapten Fredella, tanpa sadar matanya melirik Letnan Aristide yang berubah kaku.
"Selamat pagi, Kapten Fredella."
Panglima Sai menyapa singkat. Kapten Fredella hanya menganggukkan sedikit kepalanya saat dia memperbaiki topi militernya yang miring.
"Menemui Jenderal?"
Kapten Fredella menghentikan langkah. Dia memutar badannya untuk menghadap ke arah Panglima Sai. "Ya. Aku meminta Jenderal untuk memulangkan sebagian dari anggota militer hitam wanita yang tidak becus dan banyak bermain-main."
"Wah, ternyata mereka menganggap remeh militer sejauh itu." Panglima Sai menyahut santai. Tidak peduli sejak tadi Letnan Aristide sudah berekspresi gelap.
"Kau benar. Aku meminta Jenderal menyetujui usulku untuk mengembalikan mereka dan mencoret nama mereka dari seluruh departemen yang ada di Andara."
"Kau kejam sekali, Kapten."
Kapten Fredella hanya mengangkat bahu acuh. Dia kembali berbalik setelah melemparkan tatapannya pada Letnan Aristide yang juga memandangnya datar. Kemudian, berjalan pergi.
Kapten Davira memiringkan kepala. Mengamati ekspresi semua pemula militer hitam wanita dengan sorot tajam. Beberapa dari mereka tampak tidak peduli, dan beberapa dari mereka berani mengajukan keberatan.
Dan semua ditentukan oleh duel, dan sisanya akan ditentukan oleh Kapten Fredella maupun Kapten Davira.
Adonia menghela napas panjang. Dia menatap telapak tangannya yang pucat dan menarik napas sekali lagi. Matanya menerawang ke atas langit, mencoba menggantungkan harapan kalau dia bisa menjadi lebih bersinar dan kuat di dalam militer.
Kapten Davira menangkap semua gerakan yang dilakukan oleh Adonia tanpa terlewat sedikit pun. Dia mendekat, berbisik ke telinga Kapten Fredella dan dengan singkat, Sang Kapten muda itu membubarkan barisan dan membiarkan mereka menunggu untuk bertarung duel.
Semua kepala menoleh saat Jenderal masuk ke dalam lapangan. Menatap mereka semua dengan ekspresi dingin, bersama ketiga tangan kanan terbaiknya.
Letnan Aristide menghela napas saat dia berdiri sejengkal di belakang Jenderal dengan bersedekap. Ada Panglima Sai yang bersandar pada tiang-tiang penggantung di dalam lapangan dan Komandan Rei yang memiringkan kepala di bawah topi militernya mengamati semua pasukan wanita dengan tatapan dingin.
Sebagian dari mereka terkejut karena menemui keempatnya secara lengkap dari dekat. Tampilan sempurna para petinggi Andara dengan seragam militer hitam mereka membuat perlahan rona merah itu muncul.
Kapten Fredella mendengus tajam. Dia mengarahkan pistol listriknya pada mereka yang berisik dan tidak memperhatikan.
Adonia menghela napas saat Jenderal sama sekali tidak menatapnya. Bahkan, Sang Jenderal terlihat enggan untuk memandangnya. Adonia merapatkan diriny di belakang tubuh anggota lain dan menunduk.
Kapten Davira berteriak memanggil anak didiknya saat Kapten Fredella berteriak memanggil nama Adonia dalam sekali panggilan.
"Istrimu, Jenderal."
Panglima Sai mendengus menahan tawa saat dia menatap lawan Adonia kali ini. Dia memiliki tinggi yang sama tetapi bobot berat sang lawan terlihat lebih besar dari tubuh mungil Adonia.
Adonia melebarkan matanya saat dia tidak membawa senjata dan sayangnya, Angkatan Darat itu memiliki senjata dasar mereka sebagai bentuk pertahanan diri. Adonia berjengit kaget ketika dia tidak memiliki senjata apa pun.
Semua orang menyoraki keduanya dengan semangat. Lapangan itu berubah riuh. Memekakkan telinga Komandan Rei yang sejak tadi hanya menatap bosan ke arah mereka semua.
Jenderal terpaku diam. Mengamati Adonia yang terus terpojok karena dia hanya mengandalkan tangan kosong sebagai bentuk pertahan diri.
Kapten Fredella mendesis. Dia melemparkan satu buah pistol ke arah Adonia bersama anak panah dan busur. Membuat semua orang terkejut.
"Pilih salah satunya, Adonia."
Adonia terdiam. Menatap dua senjata itu dengan tatapan dalam saat Letnan Aristide mulai tertarik dan Panglima Sai menyeringai lebar.
Adonia berguling untuk mengambil satu anak panah dan busurnya, dia berlutut dengan salah satu lututnya menekan tanah dan mengarahkan anak panah itu ke arah sang lawan, berhasil mengenai rompi militernya dan Adonia kembali mundur untuk menghindari peluru yang terbang ke arahnya.
Adonia kehilangan busur dan anak panahnya saat dia hanya punya satu senjata untuk melumpuhkan musuhnya. Semua orang tampak tegang. Begitu juga dengan Kapten Davira dan Kapten Fredella yang terdiam.
Jenderal mengangkat alis menatap pemandangan di depannya. Dia memicingkan mata berulang kali saat Adonia terkena hantaman pukulan dan gadis itu berulang kali jatuh, kemudian kembali bangun.
Adonia meraih pistol itu dan tepat moncong pistol lain menempel di dahinya. Dia kalah cepat. Adonia terdiam saat lawannya terkekeh ringan.
"Mati kau."
Semua orang terkejut saat Adonia mengarahkan moncong pistolnya bukan ke arah sang lawan, melainkan pada Jenderal yang berdiri menatapnya datar. Membuat Komandan Rei berdiri bersiaga bersama Letnan Aristide dan Panglima Sai.
Jenderal menarik sudut bibirnya. Menemukan pemandangan benci itu terang-terangan dari sang istri dan dia membiarkan kemana Adonia berani menantangnya.
"Adonia."
Kapten Fredella mencoba menghentikannya namun tangannya ditarik oleh Kapten Davira.
Adonia menarik napas panjang. Saat dia siap menarik pelatuk itu dan lawannya seketika lengah karena terkejut, Adonia melayangkan satu pukulannya, menerjang tubuh itu hingga dia terbanting ke atas tanah dan Adonia meraih anak panah bersama busurnya, mengarahkan ujung yang tajam ke dahi sang lawan.
"Menyerah atau mati?"