a

1015 Words
Panglima Sai terkekeh pelan. Dia mencengkram rahang Valerie agak keras. Kepalanya tertunduk, hingga ujung topi militernya mengenai dahi Valerie sedikit kasar. "Iblis ... kau tahu benar julukanku." Sebelum bibir dingin Sang Panglima memagut bibirnya, Panglima Sai limbung dan terhuyung tetapi dia bisa menyeimbangkan diri dengan baik dan berubah sikap menjadi waspada. Kedua matanya memicing tajam menemukan Komandan Rei yang menghancurkan segalanya. "Jaga kelakuanmu, Panglima." Panglima Sai sama sekali tidak terpengaruh. Begitu pula Valerie yang bergetar hebat. Merasakan dunianya akan runtuh sebentar lagi saat Panglima Sai akan mencium dirinya. Dia akan berakhir seperti Ame. Komandan Rei masih tidak melepas pandangan marahnya pada Panglima Sai yang bergeming, memandang Sang Komandan dengan tatapan tajam. "Kau membela anak gadis murahan ini?" "Murahan, katamu?" Abria Valerie memekik marah. Tidak peduli bahwa dia menyelak ucapan militer hitam yang ditakuti, terlebih Panglima Sai memiliki posisi di dalam militer itu sendiri. "Pergilah." "Dia ingin kembali ke distriknya untuk mencari Nohara Rin yang sudah tewas." Panglima Sai menyahut santai. Mengabaikan ekspresi terluka Abria Valerie yang kental. "Mayatnya sudah menjadi abu karena peledak yang kuluncurkan untuk menghancurkan rumah kalian." Komandan Rei menghela napas. Ketika kepalanya tertunduk, menemukan Abria Valerie mencoba menghindari mereka dan kembali ke tempatnya semula untuk bekerja. "Sejak kapan kau menjadi sentimental hanya karena wanita?" Komandan Rei menghela napas panjang. Dia melirik Panglima Sai dari sudut matanya dan menurunkan sedikit topi militernya. "Itu sama sekali bukan urusanmu." Panglima Sai menyeringai. "Kau jelas terang-terangan menyalakan api permusuhan pada Letnan Aristide. Dan aku jelas ingin membuat hubungan kalian berdua semakin panas." Komandan Rei bergeming kaku di tempatnya. Dia menunduk sebentar, menatap Panglima Sai dengan tatapan tak kalah tajam. "Jangan ikut bermain api, Panglima. Atau kau akan ikut terbakar." Komandan Rei berbalik meninggalkan Panglima Sai yang mendesis dingin. Kedua tangan terkepal di sisi tubuhnya. *** "Pelan-pelan, sayang. Awh!" Addi Julian menunduk, mendengarkan semua dengan jelas ketika dia menahan napas cukup lama sampai dia membuangnya perlahan. Suara desahan itu masih mengalun di telinganya. Dia sudah menunggu selama lebih dari lima belas menit dan tidak ada tanda-tanda sosok itu akan berhenti dari kegiatan menyenangkannya bersama p*****r di dalam kamar. Addi Julian mengetuk pintu agak keras dan beberapa detik jeda terjadi. Julian menghela napas, merasakan pekikan panjang dari sang wanita terdengar masuk ke telinganya dan dia menunduk, menyadari keduanya telah sampai pada pelepasan sempurna dan kali ini dia punya waktu untuk bicara. "Kau di sini?" Addi Julian berekspresi muram. "Sejak tadi. Sialan, kau sangat lama." Sosok itu terkekeh pelan. Dia mengusap pelipisnya yang berkeringat dan memasang jubah tidurnya. Saat Addi Julian mengikuti langkahnya, dia mengintip ke dalam kamar dan menemukan wanita malang itu terkapar tak berdaya di atas karpet tebal dengan pisau yang menggores lehernya cukup dalam. "Selalu. Kau selalu melakukannya." "Apa?" "Membunuh semua wanita yang kau tiduri." Sosok itu hanya mendengus pelan. Dia mendorong pintu ruangannya agar terbuka dan kembali menutupnya dalam gerakan pelan saat Addi Julian masuk. "Aku bukan Alterio Zedyn yang jatuh cinta pada gadis yang dia tiduri. Jika aku puas, aku akan membunuhnya. Aku tidak memakai hati." Addi Julian tertawa pelan. Dia membuka lembaran buku di atas rak dengan alis terangkat. "Benarkah? Lalu, bagaimana dengan gadis yang sedang tertidur di dalam tabung itu? Kau mencintainya, kan?" "Diam." Addi Julian tertawa keras kali ini. "Mudah sekali kau tertebak." "Aku akan melakukan segala cara agar dia kembali. Dia harus hidup. Dia yang paling sempurna di antara wanita lainnya di dalam Andara." "Sebenarnya banyak." Addi Julian menggelengkan kepala. "Hanya saja, kau terlalu dibutakan cinta padanya. Dan kau menyakiti Caris Adonia. Sungguh, malang sekali nasib gadis itu." Sosok itu mendengus tajam. Dia duduk dengan ekspresi bosan. "Caris Adonia bukan apa-apa. Jika kau membandingkannya dengan dirinya, Adonia bukan apa-apa." "Siapa tahu?" Addi Julian mengangkat bahu. "Aku bertemu dengan istri Jenderal Andara tadi. Dia tampak berbeda. Kau tahu, keinginan kuat untuk menjadi kuat membakar di kedua matanya." Sosok itu tertawa pelan. "Benarkah? Mau bagaimana pun dia berusaha, dia tidak akan pernah mendapatkan apa-apa." "Jangan begitu." Sosok itu kembali tertawa. Pintu terketuk. Darius masuk dengan ekspresi tegang saat dia berbisik dan Addi Julian belum sempat berjalan pergi, melainkan sosok itu yang menerjang untuk pergi dari ruangan secepat kilat. *** "Aku tidak suka sup ini." Adonia mendesah panjang. Dia merasa sangat lelah seharian ini dan asisten rumah tangga di rumah Jenderal hanya menyediakan sup daging dan segelas air putih sebagai hidangan makan malam. Adonia bangun. Mencuci mangkuknya dan mengambil bahan-bahan di dalam kulkas untuk dia masak seadanya. Dia merindukan masakan rumah, dan lebih menyukai masakan sederhana dibanding makanan mewah khas para petinggi Andara. Para militer yang berjaga di sekitar rumah hanya menatap dalam diam. Mereka sama sekali tidak mempedulikan apa yang dilakukan istri Jenderal satu itu di dalam rumah. Hanya mengawasinya dan bersikap acuh selama dia tidak melakukan hal berbahaya yang mengancam keselamatan banyak orang. Tiga puluh menit Adonia menghabiskan waktu untuk memasak saat dia menoleh, menemukan Sang Jenderal masuk, menyampirkan mantel hitam tebalnya dan tengah menatap tajam ke arahnya. Adonia berdeham. Dia menaruh masakannya di atas meja dan berjalan mendekat ketika dia membuka mulut untuk bersuara. "Makan malamnya tidak membuatku berselera. Aku memasak. Kalau kau mau aku bisa membaginya denganmu." Jenderal mengangkat alis. Memiringkan kepala dengan tatapan mencela pada sang istri. "Tidak sesuai seleramu? Kau pikir pemberontak kelas bawah sepertimu bisa mendapat perlakuan istimewa dengan memakan makanan mewah khusus untuk petinggi Andara?" Adonia terdiam. Dia mengerjap mendengar kalimat menyakitkan itu meluncur dari bibir Sang Jenderal yang berlalu pergi. Jenderal menutup pintu kamarnya sedikit membantingnya. Adonia menghela napas. Memandang para militer yang ikut menatapnya datar dan seolah benci karena mengetahui siapa dirinya. Adonia membuang muka, memandang masakannya dengan senyum seolah dia tidak memiliki beban apa pun di pundaknya. "Wah, masakanku terlihat nikmat. Aku akan menghabiskannya seorang diri." Adonia melompat ke kursinya. Menatap makan malamnya dengan lapar dan dia mulai menyantapnya dalam diam. *** "Aku sudah katakan. Kemungkinan dia pulih hanya dua puluh persen. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Dan dia sama sekali tidak bisa diselamatkan." "Diam kau!" Nohara Rin memekik saat dia mendapat dorongan keras hingga membentur meja yang isinya berserakan di atas lantai. Mengenai telapak tangannya yang meneteskan darah segar di saat tubuhnya belum pulih benar pasca ledakan dari pihak Panglima Sai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD