Jenderal berjalan tenang. Melepas mantel bulunya ketika berjalan memasuki dalam Benteng Ankara dan ruangan. Lampu otomatis menyala dan penghangat yang memang diperuntukkan untuk ruangan segera menyala kencang untuk membuat ruangan tetap hangat.
"Jenderal, pergerakan Alterio Edzard masih statis. Dia tidak pergi, tidak juga menunjukkan tanda-tanda melarikan diri."
Panglima Sai memberi laporan setelah dia menyisiri hutan dan hanya menemukan bunker persembunyian Alterio Edzard tampak gosong dan kotor dari luar. Alterio Edzard masih di dalam, dan Panglima Sai sudah menempelkan alat dari militer untuk memata-matai mereka.
"Bagus."
Jenderal menyentuh bulatan merah kecil di atas meja. Dia memiringkan kepala, menunjukkan layar dimana semua tampak sepi dan kosong.
"Organisasi Bendera Hitam memang terlalu berbahaya. Dipimpin langsung oleh Alterio Edzard, dan itu membuatku terkejut bahwa Alterio Edzard akan mengkudeta kekusaanmu hanya untuk ambisinya."
"Dia punya hak atas tahta ini." Jenderal mengerutkan kening. "Jika dia mau mengambilnya, semua sudah terlambat karena hak itu telah dicoret resmi oleh Jenderal Saveri."
Panglima Sai mengangkat alis. Dia menoleh, menemukan Komandan Rei masuk ke dalam ruangan dan memberikan laporan dengan ekspresi suntuk.
"Addi Julian kembali."
Jenderal menerima laporan itu dengan alis menekuk tajam. "Penyakitnya sudah sembuh?"
Komandan Rei tampak muram. "Sudah. Dan aku berharap dia lebih baik mati."
"Wah, Komandan Rei, bicaramu terlalu kasar. Bukankah, hal yang baik kalau kita mendoakan orang yang sakit?"
"Diam." Komandan Rei mendesis pada Panglima Sai yang mengulum senyum mengejek.
"Jika ini permasalahan tentang Addi Julian dan kakakmu, Davira. Kesampingkan itu dulu. Kau harus bersikap profesional dengan menerimanya apa adanya."
"Oh?" Komandan Rei mengernyit dengan wajah sinis. "Aku mencurigainya bukan hanya karena dia yang membunuh Daniel, tunangan kakakku. Aku mencurigainya karena hal lain. Mari, kita buktikan itu nanti setelah semua selesai."
Komandan Rei memundurkan langkah. Kemudian, berbalik pergi saat Panglima dan Letnan hanya mengembuskan napas panjang.
"Belum berubah. Dia masih membenci laki-laki yang menyakiti kakaknya. Cinta memang membutakan, ya? Terlebih terhadap saudara sendiri."
Jenderal hanya termenung dia mendengarkan ucapan Panglima Sai yang sedikit mengusik hatinya.
Cinta memang membutakan.
***
"Kapten Madava."
Madava Fredella menghela napas panjang saat dia menghampiri Adonia setelah mereka melewati proses latihan yang cukup berat hari ini.
Adonia tampak kecapaian dan kelelahan karena dia banyak menunjukkan kemampuan dasar mumpuni dari pelatihan yang dia terapkan sejak dia kecil. Dan Madava Fredella hanya perlu mengasahnya lebih dalam.
"Kau benar-benar ingin berlatih menggunakan senjata? Kemampuan menembakmu tidak buruk." Kapten Fredella menjelaskan dengan nada yakin. "Tapi, jika kau ingin belajar dasar ilmu pedang, kau bisa pergi ke Kapten Davira. Dia dari Angkatan Darat, dan Angkatan Darat harus bisa memegang beberapa senjata dasar untuk bentuk pertahanan diri."
Madava Fredella menghela napas. "Aku tidak yakin militer wanita ini bisa menjadi angkatan kuat. Mereka terlalu banyak bermain-main dan bergosip. Tidak serius."
"Kau bisa mengancam mereka dengan kekerasan."
"Aku akan melakukannya sekali lagi. Jika mereka memandangku remeh, lebih baik aku mengeluarkan mereka dari Angkatan Udara dan mengembalikan ke rumah mereka masing-masing. Ini masih tahap awal, dan belum memasuki fase terberat."
"Aku ingin bisa menerbangkan pesawat tempur."
Madava Fredella menoleh ke atas saat dia menemukan tiga jet tempur milik militer hitam Ankara terbang rendah di atas kepala mereka.
Pesawat itu berputar, kemudian berlatih dalam jarak tinggi dan jarak pendek, tanpa mencoba mengeluarkan misil mereka yang ada di dalam pesawat tempur.
"Aku harus pergi."
Adonia turun dari kursi kayu dan berjalan pergi menjauhi Kapten Fredella yang memandangnya datar, namun terselip perasaan iba yang sangat dalam. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia berharap semua baik-baik saja.
Saat Adonia berjalan hendak pergi menuju kediaman lamanya di Distrik Lily, dia bertemu Kapten Davira tengah berbincang dengan seorang laki-laki berpakaian lengkap dengan jas dokter khas Rumah Sakit Andara melekat di saku jasnya. Kapten Davira tampak serius sampai dia menoleh, menemukan Adonia memandangnya dalam jarak dekat dengan kerutan di dahi.
"Pergilah. Aku tidak akan bicara padamu."
Addi Julian hanya tersenyum dingin. "Masih seperti biasa. Apa kau membenciku karena aku membunuh Daniel yang kau cintai? Ah, apa kau yakin kau mencintainya?"
"Pergilah dan tutup mulutmu. Tidak ada gunanya membicarakan orang yang sudah lama mati."
Addi Julian menyeringai dingin. "Baik. Jika itu maumu." Dia menolehkan kepala, menemukan istri Jenderal berdiri mematung menatap mereka. Dia jelas bingung karena Kapten Davira tidak pernah terlihat berdekatan dengan pria selain pihak militer.
Adonia menatap Davira dengan pandangan bingung. Dia berjalan mendekat, mencoba mengajak Kapten Davira untuk berbicara.
"Aku akan pergi ke rumah lamaku di Distrik Lily. Kapten, maukah kau setelah aku kembali mengajarkan banyak ilmu senjata padaku? Karena aku hanya bisa menggunakan busur dan anak panah saja."
Kapten Davira mengangkat alis. Dia mengangguk pelan tanpa berpikir lama. "Baik. Jam pelatihanmu akan ditambah." Kapten Davira mengerutkan alis. "Jika kau ingin kembali, sebaiknya berpamitan pada Jenderal. Karena dia—"
"Tidak perlu."
Adonia menggeleng dengan senyum miris. "Aku hanya sebentar. Ada keperluan yang mendesak."
"Baiklah." Kapten Davira menyerah.
Adonia menghentikan langkah. Menatap militer yang memandangnya dingin dan tatapan tak bersahabat itu terarah padanya.
Kapten Davira menghela napas kasar. Dia menggelengkan kepala, memberi kode pada mereka untuk membiarkan istri Jenderal Andara pergi dan tanpa diawasi.
"Tetapi, Kapten? Bukankah dia pemberontak? Jenderal meminta kami untuk—"
"Dia akan menjadi urusanku." Kapten Davira membalas dingin dan lekas berbalik. Membuat benak sang militer hitam bertanya-tanya.
***
Adonia memandangi Distrik Lily yang tampak senggang di siang hari. Dia mengerjap, berjalan menyusuri tanah yang licin ketika dia menemukan kediamannya rata dengan tanah.
"Kakak!"
Adonia merasakan kedua matanya panas. Dia berlari. Yang sayangnya semua percuma. Dia terus berlari, mencoba mencari sisa-sisa serpihan ledakan kalau dia mampu. Dan semuanya kosong. Adonia terduduk di atas tanah, mengundang tatapan iba dari sekitarnya ketika warga Distrik Lily beramai-ramai memandangnya nanar.
"Dia sudah tewas. Di depan mataku. Mata Panglima Sai dari militer hitam Ankara."
Salah satu warga berteriak pada Adonia yang membeku. Meremas tanah di atas pangkuannya dengan bibir bergetar.
Adonia memejamkan mata. Menarik napas panjang saat dia berdiri. Memutar badan dengan senyum tipis. "Terima kasih." Lalu, bergerak pergi menjauh dari Distrik Lily secepatnya.
Abria Valerie berlari dari lorong rumah sakit ketika dia mendengar dari militer bahwa Nohara Rin, mantan dokter terbaik era Jenderal Saveri menjadi korban keganasan Panglima Sai yang mengamuk di distrik mereka.
Kedua matanya pecah siap tumpah. Abria Valerie melupakan laporan di mejanya dan beralih untuk membawa dirinya pergi guna mencari Adonia dimana pun dia berada.
Langkahnya tertahan dengan sosok yang tidak ingin dia temui sekarang. Mata pekat Panglima Sai menelurusinya dengan tajam, mendengus dingin ketika mata biru itu berpendar memandangnya jijik sekaligus benci.
"Kenapa? Kau punya masalah denganku?"
"Dasar iblis."
Panglima Sai mengangkat alis mendengar makian singkat itu. Dia menyeringai, mendorong tubuh rapuh Valerie hingga membentur tembok. "Katakan sekali lagi."
"Dasar iblis. Kau benar-benar iblis."