((e)

1025 Words
Sang Jenderal menipiskan bibir saat dia meraih topi militernya dan berdiri. Memalingkan muka saat dia berjalan ke luar dari rumahnya dengan mobil militer yang sudah menunggu sejak tadi. Panglima Sai bersandar pada pohon pinus saat dia menatap Darius, salah satu anak buah Alterio Edzard menyamar menjadi salah satu penduduk Distrik Lily dan berbelok ke suatu rumah. Kedua matanya memicing tajam menemukan Nohara Rin berbincang akrab dengannya dan segera Darius masuk ke dalam dengan aman. Panglima Sai mendesis. Dengan seragam militernya yang mencolok dan orang-orang mulai menatapnya ketakutan karena mengenal siapa dirinya, mereka berbondong-bondong menjaga sikap ketika Panglima Sai melangkah mendekati kediaman lama Caris Adonia dan mendengar dari luar pintu kayu itu pembicaraan mereka. "Sial." Panglima Sai segera mendobrak pintu kayu itu dengan kekuatannya dan sayangnya, dia hanya menemukan Nohara Rin tengah menjahit syal dengan ekspresi tenang namun bercampur bingung. "Panglima?" Nohara Rin berdiri berpegangan pada tepi meja saat Panglima Sai merangsek masuk, menyisir semua ruangan dengan ekspresi marah luar biasa dan tatapan tajamnya begitu menusuk Rin yang bergetar. "Kau menyembunyikan seorang pemberontak kelas atas?" Panglima Sai menggelengkan kepala seraya berdecak samar. "Wah, apa yang akan Jenderal lakukan jika dia tahu?" "Ini tidak seperti yang kau bayangkan." "Lalu, kemana perginya Darius?" Rin terdiam kaku. Panglima Sai semakin tidak sabar saat dia merangsek maju. Menatap rumah kayu itu diiringi tatapan bingung dari penduduk Distrik Lily dan anak-anak yang ketakutan menatap ekspresi gelap Panglima Sai. Rin berlutut di depan pintu rumahnya ketika dia memohon ampun pada Panglima Sai untuk tidak menyakitinya. Dan Panglima Sai menekan alat di telinganya, berbicara pada seseorang dengan napas memburu. "Lakukanlah." Panglima Sai menyeringai. Saat Rin berusaha berdiri dan bangun, mencari tongkat kayunya untuk membantunya berjalan dan sayang, Panglima Sai mengarahkan moncong senjata peledaknya untuk meledakkan rumah mungil itu hingga berkeping-keping. Meninggalkan jeritan dan pekikan warga Distrik Lily yang membungkuk dan menunduk spontan menghindari api yang membara besar kemudian perlahan mengecil. Anak-anak berlari ketakutan saat Panglima Sai tertawa dingin. Menatap kepulan asap pekat membumbung tinggi ke angkasa dengan raut puas luar biasa. Satu sampah Andara berhasil dia singkirkan. "Tidak, tidak, tidak! Kakak!" Letnan Aristide melirik datar pada Adonia yang berlutut, menarik kedua rambutnya sendiri saat Jenderal menunjukkan layar di mana Panglima Sai berhasil meledakkan rumah miliknya dalam sekali tembak jarak dekat dan semua lenyap tak bersisa. Jenderal mematikan layar itu dan memiringkan kepala puas saat dia menatap istrinya sendiri yang terjatuh dengan isakan lirih. Komandan Rei bersedekap di samping pintu yang tertutup. Suasana itu begitu mencekam saat Letnan Aristide berhasil menyeret paksa Adonia yang memberontak untuk pergi ke ruangan Jenderal dan Jenderal menunjukkan semua dengan jelas keterikatannya dengan pemberontak kelas tinggi, Alterio Edzard dari Organisasi Bendera Hitam. "Peraturan pertama di Andara; siapa pun pengkhianat akan membalas kejahatan mereka dengan nyawa. Secacat apa pun fisik dan mentalnya." Adonia memejamkan mata. Menahan air matanya agar semakin tidak deras mengalir saat dia meremas pakaiannya sendiri dengan cengkraman kuat. Letnan Aristide mendengus tajam dan dia diam-diam menahan senyum puas saat menatap Jenderal yang mengangkat alis, tampak puas dengan penderitaan Adonia di depannya. Gadis itu terduduk, menangis dalam isakan tertahan. Komandan Rei mendekat saat Jenderal memberinya tatapan untuk membawa istrinya pergi dari ruangannya. Setelah Komandan maju, Adonia mencoba bangun dengan kedua kakinya yang lemas. Adonia menarik napas panjang. Membiarkan rambut panjangnya menutupi kedua sisi wajahnya saat dia tengah mengusap air matanya dengan pelan. "Seseorang baru belajar arti kehilangan saat dia merasakannya." Letnan Aristide mengangkat alis dan Komandan Rei terdiam saat Adonia mengangkat wajahnya, menatap kosong ke dalam mata Komandan Rei dan melirik Sang Jenderal dari bahunya. "Karena kau tidak memiliki siapa pun di dunia ini, Jenderal. Kau tentu tidak akan bisa merasakannya setelah hatimu benar-benar mati." Sang Jenderal hanya diam mendengar ucapan tegas Adonia. "Dan aku akan menunggu apa yang bisa karma lakukan padamu sebagai balasan atas penghinaan yang kaulakukan padaku." Letnan Aristide menggeleng tak percaya saat Adonia menatapnya dingin. "Jangan pernah menganggap dirimu korban, Nona Adonia. Kau adalah—" "Karena kalian tidak tahu apa-apa." Adonia menarik napas panjang. Berjalan tenang membelah ruangan dan membuka pintu, menutup pintunya dalam diam saat ruangan itu berubah senyap, dengan helaan napas panjang dari Letnan Aristide dan kening Jenderal yang mengernyit dalam. Karena kalian tidak tahu apa-apa. Dan kenapa kalimat itu terasa menamparnya hingga menembus kedalaman hatinya yang gelap? *** Letnan Aristide memiringkan kepala. Melihat ekspresi muram Panglima Sai di ujung lorong membuatnya menebak-nebak adakah gerangan yang membuat Sang Panglima suntuk sepagi ini. "Kau bertengkar dengan kekasihmu atau ada seseorang yang tidak memuaskanmu semalam?" Letnan Aristide menyapa dengan nada dingin yang tak bersahabat. Kemudian, Panglima Sai mengangkat kepala. Menatap Sang Letnan dengan kedua mata memicing tajam. "Bukan urusanmu." Letnan Aristide hanya mendengus pelan. Dia mengembuskan napas panjang saat tangannya bersedekap di depan d**a, mengamati langit di pagi hari yang tampak gelap. Tidak cerah dan sedikit lebih gelap. Udara berubah sejuk. "Jenderal belum datang?" Letnan Aristide menggeleng pelan. "Dia akan datang sebentar lagi. Aku mengecek mobil militer sudah ada di kediamannya sejak sepuluh menit yang lalu." Panglima Sai menghela napas panjang. "Aku membunuh Nohara Rin, dokter yang pernah membantu banyak urusan Andara di era Jenderal Saveri." "Kau yakin dia sudah mati, kan?" Panglima Sai mengangkat alis. "Kau meragukanku?" Letnan Aristide mendengus pelan. "Tidak. Kau tahu, Nohara Rin punya fisik yang tidak sempurna. Terlebih dia dan Letnan Jaasir pernah memiliki hubungan khusus hingga Rin mengandung dan dia menggugurkannya entah karena alasan apa." "Ah, jadi alasan itu Letnan Jaasir membencinya?" "Ada alasan lain yang jauh lebih pelik kurasa dari sekedar menggugurkan kandungan." Letnan Aristide mengangkat bahu acuh. "Mereka memiliki kisah cinta yang rumit dan semua sudah selesai." "Salah satu dari mereka masih menyimpan perasaan? Bagaimana reaksi Letnan Jaasir jika dia tahu aku membunuh Rin?" Panglima Sai jelas tidak ketakutan sama sekali. Wajahnya membias lebar seolah dia baru saja memenangkan taruhan yang amat besar. Membuat Letnan Aristide di hadapannya hanya bisa terdiam kaku mengerti bagaimana sisi gelapnya Sang Panglima begitu kental. "Dia akan baik-baik saja." Mendengar suara yang menyahut dingin membuat dua kepala berbeda warna rambut itu lantas menoleh. Jenderal datang bersama Komandan Rei yang memperbaiki letak topi militernya dan berjalan tenang meninggalkan mereka dalam diam. Alis Panglima Sai terangkat. Dia mendengus pelan dengan tatapan tajam. "Tidak tahu sopan santun." "Dia punya urusan. Biarkan saja."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD