Sosok itu tertawa. Dia mengulurkan tangan di hadapan Valerie. "Aku, Addi Julian. Namamu?"
"Abria Valerie." Dia memindahkan berkas laporannya ke sisi lain. Tersenyum membalas uluran tangan itu. "Kau seorang dokter?"
Kepala Addi Julian mengangguk pelan. "Ya. Aku dokter cadangan di sini." Kemudian, Addi Julian terbatuk hebat yang membuat Valerie mendekatinya dan menepuk punggungnya lembut. "Ini bukan apa-apa. Hanya batuk biasa." Addi Julian terkekeh pelan saat dia berusaha berdiri tegap dan kedua matanya menyipit menemukan Komandan Rei berdiri tidak jauh dari mereka dengan seragam militer lengkap.
"Komandan Rei."
Komandan Rei maju dengan santai. Matanya yang awas melirik Valerie sekilas sebelum memakukan dengan tajam pada Addi Julian. "Lama tidak bertemu. Bagaimana hasil dari terapimu, Addi?"
Tidak ada nada empati yang terselip dalam suara Komandan Rei. Abria Valerie mengernyit menemukan kalimat terapi. Apakah Addi Julian mengalami penyakit parah?
"Aku baik. Sepertinya kau senang melihatku kembali." Addi Julian menyeringai dingin pada Komandan Rei yang memasang raut datar.
"Kau selalu diterima di sini. Selalu." Komandan Rei menatap Abria Valerie yang masih berdiri di antara mereka. Addi Julian menatap keduanya, kemudian mundur sembari mengangkat kedua tangan. "Kalau begitu, aku pamit pergi."
Addi Julian pergi dengan santai dan terkadang masih terbatuk di sela perjalanannya. Valerie masih menatapnya sampai sosoknya menjauh dan kemudian dia ikut pergi menjauhi Komandan Rei yang hanya terpekur diam memandanginya.
"Ini mengejutkanku. Karena kau sekarang tertarik pada gadis lemah sepertinya."
Komandan Rei menoleh. Menemukan Panglima Sai bersandar pada tembok Departemen Kesehatan dengan tangan bersedekap dan senyum sinis di wajahnya yang dingin.
"Apa dugaanku benar?" Panglima Sai membuka mata. "Anak manusia itu berani menyentuh hati nuranimu?"
Komandan Rei terdiam sebentar. "Ini hanya sebatas perasaan biasa."
"Yang akan berkembang menjadi perasaan luar biasa, Komandan." Panglima Sai mengoreksi dengan ekspresi ketat menahan sesuatu. "Ini semakin menyulitkanku karena aku tidak bisa menghabisinya."
Komandan Rei mengernyitkan keningnya dalam. "Untuk apa kau menghabisinya?"
"Karena dia bisa saja menjadi bumerang untukku."
"Kau tidak akan melakukannya." Komandan Rei menatapnya penuh ancaman. "Dia sahabat dekat istri Jenderal."
"Lalu, apa masalahnya? Selama yang kuhabisi bukan istri Jenderal, aku tidak melakukan kesalahan dengan membunuh manusia perempuan yang membahayakan kehadiranku."
Komandan Rei mendengus tak percaya. Dia segera berbalik, menjauhi Panglima Sai yang terdiam kaku. Menatap punggungnya yang berbalut seragam militer dalam diam dan menghela napas panjang. Yang diam-diam tidak disadarinya, bahwa Abria Valerie mendengar segalanya dengan baik dari dalam ruangan yang celah pintunya sedikit terbuka.
***
Sang Jenderal menaiki tangga di dalam rumahnya. Membawanya pada lantai teratas kediamannya saat dia terdiam, menoleh pada pintu lain yang tertutup rapat.
Keningnya berkerut sebentar. Dia bergerak mendekati pintu itu dan membukanya. Tidak terkunci. Dan dia mendorong pintu itu agar sedikit membuka.
Iris pekat Sang Jenderal melebar tak percaya. Dia mendesis pelan, menatap dalam kegelapan bahwa kamar ini sepenuhnya berubah. Tidak lagi ada cokelat tua yang menjadi khas warna di dalam Andara. Semua tergantikan corak putih s**u dan biru langit yang mendominasi ruangan. Bahkan seprai itu terlihat mencolok dengan motif polkadot yang kental.
Berani-beraninya dia!
Jenderal tidak perlu menyalakan saklar lampu untuk tahu apa yang Adonia rubah di dalam kamarnya. Semua berubah. Bahkan pakaian tidur gadis itu kini berwarna cokelat muda. Sangat kontras dengan cerahnya warna dinding dan seprai.
Sang Jenderal memejamkan mata menahan tarikan napas kasar. Dia mencari saklar lampu, menekannya kasar dan semua lampu di dalam kamar menyala terkecuali kamar mandi yang memang sudah menyala sejak tadi.
Adonia membuka mata. Menemukan ruangan yang dia tempati menyala terang, dia tidak perlu bersusah-payah untuk sekedar menolehkan kepala dan mencari tahu siapa yang menyusup ke dalam kamarnya.
Adonia hanya bergeming. Tetap pada posisinya yang statis tanpa bergerak sama sekali. Jenderal mendesis. Menekan sepatu boot-nya ke atas lantai kayu kamarnya dan Adonia meremas seprainya sendiri.
"Sekali pengkhianat untuk selamanya tetaplah pengkhianat."
Adonia memejamkan mata mendengar kalimat sindiran itu yang dia yakini seratus persen tahu Jenderal tahu bahwa dia tidak tertidur sejak Jenderal arogan itu memasuki kamarnya.
Sang Jenderal bergerak mundur. Menyeret tubuhnya untuk pergi saat dia mematikan lampu dan menutup pintu tanpa bantingan kasar. Adonia terbangun, duduk di tepi jendela bertralis dengan sorot pilu menatap rembulan yang bersinar di malam hari.
Adonia tidak menangis. Dan dia tidak ingin menangis sesakit apa pun luka di hatinya. Dia akan bertahan dari goncangan apa pun yang menghantamnya nanti. Hanya saja, di awal permulaan babak baru hidupnya, tantangan ini begitu berat. Di saat Adonia sedang menahan diri untuk tidak memberi pelajaran pada Jenderal tak tahu adab itu.
Di pagi hari, saat Adonia turun untuk sarapan dan dia bersiap untuk kembali berlatih, dia menemukan Jenderal itu duduk di kursi makan dengan tenang. Topi militernya tersampir di atas meja. Dan rambut legamnya berantakan di saat Jenderal hanya memakai seragam militernya.
Adonia menarik kursi untuk duduk. Memberi jarak pada Jenderal yang bahkan tidak berniat melirik kedatangannya sejak tadi.
Militer hitam yang berjaga hanya bersikap dingin tanpa memedulikan aura permusuhan yang kental di antara Jenderal dan istrinya yang pasif pagi ini.
"Ada yang ingin kau sampaikan kenapa kau merubah warna kamarmu?"
"Ingin suasana yang lebih hidup."
Sang Jenderal mendengus. Dia menipiskan bibir menahan geraman tertahan saat kedua mata elangnya menajam memandangi sang istri. "Apakah ini yang kaulakukan di kediamanmu di Distrik Lily?"
"Aku tidak melakukannya. Itu membahayakan sahabatku dan kakak tertua." Adonia menyendok buburnya dan terdiam. "Apa itu mengganggumu? Menikahi seorang pemberontak?"
buburnya dan melipat kedua tangan di atas meja. Tatapan hijaunya berpendar kosong menatap guci besar di sudut ruangan. "Kembalikan kamar itu seperti sedia kala."
"Sebelum aku mati, kau tidak akan bisa melakukannya." Adonia berujar tenang. Tatapan matanya masih belum mau menatap lekat pada kedua mata Jenderal yang menyala marah padanya.
"Ini kesalahan karena menikahimu."
Kedua mata Adonia terpejam lirih. Dia menarik napas, mengembuskan napas panjang ketika dalam bisikan samar pun dia masih mendengar Jenderal berbicara tentang buruknya seorang Caris Adonia.
Gadis itu mendesis pelan. Dia menunduk, menunjukkan sebuah senyum hampa yang tidak Jenderal mengerti arti senyuman itu. "Aku terkejut karena ini pertama kalinya dalam kehidupan pernikahan, aku mendengar seorang suami menyesal menikahi istrinya dan menganggapnya sebuah kesalahan."
"Jika tidak karena tanda itu di bahumu. Aku tidak akan melakukannya."
Adonia mendengus sinis. Dia memangku dagunya dengan salah satu kaki terayun di bawah meja makan. "Jenderal besar mana yang masih mempercayai mitologi kuno khas leluhur klannya? Payah."