Letnan Aristide memicing tajam. Begitu pula Sersan Kenan yang berlari mendekati gadis tak bernyawa itu dan Panglima Sai mendesis. Menemukan bahwa gadis itu polos tanpa busana. Dan luka tusukan di d**a dan perut membuktikan segalanya. Bahwa dia dibunuh. Sersan Kenan tidak berpikir panjang saat dia mencari tombol darurat dan alarm pertanda berbahaya berbunyi. Membuat militer waspada dan Letnan Aristide memerintahkan anak buahnya dari alat di telinganya bersama Sersan Kenan yang berjongkok, memegang urat nadi di leher gadis malang itu. "Belum terlalu lama dia tewas. Mayatnya belum dingin, dan itu berarti pelakunya masih di sekitar sini." Panglima Sai mengangguk menyetujui ucapan Sersan Kenan. Dia membawa tubuh gadis itu hati-hati ke dalam kamar mayat. Diikuti Letnan Aristide yang berlari

