Harus memutar otak

1365 Words
Heri terus terdiam Merenung memikirkan jalan apa yang akan diambil untuk tetap bertahan hidup. karena sekarang berbeda dengan waktu ketika dia tinggal di padepokan. waktu itu dia tidak terlalu memusingkan makanan karena di padepokan memiliki dapur umum, sehingga untuk makan dia sudah terjamin, berbeda dengan sekarang yang secara tidak langsung Heri hidup Sebatang Kara, tidak memiliki teman, tidak memiliki saudara, dia hidup jauh dari sanak keluarga. "Apa aku pulang saja ke kampung Donorojo, tapi kalau pulang aku tidak memiliki ongkos dan kalau sudah sampai di rumah Pasti si Darmini akan marah-marah, karena aku pulang tidak membawa uang lagi." begitulah yang ada dalam pikiran Heri yang tidak bisa mengambil keputusan, karena dia dihadapkan dengan pilihan yang begitu berat, ketika dia tetap tinggal di kota Kudus, dia sudah tidak memiliki uang untuk bekal, namun ketika dia pulang dia pun bingung karena ketika naik bis itu harus dibayar. Mata Heri menatap kosong ke arah orang-orang yang sedang berlalu Lalang, dari sekian banyak orang-orang itu terlihat ada sebagian kecil orang yang menawarkan jajanannya, sehingga dia pun mengulum senyum seolah mendapatkan ide. "Iya benar, sekarang aku harus mencari kerja. minimal aku bisa punya uang untuk pulang ke rumah, masalah si darmini bisa dipikirkan nanti saja setelah aku tiba di rumah," gumam hati Heri yang sedikit mendapat pencerahan. Akhirnya dia pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan meninggalkan teras masjid menuju keluar, Sesampainya di luar Dia berjalan menuju kios kios yang berjajar rapih di samping kanan kiri jalan, dengan segera Heri pun mendatangi salah satu kios penjual makanan. "Mau makan pakai apa Pak?" tanya ibu-ibu warung dengan ramah. "Maaf bu saya datang ke sini bukan mau makan, tapi saya sedang mencari pekerjaan. Siapa tahu saja Ibu butuh untuk bantu-bantu, saya bisa mencuci piring, bisa disuruh apapun." ujar Heri yang membuat penjaga warung mengerutkan dahi. "Mau cari kerja, Aduh Mohon maaf Pak, untuk sekarang kayaknya saya belum butuh, karena saya dan suami saya masih bisa menghandle semuanya," jawab ibu-ibu warung sambil pergi meninggalkan Heri membuat hatinya sedikit teriris mendapat sambutan seperti itu. Meski sudah mendapat penolakan, Heri tidak Patah Arang Dia berjalan ke kios yang satunya, yaitu kios penjual pakaian muslim dan pernak-pernik keagamaan lainnya. "Mau cari apa Pak?" tanya salah seorang penjaga toko. "Saya mau cari kerjaan Mas, siapa tahu saja di sini membutuhkan tenaga tambahan." "Oh begitu....." tanggap penjaga toko yang terlihat sedikit kecewa, Mungkin dia berharap bahwa orang yang masuk ke kiosnya adalah orang yang mau belanja. "Ya begitu Mas! kira-kira ada lowongan nggak di sini." "Kurang tahu Pak, soalnya saya juga kerja di sini." "Terus bosnya di mana?" "Bosnya jarang ke sini Pak, paling seminggu sekali dia mengontrol usahanya." "Mas punya nomor handphonenya nggak?" "Buat apa Pak?" "Coba tolong tanyakan sama bos Mas, siapa tahu aja dia membutuhkan tenaga tambahan." "Kayaknya nggak deh Pak! Soalnya Setiap saya bertemu dengannya, dia tidak pernah berbicara tentang menambah karyawan." "Ya siapa tahu aja Mas, Tolonglah....! Nanti kalau saya diterima bekerja di sini, Mas tidak sendirian, Mas bisa memiliki teman untuk mengobrol." "Haduh....! Ya sudah tunggu...!" gumam penjaga toko dengan sedikit mendengus, tapi walaupun seperti itu dia tetap melakukan sesuai dengan keinginan Heri. Setelah berada di meja kasir, dengan segera penjaga toko pun mengambil handphonenya, kemudian dia menekan tombol Panggil. setelah itu dia menempelkan teleponnya ke telinga, kemudian dia berbicara dengan seseorang, namun sayangHeri tidak bisa mendengar jelas, karena pemuda itu tidak melaut speakerkan panggilannya. "Bagaimana Mas?" tanya Heri penuh harap setelah melihat penjaga kios memutus sambungan teleponnya. "Nggak ada Pak....! gara-gara Bapak saya dimarahin Bos, saya dituduh yang nggak-nggak bos Saya menuduh kalau saya sudah tidak mau bekerja lagi di tempat ini, dan bos Saya menuduh kalau saya ini pemalas. ya sudah kalau tidak mau berbelanja, silakan pergi dari tempat ini....!" jawab pemuda itu dengan membuang wajah, seperti tidak mau melihat lagi wajah Heri yang merasa aneh dengan perubahan sikap penjaga toko. Merasa dirinya diabaikan, dengan membawa hati yang Sakit Heri pun keluar dari kios itu, kemudian dia masuk ke kios lainnya untuk mencari pekerjaan, Namun sayang Setelah sekian banyak kios-kios yang didatangi, semuanya tetap memberikan jawaban yang sama, yaitu tidak ada lowongan. bahkan ada beberapa kios yang menulis dan ditempel di depan toko, bahwa di tempat itu tidak ada lowongan. Heri yang sudah tidak memiliki pilihan, dia terus berusaha mencari tempat usaha yang mau mempekerjakannya, namun setelah berjuang sekian lama sampai kios-kios yang berada di sekitaran Makom dia datangi, tapi tidak ada satupun yang menerimanya sehingga dia pun memutuskan untuk berjalan mencari pekerjaan di tempat lain, karena Heri sekarang sudah sadar bahwa kios seperti itu tidak membutuhkan banyak orang, paling banyak dua atau tiga orang, tidak ada penjaga kios yang lebih dari empat orang. Heri terus berjalan, hingga akhirnya dia tiba di salah satu restoran yang lumayan besar, dia berdiri di pintu gerbang masuk parkiran, memperhatikan keadaan sekitar, dia menelan ludah ketika melihat lauk pauk yang terpampang di etalase kaca. "Benar aku harus melamar kerja di tempat yang besar seperti ini, karena kios tidak akan membutuhkan banyak orang, berbeda dengan restoran sebesar ini pasti mereka membutuhkan banyak tenaga, meski hanya untuk tukang cuci piring," gumam Heri sambil berjalan masuk ke area parkiran dan mendekat ke pintu restoran, namun ketika dia mau masuk dengan segera dia pun dihalangi oleh seseorang. "Mau ke mana kamu, Apa kamu nggak baca? di sini tidak menerima sumbangan tanpa seizin RT dan RW." Hardik seorang pria yang baru datang dengan menunjukkan tulisan yang berada di pintu. "Siapa yang mau minta sumbangan?" tanya Heri dengan sedikit menaikkan intonasi suara merasa tidak enak dituduh sebagai pengemis, matanya menatap tajam ke arah orang yang memakai rompi, di lehernya ada peluit yang dikalungkan. "Terus mau ngapain lagi orang seperti kamu datang ke restoran kalau bukan untuk mengemis." tanya orang itu dengan menyonggengkan satu sudut bibir. "Saya mau mencari pekerjaan, kamu Jangan menilai orang dari tampilannya." Pekerjaan apa untuk tua bangka seperti ini, kalau di restoran itu minimal masih muda dan cantik, kalau nggak cantik, ya ganteng....!" jawab orang itu sambil memindai tubuh Heri dari atas sampai bawah. "Baru jadi tukang parkir aja sudah sombong, Bagaimana kalau kamu sudah menjadi gubernur." "Ya mending tukang parkir, daripada jadi pengemis kayak lo! mereka ngasih uang dengan ikhlas tanpa diminta, karena mereka para orang-orang yang memiliki kendaraan mereka merasa terbantu dengan kendaraannya yang dijaga. Sekarang cepat tinggalkan tempat ini, sebelum Bos saya datang....!" usir tukang parkir sambil menarik tangan Heri agar menjauh dari pintu. Heri yang ditarik pun menolak, dengan menepis tangan tukang parkir, namun kekuatannya yang sudah tua berbeda dengan kekuatan anak muda, sehingga dia pun diseret agar cepat pergi dari restoran. dari arah luar terlihat ada salah satu mobil sedan yang masuk, ketika melihat ada orang yang diseret dengan segera orang itu pun keluar. "Ada apa Man? Kok orang ini diseret-seret begini?" tanya orang yang baru keluar dengan memakai kaos oblong celana selutut, tapi melihat dari mobil yang dia bawa menandakan bahwa dia adalah orang yang berada. "Ini pak...! biasa pengemis kurang ajar, sudah dibilangin Jangan masuk, dia Malah maksa masuk bahkan nyolot juga." jawab tukang parkir sambil terus menarik tangan Heri. "Nggak, saya tidak mau mengemis, Saya mau mencari pekerjaan." Timpal Heri menyanggah. "Alah alasan....! pengemis, ya pengemis aja!" "Udah Man! udah lepaskan jangan diseret seperti itu." "Kenapa Pak Wira, bukannya di tempat kita tidak boleh ada pengemis, karena itu bisa mengganggu ketenangan pengunjung." "Yah memang tidak boleh, tapi kamu juga tidak boleh berperilaku semena-mena seperti ini, kita harus memanusiakan manusia, sudah lepaskan!" Dengan mendengus sedikit kesal, Firman pun melepaskan genggaman tangannya yang berada di pergelangan tangan Heri, kemudian dia berdiri sambil menundukkan pandangan seolah Dia sangat menghormati orang yang bernama Wira. Setelah terlepas Heri pun menatap ke arah Wira, dia menerka-nerka Siapa orang itu, dengan segera dia pun menghampiri, awalnya Firman mau melarang tapi bosnya Tidak menyeru, sehingga dia hanya berdiri sambil waspada takut Heri berbuat macam-macam terhadap atasannya. "Bapak yang punya restoran ini?" Tanya Heri sambil menatap ke arah Wira. "Iya emang kenapa?" "Kalau bapak yang punya restoran ini, saya mohon bapak untuk menerima saya sebagai pekerja, tidak apa-apa saya jadi tukang cuci piring dan tidak apa-apa pula Kalau saya tidak digaji juga. yang terpenting saya bisa makan karena semenjak Kemarin sore saya belum makan, Saya kehabisan uang," ujar Heri tanpa basa basi membuat Wira menatap heran ke arahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD