Hari-hari berikutnya, pasangan paruh baya itu terlihat begitu kompak dalam menjalin rumah tangga. Heri setiap subuh dia selalu menemani istrinya untuk berjualan di pasar membuat pertentangan di antara kedua orang itu sedikit Bisa dihindarkan, namun sayang ketentraman itu tidak terlalu lama. setelah Heri tinggal seminggu di rumah, istrinya pun mulai curiga karena sang suami tidak kunjung berangkat kembali ke tempat kerjanya, yang Dia mengira kalau suaminya membuka tambal ban. Sehingga sore itu ketika mereka berkumpul di ruang tengah sambil menonton TV Darmini pun mulai mengungkapkan rasa penasarannya.
"Bapak kapan bapak mau berangkat lagi ke tempat kerja?" tanya darmini setelah menghabiskan kunyahan rebus singkong yang ada di mulutnya. karena tadi ketika di pasar dia membeli umbi itu untuk pengganjal perut.
"Bapak masih betah di rumah Bu.., nggak apa-apa kan kalau bapak istirahat dulu?"
"Ya nggak apa-apa sih Pak! tapi sayang kalau usaha bapak lama tidak buka."
"Biarkan saja sih bu, nggak apa-apa kalau udah rezeki tidak akan pergi ke mana."
"Kok nggak apa-apa sih Pak? kan tambal ban itu dibuka menggunakan uang, sedangkan uang yang sudah dijadikan modal belum kembali sepeserpun." balas darmini yang tidak suka dengan pendirian suaminya.
"Kalau bapak masih betah di rumah, mau bagaimana lagi? masak Ibu mau memaksa bapak." tanya Heri yang mulai menunjukkan kembali sifat egoisnya.
"Makanya kalau diperingati oleh istri itu nurut, kalau Bapak sudah capek bekerja, mendingan jual saja alat-alat tambal ban itu, kemudian uangnya kita pakai modal buat usaha jualan di pasar." Ketus Darmini Mulai mengungkit kembali masalah yang beberapa hari ini bisa diendarkan.
"Sayang Bu, kalau dijual terus nanti bapak Usaha apa, karena nggak mungkin kan kalau bapak terus membantu ibu," jawab Heri yang terlihat aneh, Padahal bukan itu alasannya. dia merasa bingung bagaimana menjelaskannya karena uang yang dia ceritakan untuk modal usaha, sudah hilang tak berbekas, karena disetorkan terhadap gurunya yang penipu itu. tapi kalau untuk jujur dia tidak berani, dia takut menghadapi kemarahan istrinya yang sudah bisa dia bayangkan.
"Heran deh.....! disuruh berangkat nggak mau, disuruh dijual nggak boleh. mau Bapak itu apa sebenarnya?"
"Ya maunya Bapak istirahat dulu di rumah, nanti setelah Bapak tidak capek Bapak bekerja lagi."
"Mau sampai kapan Pak di rumah terus, emang bapak nggak sayang kalau nanti pelanggan Bapak kabur?"
"Tambal ban itu tidak memiliki langganan ibu, tambal ban itu kalau ada orang kecelakaan baru kita dapat uang."
"Ya mau dapat uang dari mana, Kalau tambal bannya tutup terus?"
"Sudahlah Bu...! jangan ngomel terus bapak capek."
"Kalau bapak capek, Ibu juga lebih capek....! Bapak selalu tidak bisa diajak bermusyawarah, inginnya menang terus. Ibu capek Pak, kalau ibu harus terus mengalah."
"Ya sekarang maunya bagaimana?" Tantang Heri yang sudah terpancing emosi.
"Sekarang bapak berangkat ke tempat kerja bapak, terus kalau bapak tidak mau berangkat lagi, Bapak jual saja alat-alat tambal bannya!" jawab darmini menjelaskan dengan nada suara yang terdengar tegas.
Heri pun terdiam kembali, karena dia merasa bingung harus melakukan apa, soalnya kalau dia pergi dari rumah Dia tidak memiliki tujuan, tidak seperti 6 bulan yang lalu dia berangkat dari rumah dia tinggal di padepokan, tapi sekarang dia bingung harus tinggal di tempat siapa, karena kalau ditinggal di tempat yang lain Heri merasa belum mampu, apalagi dia bukan orang yang pandai menghasilkan uang, meski hanya untuk makan sendiri. berbeda ketika dia tinggal di rumahnya, walaupun istrinya sangat galak dan cerewet, tapi untuk makan dia tidak harus repot-repot memikirkan, karena Istrinya selalu menyediakannya.
"Kenapa diam?" tanya darmini setelah tidak mendapat jawaban dari suaminya.
"Bapak bingung Bu, kalau kemauan Ibu seperti itu?"
"Bingung kenapa bapak, nggak punya ongkos untuk pergi ke tempat kerja?"
"Bukan bukan itu Bu."
"Terus apa?" tanya darmini sambil menatap lekat ke arah suaminya seolah dia ingin tahu isi yang berada di dalam hatinya.
"Bapak susah untuk menjelaskan Bu, tolong biarkan Bapak beristirahat dulu di rumah."
"Nggak...! nggak bisa kalau seperti itu. mau sampai kapan bapak numpang hidup di punggung istri. Ayo Pak kita sama-sama berjuang jangan malas!" Ujar darmini mengajak suaminya untuk bangkit.
"Bapak tidak malas, Bapak cuma ingin beristirahat saja...!" ujar Heri yang Kukuh dengan pendiriannya membuat amarah darmini sedikit terpancing.
Perdebatan pun terus berlanjut. yang suami tidak mau pergi ke tempat kerjanya, tapi ketika tempat usahanya mau dijual dia juga tidak rela. yang Istri tetap Kukuh menyuruh suaminya agar pergi lagi berusaha, Kalau tidak mau membuka usaha di tempat lain maka Dia perlengkapan usaha suaminya harus dijual. sehingga akhirnya darmini pun habis kesabarannya.
"Eh Heri....! kalau kamu tetap Kukuh dengan pendirian kamu, mungkin rumah tangga kita cukup sampai di sini. Aku tidak mau hidup dengan suami pemalas dan keras kepala seperti kamu....!" Putus darmini yang sudah kehabisan akal mengingatkan suaminya.
"Eh darmini kalau ngomong itu jangan asal nguap, mentang-mentang lidah tidak bertulang, asal bergoyang aja itu bibir. Jangan setiap masalah kamu mau minta cerai, cerai...! Emang kamu itu siapa, kamu itu hanya seorang perempuan, yang hidupnya berada di tangan laki-laki. kamu jangan sombong, jangan mentang-mentang kamu bisa menghasilkan uang, sehingga kamu tidak bisa menghormati seorang suami." jawab Heri seperti orang yang benar.
"Amit-amit.....! diingatkan bukannya sadar, Malah semakin menjadi. Ya sudah kalau kamu tetap seperti itu, maka aku akan layangkan gugatan cerai."
"Darmini cerai itu tidak mudah, kamu harus bersidang kamu, harus membayar uang persidangan. daripada uangnya dipakai buat hal yang gituan, mendingan kamu buat makan saja, bisa kenyang tuh uang segitu."
"Biarin uang uang aku, apa urusan kamu mengatur ngatur uangku. asal kamu tahu Heri, berapapun biayanya akan aku Keluarkan, yang terpenting aku bisa terbebas dari cengkraman suami tidak bertanggung jawab seperti kamu. kalau kamu tidak mau cerai secara resmi, Ayo kita ke pak ustad kita selesaikan di sana..!" ancam darmini seperti yang sudah ia lakukan.
"Eh tua bangke, Emang kamu nggak malu kalau masalah keluarga di bawa ke hadapan orang lain?"
"Nggak....! daripada aku tersiksa, Mendingan aku menanggung malu....!" jawab darmini yang amarahnya sudah memuncak, dengan segera dia pun bangkit kemudian masuk ke kamar, tak lama dia pun keluar dengan menggunakan hijab.
"Mau ke mana darmini?" tanya Heri Ketika istrinya sudah sampai di ambang pintu.
"Mau ke pak ustad," jawab darmini dengan Ketus.
Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, dengan segera dia pun keluar dari rumah, melihat istrinya yang sudah pergi dengan segera Heri pun mengejar, Namun sayang istrinya keburu keluar duluan, sehingga Heri hanya bisa mengepalkan tangan, lalu memukulnya ke gending rumah.
Bugh!
Aduh sakit....!
Desis Heri yang mengibas mengibaskan tangannya, dia menyesal memukul dinding itu, kalau tahu rasa sakitnya begitu menjalar sampai ke ketiak, matanya terus menatap ke arah sang istri yang semakin lama semakin menjauh. dia tidak berani mengejar karena dia merasa malu kalau tetangganya sampai tahu bahwa mereka sedang bertengkar. akhirnya Heri pun masuk kembali ke dalam rumah, lalu duduk sambil menatap kosong ke arah layar televisi, khayalnya mulai terbang menerka-nerka kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sedangkan darmini, dia terus berjalan dengan berlinang air mata, karena begitulah perempuan ketika mereka tidak bisa mendapatkan keinginannya, hanya air mata lah yang setia menemani. darmini merasa bahwa dirinya tidak terlalu menuntut suaminya, dia hanya meminta agar suaminya bisa bertanggung jawab, Jangan sampai terus numpang kepada dirinya.
Istri mana yang tidak akan sakit hati, kalau seorang suami hanya bisa bermalas-malasan, punya uang hasil penjualan sawah warisannya, bukannya dipakai untuk modal usaha yang sudah jelas, ini malah dipakai buat membuka usaha yang sampai sekarang belum membuahkan hasil, padahal Kalau waktu itu uangnya diberikan sama darmini mungkin usaha jualannya di pasar sudah menjadi besar, karena darmini sudah membangun usaha itu dengan begitu lama, sehingga sudah banyak pelanggannya.
"Emang benar-benar kurang ajar Si Heri, Dia tidak sedikitpun memiliki tanggung jawab, mungkin hidupnya terlalu nikmat karena selama ini aku belum pernah meminta apapun terhadapnya. aku makan bisa mencari sendiri, aku berpakaian bisa membeli sendiri. terus apa gunanya berumah tangga kalau aku masih tetap bekerja, bukannya seorang istri itu adalah kewajiban seorang suami," gumam hati darmini yang sudah membulatkan tekad, bahwa hari itu dia ingin minta bantuan ketua kampungnya untuk menyelesaikan masalah rumah tangga yang sedang ia hadapi. sebenarnya darmini pun merasa malu kalau masalah rumah tangga di bawa kehadapan orang lain, tapi mau bagaimana lagi, suaminya yang keras kepala suaminya yang tidak bisa diajak bermusyawarah, membuat darmini membulatkan tekad untuk menemui pak ustad.